Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Bukan cinta.
Sudah berapa lama waktu berlalu semenjak ayahnya meninggal? Ia tidak pernah melupakan kesedihan itu. Prisha melihat foto keluarganya, namun mencoret wajah Naomi menggunakan pena, hanya ada tiga wajah yang terlihat jelas dalam selembar foto itu.
Ia menarik napasnya panjang, rasa sesak ini sering kali muncul ketika ia sendirian. Dalam penerangan temaram, di waktu tengah malam ini dia belum bisa tidur.
“Sebenarnya kemana kau pergi, Kak?”
Andaikan, andaikan Davier ada di sisinya, Prisha tidak perlu takut tersingkirkan oleh Saka. Mungkin, ia tidak akan pernah bertemu Saka. Entah kenapa itu terdengar jauh lebih baik, karena faktanya jika ia menikah dengan Pria itu, yang diharapkan oleh Tanubrata hanyalah anak.
Tidak masalah, Prisha bisa memberikan anak jika dengan begitu bisa menyelamatkan kemudahan dalam hidupnya. Namun, dia juga memiliki ketakutan yang tersimpan jauh di dalam hatinya, seperti bagaimana ia jatuh cinta dan tidak ingin berbagi kasih pada siapapun?
Prisha menepuk jidatnya. “Sebenarnya apa yang aku pikirkan di tengah malam ini?” Dia duduk, membuka laci nakas lalu memasukkan selembar foto ke sana.
“Untuk bahagia, cinta itu tidak penting, yang penting adalah jaminan hidup dan sehat sejahtera. Kenikmatan apa lagi yang lebih baik dari itu?”
Dia menghempaskan tubuh di ranjang, menarik selimut hingga menutupi sampai ke lehernya. Sejenak Prisha menyalakan ponsel guna melihat jam berapa saat ini, karena jam dinding tidak terlihat dengan cahaya saat ini.
“Gawat, udah jam 2, besok aku masuk pagi!”
Memikirkan saja sudah membuat Prisha lelah, kampus bukan tempat yang aman lagi baginya, itu seperti wahana bertahan hidup. Prisha bingung, apakah yang ia lakukan di masa lalu benar-benar separah itu?
Ketika pagi tiba, Bora masuk. Ia melihat Prisha masih terlelap. Pertama-tama Bora menyiapkan air mandi hangat, lalu pergi menyingkap gorden. Rutinitas paginya selalu sama, karena Prisha sama sekali tidak segan seperti gadis lainnya yang pernah ia layani.
Kalau diingat, Bora tidak pernah membantu mereka mandi karena mereka malu. Sering kali mereka juga tidak setuju dengan pakaian yang Bora pilih. Dan yang paling jelas adalah rasa risih mereka terhadap Bora yang mengikuti ke mana saja.
“Nona sudah waktunya bangun,” ucap Bora berdiri tepat di samping tempat tidur membawa segelas teh hijau.
“Emm.” Prisha membuka mata, setelah beberapa saat barulah ia duduk menerima gelas dari Bora.
Bora tersenyum tipis, ia suka majikan seperti Prisha, daripada wanita yang memiliki banyak kesungkanan yang membuat Bora pribadi merasa percuma memiliki lisensi pelayan profesional.
***
Diikuti oleh Bora di belakangnya, Prisha menuruni tangga dengan langkah tanpa semangat. Rasanya ia kurang tidur, ia tidak ingin masuk kelas hari ini tapi apa pandangan Ratih nanti?
Sampai di meja makan, belum ada siapapun selain makanan yang tersusun di atas meja.
“Bibi dan Kak Saka belum datang?”
“Selamat pagi, Prisha,” sahut Ratih menepuk pundak Prisha dari belakang.
“Ah, Bibi, selamat pagi.”
Mereka berdua duduk, mengobrol santai dan saling bertanya tentang waktu ketika mereka berjauhan. Ratih terlebih dahulu menarik piringnya, namun Prisha sejak tadi hanya meminum susu dan buah potong karena ia sengaja menunggu Saka.
Ratih diam-diam mengulum senyum, ia tahu niat Prisha. Hanya saja Ratih sedikit takjub dengan kegigihan gadis tersebut, ia berharap Prisha berhasil karena jika tidak Ratih terpaksa melihat putranya bersama Utami.
“Kak Saka! Selamat pagi,” ucap Prisha ketika Saka muncul.
“Em, pagi.”
Meja makan itu bundar, Saka duduk di samping Prisha langsung karena tahu gadis itu akan berpindah jika ia memilih tempat duduk lain.
Membiarkan Prisha memasukkan ini dan itu ke dalam piringnya, Saka dapat merasakan senyuman bahagia ibunya. Menurutnya ini membosankan, mau sampai kapan ia mengalah pada Prisha? Dihindari salah, tak dihindari juga salah.
“Aku pulang siang nanti. Kak Saka mau ku bawakan makan siang, gak?”
“Terserah kau saja.”
“Kalau begitu aku akan datang, jangan makan sebelum aku datang.”
“Em.”
Jawaban tanpa gairah itu tidak melunturkan senyum Prisha, dia berpura-pura tidak tahu dan bersikap seperti gadis bodoh. Akhirnya ia menyentuh piringnya sendiri, dan Ratih tanpa suara meninggalkan meja makan.
Prisha memperhatikan wajah Saka, sepertinya dia tidur kemalaman juga yang mungkin lebih dari Prisha. Yah wajar saja mengingat debatnya dengan Ratih tadi malam, dan ambisinya pada Utami yang tidak diterima keluarga.
“Aku sudah selesai.” Saka berdiri, pergi begitu saja.
Tinggallah Prisha sendirian, memandang Saka yang menjauh. Ia mendorong piringnya yang masih berisi setengah menjauh, selera makannya memang tidak baik sejak bangun tidur tadi.
“Bora, mana tasku?” ucap Prisha sambil berdiri.
“Ini Nona.” Bora menyerahkan tas yang sejak tadi ia pegang sambil menunggu Prisha beranjak.
“Taksiku sudah datang?”
“Sudah menunggu di luar, Nona.”
“Baiklah, aku akan pergi sekarang. Sampai jumpa nanti Bora.” Ia melangkah cepat sambil melambaikan tangan, tentu saja Bora juga melambaikan tangan.
Udara luar begitu hangat, Prisha berjalan menuruni tangga teras. Tangannya menggapainya bunga melati putih sebelum naik ke taksi, kemudian ia duduk menyilangkan kaki sembari mencium aroma bunga.
“Aromanya terlalu menyengat.” Ia melemparkan bunga itu sembarangan. “Sudah kuduga, bunga daisy adalah yang terbaik. Benarkan, Pak?”
“Eh? Ah, i-iya.” Supir taksi bingung. Hampir setiap hari ia masuk ke rumah megah ini untuk gadis cantik dengan gaya yang angkuh. Padahal ada mobil dan sopir sendiri, tapi si nona angkuh lebih memilih naik mobilnya waktu pagi hari. Ya, anehnya hanya saat pagi hari.
“Nona.”
“Hm?”
“Sebenarnya saya sudah lama penasaran. Bolehkah saya bertanya?”
Prisha mengernyit, tidak biasanya super itu bersuara. “Yaudah tanya aja.”
“Kenapa tidak naik mobil sendiri, sepertinya ada supir dan mobil sendiri.”
“Emm …” Prisha menekan pipinya, memiringkan kepala dan memandang ke atas. “Anggap saja aku sedang membantu UMR.”
Alasan yang terdengar mulia, tapi rasanya bukan itu alasan sebenarnya. Sebagai supir, dia tidak boleh terlalu kepo.
“Ternyata begitu, Anda baik sekali Nona.”
“Oh!” Tiba-tiba Prisha menepukkan tangan sekali. “Kau adalah orang pertama yang mengatakan aku baik. Terima kasih.”
“Eh?” Dalam hatinya supir berkata, ‘Apa memang benar begitu?’ Ia melirik sekali lagi ke spion dalam, cara duduk gadis itu yang begitu angkuh sepertinya menggambarkan perilakunya.
‘Sepertinya memang benar aku yang pertama.’
Akhirnya sampai ke kampusnya, perjalanan dengan gadis cantik yang enggan ia ajak bicara berakhir untuk hari ini. Supir bernapas lega ketika menerima uang kes, gadis ini tidak melakukan apa-apa di dalam mobilnya namun entah mengapa terasa mengancam.
“Besok jemput aku jam sembilan pas ya.”
Setelah mengatakan hal tersebut Prisha pergi. Supir bersandar, “Besok aku masih bertemu dengannya.”
Bersambung....