Lima tahun telah berlalu sejak Edeline putus dengan kekasihnya. Namun wanita itu masih belum mampu melupakan mantan kekasihnya itu. Setelah sekian lama kehilangan kontak dengan mantan kekasih, waktu akhirnya mempertemukan mereka kembali. Takdir keduanya pun telah berubah. Edeline kehilangan harapannya. Namun tanpa dirinya sadari ada seseorang yang selama ini diam-diam mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10 Pesta Kembang Api
...Bab. 10...
...PESTA KEMBANG API...
Aku kembali ke penginapan. Celine masih belum kembali. Padahal sudah hampir senja, matahari merah sudah mulai menenggelamkan diri. Aku berjalan-jalan di pantai. Sebentar lagi matahari terbenam, kuharap semua kenangan di masa lalu akan ikut tenggelam. Aku duduk di tepi pantai menunggu langit berubah gelap. Suara ombak terasa menenangkan. Sebenarnya aku ingin sendiri tapi Ray justru datang dan malah ikut duduk di sampingku.
"Terlalu sayang hanya dilewatkan sendiri," kata Ray sambil menatap jauh ke depan.
Aku menatapnya. "Kenapa kamu kemari? Seharusnya kamu menemani putramu," kataku.
"Dia sudah tidur. Kenapa kamu berjanji padanya, Edeline? Jika aku membuatmu sedih, kamu tidak harus terus berpura-pura," tanya Ray.
"Jadi, apa aku harus menangis sekarang? Lalu, untuk apa menangis pada sesuatu yang jelas bukan lagi milikku?! Aku tidak pernah merasa begitu sedih. Aku pikir aku hanya terlalu lama bermimpi," jawabku berusaha mengelak. Dan dengan sekuat tenaga menjaga perasaan.
"Apa kamu tahu, Edeline ... Saat aku bertanya pada Joan kenapa dia mengajakmu. Joan berkata karena kamu membelikannya es krim dan dia ingin membalasnya. Dia ingin membuatmu tersenyum karena kamu terlihat sedih. Aku tidak mengerti bagaimana anak seusia Joan bisa melihat kesedihan di wajah orang yang baru ditemuinya dua kali. Aku memang tidak bisa menebak seperti Joan bagaimana perasaanmu, Edeline. Bukan hakku untuk menanyakan hal ini padamu. Meskipun jujur aku sangat ingin tahu," tutur Ray dengan pelan.
"Bukankah kamu sudah menebaknya dari tatapan mataku? Kupikir itu sudah cukup jelas," balasku.
Ray sontak menatapku. Matahari sudah hampir tenggelam seluruhnya. Aku dan Ray hanya saling diam menatap detik-detik terakhir matahari terbenam hingga menghilang di balik lautan.
"Sekarang aku sadar, kisah kita sudah berakhir, Ray! Cerita kita adalah masa lalu. Kamu memiliki keluarga kecil yang harus kamu jaga. Sebelumnya aku memang tidak bisa melupakanmu, tapi setelah ini aku ingin kamu melupakan perasaanmu yang tersisa. Kamu harus kembali pada kehidupanmu. Aku juga akan belajar untuk berhenti bermimpi dan kembali bangkit untuk memulai kisah yang baru," kataku dengan pelan.
"Edeline ...."
"Aku tidak ingin mendengar kata maafmu lagi. Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum hari ini." Aku memotong ucapan Ray. Kemudian aku tersenyum padanya. Kali ini lebih tulus.
"Bahagialah untuk orang yang mencintai kita, Ray! Karena tanpa mereka kita tidak akan menjadi seperti sekarang ini," ujarku.
Ray ikut tersenyum. "Aku akan ingat kalimat itu!"
"Aku ke penginapan dulu. Nanti malam aku pasti akan datang," janjiku pada Ray.
"Terima kasih, Edeline!" balas Ray.
"Aku melakukannya untuk Joan," sahutku.
...🎇🎇🎇...
Malam ini aku pergi dengan Celine dan temannya. Pesta kembang api dirayakan di padang hijau Spiral Fountain Park. Suasana sudah cukup ramai ketika kami tiba. Aku pikir mungkin akan sulit menemukan Ray dan Joan di tengah keramaian namun rupanya tidak. Ray dan Joan menunggu di tempat yang strategis dan mudah terlihat. Joan melambaikan tangan begitu melihatku. Aku terpaksa memisahkan diri dengan Celine dan temannya. Joan begitu girang melihatku. Anak kecil itu langsung memelukku. Setelah menemukan tempat yang nyaman kami duduk. Joan duduk di pangkuanku dengan manja. Meskipun Ray membujuknya duduk dengannya saja, Joan tetap menolak.
"Sudah tidak apa-apa," kataku.
"Dasar anak manja!" goda Ray sambil mencubit pipi Joan dengan lembut.
Sambil menunggu pesta kembang api dimulai kami bercanda dan bermain bersama. Banyak orang yang sedang melepaskan lentera ke udara dengan harapan yang tertulis di atasnya. Tak terasa pesta kembang api akhirnya dimulai. Puluhan bahkan ratusan kembang api berbagai warna meledak di atas langit malam Glotious. Joan sangat gembira dapat melihat kembang api yang sangat banyak.
"Bibi Edeline, cudah tidak cedih lagi, kan?" tanya Joan dengan tatapannya yang polos.
"Tentu tidak, Sayang. Bibi tidak pernah bersedih. Bibi akan selalu tersenyum bila mengingatmu. Bibi tidak akan melupakanmu, Joan!" jawabku pada Joan sambil mendekapnya. Ray menatap kami berdua sambil tersenyum.
Pesta kembang api selesai, Joan pun sudah nampak mengantuk. Ray menggendong Joan membawanya kepada neneknya. Kemudian ia kembali menemuiku.
"Terima kasih untuk malam ini, Edeline!" ucap Ray tulus.
"Tidak perlu. Em ... Kalau aku boleh tahu di mana mama Joan?" tanyaku.
"Dia tidak ikut ke sini. Setelah kami berpisah aku bekerja di luar kota. Dan setelah menikah juga kami tinggal di luar kota. Aku pulang bersama Joan untuk mengunjungi orang tuaku dan berlibur. Um, sebenarnya kami bertengkar. Aku marah dan membawa Joan ke rumah orang tuaku," jawab Ray mulai sedikit terbuka. Aku juga kini mengerti apa yang membuatnya kacau waktu itu.
"Kamu pergi bersama Joan begitu saja?" tanyaku kaget.
"Ya. Aku terlalu emosi. Meskipun kami tidak bilang akan berpisah. Dia memohon padaku untuk tidak membawa Joan. Aku bilang akan kembali. Tapi, aku belum menghubunginya sampai sekarang," terang Ray.
"Ray, kamu harus menghubunginya! Bagaimana pun dia itu mama Joan. Dia mungkin khawatir. Dia juga pasti sedang menunggu. Joan masih kecil dan butuh mamanya. Memangnya sebesar apa kesalahannya sehingga membuatmu begitu marah? Kamu harus berpikir sebelum memutuskan pergi begitu saja. Joan juga mungkin merindukan mamanya." Aku berkata dengan hati-hati.
"Aku pikir menghindar sebentar akan lebih baik," sahut Ray membela diri.
"Ray, aku bukannya ingin ikut campur masalahmu. Kamu harus ingat bahwa setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, tidak ada manusia yang sempurna. Maka dari itu kita harus belajar memaafkan. Jangan sampai mengambil keputusan yang salah dan membuatmu menyesal di kemudian hari." Aku mengingatkan.
Ray terdiam mendengar setiap kata-kataku. "Ya, kamu benar, Edeline. Terima kasih sudah menyadarkanku. Aku sudah menyesal karena kehilangan seseorang yang begitu sempurna. Sekarang aku baru sadar. Aku tidak bisa meraihnya meskipun dia sekarang berdiri di depanku. Dia tetap sekuntum bunga terindah yang tidak bisa kupetik. Ya, waktu memang cepat sekali berlalu. Semuanya berubah termasuk diriku. Terima kasih, Edeline. Aku akan berusaha menjadi lebih baik dari aku yang sebelumnya," tutur Ray. Dia tersenyum padaku. Senyum yang lebih ringan tanpa beban di wajahnya.
Aku membalas senyumannya. Mungkin itu senyum terakhir yang bisa kulihat.
"Edeline!"
Dari jauh Celine memanggilku. Dia melambaikan tangan. Aku tahu waktunya kembali. Aku pamit pada Ray. Ray menarik lenganku. Dia mendekat dan memelukku sebentar namun tetap menyisakan sedikit jarak. Dia berbisik pelan. "Aku tidak akan melupakanmu!"
Aku menatap matanya lebih dalam. Dia tersenyum kecil.
"Pergilah! Jangan buat kakakmu menunggu lama," katanya. Aku mengangguk dan berjalan pergi. Aku masih berbalik menatapnya. Ingin mengucapkan selamat tinggal tapi kalimat itu hanya sampai di tenggorokanku. Aku tidak bisa mengucapkan kalimat itu jadi lebih baik pergi begitu saja.
...🎇🎇🎇...
Ray sudah berada di penginapan. Hari telah subuh tapi matanya belum dapat terpejam. Ia menatap paper bag yang masih terbungkus rapi di atas meja. Hanya karena iseng, ia mengambil paper bag itu dan mengeluarkan isinya. Rupanya bukan hanya jaket yang ada di dalamnya tapi juga sebuah kotak kecil dan selembar surat. Ray membuka kotak itu, ia agak kaget melihat isinya gelang Irena yang telah dibuangnya ke fountain waktu itu. Ia lalu meraih surat Edeline dan membacanya.
≿━━━━━━━━━━༺❀༻━━━━━━━━━≾ Gelang ini terlalu indah untuk dibuang, Ray! Aku memang sengaja memungutnya. Mungkin itu tidak berarti lagi bagimu, tapi mungkin masih berarti bagi pemiliknya. Memang tidak salah membuang sesuatu yang hanya membawa kesedihan bila menyimpannya. Tapi tahukah kamu, Ray? Bahwa sesuatu yang membuatmu sedih hari ini, dulunya pernah menjadi satu-satunya alasan yang membuatmu paling bahagia.
Itu pasti gelang milik seseorang yang berarti di hidupmu. Jika kamu membuangnya mungkin orang lain akan memungutnya dan tak akan mengembalikannya padamu. Jika kamu tidak ingin menyimpannya maka kembalikan kepada pemiliknya. Dia di sana mungkin masih menginginkannya. ≿━━━━━━━━━━༺❀༻━━━━━━━━━≾
Setelah membaca surat itu Ray terdiam cukup lama sambil terus berpikir. Kemudian ia menyalakan ponselnya dan menghubungi sebuah nomor. Tak peduli meski hari masih terlalu dini.
Pagi itu Ray check out lebih cepat. Dia pulang bersama Joan sementara keluarganya masih di hotel. Ray tidak tahu kalau Edeline juga pulang hari itu. Ia menitipkan sebuah surat pada seorang resepsionis.
^^^bersambung...^^^
karna buka kisah baru itu perlu tenaga jga hirup udara yg pas😌 utk qm edeline semangat ya buat kisah baru nya lgi😌
ga segampang itu menjalani kisah baru dan melupakan yg lama
cari kerjaan baru mngkn akan berubah kehidupan baru dan pastinya akan bertemu dgn org yg baru
semangat
masih nyangkut masa lalu jgn mulai buka halaman baru
bisa aja qm yg selanjutnya menyakiti perasaan nya 🙄 pahamkan itu jgn asal hdup aja🙄
basa basi