Aku masih perawan, itu yang di katakan Maudy ketika akhirnya Ia tau kalau suaminya selama ini mencoba menghindarinya karena kepercayaan turun temurun dari keluarga suaminya itu.
Pada saat resepsi pernikahan mereka entah karena apa, ada beberapa kembang mayang yang tiba-tiba mengering, dan itu membuatnya mendapat hinaan karena di percaya sudah tidak segel lagi.
Maudy yang mengira kalau suaminya menghindarinya karena memang tidak ada cinta, karena memang pernikahan mereka terjadi karena perjodohan.
Hingga akhirnya Ia tau alasan suaminya itu diam padanya selama berbulan-bulan. Yuk mampir di karya author remangan, jangan lupa bagi like komennya ya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Hamil
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Susan begitu kesal pada Gibran karena tidak pernah menepati janjinya, Ia selalu beralasan karena sibuk makanya lupa dengan janjinya itu.
Sama seperti hari ini, Gibran masih berkutat dengan laptopnya, Ia harus menyelesaikan pekerjaannya karena besok Ia akan cuti karena ada hajatan keluarga.
Sebuah pesan masuk di ponselnya, Gibran menghentikan sejenak pekerjaannya. Ia membaca pesan itu dengan kening berkerut.
" Apa- apaan ini, bukannya besok acaranya, kenapa harus pergi sekarang dan mendadak lagi. " Gumam Gibran.
Gibran berderap ke arah jendela untuk melakukan panggilan, Ia mendengarkan dengan seksama apa yang di katakan Bunda Ayu.
" Baiklah Bunda, aku akan usahakan pulang secepatnya. "
Gibran kembali berkutat dengan pekerjaannya, masih ada waktu satu jam sebelum Ia menitipkan semua tanggung jawab nya pada asisten pribadinya dan juga pada sekretaris nya.
Lagi-lagi ponselnya berdering, Gibran menoleh nya sebentar namun kemudian Ia lalu kembali sibuk dengan tumpukan kertas di hadapannya.
Beberapa kali Ia melirik jam yang melingkar di tangannya, hingga akhirnya Ia benar-benar terganggu dengan suara panggilan masuk dari benda pipihnya itu.
" Iya Susan, ada apa. "
" Maaf, aku tadi sedang di ruang rapat dan ponsel aku tinggal di ruangan ku jadi aku tidak mendengar panggilan mu. "
Susan mendengus kesal di ujung telpon karena sejak tadi telponnya tidak di angkat juga.
" Aku harap kamu tidak keberatan menemui ku sayang. Tidak apa kalau kamu sibuk, biar aku yang akan datang menemui mu. Kamu mau aku datang kemana, di kantor atau di rumah mu, sekalian aku ingin ketemu Bunda Ayu. "
Mendengar perkataan Susan tentu saja Gibran terkejut, Ia tidak mungkin mengijinkan Susan datang ke rumahnya apapun alasannya. Bagaimana pun juga Ia tidak ingin ada keributan antara Susan dan juga Bundanya.
" Baiklah, setelah pulang kerja. Biar aku saja yang akan ke rumah mu. "
Susan tersenyum mendengar ucapan Gibran, akhirnya Gibran sendiri yang menemuinya langsung di kediamannya, paling tidak ini akan memudahkan nya untuk menyampaikan apa yang Ia ingin katakan selama ini.
Gibran mengusap wajahnya kasar, Ia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang selain menemui wanita itu sebelum semua jadi runyam.
Gibran mengetik beberapa pesan dan mengirimkan nya pada Bundanya. Di tempatnya Bunda Ayu yang sejak tadi menunggu kabar dari Gibran pun langsung memeriksa ponselnya ketika ada pesan masuk.
" Ada apa Bunda. " Tanya Maudy yang melihat perubahan pada raut wajah Ibu mertuanya.
" Sepertinya kita akan berangkat bersama supir saja karena Gibran tidak bisa mengantar kita kesana, tiba-tiba Dia ada urusan mendadak. Tidak apa-apa kan kalau kita berangkat tanpa Gibran. "
" Iya Bunda, Maudy terserah Bunda saja. " Jawab Maudy di di sertai anggukan kepala.
Meskipun sedikit berat hati namun Bunda Ayu akhirnya memilih pergi lebih dulu bersama Maudy dan juga supir keluarga mereka.
***
Sore hari tepatnya pukul empat Gibran keluar dari area parkiran, kali ini tujuannya langsung ke rumah Susan. Meskipun Ia sudah menduga apa yang akan di bicarakan wanita itu namun Gibran berusaha tenang.
Gibran meminta Arga untuk menunggunya di luar saja namun tanpa sepengetahuan Gibran Arga pun menyelinap masuk.
Ia berdiri agak jauh dari tempat Gibran berada, memantau kalau- kalau Bos nya itu membutuhkan bantuan.
" Sayang, akhirnya kamu datang juga. "
Susan menyambut kedatangan Gibran dengan senyum merekah, Ia juga memeluk erat tubuh kekasihnya itu. Gibran tidak bisa menolak karena perlakuan Susan yang tiba-tiba.
" Iya, ada apa Susan. Sepertinya ada hal yang begitu penting, tapi kamu nampak baik- baik saja. "
Gibran duduk karena Susan sudah menarik tangannya agar Ia duduk, Susan menggenggam erat tangannya. Tidak lama kemudian Bi Ratih datang dengan membawa nampan berisikan minuman dan juga cemilan untuk mereka.
" Di- di minum ya Pak. "
" Ah iya Bi, terima kasih. "
Bi Ratih pun mengangguk pelan, Ia langsung pergi ketika melihat Susan meminta nya pergi.
" Di minum sayang, kue nya adalah buatan ku sendiri loh, khusus untuk mu. "
Gibran menyesap kopi buatan Bi Ratih dan juga mencicipi kue yang katanya buatan Susan, sangat enak di lidah. Memang dari dulu Susan selalu jago dalam urusan memasak dan untuk cita rasa itu tidak perlu di ragukan lagi.
Gibran masih menunggu apa yang ingin di sampaikan oleh Susan, Susan melangkah ke arah meja dan membuka laci meja itu. Ia mengambil sebuah amplop dan kembali duduk di hadapan Gibran.
Ia menyerahkan amplop itu pada Gibran, Gibran menatap lama amplop itu sebelum akhirnya Ia menerimanya.
" Apa ini. " Tanya Gibran.
Susan mengangkat kedua bahunya dan menunjuk pada Gibran, meminta Pria itu melihat sendiri apa isi amplop itu.
Gibran membuka amplop itu dengan hati- hati, dari depan saja sudah terlihat kalau surat itu dari rumah sakit. Gibran menatap Susan sesaat sebelum kembali membaca isi surat itu.
Gibran terkejut karena ternyata tebakan Arga benar adanya.
" Iya sayang, aku - aku hamil, hamil anak kita. "
Susan mengelus perutnya dengan senyum mengembang di bibirnya.
" Kamu yakin ini anak ku. " Tanya Gibran setelah beberapa saat.
" Apa maksud mu sayang, tentu saja ini anak mu, anak kita. Apa kamu berfikir kalau aku akan melakukan ini dengan orang lain, di saat cintaku hanya untukmu seorang. "
Gibran menghela nafas, Ia nampak diam tapi tidak dengan hati dan pikiran nya.
" Sayang, kok kamu diam saja sih. Apa kamu tidak bahagia mendengar berita ini, kita akan segera punya anak. Dan......... dan aku- aku ingin secepatnya kita menikah. Aku tidak mau anak ini lahir tanpa Ayah, kamu mau kan menikah dengan ku. "
Gibran masih tetap diam sampai akhirnya Susan kembali menggenggam erat kedua tangannya. Wajahnya masih memancarkan senyum kebahagiaan.
" Susan, ini masalah yang cukup serius dan mendadak, aku bingung harus bagaimana. Aku tidak tau bagaimana menanggapinya sekarang, apakah aku harus bahagia atau bagaimana. "
Susan menatap Gibran, Ia tau kalau kekasihnya saat ini sedang shock atas berita yang Ia sampaikan. Namun ini adalah rencananya sejak awal, Ia harus mengatakannya pada Gibran sebelum perutnya semakin membesar dan menjadi bahan gunjingan karena hamil di luar nikah.
" Oh ya Susan, karena masalah ini sangat serius aku mohon beri aku waktu. Aku akan memikirkan nya dan mencari jalan keluar untuk masalah ini, bagaimana pun juga ini menyangkut keluarga besar, di tambah lagi Bunda. Beliau tentu akan menentang ini habis-habisan. "
Susan kembali menggengam tangan Gibran dan mengelus nya perlahan.
" Iya sayang, aku akan menunggumu tapi jangan lama-lama ya, kasihan anak kita. "
Susan menarik tangan Gibran dan meletakkan nya di perutnya, masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...