NovelToon NovelToon
Istri SAH Yang Disia-siakan

Istri SAH Yang Disia-siakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai / Identitas Tersembunyi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Irmayani Mursid

Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."

​Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4 Tamu tengah malam

Ardi berlari tergesa-gesa ke arah depan.

Tangannya yang gemetar langsung membuka selot pintu jati rumah mereka dengan sekali sentakan kasar.

Begitu pintu terbuka, angin malam yang membawa sisa rintik hujan seketika menusuk masuk.

Sosok Ibu Widya langsung menerobos dengan napas terengah-engah. Kondisi ibu mertua Sarah itu tampak sangat mengenaskan.

Rambut sasakannya yang biasa rapi kini acak-acakan dan basah. Wajahnya yang biasa tebal oleh bedak kini luntur, menyisakan gurat pucat pasi dan mata bengkak karena menangis.

Di belakangnya, Rika menyusul sambil meremas selembar kertas tebal dengan tubuh gemetar hebat.

"Mama? Mbak Rika? Ada apa ini? Kenapa malam-malam begini dan basah kuyup?" tanya Ardi panik. Matanya bergerak liar menatap ibu dan kakak perempuannya bergantian.

"Ardi! Tolong Mama, Nak! Rumah... rumah kita didatangi orang-orang berbadan besar!" tangis Ibu Widya pecah seketika di ruang tamu.

Beliau nyaris bersimpuh di lantai marmer kalau Ardi tidak cepat menahan kedua lengannya.

"Mereka tiba-tiba datang merusak pagar dan menggedor pintu! Mereka bilang utang judi papamu dulu belum lunas, dan sekarang bunganya sudah menggulung sampai tiga miliar!"

"Mereka mengancam akan menyita rumah Mama besok pagi kalau tidak ada uang jaminan!"

Ardi bagai dihantam batu besar. Wajahnya seketika memucat.

"Apa? Tiga miliar? Ma, tapi semua aset Papa kan sudah bersih waktu Papa meninggal tiga tahun lalu!"

Rika maju, menyodorkan kertas yang sudah lecek ke depan wajah adiknya dengan tangan masih gemetar.

"Ini, Di! Lihat ini! Ternyata Papa menjaminkan sertifikat rumah utama atas nama perusahaan konstruksi lama milik temannya. Dan perusahaan itu baru saja kolaps minggu lalu!"

"Kami tidak tahu apa-apa, Di! Kami ketakutan dan langsung kabur lewat pintu belakang!"

Sarah berjalan perlahan dari arah ruang tengah. Dia berhenti di pembatas ruangan, melipat tangan di dada sembari menyaksikan kepanikan massal keluarga suaminya.

Tidak ada raut puas di wajahnya, melainkan kekosongan.

Inilah orang-orang yang selama ini menyebutnya wanita kelas bawah yang tidak berguna dan menumpang hidup.

Sekarang, di bawah lampu ruang tamu yang terang, mereka terlihat begitu kecil, rapuh, dan kehilangan keangkuhannya.

Mata Rika tiba-tiba menangkap sosok Sarah yang berdiri tenang. Dalam kondisi terdesak seperti ini, harga dirinya mendadak ciut, berganti menjadi keputusasaan yang brutal.

"Sarah! Kamu pasti punya uang simpanan, kan?! Kamu kan pelit sekali kalau mengurus uang dapur sampai kami saja diceramahi!

Keluarkan semua uang tabungan atau sisa uang belanja yang kamu sembunyikan selama ini! Jangan sok miskin di saat seperti ini!"

Rika berlari menghampiri Sarah, mencoba meraih tangan adik iparnya itu.

Namun, Sarah dengan anggun mundur satu langkah, menghindari sentuhan Rika.

"Mbak, baju Mbak basah. Nanti lantai marmernya kotor dan licin," ucap Sarah santai. Suaranya terdengar sangat kontras dengan kepanikan di ruangan itu.

"Kamu kok tega banget sih, Sarah?! Mertua dan kakak iparmu sedang kena musibah, kamu malah memikirkan lantai kotor?!" bentak Ardi yang emosinya langsung tersulut di ubun-ubun.

Dia menunjuk Sarah dengan penuh kemarahan, meluapkan rasa frustrasinya karena merasa tersudut.

"Keluarkan saja apa yang kamu punya sekarang! Ini demi Mama!"

"Kamu kok tega banget sih, Sarah?! Mertua dan kakak iparmu sedang kena musibah, kamu malah memikirkan lantai kotor?!" bentak Ardi yang emosinya langsung tersulut di ubun-ubun.

Dia menunjuk Sarah dengan penuh kemarahan, meluapkan rasa frustrasinya karena merasa tersudut. "Keluarkan saja apa yang kamu punya sekarang! Ini demi Mama!"

Sarah menatap Ardi lurus-lurus. Rasa cinta yang tersisa di hatinya rasanya seperti disiram air asam. Di saat seperti ini, suaminya tidak meminta dengan baik-baik, melainkan membentak dan menuntut seolah itu adalah kewajiban mutlak.

"Keluarkan apa, Mas?" tanya Sarah lembut, namun kalimat itu telak menusuk ego Ardi.

"Perhiasan mas kawin kita dulu sudah kamu minta dua tahun lalu untuk tambahan modal proyek kontraktor pertamamu, Mas. Kamu lupa? Sampai detik ini pun kamu belum pernah menggantinya."

Sarah menatap Ibu Widya dan Rika bergantian dengan tatapan dingin. "Lagipula, bukankah selama lima tahun ini Mama dan Mbak Rika selalu bilang kalau aku ini wanita miskin yang tidak punya apa-apa dan cuma menumpang hidup? Lalu sekarang, uang apa yang kalian tuntut dari tangan kosongku?"

"Sarah! Kurang ajar kamu ya!" Ibu Widya ikut berteriak di sela tangisnya. "Kamu mau melihat Mama jadi gelandangan?! Di mana hati nuranimu sebagai menantu?!"

"Hati nuraniku sudah habis, Ma. Habis di meja makan dua minggu lalu waktu Mama bilang aku wanita mandul yang cuma bisa menghabiskan uang Ardi," balas Sarah tenang. Tidak ada nada tinggi sedikit pun dalam suaranya.

"Sekarang, saat kalian butuh uang, tiba-tiba aku dianggap menantu lagi?"

Ardi melangkah cepat, meredam emosinya yang hampir meledak karena waktu mereka tidak banyak.

"Sudah, jangan berantem lagi! Urusan uang kita pikirkan besok. Yang jelas, malam ini Mama sama Mbak Rika tidak mungkin pulang ke rumah itu. Mereka harus tinggal di sini dulu untuk sementara waktu!"

Ardi menatap Sarah dengan pandangan menuntut, menantang istrinya untuk menolak.

Sarah mengatur napasnya yang sempat sesak. Dia tahu, menolak di saat darurat seperti ini hanya akan membuat Ardi memiliki alasan kuat untuk mencapnya sebagai istri durhaka di depan semua orang.

Lagipula, sisa rasa cintanya pada Ardi membuat Sarah memilih untuk mengalah sekali lagi—namun dengan syarat yang berbeda.

"Boleh. Mereka boleh tinggal di sini," ucap Sarah akhirnya, memecah ketegangan.

"Tapi dengan satu syarat. Rumah ini adalah areaku. Jangan harap aku akan diam saja kalau ada yang mencoba bertingkah seperti nyonya atau menghinaku lagi di bawah atap ini."

Ibu Widya dan Rika hanya bisa saling pandang dengan wajah menahan dongkol.

Mereka terpaksa menelan bulat-bulat persyaratan Sarah demi mendapatkan tempat beralih dari kejaran para debt collector.

Malam itu akhirnya berlalu dengan kepatuhan yang dipaksakan.

Namun, Sarah tahu betul, membawa dua singa betina bermulut tajam itu ke dalam rumahnya sama saja dengan menabuh genderang perang baru.

Benar saja, baru dua hari mereka tinggal bersama, ketenangan rumah itu langsung lenyap.

Saban hari, ruang makan dan dapur selalu dipenuhi oleh adu mulut dan sindiran tajam.

Sarah tidak lagi memilih diam. Setiap kali Ibu Widya atau Rika mencoba memicu keributan, Sarah selalu membalasnya dengan kalimat santai namun menohok yang sukses membuat tensi darah mertuanya naik.

Hingga pada pagi ketiga, sebuah ketukan brutal kembali terdengar di pintu depan saat Ardi baru saja semenit berangkat kerja ke kantornya.

Gedor! Gedor! Gedor!

Rika yang sedang bersantai di sofa langsung melonjak kaget. "Siapa lagi sih pagi-pagi begini?! Mengganggu orang saja!"

Sarah berjalan tenang menuju pintu depan dan membukanya.

Begitu daun pintu jati itu terbuka, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan jaket kulit hitam dan wajah sangar sudah berdiri di sana.

Di belakangnya, ada dua pria lain yang tidak kalah menyeramkan. Mereka sedang bersedekap dada sambil menatap tajam ke dalam rumah Ardi.

Pria berjaket kulit itu menurunkan secarik kertas, lalu menatap Sarah dengan pandangan intimidatif.

"Di sini tempat persembunyian Widya dan Rika, kan?" tanya pria itu dengan suara berat yang serak.

"Katakan pada mereka, pindah rumah tidak akan menghapus utang. Kalau dalam tiga hari sisa bunganya tidak dibayar, kami tidak akan segan-segan mengosongkan rumah ini juga sebagai jaminan!"

Sarah tertegun di ambang pintu.

Sementara dari arah belakang, Ibu Widya dan Rika yang mengintip dari balik tirai langsung menjerit ketakutan melihat wajah-wajah sangar itu.

1
stela aza
lanjut thor lagi nanggung tau bacanya 🤭
aku
lah dalaaaaahhh semaput dia 😂😂
Alodiee: Kebayang gak kalau kamu yang di posisi dia? Pasti ikut semaput juga kan? 😂
total 1 replies
stela aza
mantap kali kau dapat kejutan bertubi-tubi,,, untung g jantungan trs kena stroke 🤭
Alodiee: Wkwkwk bener banget! Makasih ya udah setia ngikutin petualangan mereka sampai bab ini. ❤️
total 1 replies
stela aza
lanjut thor dikit bgt up-nya
Alodiee
wkwkwk sabar yahh Kak..Komentar kakak bener-bener bikin aku makin semangat buat lanjut nulis bab berikutnya. Ditunggu kelanjutannya ya!" 🥰
stela aza
lanjut thor up-nya double y
stela aza
aduh Thor ceritamu bikin gregetan udh g sabar pingin liat s kutukupret Ardi jantungngan 🤭🙏
Alodiee: Sama dong! Rahasia plot ke depan bakal bikin si kutukupret makin pusing. Stay tuned ya! ❤️
total 1 replies
stela aza
lanjut thor
stela aza
keren bgt istrinya ❤️❤️❤️
Alodiee
Kalau suka dengan ketegasan istri sah kita, jangan lupa klik bintangnya ya! Sampai jumpa di bab besok!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!