NovelToon NovelToon
Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno / Balas Dendam
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.

Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.

Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.

Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.

Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.

Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

𖣂|Prolog Dosa Awal|

Sebelum masuk ke prolog, ada yang ingin Author sampaikan.

Cerita ini adalah murni karya fiksi semata. Nama, karakter, tempat, dan peristiwa merupakan produk imajinasi saya sendiri sebagai Author yang digunakan secara fiktif. Segala kesamaan baik dalam tokoh sejarah maupun organisasi dunia nyata adalah kebetulan semata.

Content Warning!

Novel ini juga mengandung elemen kekerasan, tema dewasa, dan konflik intens yang mungkin saja tidak cocok untuk sebagian kalangan pembaca. Kebijaksanaan dari para pembaca sangat diharapkan bagi saya, terimakasih.

Selamat memasuki dunia Legacy Of Soryu. Selamat membaca....

...|Legacy of Soryu|...

...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...

Kisah ini dimulai dari zaman Kekaisaran Yamato, pada musim gugur tahun ketiga era Koka, tahun 1846. Satu dekade sebelum kapal asing pertama kali terlihat di teluk Edo. Satu generasi sebelum dunia ini berguncang dan berganti nama menjadi era zaman baru. Ini adalah zaman di mana nama dan kekuasaan masih berarti segalanya. Dan di mana cinta adalah sebuah kemewahan yang tidak ada yang mampu membelinya.

Musim gugur tiba lebih awal tahun itu. Daun-daun momiji berguguran di taman istana. Sementara angin membawa aroma koi dari kolam dan dupa dari altar leluhur.

Di bawah pohon ginkgo tertua di seluruh kompleks istana, dua orang berdiri berdampingan—seorang pria dalam balutan hakama hitam dan haori berwarna navy berhias lambang naga di kedua lengannya, dan seorang wanita muda dalam balutan kimono ungu yang rambutnya disanggul indah.

Tangan mereka saling menggenggam erat satu sama lain dalam hening. Seolah mereka berdua sudah tahu bahwa ini mungkin untuk terakhir kalinya.

"Aku akan menikah musim semi mendatang," ujar sang Pangeran. Ada jeda panjang di antara kata-katanya.

"Kaisar telah menetapkan pilihannya untukku. Seorang putri dari klan Utara."

Wanita itu, Aya, tidak menoleh. Ia hanya mempererat genggaman tangannya pada lengan jubah kakaknya.

"Aku tahu."

"Aya..." Pangeran menyentuh dagu adiknya, memaksanya untuk menatap matanya.

Wajah mereka bagaikan cermin bagi satu sama lain. Garis rahang yang sama, bentuk mata yang serupa, dan darah yang sama juga mengalir di nadi mereka. Namun, di mata sang Pangeran mahkota, tidak ada kasih sayang persaudaraan di antara mereka yang ada hanyalah obsesi yang menghancurkan.

"Pangeran, kau harus berhenti menatapku seperti itu," bisik Aya. "Dunia luar sedang mengawasi kita. Pelayan, penjaga... Bahkan mungkin Kaisar sedang mengawasi kita."

"Biarkan mereka melihat," balas Pangeran. Jarinya mengusap bibir Aya dengan gerakan yang menuntut.

"Hukum leluhur hanyalah tulisan di atas kertas usang bagi mereka yang lemah. Aku adalah pewaris takhta ini, Aya... Kau adalah milikku. Apa yang aku inginkan, akan menjadi hukum baru di kekaisaran ini."

Aya memalingkan wajahnya, mencoba melepaskan diri dari tatapan intens kakaknya.

"Itu kesombongan yang akan membunuh kita berdua. Kau tidak bisa melawan takdir, Aniue."

"Takdir adalah apa yang aku buat di atas ranjangku, bukan apa yang diputuskan orang tua itu di singgasananya," Pangeran menarik Aya lebih dekat, menghapus jarak di antara mereka hingga napas mereka saling beradu.

"Katakan padaku, Aya. Apakah kau benar-benar ingin aku menikah dengan wanita dari klan Utara itu? Apakah kau sanggup melihatku setiap hari di istana ini, mengetahui bahwa dia yang akan tidur di atas ranjang yang sama denganku, dia juga yang nantinya akan mengandung ahli waris dariku, sementara kau hanya bisa menatap dari balik tirai seperti orang asing?"

Aya terdiam. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Manipulasi itu bekerja sempurna; sang Pangeran tidak memberinya ruang untuk bernapas atau berpikir dengan jernih. Pria itu mulai menanamkan rasa takut akan kehilangan yang jauh lebih besar daripada rasa takut akan dosa.

"Aku membencimu karena membuatku merasa sehina ini," bisik Aya pedih.

"Benci dan cinta hanya dipisahkan oleh garis tipis yang seringkali tidak kasat mata, Adikku," gumam Pangeran sebelum mengecup keningnya dengan posesif.

...-Kamar Pangeran Mahkota-...

...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...

Tiga bulan kemudian, sejak kejadian dibawah pohon ginkgo—wanita itu menemui pangeran mahkota di tengah malam.

Kamar Pangeran sunyi. Hanya ada satu pelita yang menyala di sudut ruangan. Wanita itu berlutut di hadapannya, dengan kepalanya yang tertunduk. Sementara jari-jemarinya menggenggam bagian depan kimononya erat-erat.

"Kamu harus tahu sesuatu pangeran," katanya tanpa pembukaan.

Pangeran akhirnya meletakkan gulungan suratnya. "Ada apa?"

Keheningan sebentar menyelimuti ruangan itu. Tak lama wanita itu berbicara dengan suara hampir seperti sebuah bisikan.

"Aku hamil," kata Aya. Suaranya hampir tenggelam.

"Kaisar tidak boleh sampai tahu," adalah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya.

"Aku tahu," sahut Aya. "Tapi perutku tidak bisa berbohong selamanya. Rahasia ini mungkin suatu saat nanti akan terbongkar juga."

Pangeran berdiri, melangkah mendekat dan berlutut di depan Aya. Ia menggenggam tangan adiknya dengan erat, seolah ingin meremukkan tulang jemarinya.

"Dengarkan aku baik-baik, Aya. Aku akan mengurus segalanya. Tabib pribadi istana adalah orangku. Dia akan memberimu ramuan untuk menyamarkan kondisi kehamilanmu. Setelah aku menikah, aku akan mengirimmu ke kuil di pegunungan dengan alasan pemulihan kesehatan. Di sana, anak itu akan lahir dalam diam, jauh dari mata-mata istana."

Aya menatap kakaknya dengan ngeri. "Lalu apa? Anak itu akan hidup tanpa ayah? Dia akan menjadi hantu di silsilah dari keluarga kita sendiri?"

"Dia akan hidup, Aya! Itu lebih baik daripada dia mati sebelum sempat melihat cahaya matahari!" tegas Pangeran.

"Kau harus percaya padaku. Bukankah kau mencintaiku? Bukankah kau bilang kau akan memberikan jiwamu untukku? Sekarang, berikan kesetiaanmu. Jangan hancurkan masa depanku dengan rengekanmu!"

Sekali lagi, Pangeran menggunakan perasaan Aya sebagai senjata. Dia tidak menawarkan solusi yang adil bagi wanita itu.

"Jangan biarkan aku menanggung beban ini sendirian, Aniue... ini adalah dosa kita berdua."

"Kita akan menanggungnya bersama," bohong Pangeran. Ia memeluk adiknya, namun matanya menatap tajam ke arah kegelapan di balik pintu, seolah dia sedang merencanakan langkah selanjutnya untuk membungkam siapapun yang mencurigai mereka.

...***...

Seminggu kemudian, kenyataan menghantam lebih keras dari dugaan siapapun.

Kaisar memanggil Pangeran ke ruang audiensi. Di atas lantai tatami, sebuah gulungan surat terbuka dengan cap lilin tabib istana yang telah pecah.

Tabib itu telah ditangkap saat mencoba melarikan diri dan membocorkan rahasia kakak beradik itu demi menyelamatkan nyawanya sendiri dari ancaman pembunuhan yang diam-diam dikirim oleh Kaisar.

"Hanya ada satu cara untuk membersihkan noda ini, Pangeran," ujar Kaisar. "Nama keluarga kita tidak boleh sampai tercemar oleh aib inses. Rakyat tidak boleh sampai tahu bahwa pewaris takhta adalah seorang pendosa yang tidur dengan adiknya sendiri."

Kaisar melemparkan sebuah belati ke depan Pangeran. Logam itu berdenting di atas lantai kayu dengan suara yang mematikan.

"Kau yang memulai ini. Kau yang harus menyelesaikannya. Jika kau ingin takhta itu tetap menjadi milikmu, buktikan bahwa kau bisa memotong bagian yang busuk dari hidupmu."

Pangeran menatap belati itu cukup lama. Di dalam kepalanya, ia mulai menyusun rencana lain. Dia tahu dia tidak akan bisa melawan Kaisar secara fisik. Kekuasaan adalah segalanya baginya. Takhta jauh lebih berkilau daripada cinta mana pun termasuk pada Aya.

...-Kamar Putri-...

...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...

Malam itu, Pangeran masuk ke kamar Aya.

Wanita itu sedang duduk menatap jendela yang terbuka. Ia tampak tenang, seolah sudah mendengar bisikan maut yang dibawa oleh angin malam.

Di dinding kamar itu, tergantung sebuah lukisan. Lukisan sang Pangeran dalam balutan jubah kebesaran yang dilukis sendiri oleh Aya dengan penuh cinta selama berbulan-bulan.

"Kaisar akhirnya tahu," ujar Aya tanpa menoleh.

Pangeran mendekat, tangannya yang tersembunyi di balik jubah, sedang menggenggam belati pemberian Kaisar.

"Aya..."

Aya berbalik, menatap kakaknya dengan mata yang jernih, seolah mencari sisa-sisa kemanusiaan di sana.

"Apakah kau akan mati bersamaku, Kak? Sebagaimana semua janji yang kau bisikkan di bawah pohon ginkgo kepadaku? Kita akan pergi bersama ke tempat di mana hukum manusia tidak lagi berlaku bukan?"

Pangeran terdiam. Manipulasi terakhirnya dimulai di sini. Ia tiba-tiba berlutut di depan Aya, memasang wajah yang penuh penderitaan palsu, bahkan mengeluarkan air mata buaya.

"Kaisar memberiku pilihan yang mengerikan, Aya. Jika aku mati bersamamu, kau dan bayi itu akan dieksekusi secara publik dengan cara yang paling hina. Namamu juga akan dicaci maki oleh sejarah sebagai wanita yang menghancurkan nama baik kekaisaran. Namun..." Pangeran menelan ludah, suaranya kini pecah secara dramatis.

"Jika kau pergi lebih dulu secara diam-diam malam ini, aku bisa menyelamatkan kehormatanmu. Aku akan memastikan namamu tetap bersih dalam catatan sejarah, dan aku akan menghabiskan sisa hidupku dalam siksaan penyesalan demi menjaga rahasia ini tetap terkubur, bagaimana?"

Aya menatapnya lama. Ia melihat belati yang sedikit menyembul dari balik jubah sang Pangeran. Ia akhirnya mengerti. Pria ini tidak pernah benar-benar mencintainya. Pria ini hanya mencintai bayangannya sendiri di atas singgasana. Namun, cinta Aya terlalu besar, hingga ia memilih untuk mengalah pada manipulasi terakhir pria itu.

"Kau memintaku mati agar kau bisa tetap menjadi Raja tanpa beban, bukan?" bisik Aya pilu.

"Aku memintamu menyelamatkan keturunan kita yang lain, Aya. Jadilah martir bagi cinta kita," Pangeran memegang tangan Aya, mengarahkan tangan wanita itu ke belati di balik jubahnya.

Aya tersenyum pahit, sebuah senyum yang akan menghantui Pangeran selamanya.

"Baiklah. Aku akan pergi. Tapi ingatlah satu hal, Pangeran. Kau tidak akan pernah menemukan kedamaian di atas takhta itu."

Belati itu bergerak secepat kilat. Tidak ada teriakan yang keluar dari mulut Aya. Yang ada hanya suara napas yang tersengal dan tetesan darah yang membasahi tatami. Pangeran memegangi tubuh adiknya yang limbung, menatap darah merah yang perlahan merembes mengotori kimono putih milik Aya.

Di saat-saat terakhir, Aya membisikkan sebuah kutukan terakhir di telinga Pangeran.

"Dosa ini akan mengikutimu hingga tujuh turunan, Aniue. Darah yang kau tumpahkan malam ini... tidak akan pernah benar-benar kering. Dia akan terus menuntut balas... Sampai bertemu di kehidupan selanjutnya, Aniue..."

Pangeran terengah-engah. Setelah Aya tak bernapas lagi, ia tidak menangis karena duka, melainkan karena rasa takut yang tiba-tiba mencekam jiwanya. Ia berdiri, dan saat ia hendak meninggalkan kamar Aya, ia sempat menoleh ke arah lukisan dirinya yang dibuat oleh Aya.

Tepat disaat itu, terjadi sesuatu yang mengerikan. Pada lukisan sang Pangeran, tepatnya bagian mata mulai merembeskan cairan merah kental. Lukisan itu mulai mengeluarkan darah secara nyata, seolah kanvas itu sendiri ikut menderita dengan kepergian Aya. Darah itu mengalir jatuh ke lantai, menyatu dengan darah asli milik Aya. Pangeran berteriak serak dan lari kocar-kacir meninggalkan ruangan itu dalam kegelapan total.

...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...

Tidak ada hubungannya dengan masa kini. Hanya sepenggal memori dari zaman yang sudah lama terkubur atau mungkin sebuah dosa yang tidak pernah benar-benar dimaafkan, yang kemudian mewariskan dirinya tanpa nama, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

1
Alia Chans
Hadir Thor
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉
AzhuraAstra: Terimakasih 🫡
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!