Aldo pulang merantau dari kota karena mendengar kabar bahwa sebentar lagi Airin akan segera menikah, Kakak kesayangannya itu akan menikah sehingga dia harus segera pulang.
tanpa dia tahu bahwa sesuatu telah terjadi dan Aldo sama sekali tidak mendengar kabar tentang hal itu, bahkan hal yang begitu buruk akan segera menghampiri dia karena kedatangan dia ke desa ini hanya akan mengungkap apa yang telah terjadi kepada Airin yang telah lama menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Demam tinggi
"Kenapa dia sampai siang begini belum juga bangun?" Pak Bujang bertanya kepada sang istri tentang anak sulung dia.
"Tadi malam Abang pulang hampir shubuh, pasti sekarang dia masih mengantuk." Ican yang menjawab pertanyaan Pak Bujang.
"Alah pasti dia itu keluyuran lagi dan masuk klub malam sehingga pulang subuh seperti itu, mau sampai kapan anak itu akan terus menjadi anak tidak berguna!" Pak Bujang pagi-pagi begini sudah emosi.
"Ayah jangan terlalu menyudutkan Abang seperti itu." Ican kadang masih kasihan juga dengan Fitra.
"Kau jangan sampai mencontoh dia karena aku tidak mau anak yang ada di dalam rumah ini menjadi gagal semua!" Pak Bujang memberi peringatan keras.
Ican yang melihat keadaan sudah tidak kondusif seperti itu maka Dia memutuskan untuk diam saja dan memilih untuk makan siang, padahal pemuda ini sama seperti Aldo. Dia jarang pulang ke rumah karena sibuk merantau ke kota untuk mencari nafkah, memang anak kedua dari Pak Bujang ini sungguh berbeda karena dia mau bekerja keras.
Sangat jauh bila dibandingkan dengan Fitra yang tidak tahu apa-apa dan hanya mengandalkan uang orang tua, itu dia gunakan untuk hal yang tidak perlu karena pekerjaan dia hanya memakai barang haram dan akan terus seperti itu entah sampai kapan semua akan berakhir.
Orang tua juga sudah berulang kali untuk mengatakan agar dia segera insaf agar bisa kembali ke jalan yang benar dan bekerja seperti Ican ini, namun dia tidak mau dan tetap kembali ke arah itu, Pak Bujang juga mengatakan tidak masalah bila dia memang tidak bisa lepas dari barang haram itu namun setidaknya masih harus di selingi dengan kerja juga.
Ini sabu tidak pernah bisa lepas tapi ketika bekerja Dia sangat malas sehingga mau tidak mau uang itu harus dia dapatkan dari orang tua juga, memang kadang Bu indah yang merasa tidak tega ketika Fitra sudah merasa suges dan ingin mendapatkan barang tersebut sehingga mau tidak mau orang tua ini memberikan anak tersebut uang juga.
Bu indah masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan anak sulung dia yang sampai jam segini belum juga bangun, memang biasanya pemuda itu selalu seperti ini namun karena keadaan sedang panas maka Bu indah memutuskan untuk membangunkan saja agar Pak Bujang tidak semakin menyala.
"Fit, bangun sudah siang." Bu Indah mengguncang tubuh sang anak.
Namun Fitra sama sekali tidak menimbulkan reaksi sehingga Bu Indah harus menelan kesabaran yang begitu besar bila berbicara dengan Fitra ini, kalau orang yang emosian maka tidak akan bisa berbicara dengan dia, nanti yang ada mereka akan sama-sama emosi dan bertengkar satu sama lain.
"Fit bangun lah, Ayah sudah marah terus itu karena kau bangun siang seperti ini." Bu Indah memegang tubuh sang anak.
"Astaga Kenapa kau panas sekali seperti ini?!" Bu Indah kaget bukan main.
"Kau demam ya!"
Meski dia sering kesal dengan kelakuan Fitra namun tetap saja sebagai seorang ibu Dia merasakan rasa cemas juga ketika melihat keadaan anak seperti ini, terlebih lagi kemungkinan dia tidak bisa bangun pagi karena sedang tidak enak badan, maka Bu Indah segera keluar dari kamar untuk mencari obat penurun panas yang ada di dalam laci.
"Abang kenapa, Bu?" Ican bertanya sambil mengunyah ayam goreng.
"Dia sepertinya sedang demam sehingga butuh obat itu." Bu Indah menjawab serius.
"Biarkan mau demam atau mau mati karena aku juga tidak peduli lagi dengan dia!" Pak Bujang berkata dengan sangat lantang.
"Ayah jangan terlalu keras seperti itu, mungkin Abang memang sedang demam sekarang." Ican berusaha untuk membujuk.
"Aku kehilangan anak seperti dia juga tidak masalah karena selama ini hanya membuat beban yang ada di pundakku semakin berat saja." ketus Pak Bujang.
"Pak, mau bagaimana juga Dia adalah anak kita dan masih menjadi tanggung jawab kita." Bu Indah akhirnya tidak kuat juga mendengar ucapan dari sang suami.
"Selama ini kau terus saja membela dia dan sekarang nikmati hasil perbuatan dari Fitra ini." bentak Pak Bujang.
Praaaaaaang.
Satu piring melayang karena Pak Bujang membanting dengan sangat keras dan dia segera berlalu pergi dari dalam rumah itu agar pertengkaran tidak semakin berlanjut saja, mereka sudah sering bertengkar hanya karena masalah Fitra ini karena sering berbeda pendapat dengan sang istri, Bu Indah terus membela Putra sulung dia walau terkadang kesannya memang salah namun tetap saja sebagai seorang ibu dia tidak tega bila harus menelantarkan sang anak begitu saja tanpa memberi perhatian.
"Apa keadaan Abang sangat parah, Bu?" Ican tetap saja perhatian.
"Panas badan dia, mungkin tadi malam dia salah makan sesuatu atau makan apalah gitu." Bu Indah juga bingung dengan sang anak.
"Ayo kita lihat terlebih dahulu karena kalau parah bawa saja ke klinik untuk pengobatan." Ican ikut masuk ke dalam kamar.
Fitra yang ada di dalam kamar itu sudah terlentang dan dia merintih kesakitan karena merasakan pada bagian dada sangat panas, mata Bu Indah dan juga putra kedua dia terbelalak tidak percaya setelah melihat luka yang sangat parah di dada milik Fitra saat ini, terlihat itu sangat memanjang serta menimbulkan aroma amis.
Selamat malam Besti, jangan lupa like dan komentar kalian buat cerita author ya.
GK JD member kah