Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Pernikahan Siri
Setelah keluarga Arjuna selesai dengan pembicaraan mereka, Arjuna bersama Aksa dan Arsha kemudian menemui Pak Jamal dan keluarga Meshwa yang masih berada di depan ICU.
"Akhirnya, Kanjeng Abimanyu menemukan lawan yang sepadan." Celetuk Aksa yang membuat ia dan Arsha terkekeh.
"Kalau tadi di vidiokan dan di kirim ke Yanda, pasti Yanda heboh lihat Masnya punya lawan yang setara." Sahut Arsha yang kembali membuat mereka berdua terkikik.
"Ayah sama Bopo kenapa sih? Kok malah pada ketawa - ketawa berdua." Komentar Arjuna yang berjalan di depan mereka.
"Gak apa - apa." Jawab Aksa sambil cengar - cengir.
Begitu tiba di depan ruang ICU, mereka langsung menemui Pak Jamal dan mengajak calon besannya itu untuk berbicara di ruang rawat Meshwa bersama keluarganya.
Kini, mereka semua sudah berkumpul di ruang rawat Meshwa. Kedua orang tua juga kedua Kakak Meshwa sudah bersama dengan keluarga Arjuna. Hanya Mbak Nita dan Mbak Bila yang memilih untuk tetap tinggal di depan ICU sembari menunggu kabar perkembangan Meshwa.
"Bapak, Ibu, terima kasih karena sudah memberi waktu dan tempat untuk kami sekeluarga tadi bermusyawarah. Alhamdulillah, kami sudah menemukan jalan yang terbaik, In Syaa Allah untuk kita semua." Kata Arsha yang membuka pembicaraan dengan calon besannya.
"Mohon maaf, mungkin momennya tidak tepat saat ini, mengingat kondisi Meshwa yang masih keritis. Tetapi, mudah - mudahan hal ini akan membawa jalan untuk kesembuhan Meshwa. Mudah - mudahan dengan ini, Meshwa bisa segera kembali ke tengah - tengah kita." Imbuh Arsha.
"Pak Jamal, Bu Laila, di sini saya bermaksud meminang putri Bapak dan Ibu yang bernama Meshwa untuk putra saya, Arjuna."
"Seperti yang kita sudah ketahui, Arjuna dan Meshwa sudah cukup lama menjalin hubungan dan sebagai orang tua pun kita sama - sama mengetahui hubungan keduanya. Dengan pinangan yang saya sampaikan ini, saya harap kita akan bisa menjalin silaturahmi lebih baik lagi dengan hubungan keluarga. Mudah - mudahan Bapak dan Ibu menerima pinangan kami yang mendadak ini." Kata Arsha yang mengakhiri kata - katanya.
"Terima kasih, Pak Arsha, Bu Raina dan keluarga yang sudah datang jauh - jauh ke sini untuk menjenguk putri kami. Terima kasih karena keluarga Nak Arjuna ini, Maa Syaa Allah, sangat perduli sekali dengan putri kami. Terima kasih banyak." Kata Pak Jamal dengan tulus.
"Mengenai niat baik untuk meminang Meshwa, In Syaa Allah saya menerima pinangan dari Nak Arjuna untuk putri kami, Meshwa. Alhamdulillah, kami bersyukur karena putri kami di cintai dengan tulus oleh Nak Arjuna. Kami pun bisa melihat dan menilai bagaimana besar kasih sayang Nak Arjuna pada Meshwa. Saya pun berharap, hubungan kekeluargaan kita akan terjalin dengan baik dan hangat. Mudah - mudahan, dengan ini juga bisa menjadi semangat untuk Meshwa agar bisa segera sadar dan kembali ke tengah - tengah kita." Jawab Pak Jamal yang membuat Arjuna dan keluarganya merasa lega.
Mereka kemudian saling berunding. Keluarga Arjuna pun menanyakan apakah ada permintaan khusus dari keluarga Meshwa. Tak banyak yang mereka minta, mereka hanya meminta pernikahan siri yang akan berlangsung ini bisa segera di resmikan agar keduanya bisa sah menjadi suami istri di mata hukum dan agama.
Mengenai mahar pun begitu. Keluarga Meshwa tak meminta mahar tertentu untuk putri mereka. Selama itu layak, tak merendahkan Meshwa dan tidak memberatkan Arjuna, maka mereka akan menerima mahar itu.
Setelah semua di sepakati, mereka pun mulai menyiapkan segala sesuatunya. Pak Jamal dan keluarga menyiapkan penghulu dan saksi yang akan menyaksikan pernikahan mendadak ini, sementara Arjuna akan bersiap dengan segala keperluan termasuk mahar yang baru akan ia siapkan.
...****************...
"Bener itu cincinnya cukup, nang? Nanti cuma masuk ke jari kelingking." Komentar Aksa saat menemani Arjuna membeli Mahar untuk Meshwa.
"Cukup, Po. Tenang aja. Aku udah pernah beliin dia cincin." Jawab Arjuna.
"Udah cuma cincin aja? Masak cuma cincin to, Nang?" Cicit Aksa.
"Lha apa lagi kira - kira, Po?" Tanya Arjuna.
"Belikan emas logam itu lho, gak ketang lima puluh gram." Jawab Aksa.
"Apa, Po? Gak ketang ? Bisanya lima puluh gram kok ngomong gak ketang. Kalau cuma lima gram, iya juga pake bahasa gak ketang." Omel Arjuna yang membuat Aksa tertawa. Tak hanya Aksa, tetapi pelayan toko yang melayani mereka pun turut tertawa.
"Yaudah lah, ngasih calon istri sendiri kok. Ngasih yang banyak sekalian to. Kan bisa buat tabungan juga. Kalo kepepet ya di pinjam dulu." Kekeh Aksa.
"Bener ini, nambahnya dalam bentuk batang aja, Po? Pake uang juga gak?" Tanya Arjuna.
"Emas aja, gak usah pake uang gak apa - apa. Nanti aja pake uang pas nikah resminya. Biar kelihatan di buku nikah. Emas lima puluh gram sama uang satu Miliyar, gitu kan mantep lihat tulisannya di buku nikah." Jawab Aksa.
"Ya Allah, bener - bener Bopo ini. Enak banget kalo mangap! Kalo Bopo yamg mau nyumbang satu Miliyarnya, ya gak apa - apa. Dengan senang hati tak terima." Kata Arjuna yang hanya di jawab tawa oleh Aksa.
Setelah menyiapkan mahar, mereka berdua segera kembali ke Rumah Sakit. Sesampainya di sana, semua persiapan di sana pun sudah beres. Penghulu dan dua orang saksi sudah berada di kamar rawat Meshwa yang akan menjadi tempat ijab qobul di laksanakan.
Setelah semua sudah siap, tanpa mengulur waktu lagi, mereka segera melaksanakan akad nikah Arjuna dan Meshwa sore itu.
"Bismillahhirrahmannirrahim. Saudara Arjuna Jati Manggala bin Arshaka Sadewa, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Ardhiona Meshwa Apsari binti Jamaludin dengan Mas kawin berupa cincin emas seberat lima gram dan antam seberat tiga puluh gram di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Ardhiona Meshwa Apsari binti Jamaludin dengan Mas kawin tersebut di bayar tunai." Jawab Arjuna dengan lancar.
"Bagaimana, saksi?" Tanya penghulu.
"SAH!" Ucap kedua Saksi secara bersamaan.
"Alhamdulillah, baarakallahu laka wa baaraka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khairin." Ucap Pak Penghulu sebelum membacakan doa kain untuk kedua pasanan yang kini sudah sah menjadi suami istri.
...****************...
"Saya terima nikah dan kawinnya Ardhiona Meshwa Apsari binti Jamaludin dengan Mas kawin tersebut di bayar tunai." Suara itu terdengar entah dari mana asalnya.
Meshwa menyapu pandangan untuk mencari sumber suara pria yang sedang melakukan ijab qobul atasnya itu, namun nihil.
"Alhamdulillah." lirih Askara dan Laiba.
"Itu suara siapa, Mbak? Kenapa kedengarannya gak asing?" Tanya Meshwa yang berusaha mengingat - ingat suara yang ia dengar.
"Suara itu? Pria itu benar - benar menikahiku sekarang?" Tanya Meshwa lagi.
"Itu adalah adikku, yang kini sudah sah menjadi suamimu. Dia, gak akan pernah mengingkari janjinya. Dia sudah janji akan menikahimu, kan? Maka itu yang ia lakukan sekarang." Jawab Laiba sambil tersenyum. Nampak kebahagiaan pada raut wajah Askara dan Laiba yang sedari tadi setia menemani Meshwa.
"Tunggulah, Nduk. Sebentar lagi suamimu akan menjemput. Pulanglah bersama suamimu. Kamu sudah berjanji akan pulang kalau suamimu menjemput, kan?" Kata Askara yang di jawab anggukan oleh Meshwa.
"Iya, Pakde. Aku akan ikut kemanapun suamiku membawaku." Jawab Meshwa.
selamat iyha Mbk Meshwa Mas Juna akhirnya 😍😍😍