Apa jadinya jika seorang pria mencintai wanita yang telah bersuami, dan wanita itu merupakan kakak iparnya sendiri ?,
Niat ingin membantu sang kakak lelaki, Kennedy justru terbawa perasaan hingga memiliki obsesi untuk mendapatkan Joanna sang kakak ipar. Trauma Joanna yang membuat Kennedy panik akhirnya membuat pria itu hilang akal hingga berujung pada sebuah persetubuhan hangat yang tak dapat ia lupakan.
Hai readers yang budiman !
Ini novel pertama yang saya keluarkan dalam mengikuti event Cinta Yang Tak Direstui , mohon dukungannya dan salam kenal,
Jangan lupa vote dan tinggalkan saran di kolom komentar ! Terima kasih 💜☺️✌️
"Mmmmmphh" isak tangis Joanna tertahan, karena Kennedy mencium lembut bibirnya.
"Hentikan," Joanna mencoba menghindari bibir Kennedy tapi tubuh lemah nya tak mampu menghentikan tindakan adik iparnya.
"Ken,"
Tak menghiraukan segala ucapan Joanna, Kennedy justru membimbing kakak iparnya untuk mengikuti permainan lidahnya dan tak memberi kesempatan Joanna u
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon boora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Direct Message Sosial Media Milik Joanna
Linda masih nampak tertegun dan berusaha untuk meredam amarah yang menguasai dirinya.
Wanita itu berkali-kali menghela nafas dan mencoba untuk tidak menjatuhkan air mata, tatapannya masih nampak begitu tajam memperhatikan Brian yang masih terkapar di lantai rumah Joanna.
"Diriku tidak akan menyerahkan mu pada wanita lain begitu saja Tuan Brian !" Linda nampak mendekati Brian dan berbicara pada lelaki yang tengah tak sadarkan diri dihadapannya.
"Setelah menyingkirkan Joanna dan bertahan hingga sejauh ini ...," ia kembali berucap tegas dan tetap berusaha untuk tak meneteskan air mata meskipun hatinya terasa panas karena api cemburu tengah menyelimutinya.
"Aku tidak akan mundur hanya karena wanita murah dari Club malam yang kau bawa kemari !"
"Apalagi dengan benih anak yang berada dalam kandungan ku saat ini !" wanita itu kembali mengusap perlahan perutnya yang masih nampak begitu rata.
"Tuan Brian pasti akan takluk dengan mudah padaku !" Linda kembali tersenyum sinis dan meyakinkan diri bahwa Brian akan menjadikannya seorang istri.
Dua hari berlalu, unggahan gambar selai strawberry buatan Joanna nampak mendapatkan banjir komentar dari orang-orang di sosial media miliknya.
"Ada apa Kak ?" Sean turut menampilkan rasa penasaran dalam dirinya.
"Lihatlah !" Joanna nampak menyodorkan ponselnya untuk memberitahu Sean tentang permintaan selai strawberry yang banyak diminati oleh toko-toko di area wilayahnya.
"Waah, kakak bisa semakin kaya !" Sean berucap dengan ekspresi kagum yang terpancar di wajahnya.
"Ini memang kesempatan bagus Sean, tapi apa aku mampu untuk menyanggupi semua pesanan ini ?" Joanna nampak ragu dengan begitu banyak nya direct message yang ia terima.
"Jadi, apa kakak akan menolak semua pesanan yang kakak terima ?" pria kecil itu kembali mengajukan pertanyaan pada Joanna yang nampak kebingungan.
"Rasanya tidak mungkin jika diriku mengirimkan semuanya !" Joanna menanggapi kalimat Sean dengan tetap memperhatikan dan memeriksa detail akun sang pemesan produk strawberry yang ia buat.
Malam itu Joanna kembali berkutat untuk menambah stok selai strawberry buatannya, ia akhirnya memutuskan untuk menerima beberapa pesanan yang menurutnya dekat dan tak melelahkan untuk proses pengiriman produknya.
"Akhirnya terselesaikan !" Joanna tersenyum menatap dua puluh jar selai strawberry hasil buatannya.
"Lokasinya tak cukup jauh, diriku bisa mengantarkan ini semua tanpa jasa ekspedisi !" wanita itu kembali berbicara seorang diri dan nampak puas dengan hasil kerjanya hari ini.
"Semoga saja rasanya tidak mengecewakan di lidah mereka !" ia kembali tersenyum dan nampak menguap karena harus lembur menyelesaikan pesanan pertamanya.
Setelah perjalanan yang begitu melelahkan Brian akhirnya tiba di sebuah hotel tempat tujuannya saat malam telah larut, pria itu sengaja memilih untuk tak segera kembali ke rumah selepas kegiatan meeting pekerjaan nya karena ingin menghindari Linda.
Brian juga membawa Laura bersamanya, wanita simpanan kedua Brian yang ia temui di sebuah Club malam.
"Oh Laura, tubuhmu memang senikmat ini ?" Brian nampak memegang medan pinggul wanita yang kini tengah bermain di atas tubuhnya.
"Saya pastikan Tuan akan lebih rileks setelah kita bermain !" wanita itu kembali bermain liar di atas kejantanan milik Brian.
Belaian serta kecupan nakal yang ia peroleh dari wanita yang ia temui di Club malam itu membuat Brian melayang dan melupakan semua tuntutan pernikahan dari Linda yang selalu menghantuinya.
Suasana sejuk alami serta kicau burung di pagi itu membuat Brian membuka matanya lebih awal, ia juga menyingkirkan perlahan tangan Laura yang nampak berada pada dadanya.
Pria itu berjalan perlahan mendekati jendela, matanya menelisik setiap sudut pemandangan hijau di hadapannya.
"Rasanya jarang sekali diriku berkunjung ke tempat sejuk seperti ini !" pria itu bergumam perlahan sembari menarik perlahan tirai kamar hotelnya untuk lebih menikmati pemandangan.
Atensinya kembali teralihkan karena ponselnya kembali menyala serta berdering dan menampilkan nama Linda, raut wajah pria itu kembali masam seketika.
"Ada apa ?" Brian berucap datar tanpa basa-basi pada wanita selingkuhannya selama ini.
"Tuan kapan akan kembali, diriku sungguh merindukanmu Tuan Brian !" suara Linda nampak merdu mendayu saat ia berbicara.
"Jangan memikirkan kapan kepulangan ku !"
"Diriku masih betah berada disini !" Brian kembali berbicara dengan semaunya, pria itu sama sekali tak ingin memikirkan perasaan Linda.
"Tapi Tuan ...," belum sempat Linda menyelesaikan kalimatnya Brian telah lebih dulu memutus sambungan pada teleponnya.
"Menyusahkan saja !" Brian kembali berdecak kesal karena sikap Linda yang terlalu mengekang dirinya.
"Rasanya akan sia-sia jika diriku hanya menghabiskan waktu di kamar hotel ini !" Brian akhirnya memilih beranjak untuk berjalan mengelilingi area sekitar hotel tempat ia menginap.
Pria itu juga terlihat mengacuhkan Laura, wanita simpanan yang masih nampak tertidur pulas tanpa busana dibawah selimutnya.
Joanna nampak memberhentikan kendaraan bermotor nya tepat di sebuah penginapan, wanita itu nampak celingukan sebelum akhirnya menghubungi nomor dari ponsel pelanggan.
"Iya Nona, ini saya Joanna !" ia nampak berbicara dengan seseorang dalam sambungan teleponnya.
"Saya sudah berada didepan penginapan !"
"Bisakah Nona keluar ?" wanita itu kembali berbicara dan meminta dengan santun terhadap pelanggan pertamanya.
Tak berselang lama seorang petugas penginapan akhirnya datang menghampiri Joanna dan menerima box berukuran sedang dari Joanna.
Tanpa Joanna sadari seseorang nampak begitu memperhatikan dirinya, pria itu terkejut sekaligus tak percaya akan bertemu dengan Joanna ditempat persinggahannya.
"Terimakasih Nona !" Joanna kembali tersenyum sebelum akhirnya bersalaman dan berpamitan pada petugas penginapan.
Joanna kembali melajukan kendaraanya menuju pasar, ada beberapa barang material yang nampaknya ia butuhkan untuk memperbaiki kolam ikan dihalaman belakang samping rumahnya.
"Benarkah itu dirimu Joanna ?" Brian masih tertegun serta bertanya di dalam hatinya sendiri, ia kembali menolak untuk percaya saat melihat Joanna yang begitu lincah dalam mengendarai kendaraan bermotor.
"Diriku tahu benar bagaimana Joanna !"
"Tidak mungkin dia mengendarai kendaraan bermotor, Joanna akan sangat kesulitan untuk bisa mengendalikan traumanya begitu ia gugup !"
"Tapi suara serta senyuman itu ...," Brian kembali mengingat senyum tulus serta keramahan sikap Joanna pada setiap orang.
"Itu benar-benar mirip dengan Joanna !" pria itu akhirnya tertunduk dan kembali menghela nafasnya.
"Seharusnya diriku mengikutinya tadi !" Brian nampak berteriak frustasi karena tuntutan dari pemikirannya sendiri.
Lelah berargumen dengan dirinya sendiri Brian akhirnya menuju restoran hotel untuk mengisi perut kosongnya.
Pria itu kembali mencoba untuk mengulik informasi saat melihat seorang wanita salah satu karyawan hotel yang sebelumnya sempat bertemu dengan Joanna.
"Maaf Tuan, saya tidak bisa memberikan informasi tentang alamat seseorang dengan sembarangan disini !" sang karyawan hotel nampak menolak keinginan Brian saat pria itu meminta dengan detail alamat tempat tinggal Joanna.
"Tak apa, terimakasih sebelumnya !" Brian kembali tersenyum getir karena belum bisa mengetahui tentang kepastian keberadaan Joanna, wanita yang tanpa sadar masih menempati sepenuhnya ruang di hatinya.
Novel ini mengikuti event Cinta Yang Tak di Restui, kritik dan saran akan sangat membangun bagi diri saya ☺️🙏