NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Di halaman gubuk yang remang oleh pendar obor, suara benturan daging dan kayu jati purba terus terdengar tanpa henti.

​Bugh! Bugh! Bugh!

​Setiap pukulan yang dilayangkan Jangkrik terasa bagai menghantam dinding besi. Sisi telapak tangan kanannya kini sudah tak berbentuk; kulitnya robek, darah segar mengalir membasahi serat-serat kayu jati, dan rasa baal mulai menjalar ke seluruh lengannya. Namun, setiap kali rasa sakit itu memuncak, bayangan kepala ayahnya yang menggelinding dan jeritan ibunya kembali berputar, menjadi pasokan tenaga baru yang gila.

​Dari ambang pintu gubuk, Sang Warok berdiri bersandar pada tiang bambu. Ia memperhatikan muridnya dengan seksama, menikmati setiap tetes keringat dan darah yang tumpah.

​"Ayunan tanganmu mulai melemah, Jangkrik!" teriak Sang Warok, suaranya memecah keheningan malam. "Baru seratus pukulan dan kau sudah seperti perempuan pingitan yang kelelahan?!"

​Jangkrik tidak menjawab. Ia hanya mendengus kasar, menarik napas dalam-dalam, lalu kembali menghantamkan telapak tangannya dengan sisa tenaga yang ia punya.

​Bugh!

​"Ughh..." Jangkrik mengerang lirih. Lututnya gemetar, nyaris ditarik oleh gravitasi bumi untuk ambruk.

​Sang Warok melangkah mendekat, menghentikan langkahnya tepat di samping Jangkrik. Ia meraih pergelangan tangan kanan Jangkrik yang hancur, mengangkatnya ke atas untuk memeriksa luka tersebut di bawah cahaya obor.

​"Lihat ini," ucap Sang Warok dingin. "Dagingmu robek karena kau hanya mengandalkan otot. Kau belum menyatukan getaran batinmu dengan pukulanmu. Kau memukul kayu ini sebagai musuh, makanya kayu ini membalas mematahkan tanganmu."

​Jangkrik menyentakkan tangannya sekuat tenaga, mencoba lepas dari cengkeraman Sang Warok. "Lepaskan! Kau bilang aku boleh memukulnya sampai hancur! Jangan mengatur cara memukulku!"

​Sang Warok tertawa rendah, melepas cengkeramannya dengan sentakan kecil yang membuat Jangkrik terhuyung. "Kau ini keras kepala sekali, bocah. Dengar, untuk menghancurkan benda yang lebih keras dari tubuhmu, kau harus menganggap benda itu bagian dari dirimu sendiri. Seperti jangkrik-jangkrikmu itu."

​Jangkrik tertegun sesaat. Ia menatap Sang Warok dengan dahi berkerut di sela-sela napasnya yang memburu. "Apa hubungannya dengan jangkrik?"

​"Kau sendiri yang heran bagaimana makhluk sekecil jangkrik bisa mengeluarkan suara yang nyaring, bukan?" Sang Warok berjalan memutari Jangkrik, sepasang matanya berkilat di kegelapan. "Jangkrik tidak menggesekkan sayapnya dengan amarah atau paksaan otot. Mereka melakukannya dengan keselarasan. Getaran. Elmu Warok pun sama. Saat kau memukul, bayangkan getaran dari ulu hatimu menjalar ke tulang, menembus kulit, dan menggetarkan bagian dalam kayu ini hingga retak dari dalam."

​Jangkrik terdiam. Matanya beralih menatap batang jati yang bernoda darahnya sendiri. Kata-kata Sang Warok kali ini tidak terdengar seperti ejekan, melainkan sebuah rahasia kanuragan yang tinggi.

​"Kenapa..." Jangkrik menatap Sang Warok dengan pandangan menyelidik. "Kenapa kau mengajariku rahasia ilmumu secara cuma-cuma? Bukankah ini akan mempermudahku untuk memecahkan kepalamu nanti?"

​Sang Warok tersenyum lebar, kumis lebatnya ikut terangkat. "Hahaha! Justru karena itu, Jangkrik! Aku ingin kau cepat pintar. Aku ingin kau tumbuh menjadi sosok yang mengerikan. Bayangkan betapa nikmatnya bertaruh nyawa dengan murid yang kuciptakan dari darah dan dendamku sendiri?"

​Pria itu kemudian menepuk pundak Jangkrik, agak pelan namun energinya membuat Jangkrik meremang.

​"Sudah cukup untuk malam ini. Masuk, bersihkan tanganmu, lalu tidur. Besok subuh, kita tidak hanya memukul kayu, tapi kau harus mulai belajar membaca arah angin dari cambukku."

​Jangkrik menatap tangan kanannya yang gemetar, lalu menatap punggung Sang Warok yang berjalan masuk ke dalam gubuk. Dendam di dadanya tidak berkurang sedikit pun, namun malam ini, sebuah pemahaman baru mulai tertanam di kepalanya.

Malam kian larut, dan perlahan-lahan simfoni alam mulai mengambil alih keheningan Pegunungan Sewu. Suara derik jangkrik kembali meliputi gubuk bambu itu, bersahut-sahutan memecah kegelapan. Di dalam biliknya, Sang Warok sudah mendengkur keras, tanda bahwa sang raksasa telah terlelap dalam tidurnya.

Namun, di sudut lain, Jangkrik sama sekali tidak tidur. Selama beberapa jam terakhir, di bawah lindungan kegelapan malam, bocah itu diam-diam telah mengumpulkan ratusan ekor jangkrik dari sekitar hutan. Dengan sangat hati-hati, ia melepas dan menyebarkan ratusan serangga itu di sekeliling gubuk, menciptakan suara derik yang luar biasa bising dan bertalu-talu.

Apa yang ia lakukan malam ini bukanlah sekadar permainan anak-anak. Ini adalah sebuah rencana pembunuhan yang matang.

Jangkrik tahu betul pendengaran Sang Warok sangat tajam. Maka dari itu, ia memanfaatkan suara riuh ratusan jangkrik untuk menyamarkan setiap gesekan kaki dan helaan napasnya. Memanfaatkan kesempatan emas ini, Jangkrik melangkah sangat pelan, nyaris melayang di atas lantai bambu. Di tangan kanannya, sebilah pisau dapur yang tajam telah terhunus, berkilat dingin ditimpa sisa cahaya perapian.

Ia merapat ke pembarian Sang Warok. Di depannya, pria yang telah membantai keluarganya itu tampak tidur telentang, mendengkur tanpa pertahanan. Jangkrik mengambil posisi, urat-urat di lengannya menegang. Pisau dapur itu terangkat tinggi di udara, mengarah tepat ke urat nadi di leher Sang Warok.

"Mampus kau, Iblis...!" seru Jangkrik dengan penuh kebencian di dalam hatinya.

Wussss!

Dengan seluruh sisa tenaga dan kecepatan yang ia miliki, Jangkrik menghujamkan pisau itu ke bawah.

Clabbbb!

Mata pisau itu telak menusuk daging yang empuk. Namun, Jangkrik seketika terperanjat. Tidak ada darah manusia yang menyembur, tidak ada eraman kesakitan dari Sang Warok. Saat matanya melebar dalam kegelapan, ia menyadari pisau dapurnya ternyata tertancap dalam pada seonggok daging kijang sisa makan malam tadi sore!

Bagaimana bisa? Ternyata dalam fraksi detik saat pisau itu turun, Sang Warok yang dikira tertidur lelap telah bergerak secepat kilat, menyambar potongan daging di dekat pembaringannya dan menggunakannya untuk menangkis tusukan Jangkrik.

"Masih terlalu lambat kau, Jangkrik..." sebuah suara berat berbisik dingin di tengah kegelapan.

Buaghhhhhhh!

Belum sempat Jangkrik menarik pisaunya atau mundur selangkah, sebuah tendangan brutal dari kaki kekar Sang Warok menghantam telak di ulu hatinya. Daya dorong yang dihasilkan dari tenaga dalam seorang Warok itu luar biasa mengerikan. Tubuh kecil Jangkrik melesat ke belakang bagai peluru, menghantam dan menjebol dinding anyaman bambu gubuk hingga hancur berantakan.

Bruaaakkkk!

"Aggghhhhh!" Jangkrik terjerembab di atas tanah berbatu di luar gubuk. Seluruh isi perutnya serasa diaduk, dan napasnya seketika tersumbat.

Belum sempat ia mengumpulkan kesadarannya, bayangan hitam besar melangkah keluar dari robekan dinding bambu. Sang Warok menghampiri Jangkrik yang masih tergeletak kesakitan memegangi perutnya. Tanpa belas kasihan sedikit pun, wajah angker Sang Warok menatapnya dingin dari atas, lalu kaki besarnya kembali terangkat.

Buaghhhh!

"Heggghhh!" Jangkrik mengerang parau saat hantaman kedua bersarang di tempat yang sama.

Sang Warok belum selesai. Malam ini, ia ingin memberi pelajaran yang membekas di batin muridnya. Hantaman demi hantaman kaki dan pukulannya kembali mendarat bertubi-tubi di tubuh Jangkrik.

Bugh! Bugh! Buggg!

"Uhukkk...!" Jangkrik terbatuk hebat, cairan kental berwarna merah segar memancar dari mulutnya, membasahi tanah kering dan dedaunan di sekitarnya. Tubuhnya melingkar kesakitan bagai cacing yang mengering.

Sang Warok berhenti, lalu menarik napas dalam-dalam seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menatap muridnya yang bersimbah darah dengan pandangan meremehkan.

"Bocah payah. Kau pikir taktik murahan seperti ini bisa menipu indra seorang Warok?" desisnya sembari meludah ke samping. "Malam ini, kau tidak boleh masuk ke dalam gubuk. Tidurlah di luar sini, berteman dengan ratusan piaraanmu yang berisik itu!"

Sang Warok berbalik, melangkah masuk ke dalam gubuk yang kini dindingnya telah bolong, meninggalkan Jangkrik yang merintih menahan sakit di bawah dinginnya langit malam Pegunungan Sewu, dikepung oleh derik ratusan jangkrik yang seolah sedang meratapi kegagalannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!