Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Rahasia yang Harus Dijaga
Kalimat Rio jatuh di ruang terapi seperti gelas yang pecah tanpa suara.
Sekar tidak langsung bertanya. Selama beberapa detik, ia hanya mendengar napasnya sendiri, bunyi AC yang halus, dan detak jam dinding yang tiba-tiba terasa terlalu keras.
Sembilan puluh persen bisa sembuh.
Bukan kecelakaan biasa.
Ada orang yang sengaja mengaturnya.
Ia menatap kaki Ardian yang masih tertutup selimut tipis. Bekas luka keloid tadi bukan lagi sekadar bekas operasi dan benturan. Luka itu berubah menjadi bukti bahwa seseorang pernah benar-benar ingin menghancurkan hidup pria di depannya.
"Maksud Dok Rio," suara Sekar keluar lebih pelan dari biasanya, "ada orang yang sengaja membuat mobil Pak Tan kecelakaan?"
Rio mengangguk. Wajahnya tidak lagi punya sisa canda.
"Tiga bulan lalu, mobil Ardian keluar jalur di tol dalam kota. Berita resminya rem blong dan sopir panik. Tapi hasil pemeriksaan pribadi menunjukkan ada bagian sistem rem yang sudah dimanipulasi sebelum mobil berangkat."
Sekar menelan ludah. "Sopirnya?"
"Meninggal di tempat." Rio menatap map di tangannya. "Terlalu rapi untuk disebut kebetulan, terlalu kotor untuk dibawa langsung tanpa bukti kuat."
Ardian duduk diam. Matanya mengarah ke jendela ruang terapi, seperti pembicaraan itu milik orang lain. Tetapi jemarinya yang mencengkeram sandaran kursi roda mengatakan sebaliknya.
Sekar melihatnya.
Biasanya ia akan menyindir agar pria itu tidak tenggelam dalam kebekuan sendiri. Kali ini ia tidak sanggup. Ada kemarahan yang naik pelan di dadanya, panas dan padat.
"Jadi selama ini," katanya, "Pak Tan sengaja membiarkan semua orang mengira kakinya benar-benar tidak bisa diselamatkan?"
Rio melirik Ardian.
Ardian akhirnya menjawab sendiri, "Lebih mudah menangkap orang yang merasa sudah menang."
Kalimat itu pendek, datar, bahkan terdengar dingin. Namun Sekar bisa membayangkan tiga bulan yang dilalui setelahnya: bangun dengan tubuh sakit, kehilangan jabatan, ditinggalkan tunangan, ditatap ayah sendiri seperti barang rusak, lalu masih harus berpura-pura lebih hancur daripada keadaan sebenarnya.
Tangannya pelan-pelan mengepal di sisi tubuh.
"Yang tahu selama ini cuma kalian berdua?"
"Aku dan Ardian," kata Rio. "Beberapa dokter bedah tahu kondisi medisnya, tapi mereka tidak tahu rencana lengkap. Mereka juga terikat kerahasiaan rumah sakit. Untuk urusan kecelakaan, hanya aku yang ikut menyusun jalur pemeriksaan pribadi."
"Darren?"
Ardian diam.
Rio menjawab dengan hati-hati, "Darren tahu kakaknya tidak menyerah sepenuhnya. Tapi dia tidak tahu angka sembilan puluh persen, dan tidak tahu seberapa jauh dugaan sabotase ini."
Sekar menoleh pada Ardian. "Kenapa tidak bilang ke adik sendiri?"
"Karena dia tidak bisa menyembunyikan wajahnya."
Sekar teringat Darren yang hampir menangis hanya karena melihat Ardian makan wrap gandum. Ia tidak bisa membantah.
Rio batuk kecil. "Benar. Anak itu kalau disuruh menyimpan rahasia, matanya duluan yang bocor."
Dalam situasi lain, Sekar mungkin tertawa. Sekarang hanya sudut bibirnya yang bergerak sedikit.
Rio membuka halaman baru di map. "Mulai hari ini, jadwal pijat harus berubah. Sebelumnya tiga kali seminggu untuk menjaga sirkulasi dan mencegah kekakuan. Tapi respons kulitnya lebih baik dari perkiraanku, dan tanganmu stabil. Aku mau kamu lakukan pijat rehabilitasi ringan setiap hari, satu jam."
"Setiap hari?" Sekar memastikan.
"Iya. Sore lebih baik. Setelah itu kompres hangat sepuluh menit, catat warna kulit, suhu, nyeri, kesemutan, dan perubahan sekecil apa pun. Jangan memaksa sendi. Jangan membuat dia berdiri. Jangan percaya kalau dia bilang tidak sakit dengan wajah seperti mau menggigit orang."
Sekar otomatis mengambil sticky note dari saku celemeknya.
Rio berhenti. "Kamu bawa sticky note ke mana-mana?"
"Sejak bekerja di rumah ini, saya belajar bahwa kertas kecil bisa menyelamatkan sarapan dan harga diri orang."
Ardian menatapnya tajam.
Sekar pura-pura sibuk menulis. "Pijat harian satu jam. Kompres hangat. Catat suhu, warna kulit, nyeri, kesemutan. Tidak memaksa sendi. Tidak membuat pasien berdiri. Tidak percaya wajah galak."
"Bagian terakhir tidak perlu dicatat," kata Ardian.
"Ini justru bagian paling penting."
Rio mengangkat dua ibu jari. "Aku setuju sebagai dokter."
Ketegangan di ruangan itu retak sedikit. Tidak hilang, tapi cukup untuk membuat Sekar bisa bernapas lagi.
Setelah selesai menulis, ia menatap Rio. "Kalau ada perubahan, saya lapor ke Dok Rio langsung?"
"Langsung. Jangan lewat staf rumah, jangan lewat Darren, jangan lewat siapa pun. Kirim pesan ke nomor pribadiku. Kalau darurat, telepon."
Rio merobek selembar kartu nama dari holder kecil dan memberikannya pada Sekar. Kartu itu putih, sederhana, dengan logo RS Samudera di sudut. Sekar menyimpannya ke dompet kecil di saku celemek, bukan ke ponsel.
"Saya akan jaga," katanya.
Rio menatapnya beberapa detik. "Aku tahu ini bukan bagian dari pekerjaan pengasuh biasa."
"Saya tahu."
"Kalau kamu merasa takut, wajar."
Sekar menatap Ardian. Pria itu tidak melihatnya. Ia menatap lantai, rahangnya kencang, seperti sudah siap mendengar orang ketiga pergi setelah tahu bahaya yang menempel di hidupnya.
Sekar tiba-tiba merasa kesal.
Bukan pada Rio. Bukan pada rahasia itu.
Pada semua orang yang membuat Ardian terbiasa menunggu ditinggalkan.
"Saya takut," katanya jujur.
Jari Ardian bergerak sedikit.
Sekar melanjutkan, "Tapi saya lebih takut kalau orang yang sengaja menyakiti Pak Tan masih bebas, lalu semua orang di rumah ini pura-pura tidak ada apa-apa."
Ardian mengangkat wajah.
Mata mereka bertemu. Tidak ada kalimat manis. Tidak ada janji berlebihan. Hanya ada ruang terapi yang dingin, sticky note kuning di tangan Sekar, dan rahasia yang tiba-tiba membuat mereka berdiri di sisi yang sama.
"Saya akan jaga rahasia ini," kata Sekar. "Tapi Pak Tan juga harus kerja sama. Kalau sakit, bilang sakit. Kalau curiga sesuatu, jangan simpan sendiri. Saya bukan pajangan di samping kursi roda."
Rio menutup map dengan pelan. "Ini kenapa aku suka dia."
"Diam," kata Ardian.
Tetapi suaranya tidak setajam biasanya.
Sekar menyimpan sticky note itu ke dalam map jadwal terapi. Ketika ia menutup map, matanya tanpa sengaja menangkap rak buku di sudut ruangan. Di sana ada beberapa buku bisnis, kotak arsip, dan satu bingkai foto yang hampir tertutup map hitam.
Foto wisuda.
Ardian berdiri di sana dengan toga UI, wajahnya lebih muda, punggungnya tegak, senyumnya tipis tapi hidup. Di sebelahnya, seorang pria lain merangkul bahunya dengan akrab.
Sekar mengenali wajah itu.
Susanto Kevin.
Dingin merayap dari punggungnya ke leher.
Ia memandang Ardian lagi. "Orang yang mencoba mencelakaimu itu... dia masih dekat denganmu?"
Rio ikut diam.
Ardian tidak menjawab. Hanya matanya yang perlahan bergerak ke rak buku, berhenti pada foto wisuda dirinya dan Kevin.