Diana yang masih duduk di bangku SMA merasa sedih,karena dia dinyatakan hamil.
Diana tak tahu jika cinta satu malam yang terjadi antara dirinya dengan Gaga,teman sekelasnya karena pengaruh minuman keras,bisa menghasilkan benih yang tumbuh di rahimnya.
Diana dan orangtuanya meminta pertanggung jawaban dari Gaga,tetapi Gaga menolak,karena dia tak ingat apapun yang terjadi dengan Diana malam itu, Gaga malah memojokkan Diana dan menghinanya,seolah Diana adalah gadis murahan.
Dengan hati yang sakit, Diana dan keluarganya pulang ke rumah mereka,mengubur harapan untuk bisa mendapatkan keadilan untuk Diana.
Tetapi Devan 29 tahun,Kakak kandung Gaga datang dan bersiap untuk menikahi Diana,dia juga bersedia untuk menjadi Ayah dari anak benih adiknya sendiri.
Seperti apa kelanjutan hubungan mereka?
Akankah Devan mencintai Diana dan sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31
Bu Nining, pulang ke rumahnya dengan ekspresi wajah yang memerah, giginya gemeretak seolah tengah menahan amarah. Sorot matanya pun tak dapat menutupi, bahwa dirinya sedang murka terhadap seseorang.
Bu Nining masuk ke dalam rumahnya, kemudian ia membanting tasnya ke sofa dengan sangat kasar, kemudian menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa yang empuk itu hingga terduduk.
"Sialan, ternyata gadis itu sudah pergi! Sia-sia saja aku pergi ke rumah sakit, tapi dia sudah tak ada!" Bu Nining bergumam kesal, misinya untuk melenyapkan janin Diana gagal total karena Diana tak ada di rumah sakit, seperti yang Devan dan Gaga katakan.
"Ke mana perginya gadis itu? Haruskah aku mencarinya hingga ke rumah orang tuanya? aku nggak boleh diam saja, gadis itu harus dilenyapkan supaya putraku tidak terus terbelenggu olehnya!" Bu Nining masih saja berpikir untuk melenyapkan janin Diana.
Wanita itu menggerutu sendiri di ruang tamu, rasa bencinya terhadap Diana tak pernah hilang walaupun Diana sudah menjadi menantunya dan janin yang Diana kandung adalah benih putranya sendiri. Tanpa Bu Nining sadari, sejak tadi Devan berdiri di belakangnya mendengarkan setiap ucapannya.
"Ternyata benar, ibuku sendiri yang melenyapkan calon cucunya sendiri, dia lah yang telah mencelakai istriku. Astaghfirullah..." Devan sedih mengetahui fakta, bahwa memang benar ibunya lah yang telah mencelakai Diana.
Awalnya, Devan berusaha untuk menepis tuduhan yang dilontarkan oleh pembantunya kepada sang ibu karena tak ada cukup bukti yang mengarah pada ibunya. Namun, sekarang Devan mendengar sendiri bagaimana ibunya bicara, ia percaya bahwa ibunya memang sejahat itu pada Diana.
"Aaarrrghhhh!!! Gadis sialan! Kenapa dia harus muncul dalam hidup putraku?!" Bu Nining sangat murka, ia merasa bebas mengeluarkan unek-uneknya karena waktu sudah sangat malam dan di rumah sepi. Ia pikir, tak akan ada yang mendengarkan apapun yang dikatakannya.
Devan dengan berat hati mendekati ibunya, kemudian ia berdiri di samping sang ibu yang duduk di sofa dengan terus menggerutu kesal. menyadari seseorang berdiri di sampingnya, ia pun menoleh ke arah Devan dan terkejut begitu melihat putranya berdiri dengan menatapnya dingin.
Bu Nining pun spontan berdiri juga, ekspresi wajahnya juga menunjukkan ketegangan saat melihat putranya, dengan mata terbuka lebar dan mulut setengah terbuka.
"D--Devan... K--kamu, kamu disini?" Bu Nining gugup, gelagapan saat bertanya pada putranya.
Wanita itu berusaha tersenyum, tetapi Devan tidak akan termakan dusta ibunya lagi.
"Kenapa, kenapa Mama tega melakukan itu?" Devan langsung bertanya, tanpa basa-basi. Melihat tatapan Devan yang sangat dingin, Bu Nining seolah membeku, ia tidak bisa pergi kemanapun dan terpaksa harus menghadapi putranya sendiri.
"A--apa yang kamu katakan, Nak? Mama gak melakukan apapun, tega seperti apa yang kamu maksud?"
"Jangan berpura-pura bodoh ataupun nggak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi, aku udah tahu semuanya," Devan melanjutkan, "Kenapa Mama mencelakai Diana?"
"Apa maksudnya? Kenapa kamu menuduh Mama mencelakai Diana? Bukankah kamu tahu sendiri, saat kejadian Mama ada bersama kamu di kamar? Mana mungkin Mama mencelakai Diana, sedangkan Mama ada di kamar bersama kamu." Bu Nining berusaha mengelak.
Devan berjalan mendekat ke arah ibunya, lalu berdiri tepat di hadapan sang ibu, tatapan matanya masih dingin tetapi penuh dengan selidik.
"Ya, aku tahu Mama nggak akan pernah melakukan itu, jika Mama ada bersamaku di kamar, tentu saja mustahil untuk mencelakai seseorang jika Mama ada di kamar. Tapi bukan nggak mungkin, kalau Mama memerintahkan seseorang untuk mencelakai Diana, dan Mama berada di kamar bersamaku untuk memperkuat alibi Mama sebagai seseorang yang nggak bersalah." Papar Devan.
"Devan, maksud kamu apa? Mama nggak pernah melakukan apapun, kamu juga tahu sendiri kalau Mama itu sakit dan kamu melihat sendiri kondisi Mama. Mana mungkin Mama mencelakai Diana, dia itu sedang mengandung cucu Mama, dan Mama nggak sabar menunggu kehadiran cucu Mama itu di dunia ini." Bu Nining masih berusaha untuk memperkuat alibinya.
"Bi Tati, wanita itu yang Mama suruh untuk mencelakai Diana, bukan? Mama yang menyuruh dia untuk menumpahkan minyak ke anak tangga, saat Diana turun. Kemudian, Diana terjatuh hingga terguling-guling di tangga dan mengalami keguguran. Selajutnya, wanita itu mengelap kembali cairan minyak hingga bersih di tangga untuk menghilangkan jejak. Dengan begitu, itu bisa terlihat seperti kecelakaan biasa, dan mungkin aku juga akan menyalahkan Diana karena dia nggak berhati-hati saat menuruni tangga. Bukankah begitu, rencana yang Mama buat dengan wanita itu?" Devan membeberkan dengan rinci rencana ibunya, sesuai dengan isi pikirannya dari setiap potongan adegan yang terjadi.
"Mama gak melakukan itu, Nak. Kamu salah paham, pasti gadis itu sudah memfitnah Mama dan mempengaruhi kamu supaya kamu membenci Mama!" Bu Nining malah menyalahkan Diana.
"Diana gak sejahat itu, Ma. Dia datang ke sini karena permintaanku untuk menjenguk Mama, aku yang memaksa dia untuk ikut ke sini. Dia sempat menolak untuk ikut karena dia nggak mau ketemu sama Mama yang selama ini membencinya. Tapi karena aku yang memaksa dan meyakinkan dia bahwa orang tuaku udah berubah, makanya dia mau. Tapi sekarang, aku justru menyesal karena dugaan Diana memang benar, ibuku sangat membencinya sampai saat ini, dan hari ini ibuku sendiri yang mencelakai dia sampai dia keguguran." Papar Devan lagi.
"Keguguran? Bukannya kamu bilang, Diana gak mengalami keguguran?"
"Aku berbohong, aku sengaja bilang ke Mama kalau Diana gak keguguran. Sebab, aku mau tahu seperti apa reaksi Mama dan akan seperti apa yang Mama lakukan di rumah sakit saat aku bilang Diana masih di sana. Diana sebenarnya keguguran, kami kehilangan calon anak kami karena kejadian tadi dan Diana juga dibawa pulang oleh orang tuanya langsung." Devan akhirnya menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
Dalam hati, Bu Nining sangat senang mendengar penjelasan Devan mengenai kegugurannya Diana, itulah yang ia harapkan.
"Mama senang, kan?" tanya Devan.
"Senang? Mana mungkin Mama senang, mengetahui kalau calon cucu Mama gak selamat. Mama sedih, kenapa kamu harus berbohong sama Mama?" Bu Nining berpura-pura sedih, untuk meyakinkan Devan.
"Cukup pura-pura nya, Ma! Aku gak akan pernah termakan omongan dusta Mama lagi, aku kecewa sama Mama karena jahat!" kali ini, Devan berkata dengan tegas, ia kesal melihat ibunya yang terus berpura-pura.
"Devan, kamu gak bisa menuduh Mama seperti itu, kamu salah!"
"Salah? Lalu, bukti rekaman CCTV itu salah?!" Devan menunjuk ke arah kamera CCTV yang terpasang di sudut ruangan.
Bu Nining tercengang, mana mungkin Devan tahu tentang rekaman CCTV itu, sedangkan rekaman CCTV hanya ada di ponselnya dan tentu saja file rekaman juga ada di kartu memori ponselnya.
"Kamu kira Mama percaya sama kamu? Biar Mama tunjukkan rekaman aslinya dari hp Mama, kamu akan lihat sendiri kalau di dalamnya gak ada rekaman kecelakaan Diana disengaja!" ujar Bu Nining sangat yakin.
Ia kemudian mengambil ponselnya, menekan beberapa fitur pada ponsel itu untuk membuka video rekaman CCTV yang ada. Bu Nining tentu akan men-setting rekaman tersebut, agar kejadian awal sebelum Diana kecelakaan tak dapat dilihat oleh Devan.
Namun, wanita itu terlihat keheranan, hingga keningnya terus menerus mengkerut saat matanya menatap layar ponsel.
"Kenapa jadi begini? Dimana video-nya?" tanya nya dalam hati.
Tak ada video rekaman CCTV di ponselnya, yang ada hanya video-video kartun yang tak pernah dimilikinya.
Bu Nining semakin cemas, ia terlihat semakin bingung, gerakan tangannya semakin cepat untuk mencari apa yang dia cari.
"Kenapa? Mama gak bisa menemukan rekaman itu, bukan?" tanya Devan.
Bu Nining tak menjawab, masih sibuk mencari.
"Ini..." Devan meletakkan kartu memori itu di atas layar ponsel yang tengah dimainkan oleh sang ibu.
"Kartunya ada padaku dan aku udah lihat semua isinya." Ucap Devan.
Bu Nining lagi-lagi dibuat tercengang oleh putranya, kali ini ia tercekat seolah tenggorokannya tercekik dan ia tak dapat bicara, menelan ludah pun rasanya sulit.
"Aku kecewa sama Mama, orang yang selama ini selalu aku sayang ternyata melakukan kejahatan yang fatal, hanya karena nggak mau menerima calon cucu yang hadir tanpa diharapkan oleh siapapun. Aku pikir, Mama akan berubah seiring berjalannya waktu, sehingga Mama bisa menerima Diana dan calon anaknya karena Mama juga seorang Ibu. Tapi aku salah, Mama sama sekali nggak bisa berubah, dan bahkan lebih parah lagi Mama mencelakai Diana yang gak bersalah sama sekali." Devan meluapkan kekecewaannya pada sang ibu, ia menahan amarahnya dan juga air matanya atas kekejaman Bu Nining.
"Sekarang, aku udah cukup tahu siapa ibuku sebenarnya. Aku nggak pernah menyangka, kalau ibuku akan melakukan kejahatan seperti itu, padahal pernah mengandung juga. Tapi karena aku udah tahu semua kebenarannya, rasa percaya aku udah hilang ke Mama, aku nggak bisa mempercayai Mama lagi. Aku mencintai Diana, segimana keras pun Mama berusaha memisahkan aku Dan dia, aku akan tetap kembali pada Diana karena dia gadis yang aku cintai, sekalipun Mama nggak akan pernah merestui pernikahan kami selamanya."
"Aku nggak akan menuntut Mama untuk hal ini, karena aku menyayangi mama, aku nggak mau ibuku hidup di penjara. Tapi Mama ingat satu hal, aku nggak akan pernah melupakan apa yang Mama lakukan hari ini, dan aku yang akan menanggung akibat kesalahan Mama. Aku akan menerima hukuman apapun dari Tuan Riddick, tapi aku akan terus berjuang untuk bisa terus bersama Diana dan membangun sebuah hubungan yang penuh cinta dengannya."
Devan mengakhiri perkataannya, Bu Nining mulai menitikkan air mata mendengar setiap perkataan anaknya. Ia sendiri tak pernah menyangka, jika apa yang dilakukannya akan berakhir buruk seperti itu.
"Devan, maafkan Mama. Mama memang bersalah karena Mama sudah mencelakai Diana. Tapi Mama melakukan semua itu demi kamu juga, karena Mama nggak mau kamu terus terbebani oleh calon anak yang bukan dari darah daging kamu. Mama berusaha untuk melenyapkan janin Diana, sebab Mama ingin kamu hidup bahagia dengan menikahi wanita yang kamu cintai, bukan dengan wanita yang kamu nikahi secara terpaksa karena dihamili oleh pria lain. Mama tahu Mama salah, Mama minta maaf dan Mama akan berusaha untuk meminta maaf juga kepada Diana!" Bu Nining mengakui perbuatannya, wanita itu menangis agar Devan memaafkannya.
"Semua udah terlambat, Ma. apapun yang Mama katakan saat ini, aku nggak akan pernah mempercayainya lagi. Dengan apa yang udah Mama lakukan ke Diana, aku udah cukup mengerti dan memahami sifat asli ibuku. Aku juga minta maaf karena aku akan tetap memilih Diana, aku mungkin gak akan kembali ke rumah ini lagi jika bukan karena ada kepentingan mendesak."
"Satu lagi, jangan pernah libatkan orang lain dalam sebuah kejahatan. Kasihan, Bi Tati menghasilkan uang dengan cara yang gak halal karena perintah Mama. Aku udah minta dia pulang ke kampung halamannya dan aku udah kasih dia uang yang cukup buat berobat anaknya. Tolong, jangan pernah meminta dia kembali, kasihan dia. Aku permisi, Ma..."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Devan melengos pergi dengan langkah pasti keluar dari rumah ibunya. Deva menghampiri mobilnya, kemudian masuk dan tancap gas. Tujuan utama Devan saat ini adalah rumah Diana, Devan akan berusaha meyakinkan Tuan Riddick bahwa dirinya ingin tetap bersama Diana dan mengakui jika ibunya memang bersalah.
Sementara itu, Bu Nining menangis tersedu-sedu setelah ditinggalkan oleh Devan, ia menyesali perbuatannya yang telah jahat terhadap Diana. Sedangkan Gaga, juga menyaksikan ibunya menangis dari lantai atas, tetapi pemuda itu tidak berniat untuk menenangkan ibunya karena dia sendiri juga merasa kecewa terhadap sang ibu, yang telah melenyapkan calon anaknya.
bersambung...