"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"
Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.
Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.
Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pagi yang manis
Suara gemercik air dari balik sekat kaca kamar mandi masih terdengar jelas, menemani senandung Aratala yang tengah asyik menikmati mandinya. Gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa benteng pertahanannya telah dijebol dengan mudah oleh sang CEO yang sedari tadi merencanakan pembalasan telak.
Selesai dengan ritual mandinya, Aratala mematikan keran shower.
Dengan handuk yang dililitkan secara asal menutupi tubuhnya, Aratala membuka pintu sekat kaca dengan langkah santai, bersiap menyambut hari dengan kemenangan kecil setelah berhasil mengerjai Elio habis-habisan tadi.
"Ah, segarnya..." gumam Aratala sambil meraba-raba meja rias untuk meraih handuknya handuk baju mandi nya
"Eh, kok handuk aku nggak ada di sini?"
Dahi Aratala mengernyit bingung. Ia menolehkan kepalanya ke samping, dan darahnya langsung berdesir hebat begitu mendapati sosok Elio berdiri bersidekap dada tepat di dekat pintu keluar, menatapnya dengan senyuman miring yang begitu mematikan.
Napas Aratala tercekat. Seketika itu juga, mode "cegil" yang sedari tadi membara mendadak menciut, berubah seratus delapan puluh derajat menjadi kepanikan mutlak saat ia sadar pakaian gantinya tertinggal di luar dan ia kini hanya terbalut handuk tipis di hadapan pria dingin itu.
" pa E-Elio?!" cicit Aratala, refleks merapatkan lilitan handuknya erat-erat sambil mundur perlahan hingga punggungnya membentur dinding dingin kamar mandi.
"K-kamu ngapain di sini?! Keluar nggak?!"
Elio tidak bergeming sedikit pun dari posisinya. Pria itu justru melangkah maju perlahan, memperkecil jarak di antara mereka. Suara langkah kakinya yang berat berpadu dengan detak jantung Aratala yang kini bergemuruh hebat di dalam dadanya.
Sialan. Kenapa auranya malah berubah jadi semencekam ini?! batin Aratala panik, otaknya berputar cepat mencari celah untuk kabur, namun ia sudah terpojok sepenuhnya di antara dinginnya dinding keramik dan tubuh tinggi bidang Elio.
Begitu jarak mereka hanya tinggal beberapa jengkal, Elio menundukkan wajahnya, menyejajarkan pandangannya dengan mata Aratala yang kini membola lebar. Tatapan pria itu sangat intens, menyapu setiap inci wajah Aratala yang merona merah karena uap air—atau mungkin karena gugup luar biasa.
"Kenapa? Tadi pagi, jago banget di atas punggung saya," bisik Elio rendah, suaranya yang serak terdengar begitu berbahaya di ruang sempit itu. Jari telunjuk Elio terulur pelan, menyentuh dagu Aratala dan mengangkatnya agar gadis itu terpaksa menatap langsung ke dalam netra kelamnya. "Sekarang, giliran saya Aratala."
Aratala menggigit bibir bawahnya, nyalinya sudah ciut separuh. Dengan suara yang sedikit bergetar namun dipaksakan sok berani, ia mendengus pelan. "M-mau apa hah? Mau pamer otot lagi? Bilang aja kalau kamu sebenarnya kangen dipeluk, kan?"
Elio mendengus pelan—bukan dengusan kesal, melainkan sebuah tawa tertahan yang terdengar sangat mematikan. Tangan pria itu bergerak naik, bukan untuk merebut handuknya, melainkan menepis rambut basah yang menutupi leher Aratala.
"Kangen?" bisik Elio tepat di depan bibir wanita itu, membuat napas hangat mereka saling beradu. "Ah, tidak perlu repot-repot minta dipeluk. Karena mulai sekarang... kamu nggak akan bisa kabur ke mana-mana lagi."
Suhu di dalam kamar mandi mendadak terasa naik drastis, jauh melampaui kepulan uap air hangat dari pancuran tadi. Jarak yang teramat tipis membuat Aratala bisa merasakan betapa kontrasnya tubuhnya yang masih basah dan dingin dengan dada bidang Elio yang memanas.
Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah. Otaknya buntu, tidak menyangka bahwa sang CEO dingin yang biasanya kaku akan membalikkan skakmat dengan cara seintim ini.
" pa E-Elio... jangan dekat-dekat, ya," cicit Aratala, mencoba melayangkan tatapan galak walau suaranya bergetar hebat. Kedua tangannya semakin erat mencengkeram handuk di dadanya, takut benda tipis itu melorot akibat salah tingkah. "Baju aku di luar, lho. Kalau kamu berani macam-macam, aku—"
"Kamu apa?" potong Elio rendah, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai penuh kuasa.
Alih-alih mundur, tangan Elio yang tadinya menahan dagu Aratala perlahan turun, melingkar pasti di pinggang ramping wanita itu—titik terlemah yang langsung membuat Aratala tersentak pelan. Dengan satu gerakan mulus, Elio menarik tubuh Aratala semakin rapat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.
"Mau teriak? Silakan," bisik Elio tepat di depan bibir Aratala, napas mereka beradu begitu dekat hingga rasanya tinggal sentuhan kecil saja untuk menutup jarak itu.
Aratala memejamkan matanya sesaat, merutuki kebodohannya sendiri karena sengaja memancing macan yang sedang tidur. Namun, di balik debar jantungnya yang menggila dan protes tertahannya, ada satu sensasi asing yang diam-diam merayap naik—mengikis sisa-sisa tembok dingin kontrak pernikahan mereka, menyisakan debar romansa provokatif yang justru membuat Aratala semakin sulit melepaskan diri.
Taktik andalan seorang Aratala: jika tidak bisa menang dengan kata-kata ataupun pesona, gunakan kekerasan fisik tanpa ragu.
Tepat saat Elio terlena dalam jarak yang begitu berbahaya, mata Aratala melirik tajam ke arah bawah. Tanpa aba-aba atau peringatan sedetik pun, lutut Aratala terangkat dan ia langsung mendaratkan tendangan telak menggunakan ujung kakinya tepat di tulang kering Elio.
Bugh!
"Argh!"
Elio mendengis kaget. Rasa nyeri yang tiba-tiba menghantam kakinya membuat pertahanan pria itu runtuh seketika. Refleks, cengkeraman tangan Elio di pinggang Aratala terlepas, dan tubuh jangkung pria itu sedikit terhuyung ke belakang sambil meringis menahan sakit, sebelah tangannya langsung turun mengusap area tulang keringnya yang jadi korban kekejaman sang istri.
Memanfaatkan celah sepersekian detik itu, Aratala langsung melompat mundur seperti belut licin. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar untuk menjaga jarak aman, lalu tertawa puas melihat sang CEO dingin kini kesakitan.
"Makanya, jangan suka kurang ajar!" seru Aratala dengan dagu terangkat tinggi, meski dadanya masih naik-turun karena sisa-sisa debar jantung yang belum sepenuhnya mereda. "Udah masuk kamar mandi, mau modus lagi! Rasain tuh hadiah pagi dari aku!"
Elio menegakkan kembali tubuhnya, menatap Aratala dengan mata menyalang tajam—campuran antara rasa kesal, tidak percaya, sekaligus geli melihat kenekatan wanita di depannya ini. Pria itu mendengus pelan sambil menggelengkan kepalanya, menyadari bahwa memenangkan argumen atau adu fisik dengan Aratala di pagi hari adalah sebuah kemustahilan mutlak.
Belum sempat tangan kekar Elio terulur untuk menangkap pergelangan tangannya, Aratala sudah lebih dulu melesat secepat kilat.
Dengan handuk yang masih melilit erat di tubuhnya dan rambut basah yang meneteskan air ke lantai, gadis itu ngibrit keluar dari kamar mandi, meninggalkan Elio yang masih berdiri terpaku menahan nyeri di tulang keringnya.
Brak!
Pintu walk-in closet langsung dibanting dari luar
"Wleee! Tangkap aku kalau bisa!" teriak Aratala dari dalam ruang ganti, suaranya terdengar sangat puas atas kemenangan telaknya pagi ini.
🌴🌴🌴
Di luar ruang ganti, Elio menatap pintu kayu berukuran besar itu dengan sebelah alis terangkat tinggi. Alih-alih marah, sudut bibir pria itu perlahan-lahan justru tertarik membentuk senyuman miring yang nyaris tak kasat mata. Ia menggelengkan kepala pelan, merasa takjub sekaligus gemas dengan tingkat kenekatan istri kontraknya itu.
Tunggu tanggal mainnya, Aratala, batin Elio penuh arti, sementara rasa nyeri di kakinya perlahan-lahan menguap, digantikan oleh debar hangat yang tanpa sadar membuat hari
paginya terasa jauh lebih hidup dari biasanya.
Ia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sendiri.
🌴🌴🌴
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu