NovelToon NovelToon
Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Disfungsi Ereksi
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.

Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.

Narendra tak pernah repot membantah.

Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.

Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.

Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.

Bukan sekadar ingin menyentuhnya.

Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.

Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.

“Katanya kamu tidak bisa?”

Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.

“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9

Nenek di Tepi Jalan

"Kenal dari mana?"

Sekar tersentak.

Bu Laksmi berdiri di samping stan sambil mengikuti arah pandangnya. Narendra sudah hampir mencapai ujung lorong pameran, tetapi Sekar masih memegang katalog pada halaman yang sama.

"Pelanggan," jawabnya terlalu cepat.

"Pelanggan sampai bikin telingamu merah?"

Sekar menutup katalog. "Dia yang ambil kebaya Eyang. Terus mau pesan untuk ibunya."

Bu Laksmi hanya mengangguk dengan senyum kecil. Ia tidak bertanya lagi, tetapi sepanjang hari Sekar beberapa kali teringat kalimat Narendra.

Penjelasanmu tadi bagus sekali.

Satu pujian sederhana membuat pekerjaannya yang melelahkan terasa dilihat.

***

Minggu pagi, Sekar kembali berurusan dengan kenyataan.

Kamar sewa pertama berada di lantai enam rumah tua tanpa lift. Harganya Rp3 juta, kamar mandi luar, dan pemilik berkata Sekar boleh mendapat potongan jika membantu memasak serta membersihkan ruang bersama.

"Anak saya suka main kartu sama teman-temannya malam-malam," kata pemilik sambil membuka pintu kamar. "Tapi mereka baik. Mbak nggak usah takut."

Empat laki-laki sedang merokok di ujung lorong.

Sekar turun enam lantai tanpa menawar.

Tempat kedua lebih murah dan dekat halte. Namun dinding antar kamar hanya papan tipis. Saat agen membuka pintu, seorang laki-laki tanpa baju keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut.

"Ini kos campur?" tanya Sekar.

"Santai saja, Mbak. Semua penghuni dewasa."

"Pintu depan dikunci jam berapa?"

"Nggak pernah dikunci. Biar penghuni bebas."

Sekar memeriksa jendela kamar. Kaitnya longgar dan menghadap atap seng rumah sebelah yang bisa dicapai dengan satu langkah. Agen masih berusaha meyakinkan bahwa lingkungan itu aman karena belum pernah ada laporan polisi. Bagi Sekar, tidak adanya laporan bukan bukti tidak adanya masalah.

Ia berjalan keluar sambil mencoret alamat tersebut dari catatan. Ongkos ojek online hari itu sudah melewati seratus ribu, belum termasuk makan. Tabungan kecilnya terkikis bahkan sebelum menemukan tempat tinggal.

Sekar membatalkan tempat ketiga sebelum melihatnya.

Di bawah langit yang mulai kelabu, ia menelepon Bu Laksmi.

"Dua-duanya nggak aman, Bu. Yang satu mau penyewa sekaligus pembantu."

"Jangan pelit sama keselamatan, Nduk. Mending mahal sedikit tapi kamu bisa tidur tenang. Kalau kurang, Ibu talangin dulu."

"Aku coba cari lagi."

"Janji jangan ambil tempat hanya karena murah."

"Janji."

Setelah panggilan berakhir, Sekar duduk di bangku halte selama hampir dua puluh menit. Ia membuka kembali daftar kebutuhan: deposit, sewa bulan pertama, listrik, air, ongkos pindahan. Angkanya terus bertambah. Tawaran Bu Laksmi sangat menggoda, tetapi Sekar ingin bantuan itu menjadi pilihan terakhir, bukan kebiasaan baru setelah keluar dari keluarga yang selalu bergantung pada orang lain.

Ia menghubungi dua pemilik lain. Satu tidak menerima penyewa yang pulang malam. Satu meminta bukti gaji tiga kali harga sewa. Sekar menyimpan alamat terakhir di Menteng untuk ditinjau dari luar sebelum pulang.

Menjelang sore, gerimis turun di Menteng. Sekar baru keluar dari minimarket setelah membeli air ketika melihat kantong plastik seorang perempuan tua robek di tepi jalan.

Jeruk, apel, dan salak berhamburan di trotoar basah. Dua jeruk menggelinding mendekati selokan.

Sekar langsung mengejar keduanya.

"Aduh, terima kasih, Nak," kata perempuan tua itu.

"Tunggu di bawah payung saya, Bu. Jalannya licin."

Perempuan itu mengenakan blus batik lembut dan sepatu datar. Usianya jelas lanjut, tetapi punggungnya masih tegak. Ia ikut membungkuk mengambil buah sebelum Sekar menahannya.

"Biar saya saja."

Kantong yang robek tidak bisa dipakai lagi. Sekar mengeluarkan tas belanja tebal yang selalu dibawanya untuk kain, memindahkan semua buah, lalu menyerahkannya.

"Lho, ini tasmu."

"Saya masih punya di rumah."

"Nanti kainmu bagaimana?"

Sekar terkejut perempuan itu langsung menebak pekerjaannya.

"Ada bekas jarum di jarimu," katanya sambil tersenyum. "Kamu penjahit?"

"Desainer kebaya. Saya bekerja di Sanggar Kebaya Laksmi."

Mata perempuan tua itu berubah terang. "Laksmi? Sudah lama sekali Eyang kenal dia."

"Eyang?"

"Panggil saya Eyang saja."

Mereka berdiri di bawah payung yang sama. Gerimis mengetuk kain payung, sementara mobil-mobil melintas pelan di jalan tua Menteng.

Eyang memperhatikan wajah Sekar. "Kamu kelihatan capek, Nduk. Cari apa dari pagi?"

Entah mengapa Sekar menjawab jujur. "Tempat sewa. Saya mau pindah dari Bekasi."

"Sudah dapat?"

"Belum. Yang murah tidak aman. Yang aman belum sanggup."

Eyang mengangguk seolah sedang menimbang sesuatu. "Eyang punya beberapa properti kosong. Daripada dibiarkan, lebih baik disewakan ke orang yang Eyang percaya."

Sekar buru-buru menggeleng. "Saya tidak bisa sewa tempat mahal di Menteng."

"Siapa bilang di Menteng? Siapa juga yang bilang mahal?"

Perempuan tua itu meminta nomor WhatsApp Sekar. Profilnya hanya bernama `Eyang`, tanpa nama keluarga atau foto resmi.

"Besok sore ada waktu?" tanyanya. "Eyang tunjukkan satu tempat. Kalau tidak cocok, tidak perlu diambil."

Sekar ragu, tetapi nama Bu Laksmi membuat tawaran itu terasa lebih aman. "Boleh, Eyang."

Sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan. Sopir turun dan segera memayungi perempuan tua tersebut dengan hormat.

Sebelum masuk mobil, Eyang menatap Sekar sekali lagi. Tatapannya turun ke tangan yang penuh bekas jarum, lalu kembali ke wajahnya.

"Kamu ini," katanya dengan senyum yang sulit dibaca, "kok rasanya cocok."

"Cocok untuk apa, Eyang?"

Namun pintu mobil sudah tertutup.

Di bawah gerimis, Sekar hanya memegang satu nama di WhatsApp-nya.

Eyang.

1
Siti Kamisah Hasnul
Bagusss sekalii
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰
Qwerty789 10
suka banget pokoknya,,,,lanjut trus kakakkkk💪
Qwerty789 10
sukak banget ma kata-katanya 🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!