Viona tidak pernah ingin jika pernikahannya hancur. Walaupun dia menikah bukan karena cinta, tetapi Viona sudah berjanji pada diri sendiri untuk menikah hanya sekali seumur hidup. Tentu banyak perjuangan, cobaan, dan air mata yang harus Viona hadapi.
Meluluhkan hati suaminya begitu sulit, bahkan setelah berjuang pun, perjuangannya itu masih tidak di hargai. Rey sang suami, masih menganggap Viona wanita perusak hubungannya dengan Laura. Karena pernikahan mereka membuat Rey tak bisa menikah dengan Laura yang sudah lama menjadi kekasihnya.
Akankah Viona bertahan disisi suaminya dan mempertahankan rumah tangganya? Atau memilih pergi untuk meraih kebahagiaannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.30
Viona sedang bersantai sendirian sambil menonton televisi. Dia melihat ada iklan cafe anak muda yang sedang viral. Entah kenapa dia tertarik untuk mengunjungi cafe itu. Viona mencatat alamat cafe itu di ponselnya lalu bersiap untuk pergi.
Beberapa menit kemudian Viona sudah selesai bersiap. Pakaian yang dia kenakan pun berbeda dari yang tadi. Viona merasa tak sabar untuk cepat-cepat sampai di cafe bintang.
Dengan di antar oleh sopir, kini Viona sudah berada di perjalanan. Berpedoman dengan google maps, Viona mencari alamat tersebut. Untung saja sekarang mereka sudah sampai di depan Cafe Bintang. Viona terlihat senang menatap ke arah luar dimana banyak sekali anak muda yang memenuhi cafe itu.
"Pak, tunggu sebentar ya! Saya mau masuk ke cafe dulu," pamit Viona kepada sang sopir.
"Mau lama juga tidak apa-apa, Non. Saya akan selalu menunggu,” jawabnya.
"Terima kasih, Pak." Viona tersenyum kepada sopir itu.
"Sama-sama, Non,” ucapnya.
Viona melangkah memasuki cafe. Menatap sekitar yang begitu ramai. Sepertinya bakalan lama jika memesan sesuatu. Tetapi itu tidak menjadi penghalang keinginan Viona untuk memasuki cafe itu.
Untung saja masih ada satu meja yang kosong. Viona mendekat lalu duduk disana. Mengambil daftar menu di atas meja dan mulai membacanya. Viona melambaikan tangannya memanggil waiters. Tak lama seorang waiters datang mendekat.
''Ada yang bisa saya bantu, Non?'' tanya waiters itu.
''Saya mau memesan ini sama ini,'' ucap Viona sambil menunjuk daftar menu.
''Maaf, tetapi banyak menu yang kosong karena habis,'' jawabnya.
''Gimana sih? Cafe banyak yang kosong kok buka,'' ucap Viona.
''Maaf, Nona. Cafe ini memang ramai dari pagi, jadi wajar kalau sekarang sudah banyak menu yang habis,'' jawabnya.
Viona menghela napasnya. ''Mba, saya ini sedang mengidam. Masa sudah jauh-jauh datang kemari tidak jadi beli?''
''Mohon maaf atas ke tidak nyamanannya, Nona. Silakan pesan menu yang lain saja.''
''Tidak usah, saya mau pulang saja.'' Viona beranjak dari duduknya lalu pergi keluar cafe.
Rey menghentikan langkah waiters yang tadi menghampiri Viona dan bertanya kenapa Viona pergi lagi. Waiters itu pun menjawab jika Viona pergi karena menu yang di inginkannya sudah habis.
''Jadi Viona pesan makanan yang sama denganku? Begini saja, kebetulan pesananku belum di antar, nanti di taruh di tempat Viona tadi,'' pinta Rey.
''Baik, Tuan.'' Waiters itu berlalu pergi. Begitu pun dengan Rey yang pergi keluar mengejar Viona.
Rey melihat Viona yang hendak masuk ke dalam mobil. Terburu-buru Rey berlari mengejar Viona. Untung saja dia sampai di dekat Viona dengan cepat.
''Vio, ayo ikut!'' Rey memegang satu tangan Viona.
''Mau kemana?'' Viona menatap Rey bingung.
''Ikut saja!" pintanya.
Viona menyuruh sopirnya untuk menunggu, sedangkan Rey menyuruh sopir untuk pulang saja. Biar nanti Rey yang mengantar Viona. Sang sopir yang bingung pun menatap ekspresi wajah ke duanya. Sepertinya Rey tulus kepada Viona. Akhirnya sopir itu memilih pergi.
Viona mendengus kesal karena Rey sangat pemaksa. Kini ke duanya sudah kembali masuk ke cafe. Rey mengarahkan Viona untuk duduk di tempat yang tadi di dudukinya.
''Sepertinya disini di tempati orang, tuh di atas meja ada makanannya,'' ucap Viona kepada Rey.
''Duduk saja! Makanan ini milikmu,'' kata Rey.
''Bagaimana bisa? Bukankah tadi katanya sudah habis?'' Viona sedikit merasa bingung.
''Makan saja, habiskan semuanya! Bicaranya nanti kalau sudah selesai makan,'' pinta Rey.
''Baiklah.'' Viona meneguk ludahnya sendiri menatap makanan yang sedang dia inginkan. Dia memakannya begitu lahap tanpa menawarkannya kepada Rey.
''Kamu tidak menawariku?'' tanya Rey sambil menatap Viona yang sedang sibuk makan.
Viona menggelen
gkan kepalanya. ''Takut kurang, apalagi aku makan untuk berdua.''
Rey paham jika ibu hamil itu porsi makannya lebih banyak dari biasanya. Melihat Viona yang begitu lahap saja sudah membuatnya bahagia. Rey tersenyum memperhatikan Viona.
''Ngapain senyum-senyum seperti itu? Mau ini?'' Viona menunjuk makanan miliknya.
''Tidak, untuk kamu saja. Aku sudah kenyang kok,'' jawab Rey berbohong.
Rey memanggil waiters dan memesan minum untuknya. Rasa laparnya seolah sirna melihat Viona yang makan begitu lahap. Rey senang karena bisa membahagiakan Viona biarpun itu hal yang sederhana.
'Terima kasih, Vio. Kamu sudah mau mempertahankan anak kita walaupun kita sudah bercerai. Kamu benar-benar wanita yang sholeha,' batin Rey.
Rey masih memandang Viona sambil membayangkan seandainya mereka masih bersama. Tiba-tiba terlintas pikiran kotor jika ke duanya saling berpelukan dan berciuman. Rey tersenyum sendiri sambil memikirkan semua itu. Tiba-tiba dia merasakan miliknya mengeras.
Rey menggelengkan kepalnya lalu arah pandangnya menatap ke bawah. ''Kenapa dia bangun?''
Viona menoleh ke arah Rey yang berbicara sendirian. ''Siapa yang bangun?''
''Em itu tadi ada kucing di depan pintu masuk. Kucingnya mau tidur tapi tidak jadi,'' ucap Rey.
Viona hanya mengangguk percaya. Dia kembali fokus menghabiskan semua makanannya.
Rey tersenyum, dia senang karena akhirnya miliknya bisa bangun kembali. Itu berarti hanya Viona yang bisa membuat miliknya kembali berfungsi. Terbukti dari kejadian tadi.
.....
.....
teruskan usaha kak thor dalam penulisan nya..
moga sukses selalu 😘😘
makasih kak thor buat cerita nya..😘