"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 017: Tantangan Potong Batu Terbuka
"Hari ini kita lihat, mata dewa atau mata penipu."
Kevin Putra Wijaya mengucapkannya di depan kamera.
Aula Wibowo di Surabaya langsung ramai oleh bisik-bisik. Pedagang permata dari Kembang Jepun, pemilik toko kecil, beberapa wholesaler, dua jurnalis lokal, dan anggota asosiasi duduk mengelilingi meja panjang. Di tengah ruangan, dua puluh batu mentah berbaris di atas nampan bernomor.
Setiap batu dibeli pagi itu dari pasar umum oleh panitia asosiasi. Pembelian direkam. Nomor karung dicatat. Segel dibuka di depan saksi. Tantangan ini bukan panggung sulap.
Justru karena itu, napas ruangan terasa berat.
Intan berdiri di sisi kanan panggung, tidak banyak bicara. Gunawan duduk bersama saksi pasar. Budi menjaga map perjanjian, bukti somasi, dan berita acara. Rizal memeriksa daftar hadir. Hendra berdiri di belakang Bayu dengan wajah seperti orang yang ingin berteriak tetapi sudah dipesan untuk diam.
Kevin datang dari Jakarta dengan jas abu-abu dan tiga ahli tua: mantan kepala pembelian perusahaan batu permata, pemeriksa rough stone kelas ekspor, serta tukang potong dengan pengalaman tiga puluh tahun.
Kevin sengaja membawa mereka untuk membuat Bayu tampak kecil.
"Mas Bayu," kata pembawa acara dari asosiasi, "aturan sudah ditandatangani. Masing-masing pihak memilih tiga batu. Semua pilihan dicatat sebelum potong. Nilai dihitung oleh tiga penilai netral. Pihak yang kalah menanggung biaya pembelian, pemotongan, sewa tempat, dan wajib menyampaikan permintaan maaf tertulis atas tuduhan yang tidak terbukti."
Budi mengangkat satu lembar.
"Tambahan. Semua hasil penjualan batu pilihan menjadi hak pihak yang memilihnya, setelah biaya dan pajak dicadangkan sesuai catatan. Ini sudah disetujui kedua pihak."
Kevin tersenyum miring.
"Santai saja, Mas Budi. Gue tidak akan kabur dari biaya kecil."
Hendra berbisik, "Biaya kecil katanya. Mulutnya masih kredit gengsi."
Bayu tidak menoleh. Matanya berada pada dua puluh batu itu.
Mata Dewa menyala.
Ia membatasi napas. Dua puluh batu bukan jumlah sedikit. Jika ia memaksa melihat semuanya terlalu dalam, kepala akan pecah sebelum mesin pertama turun. Maka ia membaca lapisan luar dulu: retak besar, perubahan berat, warna lembap di celah, tekstur kulit, lalu kilatan emas yang muncul dan hilang.
Tiga ahli Kevin bergerak dengan tenang. Mereka mengetuk batu, menimbang, menyiram sedikit air, lalu berdiskusi dengan suara rendah. Pilihan mereka cepat mengerucut pada tiga batu dengan kulit paling menjanjikan: satu berwarna kelabu kehijauan, satu hitam mulus dengan urat bagus, satu cokelat kemerahan yang beratnya stabil.
Penonton mengangguk. Banyak yang akan memilih hal sama.
Bayu justru berjalan melewati ketiganya.
Ia berhenti di depan batu kecil bernomor tujuh belas. Kulitnya kusam, retaknya menyilang seperti luka lama. Seorang pedagang di belakang langsung tertawa.
"Itu sisa karung, Mas."
Bayu mengangkatnya.
"Saya pilih ini."
Bisik-bisik membesar.
Pilihan kedua lebih buruk di mata orang banyak. Batu itu gepeng, warnanya pucat, dan ada bagian seperti kapur mati di sisi luar.
"Yang itu buat latihan anak magang," seseorang bergumam.
Bayu menaruhnya di nampan pilihan.
Pilihan ketiga membuat ruangan benar-benar gaduh. Ia mengambil batu yang sejak awal diletakkan paling pinggir karena panitia sendiri ragu memasukkannya. Kulitnya gelap, kasar, dan tidak memberi tanda hidup.
Kevin menutup mulutnya seolah menahan tawa.
"Mas Bayu, lo yakin? Atau mau kasih kesempatan gue menang cepat?"
Bayu menulis nomor batu di formulir.
"Saya yakin dengan pilihan saya."
Tiga ahli Kevin tidak mengejek. Mereka hanya saling pandang. Justru itu membuat penghinaan terasa lebih berat.
Mesin potong pertama menyala.
Batu pilihan ahli nomor satu dibelah. Serbuk basah menempel di kaca pelindung. Saat belahan dibuka, ruangan menahan napas.
Hijau muncul.
Tetapi hanya di tepi.
Bagian tengahnya pucat, retak halus menyebar seperti rambut. Penilai mencatat. Masih bernilai, tetapi jauh dari harapan.
"Sekitar Rp45 juta setelah potong kecil," kata salah satu penilai.
Kevin tidak berubah wajah.
Batu kedua turun ke mesin. Urat luarnya indah. Dalamnya kosong warna, hanya garis tipis yang tidak cukup untuk cabochon bagus.
"Rp15 juta, maksimal."
Bisik-bisik mulai berubah nada.
Batu ketiga menyelamatkan mereka sedikit. Ada isi hijau muda bersih pada satu sisi. Setelah dihitung konservatif, total tiga batu pihak Kevin mencapai sekitar Rp90 juta.
Angka itu tidak buruk.
Untuk panggung kecil.
Tetapi hari itu, Kevin datang untuk mengubur orang.
Sekarang giliran Bayu.
Batu kusam bernomor tujuh belas diletakkan di mesin. Tukang potong menatap Bayu.
"Arah potong?"
Bayu menunjuk garis yang terlihat seperti retak mati.
"Dari sini. Tipis dulu."
Beberapa orang tertawa lagi. Tukang potong menunggu pembawa acara mengangguk, lalu mesin turun.
KRAK.
Air menyapu permukaan.
Garis hijau tua muncul dari balik kulit kusam.
Tawa berhenti.
Tukang potong memperbesar bukaan dengan tangan yang lebih hati-hati. Isi batu itu kecil, padat, dan bersih. Penilai mendekat, lup menyentuh hampir ke permukaan.
"Rp180 sampai Rp220 juta," katanya. "Konservatif Rp200 juta."
Hendra memukul pahanya sendiri.
"Satu nol untuk kopi sachet!"
Budi menulis angka tanpa senyum, tetapi ujung penanya bergerak lebih cepat.
Batu kedua, yang dianggap batu magang, memberi kejutan lebih halus. Bagian luar yang tampak mati ternyata menyembunyikan lapisan bening di bawah kapur tipis. Tidak sebesar batu pertama, tetapi kualitasnya stabil.
"Rp300 juta lebih, kalau dipotong rapi," kata penilai. "Kita catat Rp300 juta."
Kevin mulai menegang.
Ia melihat tiga ahlinya. Mereka tidak bicara. Salah satu menggosok ujung jari, seperti ingin mengulang penilaian dari awal.
Tinggal batu ketiga.
Batu gelap dari pinggir nampan.
Di ruangan itu, semua suara mengecil. Bahkan orang yang sejak tadi merekam dengan ponsel menurunkan tangannya sedikit.
Bayu menatap batu itu. Mata Dewa memberi cahaya emas paling kuat sejak pagi, tetapi ia tidak membiarkan kegembiraan naik ke wajah. Ia hanya menunjuk satu sisi.
"Potong dari kanan. Jangan terlalu dalam."
Tukang potong mengatur ulang penjepit.
Mesin turun perlahan.
Air mengalir saat kulit hitam terbuka, memperlihatkan bidang hijau yang bening dan padat.
Untuk satu detik, tidak ada yang bersuara.
Lalu aula pecah.
"Kaca!"
"Yang hijau itu lihat!"
"Itu bukan sisa karung!"
Tukang potong sendiri mundur setengah langkah. Ia menatap Bayu, lalu menatap batu, seperti takut salah bernapas.
Penilai pertama tidak langsung menyebut angka. Ia memanggil dua rekannya. Mereka memeriksa warna, kejernihan, retak, arah potong lanjutan, dan kemungkinan hasil akhir. Kamera lokal mendekat, tetapi Intan mengangkat tangan agar jarak tetap dijaga.
"Konservatif," kata penilai akhirnya, suaranya lebih rendah, "Rp900 juta. Bisa lebih jika diproses untuk potongan premium."
Hendra berpegangan pada kursi.
"Yu. Aku minta izin duduk. Kakiku tiba-tiba jadi pegawai magang."
Pembawa acara membaca total.
"Pihak Kevin: Rp90 juta. Pihak Bayu Prasetyo: Rp1,4 miliar secara konservatif."
Tidak ada tepuk tangan pada detik pertama.
Yang ada hanya rasa malu kolektif dari orang-orang yang kemarin ikut meneruskan video tanpa bertanya. Setelah itu, suara pecah. Tepuk tangan, seruan, ponsel, wajah-wajah yang mencondong.
Gunawan menundukkan kepala sebentar, lega.
Intan menatap Bayu dari sisi panggung. Tidak ada senyum besar. Hanya matanya yang seperti berkata, aku tahu kamu akan berjalan.
Kevin berdiri kaku.
Pembawa acara menyerahkan mikrofon.
"Sesuai perjanjian, pihak yang kalah menyampaikan pernyataan."
Kevin menatap kamera. Rahangnya bergerak. Ia menelan sesuatu yang tidak bisa ditelan.
"Saya, Kevin Putra Wijaya, menyatakan bahwa tuduhan pengaturan potong batu terhadap Bayu Prasetyo tidak terbukti dalam tantangan hari ini. Saya meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi."
Hendra berbisik, "Kurang ikhlas, tapi cukup legal."
Budi menjawab pelan, "Legal lebih penting daripada ikhlas."
Di sisi lain, pesan dari kuasa hukum masuk ke ponsel Budi. Studio PR kecil yang menerima somasi mengirim surat klarifikasi. Mereka mengaku tidak melakukan verifikasi memadai, menarik unggahan, dan menyatakan video tersebut adalah materi editan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Budi menunjukkan layar kepada Bayu.
"Somasi bekerja."
"Fakta bekerja," kata Bayu.
Sore itu, batu pilihan Bayu dibeli oleh dua pembeli berbeda dengan skema pembayaran tercatat. Setelah cadangan pajak dan biaya dipisahkan, CV Prasetyo mencatat tambahan nilai bersih sekitar Rp1,4 miliar. Kemenangan itu juga mengangkat nama mereka di pasar.
Menjelang malam, sebuah portal berita lokal mengunggah judul:
Mata Emas dari Pacitan Bungkam Fitnah di Tantangan Terbuka.
Nama itu menyebar lebih cepat daripada video fitnah.
Mata Emas.
Bayu tidak memilih nama itu. Tetapi pasar selalu memberi nama kepada sesuatu yang tidak bisa mereka abaikan.
Kevin keluar dari aula lewat pintu samping. Di mobil, ponselnya berdering. Nama di layar membuat wajahnya lebih pucat daripada saat batu terakhir dibuka.
Pa.
Ia mengangkat.
Suara Ronald Wijaya terdengar tenang, dan justru karena itu lebih menusuk.
"Kamu memakai namaku untuk kalah di depan kamera?"
"Pa, dia..."
"Diam. Kamu bukan kalah karena dia hebat. Kamu kalah karena kamu sibuk menghina sebelum menghitung."
Kevin menggenggam ponsel sampai kuku menekan telapak.
Di dalam aula, orang-orang mulai pulang. Gunawan mendekati Bayu saat lampu panggung dimatikan satu per satu.
"Hati-hati, Nak. Kevin cuma anak kecil. Tapi Wijaya Group... itu gunung."