Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.
ikuti untuk bab selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Selalu Ada Alasan untuk Dinda
Setelah mobil itu pergi, Dinda berjalan masuk ke arah kantin. Mas Viyan langsung menghentikannya.
"Dinda."
Langkah Dinda terhenti. Begitu melihat kami, wajahnya langsung kehilangan warna.
"Abang? Kalian ngapain di sini?" Ucap Dinda panik.
Mas Viyan mengangkat lembar tagihan kampus. "Aku yang harus tanya. Ini apa? Kenapa kamu non aktif?"
Dinda melihat kertas itu. Matanya langsung membesar.
"Itu..." Ucap Dinda gagap.
"Jawab." Ucap tegas mas Viyan.
Suara Mas Viyan mulai bergetar. "Kenapa 4 semester belum dibayar dinda? Kenapa kamu bohongin abang"
Dinda langsung panik. "Itu...Pihak kampus pasti salah."
"Salah? Ini data dari kampus. "Dinda..Uang yang selama ini kamu minta..ke mana?" Mas Viyan memperlihatkan stempel resmi kampus.
Dinda mulai menangis.
"Aku..."
"Aku..."
Belum sempat menjawab, ia tiba-tiba berlari meninggalkan kami.
"Dinda!" Mas Viyan mengejarnya.
Namun Dinda sudah lebih dulu naik ojek online yang kebetulan berhenti di depan gerbang kampus.
Dalam hitungan detik... Ia menghilang. Mas Viyan berdiri mematung. Tangannya masih menggenggam berkas pembayaran. Aku menghampirinya.
"Mas."
Mas Viyan menggeleng pelan. "Aku enggak nyangka. Selama ini...aku dibohongi adikku sendiri."
Perjalanan pulang berlangsung sangat sunyi. Tidak ada satu pun dari kami yang berbicara. Sesampainya di rumah, Bu Mirna langsung menyambut.
"Lho kata nya kerja, Cepat sekali."
Mas Viyan meletakkan map berisi berkas di atas meja.
"Ma. Viyan baru dari kampus Dinda." Ucap Mas Viyan.
Wajah Bu Mirna langsung berubah sedikit tegang. "Oh. Terus?"
Mas Viyan mengeluarkan lembar tagihan itu. "Kenapa uang kuliah Dinda 4 semester enggak pernah dibayar?"
Ruangan mendadak sunyi. Bu Mirna terdiam beberapa saat. Namun yang mengejutkanku... Beliau sama sekali tidak terlihat kaget.
Seolah-olah... Beliau sudah mengetahui semuanya.
"Ada penjelasannya, Yan." Ucap Bu Mirna dengan tenang.
Mas Viyan mengernyit. "Penjelasan apa?"
"Jangan langsung menyalahkan Dinda. Dia lagi banyak tekanan." Ucap mertuaku.
Aku dan Mas Viyan saling berpandangan. Hatiku mulai tidak tenang.
Sikap Bu Mirna... Terlalu tenang. Seakan-akan beliau telah menyiapkan alasan jauh sebelum hari ini. Dan firasatku mengatakan... Kebohongan ini ternyata jauh lebih besar daripada yang kami bayangkan.
***
Suasana ruang tamu mendadak hening. Mas Viyan masih berdiri sambil menggenggam map berisi rincian tagihan dari kampus. Tatapannya tidak lepas dari wajah Bu Mirna.
"Ma. Viyan tanya sekali lagi. Kenapa uang kuliah Dinda 4 semester enggak pernah dibayar? Padahal Viyan selalu kasih uang ke Dinda tiap bulan sesuai apa yang dia minta ma. Mama sangat tenang, jangan-jangan mama sudah tau semua ini?" Ucap Mas Viyan sesekali suaranya bergetar.
Bu Mirna menarik napas panjang. Beliau kemudian duduk di sofa dengan santai, seolah pertanyaan itu bukan masalah besar.
"Kamu tenang dulu, Uang kuliah Dinda engga di bayar karena Mama yang minta." Ucap mertuaku.
Aku dan Mas Viyan sama-sama terkejut.
"Maksud Mama?" Mas Viyan bertanya pelan.
"Iya. Uang itu Mama pinjam dulu. Setiap Dinda di kasih uang kamu, mama ambil dan pakai begitu" Jelas mertua ku.
Jantungku langsung berdegup lebih cepat.
"Pinjam? Kok bisa? Viyan juga kasih mama loh. Tapi kenapa ambil uang kuliah Dinda?" Ucap Mas Viyan masih bingung.
"Iya. Dinda waktu itu bilang enggak apa-apa dibayar belakangan."
Mas Viyan menggeleng tidak percaya. "Sampai 25 juta ma? Tapi kenapa enggak bilang ke aku?"
"Mama takut kamu kepikiran."
"Kok bisa sih ma? Aku ini anak Mama kan? Justru aku harus tahu." Ucap mas Viyan mulai berbicara lemas.
Bu Mirna mulai menghela napas dengan dramatis. "Kalau Mama bilang, nanti kamu pasti enggak tega lihat Mama kesusahan."
Aku mulai memahami arah pembicaraan ini. Lagi-lagi... Beliau sedang memainkan peran sebagai korban.
"Uangnya dipakai buat apa, Ma?" Tanya Mas Viyan.
"Ya buat kebutuhan rumah. Buat bayar listrik. Buat bayar air. Buat arisan." Jelas mertuaku.
Aku spontan mengangkat wajah. Arisan? Bukankah arisan bukan kebutuhan yang mendesak?
Mas Viyan juga tampak berpikir hal yang sama. "Arisan?"
"Iya. Kalau Mama enggak ikut arisan nanti malu sama ibu-ibu."
"Arisan itu berapa ma 1 bulan? Mama juga tau tagihan yang ada di kertas ini jumlahnya bisa berkali-kali lipat karena Dinda per bulan juga minta lebih dari 5 juta ke aku ma. Padahal uang kuliah dia hanya 4 juta per semester." Jelas suamiku lagi menahan amarah.
"Uang arisan nya 3 jutaan Viyan. Lumayan kan kalau dapet, kamu ini histeris sekali sih. Adek kamu minta tiap bulan begitu ya buat kebutuhan dia lah. Nanti setelah mama dapat arisan di ganti. Ribet sekali pikiran nya. Mama ini mama kamu loh, apa pantas anak perhitungan sama orang tua?" Ucap mertua ku malah memarahi mas Viyan balik. Aku menahan napas. Dalam hati
Aku benar-benar tidak habis pikir. Uang pendidikan anak dipakai agar tidak malu di depan tetangga? Namun aku memilih tetap diam. Ini bukan saatnya aku ikut berbicara.
Belum selesai sampai di situ. Bu Mirna kembali berkata, "Lagian Dinda juga setuju. Tanya saja nanti."
Mas Viyan mengusap wajahnya.
"Kalaupun Dinda setuju..tetap saja itu salah, Ma. Itu uang kuliah. Kalau sampai DO bagaimana?"
"Mama juga enggak mau. Tapi keadaan memaksa."
Kalimat itu terdengar sangat mudah diucapkan. Padahal... Yang bekerja keras mengumpulkan uang itu adalah Mas Viyan.
Tak lama kemudian terdengar suara pagar dibuka. Dinda pulang. Begitu masuk rumah, wajahnya langsung pucat melihat kami semua berada di ruang tamu.
"Abang..."
"Duduk." Suara Mas Viyan terdengar datar.
Dinda perlahan duduk. Tangannya tampak gemetar. Aku lihat mas Viyan sangat capek menghadapi kenyataan ini semua.
"Abang cuma mau satu jawaban. Benar uang kuliah 4 semester belum dibayar?"
Air mata Dinda langsung jatuh. "Iya..."
Ruangan kembali sunyi. "Kenapa?" Tanya Mas Viyan lagi.
Dinda melirik ke arah ibunya. Bu Mirna mengangguk pelan, seolah memberi isyarat.
"Aku....aku pinjam dulu uangnya." Ucap gagap Dinda.
"Pinjam buat apa?"
Dinda kembali menangis. "Buat Mama."
Mas Viyan memejamkan mata. "Jadi benar..."
"Mama waktu itu lagi banyak kebutuhan. Aku kasihan..Aku pikir nanti bisa diganti tepat waktu. Tapi sampai sekarang karena banyak yang ikut arisan jadi nama mama belum keluar" Jelas Dinda semakin lancar bicara.
Aku memperhatikan ekspresi Bu Mirna. Beliau justru mengusap air mata Dinda.
"Nah...Kan sudah jujur. Jangan dimarahin lagi." Ucap mertuaku enteng.
Aku benar-benar tidak mengerti. Yang salah... Justru sedang ditenangkan.
Bersambung...