~~
Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
****
Empat bulan telah berlalu sejak badai cemburu dan kecurigaan meleleh seutuhnya di bawah naungan kelambu kamar utama. Usia kandungan Larasati kini telah menginjak bulan kedelapan. Di usianya yang mendekati sembilan belas tahun akhir, raga remajanya kini membawa beban kehidupan baru yang kian membesar dan memberat. Perutnya yang dulu hanya membulat kecil kini membuncit tinggi dan sarat, membuat langkah kakinya kian pelan, anggun, namun penuh kepayahan.
Posisi jabang bayi yang kian membesar mulai menekan rongga dada serta lambungnya. Hari-hari Larasati diwarnai oleh kelelahan yang teramat sangat. Punggung bagian bawahnya sering terasa kaku seperti ditimpa batu raksasa, sementara rasa mual susulan kembali menyergapnya di waktu-waktu yang tidak menentu. Tidur malam yang dulunya lelap kini berubah menjadi perjuangan yang melelahkan; Larasati sering terbangun dengan napas tersengal pendek karena sesak, disertai dorongan untuk buang air kecil yang tak terhindarkan setiap beberapa jam sekali.
Malam itu, dinginnya angin pegunungan berembus kencang, memukul-mukul jendela jati kamar utama. Di atas kasur kapuk yang tebal, Larasati bergerak gelisah dalam tidurnya. Wajah cantiknya yang sedikit berisi tampak menyeringai menahan ketidaknyamanan. Napasnya memburu halus, dadanya naik-turn cepat di balik kebaya longgar bahan katun tipis yang dikenakannya.
Ugh... Mas... rintih Larasati lirih, kelopak matanya terbuka perlahan dalam kegelapan temaram.
Raden Mas Baskoro—pria perkasa berusia tiga puluh lima tahun yang tidur di sampingnya—seketika membuka mata. Sejak usia kehamilan istrinya memasuki bulan kedelapan, naluri dan kesetiaan Baskoro membuatnya tidak pernah benar-benar tidur lelap. Pria perkasa itu langsung terduduk, menyibak kelambu sutra, lalu mendekatkan wajah tegapnya pada Larasati dengan raut cemas yang murni.
"Ada apa, Nduk? Mana yang terasa sakit? Perutmu mules lagi?" tanya Baskoro, suaranya bariton rendah, bergetar penuh perhatian. Tangan besarnya yang hangat langsung merayap lembut ke atas perut membuncit Larasati yang menegang keras.
Larasati menggeleng lemah, jemari kecilnya mencengkeram lengan kekar suaminya. "Tidak, Mas... perut saya tidak mules. Tapi dada saya rasanya sesak sekali... lambung saya mual dan... saya ingin ke kamar mandi lagi..."
"Mari, aku bantu berdiri. Jangan memaksakan diri," ucap Baskoro cekatan.
Pria tiga puluh lima tahun itu meluncur turun dari ranjang tanpa memedulikan hawa dingin yang menusuk kulit dadanya yang telanjang. Dengan ketelatenan dan kehati-hatian tingkat tinggi, Baskoro merengkuh punggung dan bawah lutut Larasati, membantunya menegakkan tubuh hingga duduk di tepi ranjang.
Larasati meringis pelan saat beban perutnya berpindah. Kaki kecilnya yang kini membengkak halus terasa lemas menapak di atas lantai kayu. Baskoro berlutut di hadapannya, menuntun tangan Larasati agar melingkar mesra di leher kekarnya. Tanpa ragu sedikit pun, Baskoro mengangkat raga istrinya dalam gendongan protektif, membawanya melangkah menuju bilik pembasuhan di balik pintu dalam.
Di dalam bilik batu yang temaram oleh pendar lampu minyak, Baskoro menyangga tubuh Larasati dengan telaten. Tidak ada sedikit pun rasa canggung, jijik, atau risih di wajah sang penguasa Joglo. Pria yang ditakuti seluruh juragan perbukitan itu dengan lembut menyibak dan melonggarkan ikatan kain jarik Larasati, membiarkan istrinya menuntaskan hajatnya dengan nyaman.
Baskoro bahkan membasuh dan merapikan kembali pakaian istrinya dengan jemari tangannya sendiri yang besar dan berurat, membelai lembut pinggang Larasati yang kini kian lebar.
"Mas Baskoro..." bisik Larasati dengan mata berkaca-kaca, menatap wajah tegap suaminya dari dekat. "Anda tidak perlu melakukan semua ini... Saya merasa sangat merepotkan. Setiap malam Anda harus terbangun berkali-kali hanya untuk mengurusi saya..."
Baskoro menghentikan gerakannya sejenak. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata istrinya dengan binar cinta yang teramat dalam dan murni. Tangannya mengusap sisa keringat dingin di dahi Larasati.
"Jangan pernah bicara seperti itu lagi, Larasati," tegur Baskoro, suaranya lembut namun sarat akan ketegasan seorang suami yang mengayomi. "Mengurusmu dan menjaga anak kita bukanlah beban bagiku. Ini adalah kehormatan teragung dalam hidupku. Raga remajamu sedang berjuang membawa darah dagingku, maka seluruh tenagaku adalah milikmu untuk menopang ketidaknyamanan itu."
Baskoro kembali menggendong Larasati dengan penuh kehangatan, membawanya kembali ke atas kasur kapuk yang empuk.
Namun, ketika Larasati mencoba berbaring miring, rasa mual dan sesak di dadanya kembali menghantam keras. "Ugh... Mas, dada saya rasanya tertekan kalau berbaring..."
"Kemari, Nduk. Bersandarlah padaku," usul Baskoro cepat.
Pria perkasa itu mengambil dua bantal kapuk besar, menyandarkannya di ukiran kayu kepala ranjang, lalu duduk bersandar tegap di sana. Baskoro menarik raga Larasati perlahan, memposisikan tubuh remajanya agar bersandar rapat di dada bidangnya yang hangat. Kepala Larasati terkulai nyaman di ceruk leher suaminya, sementara kedua kaki Baskoro meliuk melingkari pinggul Larasati dari belakang, memberi topangan yang teramat kokoh.
Tangan besar Baskoro melingkar di depan, satu tangannya merayap naik-turun mengusap lembut punggung Larasati yang kaku, sementara telapak tangannya yang lain melingkari bagian bawah perut membuncit istrinya, menyangga beban janin berusia delapan bulan itu agar tidak terlalu menekan lambung Larasati.
"Bagaimana, Nduk? Sudah terasa lebih lega?" bisik Baskoro parau tepat di telinga Larasati, menyapukan kecupan hangat di pelipis istrinya.
Larasati menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Kehangatan dada bidang Baskoro dan detak jantung suaminya yang berdegup teratur di balik punggungnya seketika memberi rasa aman yang luar biasa. Beban di lambung dan sesak di dadanya perlahan terurai.
"Sudah jauh lebih lega, Mas..." jawab Larasati lirih, jemarinya mengelus jemari besar Baskoro yang menempel di perutnya. "Terima kasih banyak, Mas Baskoro..."
Baskoro tersenyum tipis, sebuah senyuman manis yang jarang sekali terlihat di wajah kakunya. Pria itu menggesekkan hidungnya di rambut harum Larasati, membawakan ketenangan di tengah heningnya malam.
"Cinta itu tidak hanya hadir saat kita berbagi gairah di bawah kelambu, Laras," bisik Baskoro dengan nada bariton yang amat dalam dan puitis. "Cinta sejati adalah ketika aku sanggup berdiri tegap menjagamu di setiap detik kelelahanmu, membagi rasa sakitmu, dan memastikan kamu merasa aman di dalam pelukanku."
Baskoro kemudian mulai bergumam pelan, menyanyikan tembang cengkok Jawa kuno berisi doa keselamatan dengan suaranya yang berat dan menenangkan. Telapak tangannya tidak pernah berhenti mengusap punggung dan perut istrinya dengan ritme yang konstan.
Larasati memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata haru menetes pelan menyapu pipinya. Keraguan masa lalu, ketakutan akan kurungan feodal, dan bayang-bayang masa lalu telah lenyap tanpa bekas. Di dalam dekapan hangat pria berusia tiga puluh lima tahun ini, Larasati menemukan sebuah rumah sejati—sebuah cinta yang matang, setia, dan tidak akan pernah teroyak oleh apa pun.
Perlahan, napas Larasati mulai teratur dan halus. Rasa lelah yang berat akhirnya menyerah pada kedamaian pelukan suaminya. Nyai muda berusia sembilan belas tahun itu tertidur dengan teramat pulas di dada bidang Baskoro.
Baskoro menatap wajah lelap permaisurinya dengan rasa kasih yang meluap-luap. Ia tidak memindahkan posisi duduknya sedikit pun sepanjang sisa malam itu. Pria perkasa itu rela membiarkan dadanya kaku dan kakinya kesemutan, menahan posisi itu hingga fajar pagi kembali menyembul di ufuk timur, demi menjaga tidur lelap wanita yang menjadi seluruh jiwa dan masa depannya di atas bukit Joglo.
Bersambung
eh kadang2 Baskoro 40 Larasati 17..
kadang balik lg Baskoro 35 Larasati kadang 19 kadang 17😄