Setiap kisah cinta mempunyai cerita sendiri, memiliki awal dan akhir yang berbeda, bukan? Setiap pasangan pasti ingin perjalanan cintanya berakhir bahagia,bukan? Tapi... pasti juga akan ada pasangan yang berakhir menyedihkan, iyakan?
Lalu bagaimana akhir dari perjalanan cinta Ketua Tim Basket dan Ratu Es sekolah?
ikuti kisah mereka dalam novel ku yang kedua.
'journey of love'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NurFitriAnisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Kak Reza dan Kak Eca?
Din!...Dong!...Deng!
Bel pulang sekolah berbunyi. Yang membuat para siswa di seluruh penjuru sekolah, terdengar riuh penuh dengan sorak sorai kegembiraan mereka. Semua siswa bersiap-siap pulang ke rumah mereka. Berbeda dengan kami, Aku, Reno, Ella dan Angga, tidak akan pulang ke rumah melainkan akan pergi ke rumah sakit Kasih Sayang, tempat ayah Ella dirawat sekarang.
Melihat Reno telah menunggu kami di depan pintu kelas, Aku, Ella, dan Angga, segera membereskan buku pelajaran kami, dan menghampiri Reno yang sudah menunggu kami.
...~~~...
"Kak! Kakak!"
Kami yang mendengar seseorang berteriak, secara serentak mencari dari mana sumber suara tersebut. Reno, tiba-tiba saja melambaikan tangannya, Aku, Ella, dan Angga, segera berbalik ke belakang. Ternyata yang suara tersebut adalah Arini, adik Reno sekaligus Adik Kelas kami.
"Kak, kalian semua mau kemana? Kok barengan gitu?" Tanya Arini, begitu sampai di hadapan kami berempat.
"Oh, ini kami mau pergi jenguk Ayahnya Ella di rumah sakit." Jawab Reno.
"Eh!? Kalau begitu, aku gimana pulangnya?" Ucap Arini.
"Kamu antar Rini pulang saja dulu, baru kembali lagi kesini, kasian dia kalau harus pulang sendiri." Ucapku, yang menyuruh Reno.
"Tidak perlu, dia sudah besar. Sebagai gantinya, ini, pakai uang ini saja buat bayar ongkos angkotnya, kalau Mama nanti tanya kenapa kita tidak pulang bersama, kamu bilang saja Kak Reno pergi jenguk Ayahnya Kak Ella, Kak Reno pergi sama Kak Raina. Bilang begitu saja." Ucap Reno sambil memberikan beberapa lembar uang pada Arini.
"Hmm, lagi." Ucap Arini yang menghitung jumlah uang yang di berikan Reno padanya.
"Ha?"
"Lagi, ini kurang, kalau mau nyuruh aku bilang ke mama uang ini masih kurang." Ucap Arini.
"Huft, nih! Sudah cukup, kan?" Ucap Reno, sambil memberikan beberapa lembar uang lagi, pada Arini.
Kami yang melihat Reno dan Arini seperti itu diam-diam tertawa di belakang mereka berdua.
"Hehehe, cukup-cukup. Sekarang Kak Reno boleh pergi, Rini akan pulang sendiri, dan juga Kak Ella, Arini, titip salam buat Paman, semoga paman segera di berikan kesembuhan oleh Allah swt, dan semoga sakit yang paman rasakan sekarang, menjadi penghapus dosa-dosa, jika Allah menghendakinya. Dan bilang Maaf, Aku tidak bisa ikut menjenguknya." Ucap Arini. Dan melihat Ella saat menitipkan salamnya untuk Ayah Ella.
Setelah Ella mengucapkan terimakasih atas do'a Arini, Rini berlalu di hadapan kami dan bergegas keluar menunggu angkot di depan sekolah.
...~~~...
Di depan pintu masuk rumah sakit, Aku dan Ella, sedang menunggu Reno dan Angga yang memarkirkan kendaraan mereka. Beberapa saat kemudian, Reno dan Angga, sudah terlihat berjalan ke arah kami. Begitu sampai di hadapan Aku dan Ella, mereka mengambil ke empat keranjang buah yang sedang di pegang oleh kami berdua.
"Biar aku saja yang bawa." Ucap Reno padaku.
"Iya, biar kami saja yang bawa ini." Ucap Angga juga sambil mengambil keranjang buah dari tangan Ella.
Saat Reno dan Angga, berjalan di depan kami, Aku dan Ella saling melihat satu sama lain, dan tersenyum secara bersamaan. Seakan-akan, Aku dan Ella, memikirkan hal yang sama. Yaitu, alasan kami sama-sama tidak menolak permintaan mereka, bukan karena kami tidak bisa membawa keranjang buah itu, melainkan, jika ada yang menawarkan diri untuk membawanya, mengapa kami harus repot-repot memegangnya sendiri, kan?
...~~~...
Begitu di dalam rumah sakit, kami bergegas ke Lantai 4, menuju Kamar Anggrek, No 13, dimana kamar rawat inap milik Ayah Ella.
Tok!...Tok!...
Suara pintu kamar yang di ketuk oleh Ella.
"Assalamu'alaikum, Bunda, Aku dan yang lain datang." Ucap Ella sambil membuka pintu kamar.
"Eh! Kak Reza ada disini?" Ucapku kaget yang melihat Kak Reza di dalam ruangan ayah Ella di rawat.
"Wa'alaikumussalam, memangnya ada yang salah kalau Kak Reza ada disini?" Ucap Kak Reza.
"Yah, tidak masalah juga, sih. Cuman aku kaget saja, Kak Reza bisa ada waktu buat ke sini, biasanya kan jam-jam segini masih sibuk dikantor. Sampai-sampai Kak Rama yang menjemput aku pulang." Ucapku.
Waktu sekarang menunjukkan pukul dua siang lewat empat puluh menit, dan biasanya pada waktu ini Kak Reza masih berada di kantornya. Tapi, dia sudah ada disini, lebih dulu dibandingkan aku? Apa mungkin yang selama ini, Aku dan Ella pikiran itu benar?
"Oh, itu, tadi Kak Reza bilang ke Ayah mau jenguk Paman Evan dirumah sakit, jadi, Ayah bilang Kak Reza boleh pulang lebih awal hari ini." Jawab Kak Reza.
Aku menganggukkan kepalaku pada Kak Reza, yang artinya aku menerima alasan Kak Reza tiba lebih awal dariku. Walaupun aku masih agak curiga dengan Kak Reza.
Setelah meletakkan beberapa keranjang buah yang kami beli di jalan tadi, Reno dan Angga menarik kursi yang ada dan duduk di samping aku dan Ella.
"Eh, Bunda Dinda, Kak Eca nya mana?" Tanyaku yang mencari keberadaan Kak Eca.
"Oh, Eca sedang membeli beberapa Air mineral, dan sekalian menebus obat di apotek rumah sakit, mungkin sebentar lagi dia kembali ke sini." Jawab Bunda Dinda.
"Kalau Bunda boleh tau, ini siapa?" Tanya Bunda Dinda, menunjuk ke arah Reno.
Di ruangan ini mungkin hanya Reno saja yang tidak dikenal oleh Bunda Dinda. Pasalnya, Bunda sudah mengenal Angga lebih dulu, tentu saja Ella yang mengenalkan mereka berdua, sebab jika Ella memiliki seseorang yang dia sukai, dan mereka telah resmi terjalin dalam hubungan asmara, Ella pasti akan mengenal orang itu pada keluarganya.
"Saya Reno, Bi. Teman sekolahnya Ella-" Ucapan Reno terpotong oleh Angga.
"Dan calon suami Raina. Hahaha." Ucap Angga Cepat, sambil tertawa.
"Ha! Nak Nana? Benar yang di bilang Angga? Ella kamu sudah tahu soal ini? Kenapa tidak bilang ke bunda? Sekarang kalian sudah tidak mau cerita sama bunda, ya? Apa karena Bunda sudah tua?" Tanya Bunda Dinda pada Aku dan Ella bergantian.
"Eh ... eh ... bukan seperti itu, Nana mau menceritakan semuanya pada Bunda, tapi Paman Evan sedang terkena musibah, jadi ... Nana sedang mencari waktu yang tepat untuk memberitahu Bunda, Iyakan La?" Jawabku, sambil meminta bantuan Ella.
Ella menganggukkan kepalanya, pertanda dia setuju dengan apa yang aku katakan. Bunda Dinda hanya tersenyum ke arah kami tanpa berkata apapun.
"Bun-Bunda, tidak marah kan, sama kami?" Tanyaku.
"Tidak-tidak, kenapa Bunda harus marah?"
"Lalu, kenapa Bunda Hanya tersenyum tanpa berbicara lagi?"
"Hahaha, Bunda bukannya marah, bunda lagi senang saja, ternyata kalian masih mau terbuka sama Bunda. Sebenarnya, Nak Reza sudah memberi tahu Bunda Soal Nana yang akan bertunangan, tadi. Tapi, Bunda mau mendengarnya sendiri dari kalian. Maaf, kalau Bunda bikin kalian takut." Jelas Bunda.
Aku memang sering bercerita tentang masalahku pada Bunda Dinda, Ibu Ella itu sudah aku anggap seperti Ibuku sendiri. Aku merasa nyaman saaat bercerita padanya, sama halnya jika bercerita pada ibuku. Begitu pula Ella yang sering berbicara dengan Ibuku, layaknya seorang anak yang menceritakan keluh kesahnya pada Ibunya.
Setelah itu, kami melanjutkan pembicaraan kami.
Tiba-tiba Terdengar suara ketukan dari pintu kamar. Dan menampakkan seorang wanita cantik, yang semalam hanya kulihat samar-samar saja kecantikan dirinya, dia adalah Kak Eca.
"Assalamu'alaikum." Ucap Kak Eca.
"Ini, Bun, obat Ayah. Air mineralnya masih di mobil Eca, Eca tidak bisa membawa mereka sekaligus kesini." Lanjut Kak Eca.
"Biar saya yang bantu membawanya kemari." Ucap Kak Reza.
"Boleh." Ucap Kak Eca.
"Kalau begitu kami juga akan membantu." Ucapku dan Ella bersamaan.
"Tidak perlu, biar kami saja, ayo Angga." Ucap Reno.
Ucapana Reno itu menggagalkan Rencana ku dan Ella, yang sudah lama ingin mencari tahu ada apa di antara Kak Reza dan Kak Eca, Pasalnya sudah lama Aku dan Ella, merasa mereka berdua menyembunyikan sesuatu dari kami. Kami menebak mungkin saja mereka sedang menjalani suatu hubungan.
Tadi, adalah kesempatan langka yang Aku dan Ella milik untuk melihat interaksi mereka berdua. Tapi, sekarang... kami hanya bisa meminta bantuan mereka berdua untuk menggantikan kami mengamati Kak Reza dan Kak Eca.
...~~~...
🤔 cerita apa ya ku penasaran