NovelToon NovelToon
Obsesi Papa Mertua

Obsesi Papa Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dark Romance / Cinta Terlarang
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4.

Hari-hari berikutnya bergulir layaknya siksaan tanpa akhir di neraka dunia. Rumah megah yang seharusnya menjadi istana tempat Freya bertahta sebagai seorang istri, kini sepenuhnya berubah menjadi sangkar besi yang siap menguliti harga dirinya setiap hari.

​Status Freya telah runtuh seutuhnya. Pagi belum lagi merekah, namun Freya sudah harus terbangun dengan tubuh yang kaku dan linu karena tidur di atas kasur tipis lantai bawah. Sebelum matahari terbit, ia sudah harus berada di dapur, bergelut dengan asap dan pisau untuk menyiapkan sarapan mewah untuk dua orang yang paling menghancurkan hidupnya.

​"Lama sekali kau memasak! Kau sengaja ingin membuatku mati kelaparan, hah?!"

​Suara pekikan cempreng itu melengking dari arah meja makan, memutus lamunan Freya. Bianca duduk di sana, menyilangkan kakinya dengan angkuh sambil memainkan kuku-kukunya yang baru saja diwarnai merah menyala.

​Freya dengan langkah tergesa-gesa membawa nampan berisi sup ayam dan roti panggang. Tubuhnya tampak jauh lebih kurus dari dua minggu lalu, wajahnya pucat tanpa riasan, dan matanya selalu bengkak karena terlalu banyak menangis di malam hari.

​"M-maaf, Bianca. Ini sudah siap," ucap Freya lirih, meletakkan mangkuk sup itu dengan tangan yang gemetar.

​Bianca melirik makanan itu dengan tatapan jijik. Ia mengambil sendok, mencicipi kuahnya sedikit, lalu sedetik kemudian meludahi kembali sup tersebut ke dalam mangkuk.

​Gebrak!

​"Asin sekali! Kau berniat meracuniku?!" bentak Bianca kasar. Tanpa belas kasihan, ia menyentak mangkuk sup panas itu hingga tumpah, membasahi meja makan dan beberapa tetes kuah panasnya mengenai punggung tangan Freya.

​"Ah!" Freya memekik pelan, memegangi tangannya yang terasa melepuh dan memerah. "M-maaf... aku akan membuatnya yang baru..."

​"Tidak usah! Nafsu makanku sudah hilang melihat wajahmu yang menyedihkan itu!" Bianca bangkit berdiri, menatap kakak tirinya dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. "Ingat ya, Freya. Kau di sini karena belas kasihanku. Kalau bukan karena aku yang menyuruh Sean menikahimu, kau dan ayahmu yang koruptor itu sudah membusuk di jalanan! Bersihkan ini sekarang juga!"

​Freya hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam, menyembunyikan tetesan air mata yang kembali luruh. "Iya, Bianca. Akan kubersihkan."

​Tepat saat itu, langkah kaki yang berat dan tegas terdengar memasuki ruang makan. Sean berjalan masuk dengan setelan jas hitamnya yang rapi dan tampak sangat berwibawa. Namun, ketampanan pria itu langsung sirna di mata Freya, digantikan oleh aura dingin yang selalu mencekam.

​"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut pagi begini, Sayang?" tanya Sean, suaranya melembut seketika saat beralih menatap Bianca. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Bianca, mengecup pelipis wanita itu dengan mesra.

​"Lihat itu, Sean," adu Bianca sambil mengerucutkan bibirnya manja, menunjuk ke arah tumpahan sup. "Istrimu yang tidak berguna ini sengaja membuat sup yang sangat asin. Dia pasti berniat meracuniku karena cemburu melihat kita."

​Pandangan mata Sean langsung beralih pada Freya. Seketika itu juga, kehangatan di wajahnya menguap, digantikan oleh kilat amarah yang mematikan. Ia melangkah mendekati Freya, mencengkeram dagu wanita itu dengan kasar hingga Freya terpaksa mendongak menatapnya.

​"Kau berani bertingkah di rumahku, Freya?" desis Sean, suaranya rendah namun penuh penekanan yang mengancam. "Kau lupa dengan peringatanku malam itu? Kau mau aku menelepon kejaksaan sekarang juga untuk menyeret ayahmu?"

​"T-tidak, Sean... kumohon jangan..." rintih Freya, air matanya mengalir mengenai jari-jari Sean yang mencengkeram rahangnya. "Aku tidak sengaja... aku bersumpah tidak berniat meracuni Bianca..."

​"Cukup! Aku tidak butuh alasan dari pelayan bodoh sepertimu," bentak Sean kasar, lalu menghempaskan wajah Freya hingga wanita itu terhuyung ke belakang dan menabrak pinggiran meja makan.

​Sean merapikan kembali jasnya yang sedikit kusut, lalu menatap Freya dengan pandangan yang sarat akan kejijikan. "Hari ini, pastikan semua pakaianku sudah dicuci bersih dan disetrika dengan rapi. Jika aku menemukan satu saja kerutan saat aku pulang nanti malam, aku sendiri yang akan merobek pakaian itu di depan wajahmu. Paham?!"

​"P-paham, Sean..." jawab Freya dengan suara yang nyaris habis, menahan rasa sakit di rahang dan pinggangnya yang membentur meja.

​"Ayo, Sayang. Kita sarapan di luar saja. Berada di sini membuatku mual," ajak Sean pada Bianca.

​Bianca tersenyum puas, memeluk lengan Sean dengan erat. Sebelum melangkah pergi, ia menoleh ke arah Freya dan menjulurkan lidahnya, mengejek ketidakberdayaan sang kakak. "Jangan lupa bersihkan kamarku juga ya, Pelayan!" serunya sinis.

​Setelah suara mobil Sean menjauh meninggalkan halaman mansion, tubuh Freya benar-benar lemas. Ia merosot berlutut di atas lantai ruang makan, menyembunyikan wajahnya di atas kedua lututnya, dan menangis sejadi-jadinya. Isak tangisnya terdengar begitu pilu dan menyayat hati di dalam ruangan yang sunyi itu.

​"Nyonya... Nyonya Freya..."

​Sebuah tangan hangat dan berkerut perlahan menyentuh pundak Freya yang bergetar. Itu Bi Tina. Wanita paruh baya itu datang dari arah dapur dengan wajah yang dipenuhi rasa iba dan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Bi Tina tidak tega melihat pemandangan kejam itu sejak tadi, namun ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan sang majikan.

​Bi Tina ikut berlutut di atas lantai, memeluk tubuh mungil Freya dengan penuh kasih sayang layaknya seorang ibu kepada anaknya.

​"Nyonya, bangunlah... mari duduk di kursi," bisik Bi Tina dengan suara serak menahan tangis.

​"Bi... hancur sekali hatiku, Bi..." rintih Freya, memeluk Bi Tina erat-erat, menumpahkan segala rasa sakit yang menghimpit dadanya. "Kenapa mereka sekejam ini padaku? Apa salahku, Bi? Aku hanya ingin menjadi istri yang baik... tapi kenapa aku diperlakukan lebih rendah dari binatang?"

​Bi Tina mengusap punggung Freya dengan lembut, air matanya akhirnya ikut menetes. "Astaga, Nyonya... Anda tidak salah apa pun. Mereka yang tidak punya hati nurani. Demi Tuhan, saya sangat kasihan melihat Anda seperti ini setiap hari..."

​Bi Tina mengambil sapu tangan dari kantong celemeknya, lalu dengan sangat hati-hati mengusap air mata Freya dan memeriksa punggung tangan Freya yang memerah akibat siraman sup panas tadi.

​"Mari ikut saya ke belakang, Nyonya. Saya akan mengobati tangan Anda. Biarkan bibi saja yang membersihkan tumpahan sup ini dan mengerjakan tugas-tugas dari Tuan Sean," ujar Bi Tina dengan tulus.

​Freya menggelengkan kepalanya perlahan dengan tatapan kosong. "Tidak usah, Bi... Kalau Sean tahu Bibi yang mengerjakannya, Sean akan marah besar dan bisa memecat Bibi. Aku tidak mau menyusahkan Bibi lagi. Biarkan aku yang mengerjakannya sendiri..."

​"Tapi tubuh Anda sudah sangat lemah, Nyonya. Anda bisa sakit jika terus-terusan disiksa seperti ini," sahut Bi Tina, hatinya teriris melihat keteguhan dan kepasrahan Freya yang begitu tersiksa di dalam rumah suaminya sendiri.

​Freya menyunggingkan senyum tipis yang teramat getir, menatap tangannya yang melepuh. "Sakit fisik ini tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit di sini, Bi," ucapnya sambil menyentuh dadanya yang sesak. "Aku hanya perlu bertahan... sampai hak waris itu turun, dan Sean menceraikanku. Hanya itu satu-satunya jalanku untuk lepas dari neraka ini."

*

*

*

🌺🌺🌺

JANGAN LUPA LIKE, COMENT, GIFT, DAN VOTE 🙏

1
ina
buatlah freya rafael happy end
MissSHalalalal
mau doubel up gak nih ... hehehe
+1: mau! tripel juga boleh!
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
+1
uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu 🌚🌚🌚 gelap malamku
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
bongkar kebusukan ibu & adik tiri Freya. . udah sabar bgt nih Freya di bully dan diselingkuhi tinggal cerai aja 🔥🔥🔥
ina
kak plss bikin freya cinta sama rafael saling mencintai
ina: semangat bikin freya rafael bucin 🤭
total 2 replies
Kamsia
kasian freya hdp sendiri dan udh hncr.bnt kak thor buat freya bisa jatuh cinta sama rafael
MissSHalalalal: sudah terlalu sakit hati kak.
total 1 replies
MissSHalalalal
siap, di tunggu ya 🙏😍
ina
up
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Norahsikin Ismail
lanjutkan lg🙏🙏👍
ina
bikin freya cinta sama rafael min
Fifi Afifah
👍
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
semoga aja Freya Nerima Rafael setelah dicerai sean
Mita Paramita
tragisnya nasib Freya terjebak diantara ayah dan anak yang bikin hidup nya kacau
Mita Paramita
Freya di terkam mertua nya🤣🤣🤣 gimana reaksi Sean kalo ketahuan 🤨 Thor novel nya ganti judul ya .
MissSHalalalal: iya nih. 🙏 yang kemaren kepanjangan 🤭
total 1 replies
Mita Paramita
Freya istri lemah ngapain belain suami laknat begitu 🤨jadi gemes liatnya. lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
sean keterlaluan kejamnya 🤨🤨🤨 Freya mending kabur aja
Mita Paramita
kasian banget Freya 😭
Mita Paramita
seru baru episode pertama
MissSHalalalal: terimakasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!