"Kau adalah milikku! Kau sudah membuatku tertarik menjadikanmu kekasih ku, jadi kau harus tahu diri dan jangan coba-coba untuk melarikan diri!" Lennox menangkup wajah gadis cantik itu, lalu mencium bibir ranumnya dengan seduktif.
Memiliki seorang kekasih yang merupakan seorang mafia bukanlah hal yang indah dan mudah seperti sebuah kisah cinta dongeng Cinderella yang diceritakan!
Dia adalah putra salah satu mafia terbesar yang ada. Dia terus memaksaku untuk menjadi kekasihnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dnrfitri_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Serena terbangun. Perlahan matanya mengerjap dan terbuka. Keningnya berkerut menyadari dirinya sudah berada di kamar. Namun, kemudian Serena menghembuskan napas lega.
"Hah ... setidaknya siksaan Lennox sudah berakhir hari ini," desahnya.
Mencoba mengubah posisinya menjadi duduk, Serena melihat baju piyama satin warna merah sudah melekat di tubuhnya.
"Pasti pelayan itu yang menggantikan bajuku," gumamnya mengingat pelayan bernama Vika. Karena hanya Vika saja yang sering bolak-balik mengantarkan kebutuhan Serena ke kamarnya.
"Tenggorokanku kering sekali. Aku sangat haus. Bahkan tidak ada air minum di kamar ini. Kurasa di lantai ini juga ada dapur. Aku harus mencari minum sebelum mati kehausan." Serena menyibak selimut, menurunkan kedua kakinya menapak ke lantai.
Serena sedikit meringis saat mencoba berdiri akibat kewanitaannya terasa masih perih setelah perbuatan Lennox yang biadab!
Serena berjalan keluar kamar, dia menyusuri lantai tersebut demi mencari di mana letak dapur.
Hembusan napas lega keluar dari mulutnya begitu melihat sebuah pintu yang sepertinya adalah pintu menuju dapur.
Serena tersenyum dan masuk ke dalamnya. Namun, senyumnya memudar berganti raut terkejut ketika melihat pemandangan di dalam dapur yang luas dan mewah tersebut.
"Lennox," panggil Serena terkejut.
Lennox dan Kathleen sedang bercinta di dalam dapur yang tampak mengkilat. Kathleen duduk di meja kabinet, sedangkan Lennox berdiri di depannya.
Keduanya menoleh pada Serena yang berdiri tercengang di ambang pintu. Namun, mereka sama sekali tidak terkejut dan tidak malu dipergoki sedang bercinta. Sedangkan Serena terkejut, mengira bahwa Lennox hanya sendiri dan sedang memasak atau semacamnya, tapi rupanya dia sedang mematangkan kejantanannya bersama Kathleen.
Tanpa peduli Lennox melanjutkan aksinya menggerakkan pinggul, membuat Kathleen melenguh dalam pelukannya. Tubuh Kathleen meliuk-liuk menikmati setiap kali kenikmatan itu merengkuhnya.
Serena menelan ludah. Mengalihkan pandangan ke arah lain. Seketika ia merasa menjadi orang bodoh saat menyaksikan percintaan mereka.
"Sial! Kenapa harus ada mereka di sini?" batin Serena menggerutu.
Ingin pergi, tapi dahaga menyiksa tenggorokannya. Akhirnya Serena melenggang ke arah dispenser sambil mencoba pura-pura tidak melihat.
"Oh, Tuan Lennox!" Kathleen menjerit nikmat saat berhasil mencapai di ujung kepuasannya. Dia terus melenguh di bawah Lennox yang menggagahinya.
Lennox menjauhkan tubuhnya, kembali membenarkan pakaiannya.
Setelahnya, Lennox melangkah tenang melewati tubuh Serena seakan tidak peduli Serena memergokinya.
Namun, pria itu sempat melirik dengan senyum smirknya ke arah Serena. Sebelum akhirnya pria tampan itu pun benar-benar meninggalkan dapur.
"Hufft..." begitu Lennox pergi, Serena menghembuskan napas lega sembari mengelus dada.
Untung saja pria itu tidak lanjut memaksa menyentuhnya seperti tadi siang.
"Hai, Serena! Apa yang sedang kau lakukan di sini?" sambil mengikat tali baju dinas warna merah yang dipakainya, Kathleen menghampiri Serena dan bertanya dengan senyum lebar.
Serena menoleh. Merasa risih melihat dua tanda merah di atas dada Kathleen yang terkesan sengaja ditunjukan oleh wanita itu.
"Aku hanya ingin mengambil minum. Aku haus sekali." Dengan cepat Serena menekan dispenser dan menuangkan air di gelas kosongnya.
Tangan Serena berkeringat memegangi gelas itu. Rasanya menjijikkan mengingat apa yang baru saja disaksikannya.
"Tadi kau melihat apa yang kami lakukan. Sekarang kau paham kan, bagaimana Lennox sangat candu pada tubuhku. Dia selalu menginginkanku di mana pun dan kapan pun," kata Kathleen dengan bangga.
Kathleen terang-terangan mendekati Serena dan berdiri di belakangnya hanya untuk membanggakan diri sebagai kesayangan boss mafia tampan itu.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu merasa bangga menjadi mainan dari seorang pemimpin kejahatan? Lennox hanya menyukai tubuhmu, memainkan mu sesukanya, menjadikanmu selayaknya boneka pemuasnya. Dan aku yakin pria iblis itu sama sekali tidak menggunakan hatinya setiap kali menyentuhmu," kata Serena yang sontak membuat wajah Kathleen muram.
"Aku tidak berharap mendapatkan hati Lennox karena itu tidak mungkin terjadi. Lennox adalah pria yang tidak suka berkomitmen. Bagiku aku sudah senang menjadi wanita satu-satunya yang ia perlakukan dengan istimewa di mansion ini. Aku bisa mendapatkan semua kemewahan di sini. Bisa tinggal di mansion mewah ini adalah sebuah keberuntungan bagiku," jawab Kathleen sembari tersenyum.
Serena berdecak miris. "Ini bukan mansion. Bagiku tempat ini lebih pantas disebut sebagai neraka."
"Persetan dengan apa pun yang ingin kau katakan. Aku mencintai Lennox dan sangat senang menjadi wanita kesayangannya," kata Kathleen tersenyum percaya diri.
Setelah melemparkan tatapan meremehkan pada Serena, Kathleen lantas bersilang dada dan menarik dirinya dari sana.
Menyisakan Serena yang meremas gelasnya dengan tangan. Serena merasa Kathleen telah menjadi bodoh karena terobsesi pada karismatik seorang Evander.
Semoga saja kebodohan itu tidak menular padanya.
"Tunggu!!" Serena memanggil Kathleen dan menghentikan langkah gadis itu, dia harus berbalik dan Serena menghampirinya dengan langkah angkuh.
"Aku harap ini tidak akan mengejutkan mu." ucap Serena, mengerutkan kening lawan bicaranya.
"Apakah ada begitu banyak berita penting yang ingin kau pamerkan sampai memanggilku?" cetus Kathleen.
"Ya. Tadi kau mengatakan bahwa Lennox adalah pria yang tidak suka berkomitmen. Lalu, bagaimana dengan aku?"
"Kau?" Kathleen tertawa meremehkan. "Kau hanya wanita tawanan yang sebentar lagi bernasib sama seperti wanita yang ada di ruang bawah tanah."
"Kau salah. Sudah sangat lama, Lennox ingin aku menjadi kekasihnya. Dan kau tahu, kemarin baru saja aku menyetujui tawarannya dan sekarang kami berkencan. Dan bahkan, dia menyentuh ku lebih dari satu kali. Dia berkata padaku bah-."
"CUKUP!!" teriak Kathleen menghentikan kalimat Serena. wajahnya sudah memerah. Tubuhnya sudah dirasuki amarah.
Tanpa ingin memperpanjang pembicaraannya dengan Serena, ia pergi dengan begitu kesalnya.
Meskipun Kathleen tidak mengatakan apapun, Serena sudah bisa menilai bahwa wanita itu sangat cemburu dan berusaha menolak kenyataan.
Serena cukup senang dan mengiringi kepergian Kathleen dengan senyuman terjahatnya.
𝚖𝚊𝚊𝚏 𝚌𝚞𝚖𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚊𝚠𝚊𝚕 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚑𝚒𝚛 𝚌𝚎𝚝𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚍𝚒𝚔𝚒𝚝 𝚕𝚊𝚖𝚋𝚊𝚝🙏 𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 thor