Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.
Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?
Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan Seru
"Mbak." Arjuna mengangkat tangan kanan sekilas memanggil pelayan kafe.
"Ada yang bisa dibantu Kak?" tanya pelayan itu.
"Oh iya nih Kak kita mau pesen." Tasya mulai membolak-balikan menu yang ada di atas meja.
"Kalian pada pesen apa guys?" tanya Keira.
"Gue mau nasi goreng aja deh sama mineral satu." Laila langsung memutuskan untuk memesan apa.
Satu per satu pelayan mencatat pesanan mereka semua lalu pamit untuk menyampaikan pesanan mereka. Sepuluh menit kemudian pesanan pun datang.
"Aduh aku lupa lagi bilang gak usah pake tomat," ucap Laila saat melihat potongan tomat di piring nasi gorengnya.
"Yaudah sini buat aku aja sayang." Devan dengan cepat membuka mulutnya berharap Laila menyuapinya potongan tomat itu.
Laila dengan malu menyuapi Devan, wajahnya seketika memerah setelah itu.
"Awwww so sweet banget sih ni bedua," ujar Keira.
"Udah tau yang dua ini lagi jomblo," sindir Tasya.
"Hehehe." Laila hanya terkekeh.
"Mas Juna, abis ini ikut main jetski yuk sama saya," ajak Devan.
"Boleh Mas," balas singkat Arjuna.
"Hati-hati ya sayang main jetskinya," kata Laila pada Devan.
Devan tiba-tiba menangkup wajah Laila dengan kedua telapak tangannya, lalu menatap lembut mata Laila. "Iya sayangku," jawabnya.
"Mulai..." sindir Keira.
Setelah menghabiskan makanannya Arjuna beranjak pergi menuju kasir dan terlihat mengeluarkan dompet untuk memberikan kartunya pada kasir.
"Ehh itu Mas Juna bayarin bill kita?" tanya Keira spontan saat menyadari gerak-gerik Arjuna.
"Ya nggak lah, nanti pasti nanti kita dimintain patungan masing-masing," cela Laila.
Arjuna berjalan kembali menuju kursinya, belum sempat mendaratkan diri ke kursi ia sudah ditanyai oleh Keira.
"Mas Juna itu tadi berapa semuanya? Bagian saya berapa?" tanya Keira.
"Oh gak usah Mbak, makan siang ini biar saya yang traktir," balas Arjuna.
"Seriusan Mas Juna?" tanya Laila tak percaya.
"Seriusanlah Mbak, memangnya kenapa?"
"Jangan gitu Mas, kami jadi keenakan nanti," ujar Devan bercanda.
"Ndak apa Mas, saya memang mau mentraktir kalian," jawab Arjuna dengan senyuman.
...****************...
"Udah siap belom?!" Teriak driver jetski penarik banana boat yang ditunggangi Laila dan kedua sahabatnya.
"Udah Bli!" Ketiganya kompak menjawab.
Wajah ketiganya terlihat sedikit tegang sebelum banana boat itu belum melaju. Perlahan jetski menarik banana boat mereka, membawanya sedikit demi sedikit ke perairan yang lebih dalam dan berombak.
Beberapa kali banana boat terpental menghantam ombak, seketika ketiga gadis itu berteriak kencang.
"Aaaaaaaaa!"
"Wohooooo!"
"Lebih ngebut Bli!" teriak Keira.
"Pegangan yang eraaat!" teriak sang driver jetski dari kejauhan.
Bli Putu pengendara jetski yang menarik banana boat mereka pun menambah kecepatannya. Awalnya semua terasa menyenangkan. Angin kencang menerpa wajah, memacu adrenalin seiring dengan tubuh yang berguncang hebat mengikuti ritme ombak. Bahkan Laila spontan melepaskan pegangan dan mengangkat kedua tangannya ke atas. Namun, kesenangan itu berubah menjadi kepanikan instan saat jetski di depan tiba-tiba menikung tajam ke kanan, membentuk sudut hampir 180 derajat. Alhasil Laila yang berada di barisan belakang terjatuh ke air.
"Laila!" teriak Keira dan Tasya.
Hempasan air laut menghantam seluruh tubuh Laila dengan keras. Pandangannya langsung berubah menjadi hijau pekat penuh gelembung putih. Rasa asin menyengat hidung dan tenggorokan Laila. Untuk sesaat, keheningan bawah air menyelimuti, sebelum akhirnya jaket pelampung berwarna jingga terang di dada melakukan tugasnya, menarik tubuhnya naik kembali ke permukaan secara paksa.
Kepala Laila akhirnya menyembul keluar dari air. Napasnya terengah-engah, terbatuk-batuk kecil mencoba mengeluarkan air laut yang tertelan. Rambutnya basah kuyup menempel di wajah. Laila kemudian mengangkat kedua jempol tangannya memberi isyarat pada kedua sahabatnya bahwa ia baik-baik saja dan membiarkan keduanya meneruskan keseruan mereka di atas banana boat.
Laila menoleh ke arah belakangnya saat mendengar suara jetski mendekat ke arahnya.
"Ayo naik." Seorang pria mengulurkan tangannya untuk mengajak Laila naik ke jetski yang ia kendarai. Laila terdiam dan menatap sinis pada pria itu.
"Gak usah, gue nunggu Devan buat jemput gue," jawab Laila dengan ketus. Bagaimana tidak, ia tadi berharap jetski yang mendekat itu adalah milik Devan. Namun kenyataannya jetski yang mendekat adalah milik Arjuna.
"Devan masih jauh di belakang, nanti kamu keburu di seret ombak lebih jauh," ujar Arjuna.
Benar juga pikir Laila, ombak semakin lama semakin kencang. Mau tidak mau ia menyambut uluran tangan Arjuna.
Laila duduk sedikit jauh dari Arjuna, menghindari tubuhnya menempel pada tubuh pria itu. Ia berpegangan pada bagian belakang jetski. Sialnya Arjuna beberapa kali seperti sengaja mengendarai jetski secara ugal-ugalan, sehingga memaksa Laila melingkarkan tangannya pada pinggang pria itu.
"Ehh ehhh..." Tubuh Laila terhuyung ke belakang beberapa kali.
"Sialan, lo sengaja ya mau bikin gue jatuh!" teriak Laila.
"Makanya pegangan toh Dek," ucap Arjuna cengengesan.
"Ye modus banget jir," cetus Laila.
"Cepetan bawa jetskinya!" teriak Laila.
Jetski itu melaju cepat menerjang ombak besar di lintasannya. Tak lama mereka sampai di titik kumpul setelah beraktivitas di tengah laut tadi.
Sesaat setelah menapakkan kaki di daratan Laila dikejutkan dengan Tasya yang sudah dibopong Devan menuju ke tepian. Ia berlari kencang menghampiri mereka.
"Ya ampun Sya, lo kenapa?" tanya Laila panik.
"Tadi dia terpental dari banana boat La," jawab Keira.
"Auhh," rintih Tasya. Beberapa kali ia memegang pergelangan kaki kanannya.
"Kayaknya ini terkilir deh kaki gue," ujar Tasya.
Devan yang memiliki sedikit ilmu tentang penyelamatan pertama, mengganjal kaki Tasya dan memposisikan kakinya lebih tinggi dari tubuh. Ia kemudian meraba di bagian sakit yang ditunjuk Tasya dan kemudian menggerakan pergelangan kaki kanan Tasya secepat kilat hingga membuat Tasya berteriak keras.
"Aaaaaaaa!"
"Ehhh." Tasya menggerak-gerakan pergelangan kaki kanannya. "Kok udah enakan, gak berasa sakit lagi kaki gue," ujarnya kesenangan.
"Seriusan Sya?" tanya Laila.
"Iya La, Kei," jawab Tasya, ia kemudian melompat kecil untuk meyakinkan mereka.
Laila menatap Devan. "Sayang, makasih ya," ujarnya.
"Makasih ya Van, hebat juga lo," tutur Tasya.
"Sama-sama Sya," jawab Devan.
...****************...
"Untung aja ada Devan ya tadi," ujar Keira.
"Iya lagi, kalo nggak ga bisa nih kita beach club malam ini," sahut Tasya
"Sekarang gimana kaki lo Sya, masih sakit gak?" tanya Keira.
"Udah gak papa Kei." Tasya melanjutkan aktivitas mencatok rambutnya.
Mereka sedang bersiap untuk pergi ke beach club malam ini. Salah satu wishlist mereka ketika memutuskan untuk pergi ke Bali.
"Girls ayok buru, Devan udah nungguin di lobi," ujar Laila sehabis menelpon Devan dari balkon penginapan.
"Iya iya ini tinggal pake lipcream doang," tukas Keira. Ia meratakan lipcream ke seluruh bibirnya.
Untuk pertama kalinya Laila dan kedua sahabatnya pergi ke club, terlebih lagi beach club. Suara deburan ombak yang biasanya terdengar liar, mendadak berpadu sempurna dengan dentuman bass musik chill house yang menyapa begitu mereka melangkah melewati gerbang utama. Sejauh mata memandang, batas antara kemewahan buatan manusia dan keindahan alam seolah melebur tanpa celah.
Hal pertama yang membuat Laila terpaku adalah bagaimana tempat ini ditata. Bukan sekadar deretan kursi pantai biasa, melainkan deretan daybed empuk berwarna putih gading yang berjejer rapi di tepi kolam renang infinity. Air kolamnya yang biru jernih tampak seolah menyatu langsung dengan garis laut lepas di hadapannya.
Waiters menuntut mereka ke meja yang sudah mereka pesan di hari sebelumnya. Meja yang dari sana bisa terlihat semua aktivitas di beach club dan bisa langsung melihat indahnya laut malam.
Devan pamit sebentar pada Laila untuk memesankan mereka minuman. "Sayang aku pesen minum dulu ya," bisiknya. Laila mengangguk pelan dan menatap kepergian kekasihnya itu.
"La, lo udah bilangkan sama Devan kita pesen non-alkohol?" tanya Tasya.
"Aman Sya."
Laila menikmati suasana yang disuguhkan oleh beach club malam ini, sesekali kepalanya bergerak pelan ke kiri dan ke kanan mengikuti alunan musik.
Tak lama Devan kembali dengan diikuti seorang waiters di belakangnya yang sudah membawa nampan berisi minuman yang mereka minum.
"Oke, yang rasa cokelat punya mbak yang ini, yang rasa mangga punya mbak yang..." Devan meminta waiters menaruh minuman sesuai dengan pemesannya.
"Tau aja lo Van kesukaan kita-kita," ujar Keira, tanpa menunggu lama ia menyesap minuman cokelat kesukaannya.
"Iya, semalem udah di briefing dulu sama ayang gue minuman kesukaan lo pada," jelas Devan sembari melemparkan kedipan nakal pada Laila.
"Emang best couple of the year dah ni bedua," puji Tasya diikuti tepuk tangan singkat darinya.
Devan kembali mengambil posisi duduk di samping Laila dengan segelas milkshake stoberi kesukaan Laila di tangan.
"Kalau yang ini favoritnya ayang aku." Devan menyodorkan minuman itu pada Laila.
Laila menyambut minuman itu dengan senang hati, kebetulan sedari tadi ia sudah menahan dahaga.
"Aku minum ya sayang," ucap Laila.
Prang!!!!
Belum sempat Laila menyesap minuman itu seseorang menepis tangan Laila yang menggenggam gelas hingga minuman itu terlepas dari tangannya. Laila dan yang lainnya terkejut begitu juga dengan beberapa orang yang duduk tak jauh dari meja mereka.
"Apa-apaan sih lo!" teriak Laila.
Wajahnya Laila merah padam, genggaman tangannya mengencang hingga buku-buku jarinya memutih, rahangnya mengatup begitu keras, napasnya mulai memburu terlihat dari dadanya yang naik turun begitu cepat. Ditatapnya tajam orang yang menyebabkan semua itu terjadi.
...Bersambung... ...