Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pagi itu, kediaman Umah terasa jauh lebih hidup dari biasanya. Aroma harum pandan dari jajan pasar menyeruak ke setiap sudut ruangan, bercampur dengan tawa renyah ibu-ibu majelis taklim yang memenuhi ruang tengah.
Beberapa dari mereka tampak sibuk menata meja-meja kecil dengan nampan berisi jajan pasar yang warna-warni, panci besar berisi bubur merah putih yang mengepul hangat, dan deretan kotak kue basah.
Ada pula yang jemarinya lincah menaburkan bunga mawar dan melati ke dalam nampan-nampan kecil sambil berceloteh riang, menciptakan suasana hangat khas syukuran keluarga.
"Istrinya Gus Hanan Arkan udah jadi calon ibu loh," bisik salah satu ibu dengan ekspresi berbinar, seolah ikut merasakan kebahagiaan yang membuncah di rumah itu.
"Iya, si Ning Kanza Arumi yang dulu kita kenal lincah dan lucu itu, ya kan? Baru nikah sebentar saja sudah langsung diberi amanah rezeki oleh Allah. Alhamdulillah, garis tangan orang memang luar biasa," timpal yang lain sambil mengangguk mantap.
Di tengah hiruk-pikuk dan canda tawa itu, Umah berjalan mondar-mandir dengan langkah ringan dan wajah yang tak henti-hentinya memancarkan kebahagiaan.
Sesekali ia berhenti hanya untuk menunjukkan layar ponselnya yang masih menampilkan foto benda kecil dengan dua garis merah, pesan yang dikirimkan kemarin dan sukses membuat seluruh keluarga sujud syukur.
"Ini loh buktinya, Bu Hani. Lihat sendiri, merah nyata sekali. Garis dua. Calon cucu pertama Umah... MasyaAllah, rasanya seperti mimpi..." ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar karena haru, sementara matanya mulai berkaca-kaca menatap foto di layar ponselnya.
Sementara itu...
Di rumahnya, Kanza Arumi sedang meringkuk di sofa dengan bantal menutupi wajahnya, mencoba menghilang dari kenyataan.
Di sudut lain, Hanan Arkan tampak begitu kontras; ia sedang asyik mengetik di laptop dengan pembawaan yang tenang dan stabil, seolah tidak ada badai yang sedang mengintai di luar sana.
“Mas... Umah nggak beneran bawa ibu-ibu buat syukuran, kan?” Kanza bertanya dari balik bantal.
Suaranya teredam, terdengar sangat cemas sekaligus penuh rasa bersalah yang menghimpit dada.
Hanan Arkan menutup laptopnya perlahan, lalu menatap istrinya yang tampak sangat menderita layaknya kucing yang baru saja kehujanan. Ia menarik napas pendek.
“Bawa. Sejak fajar tadi mereka sudah di sana. Kamu sebaiknya bersiap sekarang. Kita ditunggu untuk ‘pengumuman resmi’ di depan semua orang.”
Kanza langsung duduk tegak, bantalnya jatuh begitu saja ke lantai.
“PENGUMUMAN APA?! MAS, ITU CUMA PRANK! MAS, KANZA MAU KABUR AJA NIH SEKARANG!”
Sesampainya di halaman ndalem pondok yang sudah dipenuhi aroma makanan, Kanza menggandeng lengan Hanan Arkan erat-erat, seolah-olah suaminya itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra rasa malu.
“Mas, kalau nanti ada yang nanya, bilang Kanza salah lihat garis di testpack karena ngantuk, ya? Atau bilang aku mabuk jamu. Tolong, jangan sampai Kanza jadi headline koran pesantren dengan judul 'Ibu Bohongan Gagal Syukuran'!”
Hanan Arkan hanya tersenyum kalem, tipe senyum yang bagi Kanza justru terlihat sedikit menyebalkan di situasi seperti ini.
“Kanza, masuk. Jangan panik. Tarik napas yang dalam. Umah sudah susah payah memasak bubur merah putih kesukaanmu.”
Begitu mereka melangkahkan kaki melewati ambang pintu, seruan antusias dari belasan ibu-ibu langsung menyambut mereka serempak.
“Assalamualaikum, calon Ibu Muda!”
Kanza seketika membeku. Tubuhnya mendadak kaku seperti es yang baru keluar dari freezer.
“Wa...alaikumsalam...” jawabnya dengan suara yang nyaris tak terdengar karena tenggelam di tenggorokannya sendiri.
Salah satu ibu bahkan dengan semangat yang berapi-api menyodorkan sebuah keranjang kado berukuran besar yang dihias pita cantik.
“Nih, kado awal buat calon dedek bayi. Isinya lengkap, ada minyak telon, bedak tabur, dan yang paling spesial... bedong motif sapi!”
Kanza terpaksa menerima keranjang itu. Ia hanya bisa memasang senyum palsu yang terlihat sangat kaku, sementara matanya berkedip-kedip cepat menahan rasa ingin menangis.
Di balik senyuman itu, otaknya sedang memutar skenario tercepat untuk sembunyi di dalam lemari dapur atau menghilang secara gaib.
“Mas...,” bisiknya sangat pelan sambil menyikut Hanan Arkan yang tetap terlihat berwibawa saat bersalaman sopan dengan para tamu.
“ini semua salah Mas. Kanza kan cuma main-main doang kemarin...”
Hanan Arkan sedikit menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga sang istri dan membalas bisikan itu dengan nada sangat lirih namun tegas.
“Mainannya kamu keterlaluan, Kanza.”
Beberapa saat kemudian, Umah naik ke atas panggung kecil di depan ruang tamu yang telah disulap menjadi area pengajian yang khidmat namun meriah.
“Nak Kanza... Hanan... Mari ke depan, Sayang. Kita amini bersama doa-doa tulus ini agar proses kehamilan lancar, sehat, dan selamat sampai persalinan nanti,” ucap Umah dengan suara bergetar penuh syukur.
Kanza Arumi berdiri kaku, kakinya terasa seperti semen yang baru mengering. Matanya melirik gelisah ke kanan dan ke kiri, mencari celah untuk menghilang.
Hanan Arkan dengan tenang menggandeng tangannya, menuntunnya naik ke panggung kecil itu meski Kanza terus menahan napas sampai wajahnya memerah.
“Umah...,” bisik Kanza tepat di depan mikrofon yang menyala, suaranya bergema ke seluruh ruangan.
“Kanza tuh... belum hamil...”
Seketika, suasana yang tadinya riuh rendah langsung hening total. Angin pun seolah berhenti berembus.
“Apa?” Umah terdiam, ekspresi bahagianya membeku menjadi kebingungan yang nyata.
Kanza panik luar biasa.
“Itu tuh garis dua... garis dua... dari... Tiktok! Kanza cuma mau prank Mas Hanan doang! Umah, jangan marah ya, ini semua ulah temen Kanza, si Tasya, yang ngajarin cara hidup tidak sopan dan penuh drama!”
Suasana makin senyap. Para ibu majelis saling lirik dengan dahi berkerut. Namun, sedetik kemudian...
BRUAKK!!
Tiba-tiba ledakan tawa pecah dari para tamu. Salah satu ibu bahkan sampai menyeka air mata karena tertawa terlalu keras.
“Ya Allah, saya kira cuma saya yang pernah iseng kayak gitu ke suami dulu! Hahaha!”
“Cocok banget, Kanza emang kocak! Cuma Ning Kanza yang bisa bikin acara doa bersama jadi panggung komedi nasional!”
Umah menghela napas panjang, lalu menepuk jidatnya sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Astagfirullah... Ya sudah, bubur merah putihnya dimakan saja semuanya, anggap ini syukuran karena Umah punya menantu yang ajaib lucunya!”
Malamnya, di rumah mereka yang tenang, Kanza duduk bersila di tempat tidur sambil mengelus perutnya yang masih rata dengan wajah sok serius.
“Tenang ya, dedek prank. Besok-besok Kanza bakal usahain kamu hadir beneran, deh. Sabar ya di alam sana.”
Hanan Arkan yang baru keluar dari kamar mandi menatap istrinya dengan tatapan datar yang sulit diartikan.
“Kanza... jangan ngomong kayak gitu sambil mengunyah sisa bubur merah putih. Nggak matching sama sekali.”
Kanza nyengir tanpa dosa. “Maaf ya, Mas. Tapi kalau Kanza hamil beneran nanti, Mas yang harus siap mental. Kanza mau minta kado mewah di setiap trimester!”
Hanan Arkan mengangguk pelan, lalu mendekat dan mencubit pipi istrinya gemas.
“Siap, yang penting jangan prank Umah lagi. Tahu tidak? Umah sampai sudah menyiapkan daftar nama bayi loh.”
“Apaaa?!” Kanza menjerit histeris.
“Udah disiapin nama?! Ini namanya prank berskala nasional yang berbalik arah, Mas!”
\---NEXT---