NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Baikan

Pagi itu, sinar matahari masuk perlahan melalui celah gorden apartemen, menerangi ruangan yang semalam menjadi saksi tangis, penyesalan, dan permintaan maaf dari Jovian.

Jovian membuka matanya lebih dulu. Beberapa detik ia hanya diam menatap wajah Jena yang masih tertidur di dalam pelukannya. Wajah itu terlihat lebih tenang dibandingkan semalam, meskipun masih ada sisa sembap di kelopak matanya.

Hati Jovian kembali terasa sesak mengingat bagaimana ia telah membuat wanita yang sangat ia cintai menangis. Dengan sangat hati-hati, ia melepaskan pelukannya agar Jena tidak terbangun. Ia mengecup kening Jena pelan. "Maaf karena sudah membuatmu merasa sendiri, Sayang," bisiknya.

Jovian kemudian berjalan keluar kamar dan menuju dapur. Karena hari itu hari Senin yang bertepatan dengan tanggal merah, ia tidak perlu pergi ke kantor. Ia memutuskan untuk menggunakan waktu itu sepenuhnya bersama Jena.

Meski bukan koki yang hebat, Jovian tetap mencoba membuat sarapan. Ia mengenakan celemek yang biasa dipakai Jena, lalu mulai menggoreng telur, memanggang roti, dan membuat susu hangat.

Beberapa kali ia mengerutkan dahi saat melihat hasil masakannya. "Kenapa membuat telur dadar sesulit ini, sih?" gerutunya pelan.

Sementara itu, di dalam kamar, Jena mulai terbangun. Tangannya meraba-raba tempat di sebelahnya, mencari keberadaan Jovian, namun ternyata sudah kosong. Jantungnya berdegup lebih cepat. "Mas?" Jena bangkit dengan tergesa. Namun saat keluar kamar, aroma makanan yang menguar dari dapur membuat langkahnya terhenti.

Ia melihat sosok tinggi Jovian sedang berdiri membelakanginya, sibuk mengaduk sesuatu di atas wajan. Pemandangan sederhana itu membuat mata Jena langsung berkaca-kaca.

Pria yang semalam ia marahi, pria yang semalam membuatnya kecewa, pagi ini berdiri di dapur hanya untuk berusaha membuatnya tersenyum lagi.

Tanpa berpikir panjang, Jena berjalan cepat. Namun langkahnya berubah menjadi lari kecil. Ia langsung memeluk Jovian dari belakang dan menyandarkan wajahnya di punggung lebar pria itu.

Jovian yang terkejut hampir menjatuhkan spatulanya. "Astaga, Sayang. Kaget aku." Jena tidak menjawab. Ia hanya mempererat pelukannya. Merasakan ada sesuatu yang berbeda, Jovian segera mematikan kompor dan berbalik menghadap Jena. "Hei ..." ujarnya lembut sambil mengusap pipi Jena. "Kenapa menangis lagi?"

Jena menggeleng pelan. "Aku nggak menangis karena sedih."

"Lalu?"

Jena menatap mata pria itu. "Aku terharu."

Senyum kecil muncul di bibir Jovian.

"Terharu karena telur gosongku?"

Jena tertawa kecil di sela air matanya. "Mas."

"Apa?"

"Terima kasih."

Jovian mengernyit. "Untuk apa?"

"Untuk nggak menyerah sama aku semalam. Untuk datang ke sini. Untuk tetap memilih memperbaiki semuanya."

Tatapan Jovian langsung melembut. Ia menarik Jena masuk ke dalam pelukannya. "Sayang ..." suaranya rendah dan penuh rasa bersalah. "Justru aku yang harus berterima kasih karena kamu masih mau memberi aku kesempatan." Ia mengecup kening Jena lama. "Aku tahu satu kata maaf nggak cukup untuk menghapus rasa sakit yang aku buat. Tapi aku akan membuktikan lewat tindakan kalau kamu tetap jadi wanita nomor satu dalam hidup aku."

Jena menutup matanya, menikmati kehangatan pelukan itu. "Jangan sampai aku harus marah seperti semalam lagi."

Jovian mengangguk cepat. "Siap, Nona Jena."

"Dan satu lagi."

"Hm?"

"Kalau sibuk, jangan lupa kasih kabar."

"Siap."

"Kalau ada Michelle, jangan sampai terlalu dekat."

Jovian langsung mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. "Siap, Bos."

Jena tersenyum puas. "Bagus."

Jovian lalu mendekatkan wajahnya dengan senyum jahil. "Kalau semua perintah Bos sudah selesai, bolehkah karyawan ini mendapat hadiah karena sudah memasak dari pagi?"

Jena menaikkan alisnya. "Hadiah apa?"

Jovian menunjuk bibirnya. "Satu ciuman."

Jena tertawa kecil. "Mas ini ada-ada saja."

"Jadi boleh atau nggak?"

Jena menggeleng malu, tetapi tetap mendekat dan mengecup bibir Jovian singkat. Namun saat akan mengakhiri, Jovian menahan tengkuk Jena dan menyesap dalam bibir kekasihnya. Ciuman itu pun berlangsung cukup lama.

Dan ketika selesai, Jovian langsung tersenyum lebar. "Wah, ternyata bertengkar ada untungnya juga."

Mata Jena langsung membesar. "Jovian!"

"Eh salah, salah. Aku bercanda."

Jena mengambil lap dapur dan memukul lengan Jovian pelan. "Kapok nggak?"

"Kapok, Sayang. Sangat kapok."

Tawa mereka akhirnya memenuhi dapur.

Pagi yang dimulai dengan rasa bersalah berubah menjadi pagi yang hangat. Bagi Jena dan Jovian, pertengkaran pertama mereka menjadi pelajaran bahwa hubungan bukan tentang siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi tentang siapa yang mau kembali, meminta maaf, dan berusaha menjadi lebih baik untuk orang yang dicintainya.

Setelah semua makanan tersaji di meja makan, Jena dan Jovian akhirnya duduk berhadapan. Meskipun sarapan sederhana itu hanya terdiri dari telur yang bentuknya tidak sempurna, roti panggang yang sedikit terlalu matang, dan segelas susu hangat, bagi Jena pagi itu terasa jauh lebih istimewa.

Jena memotong sedikit telur buatan Jovian, lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Jovian yang sejak tadi memperhatikan langsung bertanya penuh antusias. "Gimana rasanya?"

Jena sengaja memasang wajah berpikir.

"Hm ..."

Wajah Jovian langsung tegang. "Jangan bilang nggak enak."

Jena menahan tawanya. "Ya, lumayan."

"Jena!"

Jena akhirnya tertawa lepas melihat ekspresi kesal kekasihnya. "Ya ampun, Mas. Aku bercanda. Enak kok."

Jovian menghela napas lega. "Kalau nggak enak juga kamu harus bilang enak. Itu bentuk penghargaan atas perjuangan calon suamimu yang hampir membakar dapur."

Jena menggeleng sambil tertawa."Nggak ada yang bilang begitu."

"Ada. Aku yang buat aturannya."

"Dasar."

Suasana yang sempat dingin semalam kini berubah hangat dengan canda dan tawa. Mereka menghabiskan sarapan sambil mengobrol banyak hal. Jovian bahkan beberapa kali menggoda Jena hanya untuk melihat wanita itu tersenyum lagi.

Setelah selesai membereskan meja, Jovian meraih tangan Jena. "Sayang."

"Hm?"

"Hari ini kita jangan di apartemen aja."

Jena menatapnya penasaran. "Memangnya Mas mau ke mana?"

Jovian mengangkat bahu. "Ke mana pun yang kamu mau. Hari ini aku khususkan buat kamu. Mumpung kita libur. Nggak ada urusan kantor, nggak ada rapat, nggak ada telepon penting."

Jena tersenyum kecil. "Benar? Nanti kalau Michelle telepon gimana?"

Seketika wajah Jovian berubah salah tingkah. "Jena ..."

Jena menahan senyumnya. "Aku bercanda, Mas."

Jovian menarik napas lega. "Jangan bercanda soal itu dulu. Jantung aku masih belum sembuh dari semalam."

Jena tertawa kecil. "Lebay."

"Ini bukan lebay. Ini trauma hampir kehilangan calon istri."

Ucapan itu membuat wajah Jena menghangat. "Mas ih."

"Jadi, kita mau ke mana?"

Jena berpikir sejenak. Sebenarnya ia tidak terlalu peduli ke mana mereka pergi. Yang ia rindukan hanyalah waktu bersama Jovian, tanpa gangguan pekerjaan. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja? Nggak usah yang jauh."

Jovian tersenyum. "Baik, Nona Jena."

Tak lama kemudian, mereka bersiap. Jena mengenakan pakaian santai dengan riasan tipis, sementara Jovian tampil sederhana dengan kaus dan celana panjang.

Saat Jena keluar dari kamar, Jovian yang sedang menunggu di ruang tamu langsung menatapnya tanpa berkedip. "Kenapa lihatnya begitu?"

Jovian mendekat. "Kadang aku heran."

"Heran kenapa?"

"Karena calon istriku cantik banget, bahkan saat cuma pakai baju santai."

Jena langsung memukul pelan dada Jovian. "Gombal."

"Bukan gombal. Tapi fakta." Jovian lalu menggenggam tangan Jena dan mengecup punggung tangannya. "Yuk, hari ini aku mau mengambil kembali waktu yang sempat aku curi dari kamu."

Tatapan Jena melembut mendengar kalimat itu. "Mas nggak mencurinya."

"Menurutku iya. Jadi hari ini aku akan mengembalikannya."

Dengan senyum yang kembali merekah di wajah Jena, mereka pun keluar dari apartemen. Hari itu bukan tentang tempat yang akan mereka kunjungi, melainkan tentang dua hati yang kembali saling menemukan setelah sempat terluka.

Mobil Jovian melaju perlahan meninggalkan gedung apartemen, membawa mereka menikmati hari yang sepenuhnya hanya milik mereka berdua.

Jovian membawa mobilnya melaju menuju sebuah pantai yang tidak terlalu ramai. Sepanjang perjalanan, Jena hanya tersenyum kecil melihat kesungguhan pria itu. Semalam ia masih menangis karena merasa kehilangan perhatian Jovian, tetapi hari ini lelaki itu benar-benar berusaha membuktikan ucapannya.

Saat tiba di pantai, angin laut menyambut mereka dengan lembut. Hamparan pasir putih dan suara deburan ombak menciptakan suasana tenang.

Jena menarik napas panjang, menikmati udara segar yang sudah lama tidak ia rasakan. "Sejuk banget," ucap Jena sambil memandang lautan luas.

Jovian berdiri di sampingnya, menatap wanita itu dengan senyum hangat. "Kalau tahu kamu sesenang ini, harusnya aku dari dulu ngajak kamu ke sini."

Jena menoleh. "Mas terlalu sibuk."

Ucapan itu membuat senyum Jovian sedikit memudar. Ia tahu Jena tidak bermaksud menyindir, tetapi kalimat itu mengingatkannya pada kesalahannya. "Mulai sekarang aku akan berusaha untuk nggak terlalu tenggelam sama pekerjaan."

Jena tersenyum dan menggenggam tangannya. "Jangan berlebihan juga, Mas. Aku nggak mau kamu mengabaikan tanggung jawabmu. Aku cuma mau kamu ingat kalau kamu punya aku."

Jovian mengangguk. "Aku ingat. Dan hari ini aku cuma punya kamu." Baru saja kalimat itu selesai terucap, suara ponsel dari saku celananya berbunyi. Jovian mengeluarkan ponselnya. Nama seseorang muncul di layar. Namun, tanpa membaca lebih lama, ia menekan tombol diam dan memasukkannya kembali ke saku.

Jena yang melihat itu mengerutkan kening. "Mas, kok nggak diangkat?"

Jovian menggeleng santai. "Hari ini jadwalku hanya satu."

"Apa?"

"Menemani calon istriku."

Jena tersenyum malu.

Namun beberapa menit kemudian, saat mereka berjalan menyusuri bibir pantai sambil bergandengan tangan, ponsel itu kembali berdering. Kali ini lebih lama. Jovian melirik sekilas saku celananya, lalu kembali mengabaikannya.

"Mas, mungkin itu penting."

"Biarin aja lah. Kamu jauh lebih penting."

"Mas." Jena menghentikan langkah, otomatis Jovian pun menghentikan langkah.

Lalu ia menatap Jena dengan serius. "Jena, dengarkan aku." Jena menatapnya balik. "Semalam kamu bilang kamu merasa sendirian karena aku selalu mendahulukan hal lain daripada kamu." Jena terdiam. "Hari ini aku mau memperbaiki kesalahan itu. Bukan berarti aku akan jadi pria yang tidak bertanggung jawab terhadap pekerjaan, tapi aku ingin belajar membagi waktu. Dan hari ini adalah waktuku untuk kamu."

Mata Jena kembali berkaca-kaca. "Mas ..."

Jovian tersenyum lembut lalu mengusap kepalanya. "Jangan nangis lagi. Aku udah cukup takut lihat air mata kamu semalam."

Jena tertawa kecil sambil menyeka sudut matanya. "Aku nggak cengeng ya?"

"Bohong. Itu buktinya nangis."

"Jovian." Jena memukul lengannya pelan, membuat Jovian tertawa. Namun tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering untuk ketiga kalinya. Jovian mengambil ponsel itu, menatap layarnya beberapa detik, lalu langsung mematikan ponselnya.

Jena terkejut. "Mas! Kok sampai dimatikan?"

Jovian mengangguk. "Hari ini nggak ada yang boleh mengganggu kencan aku sama calon istriku."

Jena menatap pria itu lama. Hatinya terasa hangat. Bukan karena Jovian mengabaikan pekerjaannya, tetapi karena setelah beberapa hari ke belakang ia merasa diabaikan, kini Jovian kembali menjadikan dirinya sebagai prioritas utama.

Tanpa berkata apa-apa, Jena mendekat lalu memeluk pinggang Jovian. "Terima kasih, Mas."

Jovian membalas pelukannya dan mengecup puncak kepala wanita itu. "Terima kasih juga karena masih bertahan sama aku."

Di bawah langit biru dan suara ombak yang terus bergemuruh, mereka berdiri berpelukan. Hari itu menjadi pengingat bahwa cinta tidak selalu membutuhkan hadiah mahal atau kata-kata besar.

Terkadang, cinta hanya membutuhkan satu hal sederhana ... hadir sepenuhnya untuk orang yang kita sayangi.

1
Amy
Orang Tua Egois,, Ibunya wanita tapi tidak memikirkan perasaan sesama wanita,masih ada anak perempuanmu yg akan mrsakann penderitaan Jena,,,
ayo Jenaaa segera menjauh agar harga dirimu tdak di injak dgn Kompensasi dari keluarga ardhana
Ama Apr: iya, mereka jahat
total 1 replies
Dartihuti
Kl dilihat blg mobilnya mengkilat dan beda gk seperti biasa jg wkt tny nama?nyebutnya kok meragukan pasti bkn sembarang sopir...menjauh sejauh mungkin buktikan Jena km bisa lebih terhormat mampu bahagia tampa mereka
Ama Apr: hahaha hayooo
total 3 replies
nunik rahyuni
alhamdulillah ada sedikit hiburan...sdh jena mantabkan hati ayo melangkah tinggalkan mereka ..mulailah dg hidul mu yg baru..semangat 💪💪💪
Ama Apr: siap semangat🥹
total 1 replies
Inarrr Ulfah
uhuuyyy kaya nya si Toto cio yg nyamar wkwkwk🤣,,,semgat jena
Inarrr Ulfah: iya wkwkw,,Ayo lah KA,,baut kejutan untuk keluarga si jovian itu,,smga lebih tajir pengganti nya si jovian 😄
total 2 replies
Dartihuti
Orang gk hati ...harta dan duduk yg di otaknya gk mikir suatu saat semua yg di lakukan akan kembali balik kediri c4 atau lambat...gak sadar lubang besar menati keluarga Jo ...mecili tawamu sekarang tanpa kamu sadari jd bumerang hubungamu kedepannya😡
Ama Apr: Hukum tabur tuai berlaku🥹
total 1 replies
nunik rahyuni
kan ..seperti dugaan q ..jo adalah anak yg dituntut untuk patuh..dia akan terikat dg keputusan ortu...
menjauh lah jena ...jangan lg menerima apapun dr kelg itu..walaupun di beri konspensasi atas 9bth bersama jo..
menjauhlah dan hiduplah dg mandiri..
raihlah suksesmu tanpa mereka
semangat jena💪💪💪
Ama Apr: iya kk, pasti ada kejutan buat mereka
total 3 replies
Inarrr Ulfah
semoga aja hal buruk menimpa anak perempuan kamu ,,lebih kejam dari yang jena terima....
Ama Apr: 🥹🥹🥹 ikut sakit ya buat Jena
total 1 replies
Inarrr Ulfah
langsung resign dari kantor nya jena,,pergi dari apartemen itu,,pergi yang jauh,...💪
Ama Apr: pastiii, udah diskaitin ms diem bae
total 1 replies
nunik rahyuni
up lg thor...kesini jena q pelik erat erat jgn menangis kuatkan hatimu...lupakan mreka melangkh menjauh dan buatlh dirimu bahagia
Ama Apr: iya kk, makasih🥹
total 1 replies
Amy
langsung menjauh aja Jena,, karena menikmati kebahagiaannya jovian bahkan tidak sadar kamu udah nggak ada di sekitarnya, itu krna kamu bukan prioritasnya
Asphia fia: nyesek bagt bacanya Thor
laki- laki pengecut spt jovian GK perlu ditangisi jen
total 2 replies
Dartihuti
Tunggu hukum sebab akibat keluargamu dan km Jo..c4 atau lambat kepedian akan balik ke dirimu sklrg
Ama Apr: pasti itu kk🥹
total 1 replies
nunik rahyuni
jangan berkecil hati jena ..bangun lah dr mimpi mimpi yg di berikan jovian...sadarlah mereka bukan yg terbaik ..pergi dan hidup lah dg bahagia tanpa mereka yg menyakitimu
Ama Apr: iya 🥹🥹🥹
total 1 replies
Dartihuti
Bangkit Jena tegakkan kepalamu ....buat klrg mereka menyesal krn meredahkanmu,membuangmu setelah apa yg km lalui menjauhlah dulu buktikan bahwa Jena gk selemah yg mereka pikirkan dan mampu mendapatkan yg lebih dr Jo laki gk berprinsif lemah...
Ama Apr: peluk jauh Jena🥹
total 1 replies
Inarrr Ulfah
mana up nya cuma seuprit lagi😭
Ama Apr: hehe, maaf nanti ditambah deh. mau nulis dulu aku nya
total 1 replies
Inarrr Ulfah
nah kan,,sudah ku bilang akan yang nemenin dari nol akan KLH sama yg baru,,dah pergi aja Jen yang jauh,,,pergi dari apartemen dan kehilangan jovian 💪💪...cari CEO yg lebih kaya dan ganteng,,buat jovian di dan keluarga nya menyesal
Ama Apr: begitulah hidup🥹
kadang perjuangan kita tdk dihargai
total 1 replies
Dhm Pratiwi
benar kan saya bilang,tetap tegar Jena,klw perlu kamu kluar dari apartemen da perusahaan Ardana,Jovian MUNfIK
Ama Apr: 🥹🥹 huhu
total 1 replies
nunik rahyuni
duh thor hati sdh dag dig dug kok malah di gantung lg..tambah up thor penasaran ni lah thor ✌️✌️✌️✌️
Ama Apr: hehe maaf kk
total 3 replies
nunik rahyuni
semoga kamu g kecewa dan sakit hati
Ama Apr: aamiin
total 1 replies
Titien Prawiro
Sudah tamatkah?
Ama Apr: belum kk, atuh mash jauh
total 1 replies
Titien Prawiro
Jangan2 ke Jepangnya gk jadi karena papa Bimo.
Ama Apr: huhu🥹
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!