Blurb
Kiran Hanna Yasmin, merasakan hidupnya hampir sempurna dan jatuh cinta pada pria terbaik. Nyatanya bukan cinta, dirinya hanya dijadikan alat untuk balas dendam cara cepat untuk menuntut hak dari seorang Indra Jaya. Kehidupan Kiran seakan jungkir balik dan berubah ketika ayahnya memutuskan menikahkan Kiran dengan orang kepercayaannya.
Bukan kisah benci jadi cinta, tapi keadaan yang semakin rumit manakala Kiran hamil dan merasa diabaikan. Pecundang datang dengan penyesalan dan berjanji akan mengembalikan semua pada tempatnya, situasi menjadi semakin sulit macam benang kusut.
Kepada siapa cinta Kiran akan berpindah hati?
***
“Ini bukan kisah drama seperti tulisan-tulisanmu, tapi kehidupan nyata yang harus kita jalani. Sama seperti dirimu, aku pun memiliki kisah cinta sendiri.” == Brama Aji Sena.
“Aku tidak butuh rasa kasihan, pergilah dengan rasamu karena cintaku akan berpindah pada hati yang tepat." == Kiran Hana Yasmin
======
Follow IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 ~ Lagi-lagi Vira
Brama berdecak menatap Kiran yang masih bergelung di bawah selimut. Wajah wanita itu terlihat semakin menggemaskan ketika tidur, bahkan surai yang agak berantakan tidak mengurangi kecantikannya.
Jika bukan karena harus datang tepat waktu seperti biasa, mungkin Brama akan kembali menemani Kiran dan mengajaknya mengulang kegiatan semalam. Lebih tepatnya, mengulang pemaksaan semalam. Rasa cemburu membuat Brama dibakar gairahnya sendiri, beruntung Kiran bisa mengimbangi meskipun lebih dahulu terlelap.
Sambil memakai setelan kerjanya, tatapan Brama masih tertuju pada ranjang yang mulai ada pergerakan di sana. Sepertinya Kiran mulai terjaga, meskipun matanya masih terpejam.
“Mas Bram, kok sudah rapi? Memang ini jam berapa?” Kiran menatap keliling ruangan sambil beranjak duduk. Selimut yang dikenakannya melorot ke bawah membuat bagian depan tubuhnya terekspos. Brama tersenyum karena tubuh Kiran belum mengenakan pakaian dan banyak jejak tertinggal di tubuhnya.
“Kamu menggodaku?”
“Eh.” Bergegas dia menutupi asetnya dengan kembali menarik selimut, menyadari dirinya belum mengenakan apapun dari tatapan wajah suaminya. “Ck, kenapa nggak bangunin aku sih.”
Mulut Kiran terus mengoceh menyalahkan Brama karena ulahnya semalam. Sedangkan yang tertuduh dengan santainya menghampiri dan duduk di tepi ranjang.
“Istirahatlah, itu pakaianmu. Aku sudah bilang Bi Ati agar siapkan makanan untukmu.”
“Sumpah Mas, ini rasanya pada pegal semua. Kayaknya aku nggak sanggup balik ke kamar.”
“Mulai sekarang, kita akan tinggal sekamar. kecuali butuh suasana berbeda, kita bisa lakukan di kamarmu.”
“Hah.”
Brama mengusap kepala istrinya lalu beranjak dan mendekat pada nakas. Mengambil ponsel, dompet dan kunci mobilnya.
“Kalau hari ini ada rencana keluar, sebaiknya kamu batalkan. Tetap di rumah, supir tetap aku minta stand by tapi untuk menjaga situasi bukan untuk antar kamu ke luar.”
“Hm.” Kiran kembali berbaring dan menarik selimut bahkan sampai menutupi kepalanya.
***
Vira mendengus kesal saat membuka pintu dan melihat Indra berdiri di sana. Sebelumnya pria itu bisa masuk kapan saja bahkan termasuk juga Vira di apartemen Indra. Namun, kali ini berbeda. Vira sudah mengganti pass code untuk membuka pintu.
“Apa lagi, aku buru-buru,” seru Vira sambil berjalan menuju lift.
“Vir, sebaiknya kamu hati-hati. Om Yudis tidak akan muda menerima kamu.”
“Indra, berhenti ikut campur urusanku. Kita sudah selesai, sebaiknya kamu cari perempuan lain yang bisa diajak susah atau rebut saja Kiran dari Brama.”
Indra terkekeh. Cinta memang membutakan mata hatinya, sampai-sampai mengorbankan Kiran dengan tujuan membahagiakan dua perempuan yang dia sayang. Bukan berarti sekarang dia masih mengharapkan wanita itu yang jelas-jelas membuangnya kala dia terpuruk.
“Apa sekarang kamu sudah tidak waras,” ejek Vira.
“Hah. Aku memang tidak waras Vir, tapi itu dulu waktu aku begitu mencintaimu dan sekarang aku sudah sembuh total. Sadar jiwa dan raga dan menyesal karena dulu aku mencintai wanita yang salah. Bisa jadi kamu tidak mencintaiku, buktinya begitu mudah kamu berpindah hati. Ah, aku lupa kalau harta dan tahta bisa membuatmu begitu mudah jatuh cinta.”
Penuturan Indra memang benar, tapi Vira geram mendengarnya. Bahkan dengan cepat tangannya terarah pada wajah Indra dan melayang. Gerakan itu bisa dibaca oleh Indra dengan cepat menahan tangan Vira.
“Kenapa marah?” tanya Indra.
“Pergi sebelum aku panggil security,” ancam Vira.
“Tenang saja Vir, aku pun tidak tertarik untuk merayumu untuk kembali. Karena kita pernah dekat, maka aku merasa perlu menyampaikan ini. Tidak mudah untuk menjadi bagian keluarga Dhananjaya, salah-salah kamu malah didepak jauh dan menyesali rencanamu terhadap Emran.”
“Pergi!” pekik Vira. Indra pun meninggalkannya.
“Rencanaku pasti berhasil. Emran putra pertama Tuan Yudis dan Ibu Narita, tidak mungkin mereka menolakku kalau putranya sangat memuja diriku.”
Ternyata Emran sudah menunggu di lobby, Vira bergegas masuk mobil kekasihnya.
“Pagi, sayang.”
“Emran, kamu yakin ini tidak berbahaya,” ujar Vira lalu memakai seatbelt. Emran hanya tersenyum, mengusap kepala wanita itu lalu meninggalkan kawasan apartemen Vira.
“Jangan takut, hari ini aku harus ke kampus mengurus pendaftaran wisuda. Setelah ini aku bukan lagi karyawan magang dan aku akan semangat untuk menjadi pengganti Ayah. Kamu dukung aku terus ya,” ujar Emran sambil sesekali menoleh dan menatap Vira.
“Tentu saja aku akan selalu doakan yang terbaik untuk kamu dan … kita.”
Beruntung mobil yang dikendarai Emran berhenti karena lampu lalu lintas. Emran meraih tangan Vira lalu menciumnya dan menggenggamnya. Wajah Vira merona dan bersikap malu-malu, karena perlakukan Emran.
“Setelah aku mendapatkan posisi yang baik, tidak ada akan ada yang bisa melarangku berhubungan dengan kamu.”
Vira tersenyum. Emran kembali melajukan kendaraannya.
Menunggu Emran menjadi pengganti Yudis, entah kapan. Brama lebih punya peluang untuk itu, aku harus cari cara. Bagaimanapun aku harus berada di tengah keluarga Dhananjaya.
“Nanti malam kami akan berkumpul makan malam, termasuk Kak Kiran dan suaminya. Aku akan membuatnya tidak menerima tawaran Ayah,” seru Emran.
Kiran, lagi-lagi Kiran. Vira mendengus kesal.
dari awal bab, dah trasa beda aja👍