NovelToon NovelToon
Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32.

"Sekarang kamu sudah menjadi milikku Laura, aku nggak akan biarkan kamu bisa bahagia bersama dengan Nigel," ujar Luis seraya melepaskan pakaian di tubuh Laura satu persatu.

Tubuh Laura menggigil hebat, ia begitu ketakutan dengan sikap Luis yang seperti ini.

Ia ingin memberontak, tapi hal itu pasti akan percuma. Selain Luis tidak akan melepaskannya, sekarang ini kakinya juga tidak bisa berjalan normal.

Laura menatap Luis dengan mata yang memohon, suaranya bergetar saat berkata, "Kak Luis, aku janji nggak bakal lagi dekat kak Nigel. Tapi tolong, kamu jangan lakukan ini padaku."

Namun, Luis tetap diam, wajahnya keras dan tanpa belas kasihan.

Perlahan, tangannya menarik kain yang menutupi tubuh Laura, melepaskan satu per satu bajunya tanpa memberikan ruang untuk keberatan.

Setelah itu, Luis melepaskan bajunya sendiri, tanpa ragu mengoleskan pelumas dingin ke kulit Laura, membuatnya merinding bukan karena nikmat, tapi karena ketakutan yang membekap.

Tubuh mereka akhirnya menyatu, namun Laura sudah kehilangan keberanian untuk berteriak atau memohon.

Hatinya tahu, Luis takkan mendengar apapun selain keinginannya sendiri.

Air mata Laura mengalir tanpa henti, membasahi pipinya yang pucat, saat Luis dengan perlahan memasuk mundurkan miliknya dengan perlahan.

Setiap helaan napas terasa berat, seolah Luis sedang mencuri sesuatu yang lebih dari sekadar tubuhnya—mimpi, harga diri, dan kepercayaannya pada dunia yang dulu pernah ia pegang erat.

Dalam keheningan yang mencekam itu, hanya suara tangisnya yang menjadi saksi luka terdalamnya.

"Aku nggak menyangka, ternyata rasanya seenaknya ini jika dibandingkan dengan memuaskan diri sendiri di kamar mandi," ujar Luis saat ia melakukan pelepasan pertama kalinya.

Sungguh ia merasa keenakan.

Ia menatap wajah Laura yang menyedihkan.

Setelah cairannya keluar sepenuhnya, Luis mencabut dan bangkit.

Tapi ia mendapati noda darah di seprai dan miliknya.

Awalnya ada rasa bersalah yang membuncah dalam hatinya, tapi rasa bersalah itu langsung menghilang saat melihat asi Laura keluar.

Bahkan air susu itu, keluar lebih deras dibandingkan sebelumnya sampai membasahi dada Laura.

"Bersihkan dulu asimu itu!!" Titah Luis dengan suara ketus, lalu ia pergi dari kamar mandi.

Sedangkan Laura memilih memiringkan tubuhnya dan meringkuk. Ia tidak punya tenaga untuk sekedar bangkit dan memakai bajunya.

Sakit? Hati Laura sangat sakit.

"Sepertinya nggak ada gunanya lagi aku hidup didunia ini," gumam Laura, kedua tangannya tanpa sadar terkepal erat.

Tapi ia yang terlalu lelah, akhirnya menangis sampai tertidur.

Sementara Luis yang baru keluar dari kamar mandi, melihat tubuh Laura yang tanpa sehelai benang.

Hasratnya pun kembali, ia ragu mengingat kesedihan Laura saat tadi ia memaksa Laura.

Tapi, akhirnya ia teringat semua kesalahan Laura. "Buat apa aku kasihan padanya? Dia saja murahan sama seperti ibunya," gumam Luis penuh kebencian.

Walaupun dalam hatinya, feeling-nya kalau sekarang ia tetap memaksa Laura. Pada akhirnya, ia akan menyesal sendiri.

"Nggak mungkin nantinya aku menyesal, orang yang bersalah itu Laura bukan aku. Pastinya nanti Laura yang akan menyesal dan menebus semua dosa-dosa ibunya padaku."

Tanpa ragu, ia berjalan mendekat ke arah Laura lalu menindihnya.

Sementara Laura yang tubuhnya terasa remuk karena habis tak sadarkan diri selama 12 jam setelah mendapatkan pembullyan dan penyiksaan disekolah. Akhirnya memilih untuk tidur pulas, ia tidak memperdulikan Luis yang sekarang ini sedang memakai tubuhnya dan ia menganggap kalau Luis tidak ada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!