Blurb :
"Aku rela berkorban demi dirimu, Mas. Bahkan, dengan sukarela memberikan uang gajiku kepadamu. Tapi kenapa, teganya dirimu memberikan semuanya kepada selingkuhanmu!"
Airin benar-benar merasa kecewa atas apa dilakukan oleh Aldi suaminya. Airin merasa di lecehkan dan tidak dihargai.
Hingga Airin berpikir untuk mengakhiri pernikahannya dan berniat untuk balas dendam.
Akankah rencananya berhasil atau ia berubah pikirannya dan menerima Sonia untuk jadi istri kedua suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipihpermatasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31.Jadi sasaran.
Andai saja wanita yang ada di depanku bukan paruh baya. Udah aku sobek-sobek tuh mulutnya pake pisau! Batin Airin.
Wanita itu mengepalkan kedua tangannya karena merasa jengkel dan sikapnya sangat keterlaluan.
Riko pun merasa kesal dan tidak terima Airin dihina oleh Ibunya.
"Stop, Mih!Kurang ajar banget ya, bicara seperti itu kepada dia? Kenapa sih, Mamih benci banget sama dia?" Riko sambil menatap tajam Mamih Lia.
"Karena dia enggak sepadan dengan kita!" bentak Mamih Lia sambil menatap Riko.
"Dengar ya, Mih-"
Perkataan Riko harus terputus saat Airin menyela pembicaraannya.
"Sudahlah Ko, aku mau pulang sajalah. Aku pusing tahu enggak, bila akhirnya kayak gini," ucap Septi sambil menatap Riko.
Airin dengan segera melangkahkan kakinya untuk pergi. Namun, langkahnya terhenti saat Riko menahan wanita itu agar tidak pergi.
"Tunggu dulu, Airin!" ucap Riko sambil menahan tangan
"Mau ngapain lagi sih, Ko? Sudahlah, aku mau pergi dari sini. Percuma aja aku lama-lama disini sama orang yang mulutnya tajam banget kayak singa," sindir Airin sambil menatap Mamih Lia.
"Kamu bilang apa barusan? Enggak sopan banget ya sama orang yang sudah tua bicara begitu!" Mamih Lia menatap tajam Airin.
Wanita itu hanya menatap sinis Mamih Lia dan merasa puas telah menyindir wanita paruh baya itu.
"Emangnya kenapa? Mulut-mulutku kok, jadi berhak dong mau bicara apapun." Airin sambil tersenyum sinis terhadap Mamih Lia.
"Ini anak, benar-benar kurang ajar ya! Ko, yang benar saja kamu cari wanita? Massa sih, sudah gembel, enggak punya sopan santun lagi!" sentak Mamih Mira, sambil menatap kesal wanita itu.
"Cukup! Mamih yang duluan kurang ajar sama dia, apa salahnya sih Mamih bicara baik-baik sama dia," ucap Riko ikut merasa kesal terhadap Mamihnya.
"Sudahlah Ko, lepaskan tanganku!" sentak Airin mencoba melepaskan tangan Riko.
"Aku tidak akan melepaskanmu, sebelum Mamihku merestui hubungan kita!" Riko menatap Airin.
"Kamu ini gila ya, Ko! Kita kan, cuma pura-pura jadi kekasih bohongan," bisik Airin.
"Tapi sebenarnya aku menginginkanmu, Airin! Aku sudah jatuh cinta saat pertama kali denganmu!" bisik Riko.
Airin pun membulatkan matanya, merasa tidak percaya apa yang dikatakan oleh Riko.
"Kalian ini apa-apaan sih, main bisik-bisik aja," gerutu Lia sambil menatap Riko dan Airin dengan tatapan tidak suka.
"Aku bilang sama dia, aku akan tetap mempertahankan dia, Mih," bohong Riko kepada Mamihnya.
"Benar-benar gila ya kamu, Riko! Pokoknya Mamih enggak setuju kamu berhubungan dengan dia!" bentak Mamih Lia.
"Sudahlah Ko, jangan terlalu mengharapkan aku. Lagi pula, aku ini seorang janda jadi kamu enggak pantas bersamaku," ucap Airin sambil menghempaskan tangan pria itu yang memegang tangan dirinya.
"A-apa, kamu seorang janda?" tanya Mamih Lia.
Wanita paruh baya itu merasa terkejut dengan perkataan yang keluar dari mulut Airin dan kenapa bisa putranya memilih dia.
"Iya, aku memang seorang janda!" ucap Airin.
Mamih Lia pun tertawa sinis sambil menatap Airin dan sungguh benar-benar tidak habis pikir dengan putranya telah memilih wanita itu.
"Ya ampun yang benar saja kamu cari pasangan hidup seorang janda? Enggal level Ko," ucap Mamih Lia sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Cukup, Mamih! Apa-apaan sih Mamih ini, ngehina mulu orangnya!" Riko dengan menaikan suaranya dengan tinggi, sehingga membuat Mamih Lia marah besar.
"Benar-benar kurang ajar ya, Riko! Berani sekali kamu membentak Mamihmu demi perempuan gembel seperti dia!" Mamih Lia sambil menatap tajam putranya.
Mamilh Lia merasa kesal pada putranya dan tidak terima di sentak begitu saja.
"Habisnya mulut Mamih itu ya ampun, bikin Riko malu tau, enggak. Suka bicara seenaknya!" ucap Riko.
"Kamu bilang Malu? Jadi kamu malu punya Ibu kayak Mamih? Mamih benar-benar kecewa sama kamu, Riko!" Mamih Lia merasa tidak suka putranya berkata seperti itu.
"Sudahlah, permisi aku harus pulang!" ucap Airin sambil berlalu pergi meninggalkan Riko dan Ibunya.
Airin lebih memilih untuk pergi dari rumah itu dari pada dia yang terus jadi sasaran kemarahan Mamih Lia.
"Tunggu, Airin!" teriak Riko mencoba mengejar wanita itu, tapi sayang tangannya di tahan oleh Mamih Lia.
"Kamu ngapain ngejar dia? Wanita seperti dia tidak perlu kamu kejar!" ucap Mamih Lia.
"Tapi Mih-"
Perkataan Riko harus terputus saat Mamihnya menatap dirinya dengan tatapan yang susah di artikan.