NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17

...~Senapan VS Cincin Gadis~...

Langit sore kian menggantung gelap. Tiga pria duduk di teras rumah Naira, membahas beberapa pokok penting perladangan mereka. Meski sebenarnya, Arka lebih banyak diam dan memilih menjadi pendengar yang baik. Sesekali saja ia memberikan masukan.

​Suara drama ketoprak dari ruang tengah terdengar kian nyaring bersama gamelan yang mengiringi. Lalu, tiba-tiba suara radio itu mati mendadak.

​"Kamu serius?!" Teriakan Ibu Naira terdengar sampai ke teras. Ketiga pria itu refleks menengok ke arah dalam rumah sesaat.

​"Bu!" teriak Pak Doyok, mencoba memperingatkan istrinya agar tidak berteriak.

​Ketenangan di teras itu tak bertahan lama. Suara langkah kaki Ibu Naira terdengar mendekat dengan terburu-buru, bahkan deru napasnya yang terengah bisa didengar jelas oleh Arka.

​"Pak, kata Naira cocok!"

​Arka yang baru saja menyesap kopi hitamnya mendadak membeku. Ada desir aneh yang tak siap menghantam dadanya.

​"Cocok sama apa?" tanya Pak Doyok bingung.

​"Sama Arka!" Suara Ibu Naira terdengar jauh lebih heboh.

​Uhuk!

​Pertahanan tegap seorang tentara runtuh seketika. Arka hampir tersedak kopinya sendiri mendengar ucapan tersebut. Ia terbatuk pelan, berusaha menguasai diri saat tatapan semua orang di teras rumah bergantian terarah padanya. Om Seno bahkan sudah menahan senyum penuh arti.

​"Sana disusul, Mas," Ibu Naira langsung menyuruhnya tanpa memberi jeda untuk Arka bernapas lega.

​Untuk sesaat, keraguan menyergap dirinya. Jari-jari kaki Arka mengetuk lantai teras beberapa kali—refleks bawah sadar yang biasa ia lakukan di lapangan untuk tetap fokus, meskipun saat ini ia hanya mengenakan celana santai dan sandal jepit. Ia segera melangkah masuk ke dalam rumah setelah merasa energinya terkumpul.

​Samar, ia masih mendengar bagaimana antusiasnya Ibu Naira di luar yang mulai mempertanyakan kapan sebaiknya pernikahan digelar. Arka menarik napas dalam-dalam, mengatur detak jantungnya sendiri sebelum berbelok ke arah dapur.

​Di sana, sebuah pemandangan menggemaskan langsung menyambutnya.

​Naira sedang berdiri membelakanginya, meneguk segelas air dengan tergesa-gesa. Gadis itu mengenakan setelan baju tidur motif batik merah yang tampak kontras dengan kulit bersihnya yang kuning langsat. Dari jarak ini, Arka bisa melihat bahu gadis itu sedikit gemetaran.

​Hanya butuh dua langkah lebar bagi Arka untuk mengikis jarak. Begitu dekat, ia bisa mencium samar aroma citrus segar dari sabun yang belakangan ini sedang populer.

​Arka berdehem pelan, memasang wajah setenang mungkin. "Ibumu menyuruh aku ke sini."

​Di hadapannya, Naira masih memasang wajah yang memerah. Bahunya gemetar halus. Beberapa kali gadis itu mencoba mengelak dari pembicaraan, hingga rasa penasaran Arka mulai terusik.

​Arka menghirup oksigen dalam tarikan napas yang halus. "Padahal tadi kudengar kamu bilang cocok?" Pria itu tersenyum samar. "Cocok sama apa?"

​Ia dapat melihat bagaimana tubuh gadis itu menegang sesaat sebelum akhirnya memberanikan diri menatap wajah Arka.

​"Sama..."

​"Mas Arka."

​Dan seketika itu juga, napas Arka terasa sesak. Dadanya membuncah oleh rasa lega dan bahagia yang tak terkira. Namun, insting militernya memaksa wajahnya tetap berekspresi tenang.

​"Emang kamu sudah siap nikah sama aku?" tanya Arka cepat.

​Ia dapat melihat rona merah di wajah Naira kian pekat. "Apa-apaan sih, Mas. Maksudnya cocok jadi teman."

​Rasa malu gadis itu tampak berkali-kali lipat lebih menggemaskan di mata Arka. "Oh..." gumamnya sengaja digantung.

​Di balik ketenangannya, pikiran Arka sebenarnya sudah melompat jauh ke depan. Otaknya langsung menyusun daftar hal yang harus ia lakukan: protokol pernikahan militer, izin satuan, serta tumpukan berkas yang harus segera ia persiapkan di kantor komandannya. Sisa cutinya tinggal hitungan hari, dan dia tidak boleh membuang waktu.

​"Jadi ibumu benar-benar heboh. Bahkan sudah bahas mau nikah..." Arka menggantung kalimatnya untuk menatap lebih lama ekspresi gadis itu. "Padahal aku mau segera telepon kantor komandan buat mengabari agar surat-surat bisa diurus secepatnya."

​Namun tak seperti biasa, jawaban dari Naira datang terlalu cepat dari apa yang dibayangkan Arka. Suaranya sangat pelan, hampir ikut terbawa angin sore yang masuk lewat jendela dapur.

​"Secepatnya kalau bisa."

​Arka menahan senyumnya di balik wajah yang sok tenang. Ada rasa ingin memeluk gadis itu sesaat, namun urung ia lakukan karena situasi belum resmi.

​"Yakin?" tanya Arka memastikan.

​Arka memandangi setiap gerak-gerik Naira dengan perasaan berdebar yang sama. Baru seminggu dia mengenal gadis ini melalui perjodohan, dan Naira masih sama gugupnya seperti pertama kali mereka bertemu.

​"Yakin."

​"Lihat aku."

​Dan ketika Naira mendongakkan kepala menatapnya, jantung Arka berdegup jauh lebih kencang daripada saat latihan lari yang biasa dilakukannya di lapangan militer.

...----------------...

​Di kamar Arka yang senyap dan gelap, hanya terdengar suara detak jam yang berdetik terus-menerus. Pria itu masih berada di dekat dipannya, berjalan bolak-balik beberapa kali seperti setrikaan. Dadanya masih bergemuruh tak tenang. Suara jangkrik dan burung manguni terdengar samar dari luar jendela kamar.

​Di sisi meja dekat jendela, tergeletak buku agenda dan pulpen yang biasanya menjadi teman tugas hariannya. Namun, pikirannya jelas tidak ada di sana. Ia masih bingung memikirkan tentang cincin pertunangan mereka.

​Sebuah logam kecil yang kelak akan mengikat hubungan keduanya.

​Arka tidak bisa terus begini. Ia memang pandai bertindak taktis dan membaca koordinat peta. Namun, untuk urusan selera, bahkan ukuran jari tangan Naira yang baru disentuhnya dua kali—jelas ia kalah telak di pertempuran ini.

​Pria itu segera keluar kamar untuk mencari udara segar. Namun, yang didapatinya justru sang ayah tengah duduk di kursi ruang tengah, menikmati kretek yang baru saja digulungnya.

​"Pak," panggil Arka. Ia memilih duduk di hadapan ayahnya.

​"Kenapa? Biasanya jam segini kamu sudah tidur."

​Arka menghela napasnya sesaat. "Arka bingung."

​"Bingung kenapa? Kamu berubah pikiran?"

​"Bukan."

​"Lalu?"

​"Cincin buat Naira."

​Om Seno terkekeh geli dengan suara pelan. "Kamu ini gimana toh. Urusan peluru sama senapan kamu hafal jenis dan ukurannya. Giliran ukuran jari anak gadis orang, bingung."

​"Lha gimana lagi, Arka gak tahu."

​"Ya kamu ajak Naira beli cincin ke pasar dekat kecamatan. Mumpung besok dia libur mengajar." Om Seno mengetukkan abu rokoknya di sisi asbak pada meja tengah. "Jangan sampai salah ukuran. Biar dia memilih sendiri apa yang dia mau."

​Arka terdiam sesaat. Ide ayahnya itu cukup masuk di akalnya.

...----------------...

1
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!