SEOLAH SEMUA INI MIMPI!!
YA, INI PASTI HANYA MIMPI!
Aku terbangun dari tidurku dan mendapati bahwa aku sudah berubah status dari gadis biasa menjadi seorang istri pria tua buruk rupa yang lebih pantas kupanggil paman atau bahkan ayah!!
Namun sial!
Nasibku sejak lahir tidak sebaik nasib kedua kakakku yang cantik jelita dan disayang Ayah dan Ibu. Kelahiran ku tidak pernah direncanakan. Katanya saat aku lahir seluruh bisnis keluarga kami hancur berantakan. Padahal bukan kesalahanku, tapi mereka (ayah,ibu, kedua kakak bahkan sampai nenek buyutnya pamanku) menyebut aku sebagai anak pembawa sial.
Selama tujuh belas tahun hidup, aku diasingkan di gubuk tua yang jauh di belakang rumah. Dan hebatnya, saat aku diasingkan, bisnis keluarga kami kembali membaik. Apa mungkin aku benar benar seorang pembawa sial?
Kesialan itu tidak berakhir, hingga aku dipaksa menikahi seorang pria tua yang datang ke rumah untuk melamar. Kenapa aku dipaksa? padahal aku anak kandung mereka juga!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Harsie Alive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31 Kesemsem Pada Bocah Bawel
Jessica dan Robin saling berhadapan, pertanyaan pria itu sukses membuat bulu kuduk Jessica merinding.
"He..heheh... aku tidak main-main Robin! Buat apa aku mengaku di depan kalian, aku sadar kesalahanku," tuturnya sambil tersenyum manis.
Robin dan Mikael saling menatap sejenak lalu mengangguk paham," Lain kali jangan begitu bodoh!!" ucap Keduanya seraya mengetuk pucuk kepala Jessica.
"Hahahah.... Kalian memang sahabatku yang terbaik, kalian sangat memahamiku!!" seru Jessica seraya memeluk lengan kedua pria itu di masing-masing sisinya.
Jessica tersenyum sinis melirik Ruby," Lihatlah, kau itu hanya orang baru yang sebentar lagi, akan ditendang keluar dari rumah ini, hahahha... Dasar perempuan liar tidak jelas, anak haram!!" batinnya merendahkan dan menghina Ruby habis-habisan.
Ruby menyadari tatapan sinis Jessica, tetapi dia tak menggubrisnya sama sekali.
Ada perasaan iri dalam diri Ruby saat melihat Jessica begitu disayang oleh Robin, Mikael bahkan suaminya sendiri Gamaliel. Rasanya sakit tapi tak berdarah, tapi dia sadar dia tak boleh menjadi lemah demi menemukan pembunuh mendiang istri Gamaliel.
"Ruby harus bertahan di rumah ini, harus kuat, harus semangat, dan juga harus cerdik menghadapi situasi rumah,"
"Ruby belum menemukan siapapun yang mencurigakan di sini, harus menyelidiki lebih lama, harus menyesuaikan diri, itu sebabnya Ruby harus belajar supaya cerdas!" batinnya penuh semangat.
Gadis itu melangkah di belakang mereka semua, hanya mengekor dan mencuri dengar pembicaraan mereka.
Saat dia menatap mereka, tangan kecil Leroy menggenggam jari telunjuk Ruby dan tangan lembut Angel merangkul bahu gadis itu.
" Jangan khawatir, ada kami di sini, kami tahu siapa yang benar dan siapa yang salah," ucap Angel.
"Onti, Leroy ada di sini, jangan sedih ya," ucapnya dengan suara lembut nan polos yang melelehkan hati siapapun.
Ruby telah menaklukkan dua anggota keluarga Falcon itu. Angel dan Leroy jelas berpihak padanya dan sangat menyukainya.
Gadis itu balas dengan senyuman manis.
Mereka tiba diruang makan, tampak enam porsi makanan telah di hidangkan di atas meja oleh si licik Jessica.
"Ayo semuanya duduk, aku bawa nasi lemak kesukaan Gama!!" ucapnya dengan suara lantang seolah ingin memberitahu Ruby, kalau dirinya yang paling memahami selera pria itu.
"Wahh kau hebat neng, tau aja kita sudah lapar semalaman mencari Ruby!!" celetuk Robin seraya menatap makanan itu dengan mata berbinar-binar.
"Bener neng, tau aja yang kita mau!!" ucap Mikael sambil tersenyum.
"Thanks Jes," Imbuh Gama.
"Tentu saja, apapun untuk kalian!" seru Jessica dengan senyuman di wajahnya tetapi dia melirik sinis ke arah Ruby.
Mikael membagikan makanan itu tapi jumlahnya kurang," Loh, kurang satu Jes," ucap Mikael .
Jessica tersenyum, lalu mengambil piring yang ada di hadapan Ruby," Maaf ya Ruby, aku lupa kalau kamu sudah masuk kediaman ini, makanannya hanya aku beli untuk kami berenam, kamu boleh makan bareng pelayan di belakang," ucapnya dengan nada merendahkan Ruby.
Bagi Ruby hal ini bukan masalah besar," Yah gak cukup ya, kayaknya enak, tapi gak apa-apa deh, Ruby ke belakang saja," ucapnya masih dengan sopan dan lembut.
Tetapi jelas tatapan dan ekspresi Ruby mengatakan bahwa dia merasa terluka dengan sikap Jessica.
Deghh!!
Bagai mendapatkan serangan fajar, jantung Gama berdetak kencang saat melihat raut sedih di wajah gadis yang biasanya ceria itu.
Rasa bersalah atas kejadian kemarin juga menghantui pikiran Gama. Dan sekarang, di depan matanya sahabatnya sendiri berani mempermalukan Ruby di hadapan semua orang.
"Ini sama saja dengan mempermalukan aku!" batin Gama .
Gama akhirnya mengerti permainan licik yang dilakukan oleh Jessica, pria itu berdiri," Duduk!" ucapnya pada Ruby.
Semua terdiam melihat pria itu. Gama mengambil piring kosong, lalu membagi dua jatah miliknya ke dalam piring kosong itu.
Mata Jessica terbelalak, sejak kapan Gama mau melakukan hal kurang kerjaan seperti ini!? Terutama pada anak remaja yang baru saja menjadi bagian keluarga Falcon!?
"Ga.. Gama, aku membeli itu khusus untukmu, kalau kau bagi rasanya aku tak dihargai," Jessica masih berusaha mencegah Gama.
Mau ditaruh di mana nanti wajahnya, jika Ruby kebagian makanan yang dia bawa.
Robin dan Mikael akhirnya paham dan menyadari sesuatu yang menyebalkan. Jessica membohongi mereka!
"Jessica, kau masih saja melakukan segala sesuatu dengan niat terselubung!" batin Robin kecewa terhadap sikap Jessica.
Mikael pun merasa kesal, sikap Jessica ini membuat mereka berulangkali menelan pil kekecewaan.
"Diam!" hardik Gama dengan nada membentak.
Jessica sampai bergidik saat mendengar bentakan pria itu.
"Aku menghargai makananmu Jes, kau membelinya dan aku berterimakasih, saat sudah sampai di tanganku, maka ini menjadi milikku, terserah padaku bagaimana cara menikmatinya!" tutur Gama dengan nada dingin.
Jessica menelan salivanya kuat-kuat, rencananya mempermalukan Ruby gagal total.
"Aku tidak sanggup menghabiskan semua ini, ku berikan padamu, habiskan semua, jangan ada sisa!" titah Gama memberikan piring itu pada istrinya yang duduk di dekatnya.
Ruby mendongak dengan mata berkaca-kaca, hanya sepiring nasi tapi membuatnya sangat terharu.
"Te.. Terimakasih Paman!!!" seru Ruby yang tak kuasa menahan air matanya.
Di melompat dan hap!!
Gadis itu menghamburkan pelukannya pada Gamaliel sambil menangis penuh haru hanya karena sepiring nasi yang diberikan oleh Gama padanya.
"Ru.. Ruby? Kenapa kau menangis?" tanya Gama heran. Apa dia melakukan kesalahan lagi!?
Ruby masih sesenggukan dan semua orang menatap heran pada gadis itu.
"Ruby senang sekali, Paman mau berbagi meskipun jatah milik paman jadi berkurang," ucapnya. Gadis ini memang sangat polos tentang dunia.
"Ruby senang sekali, ini kali pertama ada yang mau membagi dua makanan yang ada di piringnya pada Ruby," tuturnya sambil menangis sesenggukan.
"Kalau di hutan, Ruby hanya makan sisa makanan yang sudah basi, terkadang memakan roti kadaluarsa bahkan hanya diberi makan remah remah roti yang dikumpul selama seminggu," tuturnya lagi.
"Tapi setelah bertemu Paman, Ruby bisa makan enak dan sekarang paman mau berbagi dengan Ruby,"
"Ini sudah cukup paman, ini sudah sangat membahagiakan hati Ruby,"
"Ruby nggak menuntut banyak, Ruby akan belajar dengan giat, Ruby akan membantu paman apapun itu, hiks hiks hiks...." Gadis itu berbicara panjang lebar sambil menangis sesenggukan masih dalam posisi memeluk Gama.
Pria itu terdiam kaku, sedang yang lainnya terenyuh mengejar ucapan Ruby. Hanya sebutir nasi pun sudah membuat gadis mungil itu merasa diberkahi oleh dunia.
Padahal semalam Gama telah menyakiti hati Ruby, tapi Ruby masih berterimakasih pada Gama. Kenapa hati Gama masih tertutup juga!?
"Kasihan dirimu Ruby, kakak akan memberikanmu banyak makan enak mulai hari ini!?" batin Robin..
"Ahhh...saat ada syuting aku akan membawa Ruby, makanan di lokasi syuting enak-enak, dia pasti suka!" batin Mikael sambil senyum-senyum sendiri.
Tangan kekar Gama perlahan-lahan menepuk punggung gadis kecil itu," Sudahlah, nasinya akan segera dingin kalau kau menangis terus dasar bawel!" omel Gama.
"Heheheh.... Terimakasih paman!" seru Ruby sambil tersenyum begitu manis dan melepaskan pelukannya dari Gama.
"Saatnya makan, terimakasih paman, terimakasih Tante Jessica, Ruby senang sekali hehehe..." seru gadis itu dengan senyum sempurna, sungguh gadis yang licik.
Dia berhasil menggoreng harga diri Jessica dan membuat perempuan itu kesal bukan main.
"Ta.. Tante!? Apa kau pikir aku setua itu gadis Liar!?" protes Jessica tak setuju.
Ruby tersenyum lagi,"Tapi di bawah mata Tante sudah banyak garis halusnya, apa Tante gak pernah ngaca!? " celetuk Ruby dengan nada polos dan wajah lugu padahal niatnya mengejek secara halus dan terbukti dia berhasil!
Degh!!
Jessica terdiam membeku," Si.. Sial.... Ga..garis halus!? Apa aku setua itu!? arrkhhh... Tiidaakkk...malunyaaa......" Batinnya berteriak.
Dengan wajah panik dia mengeluarkan ponselnya dan memeriksa wajahnya.
"Kerutan di mananya!? Katakan di mana!? Kenapa aku tidak lihat!??" teriak Jessica heboh sendiri.
"Pfthh.... hahahahhaha...... Wleekkk Tante kena tipu!! Hahahahhaha.... Merasa tua ya Tante? Hahahahahha....." Ruby balas dengan tawa terbahak-bahak. Bahkan Si kecil Leroy dan Angel juga ikut tertawa cekikikan melihat wajah kesal Jessica.
Di sudut sana, Gama melirik Ruby dan menatapnya dengan intens, tawa gadis itu membuat hatinya bergejolak aneh. Tanpa sadar bibirnya tersenyum tipis sebagai respon terhadap kelakuan jenaka istri kecilnya.
"Dasar bocah tengil!!" batinnya yang sudah kesemsem pada bocah bawel itu.