Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.
Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.
Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.
Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.
Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.
Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.
Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17_perpisahan
"Nyonya, ada klien yang ingin menemui Anda. Dia bersikeras hanya ingin bertemu langsung dengan Anda. Dia menolak jika diwakilkan oleh siapa pun," ucap Berry dari seberang telepon dengan suara hormat, meski terdengar sedikit gugup, sementara jemarinya sibuk membolak-balik agenda kerja di atas meja. Ia berharap sang nyonya bersedia memenuhi permintaan klien tersebut.
Elvara yang sedang duduk di balkon Mansion keluarganya di Amerika menoleh ke arah ponsel yang masih menempel di telinganya. Angin musim semi berembus lembut, mengibaskan beberapa helai rambutnya.
"Sudah kamu jelaskan kalau saya sedang cuti?" tanya Elvara dengan nada tenang.
"Sudah, Nyonya. Saya sudah menjelaskan bahwa Anda sedang mengambil cuti dan tidak menerima jadwal kerja apa pun selama beberapa hari ini." jawab Berry penuh hormat, sedangkan jemarinya tanpa sadar mencengkram agenda kerja yang berada di tangannya.
"Lalu?" tanya Elvara singkat.
"Mereka tetap menolak. Mereka bilang akan menunggu sampai anda datang kembali. Bahkan mereka mengatakan tidak keberatan datang setiap hari ke kantor sampai Anda bersedia menemui mereka." jelas Berry.
"Menunggu berapa lama pun?" tanya Elvara, keningnya berkerut semakin dalam.
"Iya, Nyonya. Mereka bilang selama masih ada harapan bertemu dengan Anda, mereka akan tetap menunggu." jawab Berry mantap.
"Mereka benar benar tidak mau bertemu direktur lain?" tanya Elvara lagi.
"Tidak, Nyonya. Mereka mengatakan hanya Anda yang bisa mengambil keputusan kerja sama ini." jawab Berry.
"Bagaimana dengan rapat daring?" tanya Elvara.
"Sudah saya tawarkan. Saya bahkan menawarkan konferensi video dengan pengamanan khusus." jawab Berry menggeleng pelan
"Mereka menolak juga?" tanya Elvara. Alisnya terangkat tipis, ada sedikit rasa heran yang mulai terlihat di wajahnya.
"Iya. Mereka mengatakan pembahasan ini bersifat sangat rahasia dan tidak ingin membahasnya melalui media apa pun. Mereka hanya ingin berbicara secara langsung dengan Anda." jelas Berry.
"Perusahaan siapa?" tanyanya singkat. Suaranya tetap tenang, tetapi sorot matanya berubah serius. Keningnya sedikit berkerut, menandakan rasa penasaran sekaligus kewaspadaan.
"Perusahaan besar dari Indonesia, Nyonya. Mereka bilang urusan ini sangat penting dan hanya percaya kepada Anda," jelas Berry sambil menarik napas pelan. Ekspresi wajahnya penuh harap, bibirnya sedikit mengatup, matanya menatap kosong ke depan sambil menunggu jawaban yang akan menentukan jadwal perusahaan beberapa hari ke depan.
Elvara terdiam beberapa saat.
Pandangannya beralih ke taman belakang rumah yang dipenuhi bunga-bunga musim semi yang bermekaran indah. Burung-burung kecil beterbangan dengan bebas, menciptakan suasana damai yang jarang ia rasakan. Baru beberapa hari ia menikmati waktu bersama kedua orang tuanya setelah bertahun-tahun tenggelam dalam kesibukan pekerjaan.
"Mereka sudah membuat janji sebelumnya?" tanya Elvara.
"Belum, Nyonya. Mereka datang mendadak tanpa pemberitahuan, tetapi tetap bersikap sopan dan bersedia menunggu." jawab Berry.
"Mereka masih di sana?" tanya Elvara.
"Masih. Bahkan sebelum saya menelepon Anda, mereka kembali memastikan apakah ada kemungkinan Anda pulang lebih cepat." jawab Berry. Senyum tipis mulai terlihat di wajahnya karena sang Nyonya mulai mempertimbangkan permintaan tersebut.
"Pastikan semua dokumen yang mereka bawa diperiksa terlebih dahulu. Aku tidak ingin ada kebocoran data ataupun kesalahan." ucap Elvara tegas.
"Baik, Nyonya. Semua dokumen akan melalui pemeriksaan berlapis sebelum sampai di meja Anda." jawab Berry mantap.
"Dan jangan sampai mereka menunggu tanpa pelayanan." lanjutnya.
"Tentu, Nyonya. Saya sudah meminta tim untuk memberikan ruang VIP serta memenuhi semua kebutuhan mereka selama berada di kantor." jawab Berry.
"Hmm... baiklah," ucapnya pelan sambil mengembuskan napas panjang. Wajahnya terlihat pasrah, tetapi tetap memancarkan profesionalisme. Sudut bibirnya membentuk senyum tipis, seolah sudah terbiasa mengorbankan waktu pribadinya demi tanggung jawab.
"Kalau memang seperti itu, aku akan pulang ke Indonesia besok," lanjutnya mantap. Tatapannya kembali menjadi tegas, menunjukkan bahwa keputusan itu telah bulat meski hatinya terasa berat.
"Baik, Nyonya. Saya akan segera mengatur semua jadwal kedatangan Anda," jawab Berry dengan lega. Ekspresi wajahnya berubah cerah. Bahunya yang semula kaku kini perlahan rileks, bahkan senyum lega mulai menghiasi wajahnya karena masalah besar itu akhirnya terselesaikan.
"Terima kasih," balas Elvara singkat. Ekspresi wajahnya lembut disertai anggukan kecil sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras asistennya.
Panggilan pun berakhir.
Elvara memandangi langit Amerika yang mulai berubah jingga, semburat senja menghiasi cakrawala.
"Dua minggu ternyata terasa begitu singkat," gumamnya lirih. Wajahnya terlihat sendu. Matanya menerawang jauh, dipenuhi rasa enggan meninggalkan keluarga yang baru saja kembali ia peluk setelah sekian lama terpisah oleh kesibukan.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat.
Edgar datang sambil membawa dua cangkir kopi hangat yang masih mengepulkan uap.
"Kamu ngelamun apa?" tanyanya sambil menyodorkan secangkir kopi kepada sang adik. Wajah Edgar hangat, dihiasi senyum kecil yang selalu mampu membuat suasana menjadi nyaman.
"Makasih, Kak," ucap Elvara sambil menerima kopi itu. Senyum tipis menghiasi bibirnya sebagai ungkapan syukur memiliki kakak yang selalu perhatian.
"Kamu kelihatan lagi mikir berat," ujar Edgar setelah duduk di sampingnya. Tatapannya tidak lepas dari wajah Elvara, berusaha membaca beban yang sedang dipendam adiknya.
"Aku harus pulang ke Indonesia," jawab Elvara pelan sambil menundukkan pandangan ke cangkir kopi di tangannya. Bibirnya mengatup pelan, sementara matanya menyimpan rasa berat meninggalkan rumah.
"Besok?" tanya Edgar spontan. Ekspresi wajahnya terkejut. Kedua alisnya terangkat tinggi dan matanya sedikit membelalak karena kabar itu datang begitu tiba-tiba.
"Iya, tiket nya akan segera di urus Berry. Sepertinya aku harus berangkat pagi pagi sekali." jawab Elvara singkat, meski sorot matanya menyiratkan kesedihan yang berusaha ia sembunyikan.
"Nggak bisa di tunda dua hari lagi?" tanya Edgar penuh harap.
"Aku juga ingin begitu. Tapi kalau aku menunda, pekerjaan banyak yang ikut tertunda." jawab Elvara.
"Seserius itu pekerjaannya?" tanya Edgar lagi. Ekspresi wajahnya mulai berubah maklum, namun masih terselip rasa kecewa.
"Cukup serius. Kalau bukan karena benar benar penting, aku juga nggak mungkin pulang secepat ini." jelas Elvara sambil tersenyum tipis. Ekspresi wajahnya berusaha terlihat tegar, walaupun jauh di dalam hatinya ia ingin memperpanjang waktu bersama keluarga.
"Aku sudah menduga. Kamu memang nggak akan bisa lama-lama libur," ucap Edgar sambil mengangguk pelan. Ia sudah sangat mengenal sifat adiknya yang selalu mendahulukan tanggung jawab.
"Aku juga sebenarnya masih ingin di sini," kata Elvara sambil tertawa kecil. Tatapannya kembali mengarah ke taman seolah ingin mengingat setiap sudutnya.
"Kerjaan tetap nomor satu buat kamu," goda Edgar sambil mengusap pelan kepala adiknya. Ekspresi wajahnya penuh kebanggaan sekaligus kasih sayang.
"Bukan nomor satu..." sahut Elvara sambil menggeleng pelan. Ekspresi wajahnya berubah serius, namun tetap lembut.
"Keluarga tetap nomor satu. Tapi aku juga punya tanggung jawab," lanjutnya mantap. Tatapannya penuh keyakinan. Senyum hangat menghiasi wajahnya karena itulah prinsip hidup yang selalu ia pegang.
"Itu adikku," ujar Edgar bangga. Dadanya terasa hangat melihat Elvara tetap menjadi pribadi yang rendah hati meski telah sukses.
Malam harinya seluruh keluarga berkumpul di ruang makan. Suasana hangat dipenuhi tawa dan obrolan ringan.
Ayah Elvara memperhatikan putrinya yang terlihat lebih banyak diam dibanding biasanya.
"Ada apa? Kok dari tadi kamu kelihatan murung?" tanyanya sambil meletakkan sendok perlahan.Tatapannya lembut, menunjukkan kasih sayang seorang ayah yang begitu memahami perubahan kecil pada anaknya.
"Dad... Mom... besok aku harus kembali ke Indonesia," ucap Elvara lirih. Ekspresi wajahnya sedikit canggung. Ia menggigit bibir bawah pelan karena tidak enak harus menyampaikan kabar itu.
"Maaf karena harus menyampaikan kabar ini di saat kita baru mulai menikmati waktu bersama." lanjutnya
"Secepat itu?" tanya sang Mommy. Wajahnya langsung berubah kecewa. Matanya membesar dan senyum di bibirnya perlahan memudar.
"Iya, Mom. Ada pekerjaan yang nggak bisa ditinggal terlalu lama," jawab Elvara lembut, wajahnya memohon pengertian. Tatapannya dipenuhi rasa bersalah karena harus kembali meninggalkan kedua orang tuanya.
"Mom sebenarnya masih ingin kamu lebih lama di sini," ucap Mommy lirih. Matanya mulai berkaca-kaca, sementara jemarinya menggenggam sendok dengan pelan agar tidak larut dalam emosi.
"Rumah ini rasanya baru hidup lagi setelah kamu pulang." lanjutnya lirih.
"Aku juga pengin lebih lama," balas Elvara sambil menggenggam tangan sang ibu. Senyumnya tipis, namun matanya ikut memerah menahan haru.
"Kalau semua bisa di tinggalkan, aku pasti memilih tetap di sini bersama kalian." lanjutnya
"Kalau memang itu tanggung jawabmu, Dad mendukung," ujar Daddy bijak. Wajahnya tenang dan penuh kebanggaan. Ia tersenyum hangat, meski sebenarnya berat melepas kepergian putrinya lagi.
"Dad bangga karena kamu tidak pernah lari dari tanggung jawab, meskipun iru berarti harus mengorbankan waktu keluarga." lanjutnya.
"Terima kasih, Dad," ucap Elvara sambil mengangguk hormat. Wajahnya berubah lega. Hatinya terasa sedikit lebih ringan karena mendapat restu dari kedua orang tuanya.
"Aku sudah kasih izin sama dia," sela Edgar santai. Ekspresi wajahnya santai sambil menyandarkan tubuh di kursi, berusaha mencairkan suasana yang mulai mengharukan.
"Kamu ini seolah-olah bosnya," canda sang Daddy dengan ekspresi wajah geli. Tawa kecil mulai terdengar di sela ucapannya.
"Kan memang partner bisnis," jawab Edgar penuh percaya diri, dipenuhi senyum lebar, membuat suasana makan malam kembali hangat.
Semua pun tertawa bersama. Kesedihan yang sempat menyelimuti ruangan perlahan berubah menjadi kehangatan keluarga yang begitu dirindukan.
Keesokan paginya koper Elvara sudah rapi di ruang tamu. Seluruh keluarga mengantarnya hingga ke depan pintu.
"Mom... jaga kesehatan ya," ucap Elvara sambil memeluk ibunya erat. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia tetap berusaha tersenyum agar sang Mommy tidak semakin sedih.
"Kamu juga," balas Mommynya sambil mengusap pipi Elvara lembut. Wajahnya menahan tangis. Bibirnya bergetar tipis, sementara matanya tidak lepas memandang wajah putrinya.
"Dad... aku balik ke Indonesia ya," ucap Elvara sambil memeluk Daddynya.
"Jaga dirimu. Jangan terlalu memforsir pekerjaan," pesan sang Daddy. Ekspresi wajahnya dipenuhi kekhawatiran sekaligus kebanggaan. Pelukannya terasa begitu erat seolah enggan melepaskan putrinya pergi.
"Iya, Dad," jawab Elvara sambil tersenyum lembut. Ia mengangguk pelan sebagai janji akan menjaga diri.
"Kak..." panggilnya sambil membuka kedua tangan ke arah Edgar dipenuhi senyum haru yang tulus.
"Hati-hati," ucap Edgar sambil memeluk adiknya erat. Ekspresi wajahnya terlihat berat melepas kepergian Elvara. Rahangnya mengeras, berusaha menyembunyikan rasa sedihnya.
"Terima kasih sudah menemaniku selama di sini. Aku benar benar senang bisa menghabiskan waktu bersama kalian." ucapnya tulus.
"Aku bakal sering video call," kata Elvara sambil tersenyum ceria. Wajahnya sengaja dibuat cerah agar suasana tidak semakin mengharukan, meski matanya masih menyimpan rasa rindu.
"Janji?" tanya Edgar.
"Janji. Bukan cuma Video call, nanti kalau ada waktu luang aku juga bakal pulang lagi." jawab Elvara.
"Pasti. Lagipula... Indonesia dan Amerika bukan akhir dunia," balas Edgar sambil tersenyum berusaha menghibur. Senyum jahilnya berhasil membuat semua orang tertawa kecil.
Sementara itu...
Di sisi lain kota...
Nathan berdiri di depan jendela apartemennya sambil memandangi langit yang mendung.
Sebuah pesan masuk ke ponselnya.
"Nathan, Nona Elvara sudah berangkat menuju bandara."
"Apa...?" gumam Nathan lirih. Ekspresi wajahnya terkejut. Matanya membelalak lebar, sementara jemarinya mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Dia pulang hari ini?" bisiknya tidak percaya. Ekspresi wajahnya berubah kecewa dan penuh penyesalan. Rahangnya mengeras, napasnya terasa berat seolah ada sesuatu yang menyesakkan dada.
"Kalau saja aku tahu sejak semalam... mungkin aku masih sempat menemuinya." lanjutnya lirih.
"Ternyata... aku benar-benar nggak sempat ketemu dia," ucap Nathan lirih sambil menutup kedua matanya. Wajahnya dipenuhi rasa kecewa. Bibirnya mengulas senyum pahit, sementara ia mengembuskan napas panjang dengan tatapan kosong penuh penyesalan.
"Padahal masih banyak hal yang ingin aku katakan. Sekarang semuanya sudah terlambat." bisiknya pelan.
Di langit, pesawat yang membawa Elvara perlahan tinggal landas meninggalkan Amerik, membelah awan menuju Indonesia.