NovelToon NovelToon
Cahaya Di Jalan Terjauh

Cahaya Di Jalan Terjauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyelamat
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.

Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.

Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Mencari Jejak yang Hilang

Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Dika. Ia sulit terlelap, pikirannya terus berputar memikirkan tuduhan yang menimpanya. Ia tahu, jika besok pagi barang itu tidak ditemukan, nasibnya bisa berakhir buruk — bukan hanya diusir, tapi juga dicap sebagai pencuri, yang akan membuatnya sulit mencari pekerjaan di tempat lain demi membiayai pengobatan ibunya.

Saat jam dinding di lorong menunjukkan pukul dua dini hari, ia memutuskan untuk bangun. Dengan hati-hati, ia membuka pintu kamarnya sedikit demi sedikit, memastikan tidak ada orang yang terjaga atau berjalan lewat. Suasana rumah sangat sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dari luar dan hembusan angin malam yang pelan.

Ia berjalan perlahan menuju gudang belakang. Di sana gelap, hanya diterangi sedikit cahaya bulan yang masuk lewat celah jendela tinggi. Dika menyalakan lampu kecil yang biasa digunakan untuk bekerja, lalu mulai memeriksa setiap sudut dengan teliti. Ia memindahkan tumpukan kayu, memeriksa di balik tumpukan pot bunga kosong, dan melihat ke bawah rak-rak penyimpanan. Semua tempat yang memungkinkan tetap kosong, tidak ada tanda-tanda kotak peralatan itu.

Saat sedang berjalan keluar, matanya tertuju pada sebuah pintu kecil di sudut paling belakang gudang — pintu yang sudah lama tidak pernah dibuka, tertutup debu dan sarang laba-laba. Ia ingat, pintu itu dulunya jalan keluar ke kebun belakang yang sudah tidak terpakai lagi, tertutup semak belukar yang lebat.

Dika mendekatinya, menyeka debu pada gagang pintu. Gagangnya masih bisa diputar, meski agak berat. Saat dibuka sedikit, tercium bau tanah lembap dan daun kering. Cahaya bulan masuk menerangi jalan setapak yang sudah tertutup tumbuhan liar.

Dengan hati-hati, ia melangkah masuk. Ia berjalan mengikuti bekas jalan yang sudah hampir hilang, menyingkirkan ranting dan daun yang menghalangi. Beberapa meter di depan, tepat di balik semak belukar yang paling lebat, matanya menangkap sesuatu yang mencurigakan — sudut kotak kardus yang terlihat sedikit menonjol, tertutup daun kering dan ranting.

Jantung Dika berdegup kencang. Ia segera membersihkan penutupnya, dan ternyata benar — di sanalah kotak berisi peralatan kebun yang hilang itu tergeletak, masih terbungkus rapi seperti semula. Bahkan di sampingnya terlihat bekas jejak kaki yang agak besar dan baru, bukan jejak kaki sepatu kerjanya yang biasa ia pakai.

“Jadi benar, memang sengaja ditaruh di sini agar tidak ketemu,” gumamnya pelan.

Ia tidak langsung mengambilnya. Ia berdiri diam sejenak, memikirkan langkah yang harus diambil. Jika ia membawanya kembali sekarang, bisa saja dituduh menyembunyikan lalu mengembalikan sendiri saat ketahuan. Ia butuh cara agar kebenaran terlihat jelas tanpa menimbulkan kecurigaan baru.

Setelah memastikan posisinya, ia kembali ke gudang, menutup pintu kecil itu kembali seperti semula, lalu berjalan pulang ke kamarnya dengan langkah hati-hati. Ia tidak memberitahu siapa pun malam itu, hanya menyimpan penemuan itu dalam pikirannya.

Keesokan paginya, suasana di ruang makan terasa tegang. Nyonya Wijaya duduk di tempatnya, diikuti Paman Arga, Bu Marni, dan juga Kirana yang ikut hadir karena ingin mendengar perkembangan masalah itu. Begitu selesai sarapan, Nyonya Wijaya membuka pembicaraan.

“Sudah diperiksa semuanya? Apakah barang itu sudah ditemukan?” tanyanya tenang tapi tegas.

Bu Marni menggeleng. “Sudah saya periksa gudang, dapur, dan ruang penyimpanan lain, Nyonya. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya.”

Paman Arga langsung menyambung dengan nada yakin. “Sudah saya duga, Kak. Pasti dia yang mengambilnya. Siapa lagi yang paling sering ada di sekitar gudang selain dia? Lebih baik segera dipanggil dan dimintai keterangan, kalau perlu dikembalikan atau diusir saja sebelum terjadi hal yang lebih parah.”

Belum sempat Nyonya Wijaya menjawab, Kirana angkat bicara dengan nada tenang namun tegas. “Belum tentu begitu, Paman. Kita belum melihat bukti apa pun, hanya laporan sepihak saja. Lebih baik diperiksa lagi dengan teliti, jangan langsung menuduh.”

“Kamu masih muda dan belum mengerti sifat orang, Kirana. Jangan mudah percaya pada orang luar yang baru datang sebentar,” bantah Paman Arga dengan nada meninggi.

Saat suasana mulai memanas, Dika dipanggil masuk. Ia berdiri di ambang pintu dengan kepala tegak, tidak terlihat gugup meski semua mata tertuju padanya.

“Dika, apa yang ingin kamu katakan soal barang yang hilang itu?” tanya Nyonya Wijaya langsung.

Dika menunduk sopan, lalu menjawab dengan suara jelas dan mantap. “Nyonya, saya tidak mengambil barang itu. Semalam saya memeriksa gudang sendiri, dan menemukan sesuatu yang mungkin bisa menjelaskan ke mana perginya barang itu.”

Semua orang terkejut mendengarnya. Paman Arga mengerutkan dahi, wajahnya terlihat sedikit gelisah. “Apa maksudmu? Jangan mengarang cerita untuk menutupi kesalahanmu!”

“Saya tidak mengarang, Pak. Kalau Nyonya dan Bapak berkenan ikut saya sebentar, saya bisa tunjukkan tempatnya,” jawab Dika tenang.

Mereka semua berjalan mengikuti Dika menuju gudang belakang. Dika membuka pintu utama, lalu langsung menuju pintu kecil yang sudah lama tertutup itu. Ia membersihkan debu di gagangnya, lalu membukanya perlahan.

“Ini pintu yang sudah lama tidak dibuka, Nyonya. Di belakangnya ada jalan setapak yang sudah tertutup semak belukar. Di sanalah barang itu saya temukan tergeletak semalam,” jelas Dika sambil memimpin jalan.

Mereka berjalan masuk, menyingkirkan tumbuhan yang menghalangi, dan tidak lama kemudian sampai di tempat yang dimaksud. Di sana, kotak peralatan itu terlihat jelas masih terbungkus rapi, tertutup daun kering.

“Ini dia barangnya,” kata Dika sambil menunjuk. “Masih utuh, tidak ada yang rusak atau dibuka. Bahkan kalau diperhatikan, ada bekas jejak kaki lain di sekitarnya yang bukan milik saya.”

Bu Marni segera mendekat, memeriksa kotak itu, lalu melihat ke tanah di sekitarnya. “Benar, ini memang barang yang hilang. Dan jejak kakinya lebih besar dari ukuran sepatu Dika, serta terlihat baru saja dibuat.”

Paman Arga berdiri diam, wajahnya memucat seketika. Ia berusaha tetap tenang, tapi suaranya terdengar sedikit bergetar saat bicara. “Mungkin saja dia sengaja meletakkannya di sana agar terlihat seperti tidak bersalah, lalu pura-pura menemukannya.”

Tapi kali ini Nyonya Wijaya hanya menggeleng pelan. Ia menatap Dika dengan pandangan yang lebih dalam. “Kalau dia yang menyembunyikannya, tidak mungkin dia menunjukkan tempatnya sendiri dan membawa kita ke sini. Lagipula, selama ini tidak ada satu pun barang yang hilang atau rusak saat dia bekerja. Kalau dia berniat mencuri, pasti sudah melakukannya sejak lama.”

Kirana yang berdiri di samping ibunya tersenyum lega, lalu menoleh ke arah Dika dengan pandangan yang penuh keyakinan. “Lihat, bukan dia yang melakukannya. Berarti ada orang lain yang sengaja menaruhnya di sana untuk menjebak dia.”

Suasana menjadi hening. Paman Arga tidak bisa membantah lagi, karena bukti yang terlihat jelas. Ia hanya bisa berdiri diam, menahan rasa marah dan kecewa karena rencananya gagal total.

Setelah kembali ke ruang tengah, Nyonya Wijaya menatap Dika dengan pandangan yang semakin mantap. “Terima kasih sudah membuktikan kebenaran. Saya minta maaf kalau sempat menuduh tanpa bukti yang jelas. Mulai sekarang, saya percaya sepenuhnya padamu. Teruslah bekerja seperti biasa.”

“Terima kasih banyak, Nyonya. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan,” jawab Dika dengan rendah hati.

Saat Dika pergi melanjutkan pekerjaannya, Nyonya Wijaya menoleh ke arah Paman Arga. Wajahnya tidak lagi ramah seperti biasanya. “Arga, mulai sekarang jangan terlalu cepat menuduh orang lain. Kepercayaan itu mahal, tapi kehilangan kepercayaan itu sangat mudah. Ingat itu.”

Paman Arga hanya menunduk, tidak berani menjawab. Di dalam hatinya, ia semakin membara — bukan hanya karena rencananya gagal, tapi juga karena kehadiran Dika justru membuat posisinya sendiri mulai terlihat mencurigakan. Ia sadar, pertarungan ini belum berakhir, dan ia harus menyusun rencana yang lebih licik lagi untuk menyingkirkan pemuda itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!