NovelToon NovelToon
Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Drama Kantin dan Balas Dendam Kecil

Teng... teng... teng...

Lonceng tanda istirahat pertama akhirnya berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah. Suara itu seolah menjadi komando bagi ratusan siswa yang langsung berhamburan keluar kelas menuju satu titik tujuan utama: kantin. Aku yang sejak tadi menahan lapar pun ikut melangkah santai menuju area kantin sekolah yang mulai padat dan bising.

Di tengah keramaian murid yang mengantre makanan, mataku menyipit melihat dua sosok yang tidak asing. Clara Adelin dan Diana sedang duduk di salah satu meja sudut kantin.

"Ternyata dua bocah manja itu ada di sini juga," bisikku dalam hati sambil tersenyum tipis.

Namun, baru saja aku mau melangkah mendekati stan ibu kantin, sebuah tontonan gratis mendadak tersaji di hadapanku.

Seorang siswi seangkatanku melangkah lebar penuh emosi menghampiri meja Clara. Wajah siswi itu merah padam, tangannya berkacak pinggang di depan Clara yang sedang santai meminum es tehnya.

"Hei, Clara Adelin! Kamu itu memang wanita enggak tahu malu ya?!" bentak siswi itu dengan suara melengking, memancing perhatian seluruh penghuni kantin.

Clara tidak langsung merespons. Dia tetap tenang, menyesap minumannya dengan sangat santai seolah wanita di depannya hanyalah angin lalu. Sikap acuh tak acuhnya justru membuat siswi itu makin naik darah.

"Heh, Clara! Aku bilang sama kamu ya, jangan coba-coba dekat-dekat sama cowokku! Dasar cewek gatal, ganjen!" teriaknya lagi, kini menarik perhatian lebih banyak pasang mata.

Saat itulah Clara perlahan meletakan gelasnya. Dia berdiri dari kursi, membetulkan letak seragamnya yang rapi, lalu menatap wanita itu dengan pandangan dingin dan penuh martabat.

"Heh, wanita bodoh dan jelek," balas Clara dengan nada suara yang begitu tenang, berkelas, namun menusuk ulu hati.

"Asal kamu tahu ya, aku—Clara Adelin—enggak pernah berniat merampas pacar orang, apalagi gatal sama cowok murahan begitu."

Sebelum siswi itu sempat membalas, Diana yang duduk di samping Clara ikut angkat suara dengan nada mengejek yang telak.

"Ra, ternyata pacar dia itu cowok yang maksa minta nomor kamu pas kita di mal kemarin!" seru Diana seraya melambaikan ponselnya ke udara. "Dan kamu tahu, Ra? Cowoknya itu sudah chat kamu puluhan kali tapi kamu cuekin terus. Dasar pria dan wanita bodoh!"

Kalimat Diana menjadi pukulan telak yang menyempurnakan kemenangan mereka. Wajah siswi tadi makin memerah karena malu. Merasa terpojok dan panik, dia mencoba merebut ponsel yang dipegang Diana. Namun dengan sigap, Diana menarik tangannya ke belakang.

"Eits, jangan main sambar!" gertak Diana sinis. "Kalau HP keluaran terbaru ini jatuh dan rusak, cewek bodoh kayak kamu enggak bakal mampu menggantinya!"

Tahu dirinya kalah telak di depan umum dan dipermalukan oleh kenyataan, siswi itu akhirnya berbalik badan lalu berlari meninggalkan area kantin dengan menanggung malu. Clara dengan santai kembali duduk, merogoh ponselnya sendiri, lalu mengusap layarnya untuk memblokir nomor cowok tak tahu diri tersebut.

Aku menggelengkan kepala melihat drama kekanak-kanakan itu. Tanpa memedulikan mereka lagi, aku berjalan mendekati meja Ibu Kantin seolah tidak terjadi apa-apa.

"Bu, gorengan dua biji ya," pemesanan singkat.

Sengaja aku hanya membeli dua gorengan untuk lauk tambahan bekal nasi yang kubawa dari rumah. Maklum, sebagai anak yang hidup sendirian, aku harus hemat dan pandai mengatur keuangan. Aku duduk di bangku kayu tak jauh dari sana, menikmati bekalku dengan tenang di tengah riuhnya suasana kantin.

Tak terasa, waktu istirahat hampir usai. Teng... teng... teng... Lonceng masuk kelas kembali berbunyi.

Aku merapikan tempat bekal dan bersiap untuk berdiri. Tiba-tiba...

Brak!

Dua pasang sepatu melangkah tepat di atas kedua ibu jari kakiku. Rasa sakit mendadak menjalar cepat dari ujung kaki. Aku meringis pelan, mendongak, dan mendapati Clara serta

Diana sedang berjalan melintasiku tanpa rasa bersalah sedikit pun. Mereka menginjak kakiku dengan sengaja, seolah menjadikan kakiku sebagai alas pelampiasan rasa stres mereka.

"Rasakan itu, OSIS jahat!" seru Clara sambil melirik sinis ke arahku.

"Iya, rasakan! OSIS jahat!" timpal Diana menyetujui, lalu keduanya tertawa renyah sambil berjalan cepat melangkah pergi masuk ke dalam kelas.

Aku memegangi jari kakiku yang berdenyut sakit, menatap punggung kedua gadis itu yang makin menjauh. "Awas kalian ya..." gumamku sambil tertawa kecil menahan geram.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭🤭
Markario Putra: malas nih,kok cerita aku nggak ada yang mau baca sih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!