Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 35 - Bersama Kami
Wanita itu tersenyum penuh percaya diri, tangannya bahkan melingkar manja di lengan Davion seolah itu adalah hal yang sudah sangat biasa ia lakukan.
Aluna pun tidak langsung menjawab perkenalan diri Clara, dia masih terkejut dengan apa yang terjadi sekarang. Aluna hanya berdiri di sana dengan tubuhnya yang masih terbungkus apron.
Davion melirik sekilas ke arah Aluna, ekspresinya tetap datar nyaris tanpa emosi.
“Aku mau mandi dulu,” ucapnya singkat, lebih ditujukan pada Clara daripada Aluna.
Clara pun langsung mengangguk dengan tersenyum kecil. “Hem, aku akan menunggumu.”
Tanpa menambahkan apa pun, Davion berjalan melewati mereka dan masuk ke kamarnya. Pintu tertutup pelan, namun suara itu terasa jauh lebih nyaring di telinga Aluna.
Dan kini tinggal mereka berdua di ruang tengah tersebut. Sesaat hanya ada Hening diantara keduanya, Clara sibuk memperhatikan apartemen yang kini ada beberapa bunga segar di sudut ruangan.
"Silahkan duduk, aku akan kembali ke dapur," ucap Aluna kemudian, pada akhirnya dia akan memperlakukan wanita itu sebagai tamu.
"Tunggu dulu," cegah Clara sebelum Aluna sempat melangkahkan kakinya.
“Kamu Aluna, kan?” tanyanya kemudian, nada suaranya ringan sekali.
Aluna mengangguk kecil Tangannya tanpa sadar menggenggam ujung apron yang ia kenakan, seolah itu satu-satunya hal yang bisa menahannya tetap berdiri tegak.
Clara melangkah mendekati istri Davion tersebut, lagi-lagi memperkenalkan diri siapa dia di dalam hidup Davion.
“Aku teman kecil Davion,” jelasnya tanpa diminta. “Seluruh keluarga Harold juga mengenalku dengan sangat baik." Ada kebanggaan dalam suaranya.
Aluna hanya diam dan mendengarkan. Meskipun sebelumnya ia tak pernah mendengar nama Clara disebut di tengah-tengah keluarga Harold. Sekalipun bahkan mom Ivana tak pernah menyinggungnya.
“Aku baru saja kembali dari luar negeri dan tentu saja Davion adalah yang pertama kali ku temui. Karena itulah sekarang aku ada di sini." Senyum di wajah Clara berubah sedikit, kali ini lebih penuh arti.
“Jujur saja, aku cukup terkejut saat tahu dia sudah menikah.”
Kalimat itu membuat jari Aluna semakin mengerat pada apron di tubuhnya, tapi keanggunan Aluna selalu yang lebih dulu dilihat oleh orang lain, termasuk Clara.
“Davion bukan tipe pria yang akan menikah sembarangan,” tambahnya, lalu menatap Aluna lebih dalam. “Jadi ketika aku dengar semuanya terjadi begitu cepat aku langsung paham.”
Aluna mengangkat alisnya sedikit. “Apa yang kamu pahami?” tanyanya yang akhirnya buka suara.
Clara tersenyum lagi.
“Kamu pasti juga tahu, Ini hanya pernikahan bisnis, bukan?”
Deg! Kalimat itu membuat Aluna kembali terdiam, rasanya sangat tak nyaman saat orang lain tahu terlalu banyak tentang rumah tangganya. Terlebih Clara bukanlah keluarga, bagi Aluna wanita itu adalah orang asing.
Sementara Clara melanjutkan tanpa ragu sedikit pun, seolah sedang membicarakan sesuatu yang sudah jelas dan tak perlu disembunyikan.
“Keluarga Myles sedang butuh bantuan, dan keluarga Harold punya segalanya. Pernikahan seperti ini sudah sangat biasa di dunia kami.”
Bukannya tersinggung Aluna justru tersenyum kecil, sikap Clara yang seperti ini menunjukkan jelas bahwa wanita itu menyukai Davion. Atau mungkin mereka sebenarnya juga memiliki hubungan.
Aluna menghela nafas pelan, dia tak ingin menyalahkan Davion tentang hal ini. Tapi jika boleh meminta, Aluna tak ingin hubungan itu terjadi disaat mereka masih menikah.
Karena ada harga diri yang harus Aluna lindungi.
“Lagipula,” Clara sedikit memiringkan kepalanya, menatap Aluna dengan senyum yang tetap sopan namun entah kenapa terasa menekan, “Aku yakin pernikahan ini tidak akan bertahan lama.”
Aluna tidak menjawab.
“Davion itu bukan tipe pria yang akan terikat lama pada sesuatu yang tidak ia inginkan,” lanjut Clara. “Cepat atau lambat dia pasti akan menceraikanmu.”
Susah payah Aluna coba menenangkan gejolak di dalam dadanya, yang paling menyakitkan bukanlah kata-kata Clara. Melainkan kenyataan bahwa Davion membiarkan wanita lain mengetahui semua ini.
Tanpa pernah sekalipun mencoba menjaga harga dirinya sebagai istri. Tanpa pernah sekalipun memikirkan perasaannya.
Aluna perlahan melepaskan apron di tubuhnya, menunjukkan kecantikan dirinya yang juga tak mampu dianggap remeh. Wajahnya tetap tenang meskipun hatinya sedang retak perlahan.
"Clara, sepertinya kamu sudah terlalu lancang menilai pernikahan kami," ucap Aluna dengan senyum kecil.
Clara sontak terdiam mendengar kata-kata tersebut, disaat Aluna tersenyum kini justru senyum di wajahnya yang menghilang.
"Apapun alasannya dan meskipun nanti kami bercerai, tetap tak bisa mengubah fakta bahwa sekarang aku adalah istrinya," ucap Aluna lagi.
"Jadi kuharap duduk lah dengan tenang dan jangan mengusik apapun tentang pernikahan kami. Aku akan kembali menyiapkan makan malam, apa kamu ingin makan malam bersama kami?" tanya Aluna pula.
Satu pertanyaan yang entah kenapa sangat melukai harga diri Clara. Seolah kedatangan ke sini hanya untuk menumpang makan.
Belajar untuk membiarkan Aluna merasakan hidup sendiri tanpa tekanan dari siapapun dan menjadi dirinya sendiri...
Tetaplah dukung dan terus berada disisinya walaupun kalian terpisah tunjukan bahwa cinta yang tulus itu mulai tumbuh dihatimu ...
Nah apakah disini Aluna dan Davion bisa bersama? sedangkan Aluna sdh nyaman hidup seperti ini, Davion setelah bertemu Aluna mungkin sdh tidak bermain wanita lagi. Tapi entahlah dulu sampai tahap mana dia bermain, Yang pasti Aluna sdh tidak peduli lagi. Mungkin akan sedikit tersentuh kalau Davion berhasil membawa Aluna bertemh keluarga kandungnya kembali.