NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Gong... Gong...

Suara lonceng besi terus bergema memecah keheningan sore. Dalam sekejap mata, desa yang tadinya tampak damai langsung berubah drastis layaknya sebuah kota mati. Semua pintu rumah dikunci rapat-rapat dari dalam, jendela-jendela dipalang menggunakan kayu tebal, dan tak ada satu pun jiwa yang berani menampakkan batang hidungnya di luar.

Kakek tua tadi dengan panik menarik kuat lengan jubah Arga. "Masuk! Cepat masuk, Anak Muda!"

Arga dan Nara bergegas mengikuti langkah si kakek, menyelinap ke dalam sebuah rumah kayu sederhana. Di dalam ruangan yang remang-remang itu, ternyata sudah berkumpul beberapa warga desa. Wajah mereka pucat pasi, dipenuhi oleh ketakutan yang mencekam.

Seorang anak kecil tampak memeluk erat ibunya sambil menangis sesenggukan. "Paman... apakah monster itu datang lagi malam ini?"

Tak ada seorang pun yang sanggup menjawab. Keheningan yang mencekik di dalam ruangan itu justru menjadi jawaban yang paling menakutkan bagi mereka semua.

Arga menundukkan kepala, lalu berbisik pelan kepada Guru Tian di dalam benaknya. "Senior, apakah mereka di luar sana benar-benar boneka mayat hidup?"

"Ya," jawab Guru Tian pendek.

"Kalau begitu, orang berjubah hitam yang mengendalikan mereka adalah..."

"Seorang pengendali mayat," Guru Tian memotong kalimat Arga, nadanya terdengar sedikit heran. "Aneh sekali. Teknik terkutuk seperti ini seharusnya sudah lama dimusnahkan dan dilarang keras di Benua Timur."

Arga mengepalkan tangan kanannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Berarti, orang berjubah hitam itu adalah orang jahat."

Guru Tian terkekeh kecil mendengar pernyataan itu. "Kesimpulanmu selalu saja sederhana, Muridku."

Arga tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari celah pintu. "Bagi saya, jika seseorang membantai dan menindas orang-orang yang tidak bersalah, maka dia memang pantas disebut orang jahat."

Guru Tian tidak membalas lagi. Namun di dalam lubuk hatinya, ia justru merasa semakin yakin bahwa keputusan memilih Arga adalah hal yang tepat. Pemuda ini masih mempertahankan hati yang lurus dan kompas moral yang bersih di dunia kultivasi yang kejam.

Tak lama berselang...

Tok! Tok! Tok!

Suara langkah kaki yang berat dan terseret mulai terdengar di luar rumah. Langkah itu bukan hanya milik satu orang, melainkan belasan.

Seketika, seluruh warga di dalam rumah menahan napas dalam-dalam. Pelan-pelan, bayangan kaki yang kaku mulai terlihat dari sela bawah pintu kayu, disusul oleh sebuah suara parau dan serak yang mengerikan dari luar.

"Upeti... Serahkan upeti malam ini..."

Tidak ada satu pun warga yang berani bergerak. Namun, suasana tegang itu pecah saat tangis anak kecil di sudut ruangan semakin keras karena ketakutan.

Prang!

Jendela rumah kayu itu tiba-tiba hancur berantakan. Sebuah tangan manusia yang kulitnya sudah membusuk dan menghitam menerobos masuk dari luar, meraba-raba dengan liar dan meraih apa saja yang bisa dijangkaunya.

"Ibu!"

Anak kecil yang panik itu terpeleset saat hendak berlari, membuatnya jatuh terjerembap tepat di dekat jendela yang hancur. Boneka mayat di luar langsung mengarahkan jemarinya yang berkuku tajam ke arah bocah tersebut.

Tanpa berpikir panjang, Arga langsung melompat maju.

Sret!

Pedang Penjaga Langit berkilat sekilas di kegelapan ruangan. Dalam satu gerakan bersih, lengan boneka mayat yang membusuk itu langsung putus dan jatuh ke lantai.

Seluruh warga desa membelalakkan mata mereka dengan tidak percaya. "Kau... kau berani menyerangnya?!"

Belum sempat Arga membalas ucapan warga, sebuah suara tawa bernada tinggi tiba-tiba menggema dari arah luar desa.

"Hahaha... Luar biasa. Sudah lama sekali rasanya tidak ada orang yang berani merusak boneka mayatku."

Kabut hitam pekat perlahan-lahan mulai menyelimuti jalanan desa yang sepi. Dari balik pekatnya kabut itu, sosok berjubah hitam melangkah dengan sangat santai. Wajahnya sebenarnya masih tergolong muda, namun kulitnya pucat pasi tanpa darah, persis seperti mayat yang dikendalikannya. Di pinggangnya, tergantung sebuah lonceng hitam berukuran kecil.

Setiap kali sosok itu melangkah dan lonceng kecil di pinggangnya berbunyi, boneka-boneka mayat di sekitarnya bergerak dengan jauh lebih cepat dan beringas.

Guru Tian langsung mengenali benda pusaka tersebut. "Lonceng Pengendali Arwah... Muridku, berhati-hatilah. Jangan sekali-kali menganggap remeh orang ini. Kultivasinya tidak bisa dibilang rendah."

Pria berjubah hitam itu menghentikan langkahnya di jarak sekitar dua puluh langkah dari depan rumah. Tatapan matanya yang dingin langsung terkunci pada sebilah pedang yang dipegang Arga. Seketika, matanya berbinar penuh keserakahan.

"Hmmmm..senjata yang hebat" gumamnya dengan seringai lebar. "Malam ini aku hanya berniat mengambil upeti manusia yang membosankan. Siapa sangka, aku justru menemukan sebuah harta karun yang luar biasa di desa terpencil ini?"

Arga dengan tenang melangkah keluar dari dalam rumah, melewati pintu yang rusak. Ia mengangkat Pedang Penjaga Langit lurus ke depan. "Jika kau menginginkan pedang ini... silakan maju dan ambil sendiri dari tanganku."

Di belakang Arga, Nara ikut melangkah keluar dengan berani. Ia segera memasang anak panah pada busurnya dan membidik ke arah depan. "Aku juga ikut bertarung."

Arga menoleh sedikit, dahinya mengernyit. "Nara, masuklah. Ini bukan urusanmu."

Nara mendengus kesal mendengar penolakan itu. "Bukankah kita sudah sepakat untuk menjadi teman seperjalanan? Lagipula, jika kau sampai mati di tempat ini, lalu siapa yang akan mentraktirku makan enak nanti?"

Meskipun situasi di sekitar mereka sangat genting dan mencekam, Arga tidak mampu menahan senyum tipis di bibirnya setelah mendengar alasan konyol gadis itu.

Guru Tian yang menyaksikan interaksi keduanya dari dalam liontin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya yang tak kasatmata. "Di ambang pertempuran seperti ini mereka masih sempat-sempatnya bercanda... Namun, mungkin sifat keras kepala itulah yang menjadi sumber keberanian mereka yang sesungguhnya."

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!