NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Bayangan di Balik Pintu

Hujan turun tanpa ampun sejak lepas asar, membawa hawa pekat yang menggelayuti seluruh penjuru Kota Valerika.

Butiran air yang deras menghantam dan membasahi dinding kaca raksasa penthouse The Obsidian, menciptakan garis-garis panjang vertikal yang mendistorsi pemandangan di luar.

Cahaya lampu dari gedung pencakar langit dan jalanan protokol yang biasanya megah kini meleleh, memantulkan ribuan pecahan warna yang kabur dan pudar di atas permukaan kaca yang basah.

Di lantai tertinggi gedung eksklusif itu, suasana di dalam tempat tinggal Adrian dan Alea terasa jauh lebih dingin dan mencekam daripada cuaca buruk di luar.

Keheningan yang ada bukan lagi bentuk kenyamanan, melainkan manifestasi dari ketegangan yang melelahkan.

Sudah tiga hari berlalu sejak insiden surat misterius yang ditemukan di atas meja ruang kerja Alea.

Tiga hari yang sunyi, penuh kecurigaan, dan cukup untuk membuat keduanya menyadari satu hal krusial: mereka tidak lagi sekadar menghadapi konflik internal keluarga besar atau tekanan dari pernikahan kontrak yang dipaksakan.

Ini bukan lagi tentang perebutan pengaruh di dewan direksi atau pembagian aset merger.

Seseorang di luar sana sebuah kekuatan tak kasatmata benar-benar sedang bermain-main dengan hidup mereka.

Menjadikan privasi mereka sebagai panggung hiburan, dan sialnya, orang itu selalu berada selangkah di depan.

Adrian berdiri terpaku di depan jendela ruang kerjanya yang luas.

Tangan kirinya memegang erat sepasang cangkir porselen berisi kopi hitam yang sudah mendingin sejak dua jam lalu, membiarkan kehangatannya menguap sia-sia.

Pandangan matanya yang lelah namun tajam tertuju lurus ke layar monitor sekunder berukuran besar di samping meja kerjanya.

Layar itu menampilkan hasil investigasi digital yang ia lakukan bersama tim forensik siber independen selama tujuh puluh dua jam terakhir.

Hasilnya tetap sama. Kosong. Nil.

Tidak ada jejak log yang tertinggal.

Tidak ada alamat IP yang bisa dilacak balik.

Tidak ada transaksi keuangan mencurigakan di jaringan perbankan bayangan.

Tidak ada aktivitas peretas yang terdeteksi di firewall perimeter The Obsidian.

Bahkan tidak ada nama alias yang biasa digunakan oleh para pemain di pasar gelap informasi. Semuanya bersih.

Terlalu bersih untuk ukuran operasi spionase sekrusial ini.

Adrian menatap layar itu dengan rahang yang mengeras hingga otot-otot di sekitar wajahnya menegang.

"Mustahil..." Ia bergumam pelan pada dirinya sendiri, suaranya parau.

Dalam dunia digital yang ia pahami, tidak ada sistem yang benar-benar sempurna.

Setiap ketukan kibor, setiap transmisi data, pasti meninggalkan jejak biner sekecil apa pun itu.

Bahkan peretas tingkat negara atau kolektif siber terbaik di dunia sekalipun pasti menyisakan anomali kecil yang bisa diendus oleh analis berpengalaman.

Namun, pihak yang sedang mengganggu hidup mereka saat ini seolah-olah tidak pernah benar-benar ada di dunia nyata.

Seakan seluruh rangkaian teror, pemadaman listrik, dan surat-surat itu hanyalah manifestasi bayangan.

Padahal dampaknya sangat nyata. Dan sangat merusak ketenangan mereka.

Sebuah ketukan pelan di pintu memecah keheningan yang menyiksa itu. Adrian menoleh perlahan, menaruh cangkir kopinya yang terbengkalai ke atas meja kerja.

"Aku masuk," suara Alea terdengar dari balik daun pintu kayu ek yang tebal.

Tanpa menunggu jawaban atau izin dari Adrian, wanita itu mendorong pintu hingga terbuka.

Ia berjalan masuk sambil mendekap sebuah map kulit tebal berwarna abu-abu di dadanya.

Wajah Alea tampak sangat lelah; gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan bahkan oleh riasan tipisnya.

Lingkaran hitam samar di bawah matanya menjadi bukti sahih bahwa wanita itu juga tidak menikmati tidur yang cukup selama beberapa malam terakhir.

"Kau menemukan sesuatu dari tim internalmu?" tanya Adrian, suaranya merendah saat melihat kondisi fisik Alea yang tampak rapuh namun tetap berusaha tegap.

Alea melangkah mendekati meja kerja, lalu meletakkan map abu-abu itu dengan sedikit sentakan yang menimbulkan bunyi deburan dokumen di atas permukaan kayu.

"Bukan sesuatu yang bagus, Adrian. Bahkan, ini membuatku mempertanyakan semua hal yang kupikir aku ketahui tentang keluargaku sendiri."

Adrian segera menarik map tersebut, membukanya dengan cekatan.

Beberapa lembar laporan forensik akuntansi dan log aktivitas server internal tercetak dengan rapi di dalamnya.

Dokumen itu menunjukkan catatan transaksi dan akses data internal dari Corisand Group.

Alis Adrian langsung berkerut dalam ketika matanya memindai baris demi baris angka dan kode otorisasi.

"Ini..." Adrian menggantung kalimatnya, tidak percaya dengan apa yang ia baca.

"Ada seseorang yang memegang hak akses administrator tingkat tinggi dan sengaja membuka kembali arsip lama perusahaan yang sudah dikarantina," kata Alea, suaranya terdengar dingin dan datar.

Adrian mempercepat ritme membaca matanya, mencari kolom waktu. "Tiga tahun lalu?"

Alea mengangguk pelan, lalu berjalan menuju sofa kulit di sudut ruangan dan mengempaskan tubuhnya di sana dengan helaan napas berat.

"Tepat tiga bulan sebelum ayahku meninggal dalam kecelakaan itu. Seseorang masuk ke dalam server inti, melewati tiga lapis enkripsi biometrik yang seharusnya hanya dimiliki oleh jajaran direksi utama."

Ruangan kerja itu mendadak dilingkupi oleh keheningan yang jauh lebih pekat daripada sebelumnya.

Tiga tahun lalu.

Periode waktu itu kembali muncul seperti sebuah ritme lagu lama yang rusak. Angka tahun itu selalu muncul dalam setiap petunjuk yang mereka dapatkan baru-baru ini.

Dalam surat ancaman di cermin, dalam potongan rekaman audio hantu George dan William, dan kini dalam dokumen audit internal perusahaan.

Semua benang merah yang mereka tarik dari arah yang berbeda selalu kembali berujung pada titik poros yang sama: kejadian tiga tahun yang lalu.

"Apa yang mereka curi dari arsip itu? Formula? Dokumen kepemilikan saham? Atau cetak biru proyek fusi?" tanya Adrian, matanya masih meneliti lembar demi lembar kertas di tangannya.

"Itu dia masalah terbesarnya, Adrian," Alea menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa, menatap langit-langit ruangan dengan pandangan kosong.

"Seseorang itu tidak mengambil apa pun. Tidak ada satu pun byte data yang diunduh atau dipindahkan ke penyimpanan eksternal."

Adrian mengangkat kepalanya dengan cepat, menatap Alea dengan kening berkerut. "Maksudmu?"

"Mereka hanya melihat," Alea menurunkan pandangannya, menatap langsung ke arah suaminya dengan mata yang memancarkan ketidakpastian yang mendalam.

"Mereka masuk ke dalam sistem, membuka dokumen-dokumen rahasia tentang kesepakatan tanah di Distrik Utara, membacanya selama beberapa jam, lalu menutupnya kembali tanpa meninggalkan jejak modifikasi atau penyalinan. Mereka memperlakukan arsip paling rahasia kita seperti sebuah buku di perpustakaan umum."

Adrian membeku di tempatnya berdiri.

Fakta baru ini terasa jauh lebih mengganggu daripada skenario pencurian data biasa.

Seorang pencuri konvensional bergerak mencari keuntungan materi; seorang peretas bayaran mencari uang tebusan atau data kompetitor untuk dijual; seorang musuh bisnis mencari kelemahan finansial untuk menghancurkan harga saham.

Tetapi seseorang yang memiliki kemampuan sebesar ini dan hanya mengamati? Meneliti setiap detail sejarah tanpa menyentuh atau merusaknya?

Itu berarti mereka tidak sedang mencari senjata untuk menyerang sekarang. Mereka sedang mempelajari anatomi korban mereka.

Mereka sedang menyusun sebuah narasi besar yang jauh lebih kompleks, dan yang paling mengerikan adalah: mereka belum selesai melakukan riset tersebut.

Malam bergerak semakin larut, merayap perlahan menembus angka-angka di jam dinding. Pukul sebelas lewat empat puluh menit dini hari.

Kompleks penthouse The Obsidian mulai tenggelam dalam kesunyian malam.

Sebagian besar lampu-lampu di koridor utama telah dimatikan secara otomatis oleh sistem rumah pintar, menyisakan pencahayaan temaram di beberapa sudut ruangan.

Sebagian besar penghuni gedung mewah itu dipastikan sudah tertidur di balik selimut mereka.

Namun, Alea masih berada di ruang keluarga yang luas.

Sebuah laptop kerja berlayar terang terbuka di atas pangkuannya, memancarkan cahaya putih yang menerangi wajahnya yang lelah.

Ia berulang kali mencoba memfokuskan pikirannya untuk membaca laporan keuangan kuartalan Corisand Group yang tertunda.

Namun, ia gagal total.

Otaknya menolak untuk bekerja sama.

Pikirannya terlalu penuh, berputar-putar di antara kepingan-kepingan teka-teki yang berserakan: tentang surat dengan tulisan tangan yang mirip dengan gaya mendiang ayahnya, tentang motif tersembunyi Julian yang tiba-tiba muncul kembali, tentang dokumen wasiat misterius yang terkunci, tentang posisi Adrian yang kini berada di sisinya, dan... tentang sebuah perasaan aneh, sebuah rasa ketergantungan yang perlahan mulai tumbuh tanpa izin di dalam hatinya yang paling dalam terhadap pria itu.

Ting.

Sebuah suara notifikasi elektronik yang pendek namun tajam tiba-tiba memecah kesunyian ruang keluarga.

Alea tersentak kecil, lamunannya buyar.

Ia menoleh ke arah laptop di pangkuannya. Sepi, tidak ada jendela obrolan baru.

Ia memeriksa ponsel pribadinya yang terletak di samping paha. Layarnya gelap, tidak ada lampu indikator yang berkedip.

Suara itu ternyata berasal dari sebuah tablet digital yang terletak di atas meja kaca panjang di tengah ruangan.

Tablet milik Adrian.

Perangkat kerja yang seharusnya berada di dalam ruang kerja pria itu, namun tampaknya tertinggal saat Adrian pergi ke dapur untuk mengambil air beberapa menit lalu.

Alea meletakkan laptopnya ke sofa, lalu berdiri perlahan.

Langkah kakinya yang tanpa alas terasa dingin saat menyentuh lantai marmer ketika ia mendekati meja kaca tersebut.

Layar tablet itu mendadak menyala sendiri, memancarkan pendaran cahaya yang cukup terang di tengah kegelapan ruang keluarga. Sebuah jendela pesan pop-up muncul di tengah layar.

Pengirimnya adalah nomor yang tidak dikenal. Tidak ada nama yang terdaftar di kontak. Tidak ada enkripsi ID. Hanya ada satu kalimat pendek dengan jenis huruf sans-serif yang kaku:

"Jangan buka pintu."

Alea membeku di tempatnya berdiri.

Seluruh otot di tubuhnya mendadak kaku, dan ia bisa merasakan detak jantungnya melonjak drastis dalam satu detukan hebat.

Apa maksud dari pesan ini? Apakah ini bentuk gertakan baru?

Belum sempat otaknya memproses informasi tersebut atau mencari rasionalitas di balik kata-kata itu—

DING DONG.

Suara bel apartemen berbunyi. Satu kali. Nada suaranya panjang, berat, dan menggema dengan gaung yang tidak menyenangkan di seluruh sudut langit-langit penthouse yang tinggi.

Tubuh Alea langsung menegang sempurna.

Bulu kuduk di lengkannya berdiri.

Matanya perlahan beralih, menatap lurus ke arah pintu kayu ganda berukuran raksasa yang menjadi gerbang utama masuk ke dalam penthouse mereka.

Jantungnya kini berdebar semakin keras, menimbulkan suara bising yang mendominasi indra pendengarannya sendiri.

DING DONG.

Bel kembali berbunyi untuk kedua kalinya. Kali ini nadanya ditekan lebih lama, memberikan kesan urgensi yang memaksa dari luar sana.

Alea dengan panik segera meraih ponselnya di sofa dengan tangan yang sedikit gemetar, berniat untuk langsung menghubungi Adrian yang berada di bagian lain rumah.

Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh tombol panggilan cepat—

Pintu ruang kerja di ujung koridor terbuka dengan sentakan cepat.

Adrian keluar dari sana dengan langkah-langkah lebar yang tergesa-gesa.

Wajah pria itu tampak sangat tegang, dan di tangan kanannya, ponsel pribadinya sendiri sedang menyala, menampilkan antarmuka yang sama.

Tatapan mereka bertemu di tengah ruangan yang remang-remang.

"Aku juga baru saja mendapatkan pesan yang sama di ponselku," kata Adrian singkat, suaranya rendah namun penuh dengan kewaspadaan tingkat tinggi.

Alea tidak menjawab, ia hanya mengangkat tablet Adrian dan menunjukkan layar yang masih menampilkan kalimat peringatan tersebut.

Adrian mengangguk sekali, mengonfirmasi bahwa pesan teks yang ia terima memiliki susunan karakter dan tanda baca yang identik.

DING DONG.

Bel pintu utama kembali berbunyi untuk ketiga kalinya.

Namun kali ini, suara mekanis bel tersebut diikuti oleh suara ketukan fisik pada permukaan kayu pintu yang tebal.

Tok. Tok. Tok.

Ketukan itu terdengar sangat pelan, namun dilakukan dengan ritme yang sangat teratur dan konstan.

Bukan ketukan panik dari seseorang yang membutuhkan pertolongan, melainkan ketukan kalkulatif dari seseorang yang tahu dengan pasti bahwa ada penghuni di dalam rumah yang sedang mengawasi mereka dengan rasa takut.

Adrian bergerak tanpa suara, melangkah cepat menuju panel kendali keamanan digital yang tertanam di dinding dekat koridor pintu masuk.

Alea mengikuti dari belakang, menjaga jarak aman namun tetap ingin melihat apa yang terjadi.

Adrian menyentuh layar panel, memasukkan kode bypass cepat untuk mengakses jaringan kamera pengawas CCTV luar yang mengarah langsung ke koridor depan pintu utama.

Layar panel berukuran sepuluh inci itu berkedip, menampilkan umpan video langsung beresolusi tinggi dengan mode penglihatan malam.

Namun, gambar yang muncul di layar membuat mereka berdua terdiam seribu bahasa, terpaku dalam kebingungan yang absolut.

Koridor di luar sana kosong melompong.

Tidak ada seorang pun manusia yang berdiri di depan pintu. Karpet merah koridor yang panjang tampak sepi di bawah sorotan lampu dinding gedung. Tidak ada tanda-tanda kehadiran fisik.

DING DONG.

Bel kembali berbunyi tepat saat mata mereka sedang menatap layar monitor yang menampilkan area depan pintu yang tak berpenghuni. Alea bisa merasakan hawa dingin yang luar biasa merambat naik dari telapak kakinya hingga ke tengkuknya.

"Mustahil..." bisik Alea, suaranya bergetar hebat.

Tangannya secara tidak sadar mencengkeram lengan kemeja Adrian, mencari pegangan di tengah situasi yang tidak masuk akal ini.

Adrian tidak merespons cengkeraman itu, fokusnya sepenuhnya tersedot oleh monitor.

Jari-jarinya bergerak cepat di atas layar sentuh, mengubah sudut pandang kamera pengawas ke arah sudut melebar (wide-angle) dan memperbesar gambar pada area tombol bel fisik.

Tetap kosong. Tidak ada manusia di sana.

Tidak ada bayangan tubuh yang bersembunyi di sudut mati kamera.

Tidak ada tali, tidak ada perangkat mekanis eksternal yang ditempelkan pada tombol bel. Semuanya tampak normal secara visual.

Namun, suara bel itu terus berbunyi dengan interval yang semakin rapat dan tidak beraturan.

DING DONG. DING DONG. DING DONG.

Suara itu terus meneror pendengaran mereka selama hampir tiga puluh detik penuh, memicu adrenalin di dalam tubuh mereka hingga batas tertinggi. Dan kemudian...

Mendadak semuanya berhenti. Senyap.

Keheningan yang pekat kembali jatuh menguasai penthouse.

Begitu sunyi hingga satu-satunya suara yang tersisa hanyalah deru angin malam dan rintik hujan yang masih terus memukuli dinding kaca luar The Obsidian dengan ritme yang monoton.

Alea dan Adrian saling berpandangan dalam kegelapan yang parsial.

Napas mereka memburu, dan tidak ada satu pun dari mereka yang berani bergerak atau menurunkan kewaspadaan selama beberapa detik yang terasa berjalan sangat lambat.

Mereka menunggu hantaman berikutnya.

Kemudian—

Layar panel keamanan digital di dinding itu mendadak berkedip dengan tidak stabil.

Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Umpan video langsung dari koridor luar terputus, digantikan oleh distorsi statis garis-garis hitam putih. Detik berikutnya, layar itu kembali stabil, namun tidak lagi menampilkan area koridor gedung.

Sistem keamanan mereka tampaknya telah diretas secara total dari jarak jauh, dipaksa untuk menampilkan sebuah gambar file digital baru.

Itu adalah sebuah foto lama dengan nada warna sepia yang mulai pudar di beberapa bagian sebuah foto fisik yang tampaknya telah dipindai ke dalam format digital beresolusi tinggi.

Foto yang belum pernah dilihat oleh Adrian maupun Alea di dalam arsip keluarga mereka sebelumnya.

Di dalam foto tersebut, latar belakangnya tampak seperti sebuah taman belakang kastelat tua yang mewah dengan gaya arsitektur kolonial. Di bagian tengah gambar, terdapat dua orang pria tua berwibawa yang sedang berdiri berdampingan sambil berjabat tangan erat ke arah kamera.

Mereka tersenyum lebar, memancarkan aura kesuksesan dan persahabatan yang kuat.

George Corisand. Dan William Hutama. Kedua kakek mereka semasa masih berada di puncak kejayaan finansial mereka.

Namun, bukan figur kedua pria tua itu yang membuat pasokan udara di paru-paru Alea mendadak terasa habis.

Fokus mata mereka berdua langsung terseret ke bagian bawah foto, sedikit ke arah latar belakang di dekat air mancur batu.

Di sana berdiri dua anak kecil yang usianya mungkin baru menginjak sekitar lima atau enam tahun.

Seorang bocah laki-laki berpakaian kemeja rajut rapi, dan seorang gadis kecil dengan gaun terusan putih dan rambut yang dikucir dua.

Kedua anak kecil itu tampak sedang berada dalam momen pertengkaran kecil yang kekanak-kanakan, saling menarik dan memperebutkan sebuah mainan robot kayu tua di antara mereka.

Alea membelalakkan matanya yang mulai berkaca-kaca karena syok.

"Itu... tidak mungkin... itu aku?" Suaranya tercekat. Ia mengenali tanda lahir kecil di pergelangan tangan anak perempuan di foto itu, serta gaun yang pernah ia lihat di album foto masa kecilnya yang telah terbakar.

Adrian menatap layar tanpa berkedip satu kali pun, rahangnya semakin mengunci rapat.

Bocah laki-laki di foto itu... memiliki struktur wajah dan bekas luka kecil di dekat alis yang sangat ia kenal setiap kali ia bercermin.

Itu dirinya sendiri.

Foto itu diambil hampir dua puluh tahun yang lalu di suatu tempat yang tidak mereka ingat.

Saat mereka masih anak-anak.

Saat dunia mereka belum hancur oleh intrik bisnis orang tua mereka. Saat mereka bahkan belum memiliki ingatan yang utuh tentang konsep korporasi.

Selama ini, baik Raymond maupun Eleanor selalu mengatakan kepada mereka bahwa perjodohan ini adalah pertemuan pertama di antara kedua cucu keluarga penguasa Valerika.

Mereka dibesarkan di lingkungan yang terisolasi satu sama lain, di sekolahkan di benua yang berbeda, dan baru diperkenalkan secara resmi dalam acara pertunangan bisnis beberapa bulan lalu.

Mereka mengira mereka adalah dua orang asing yang tidak sengaja disatukan oleh selembar kertas kontrak.

Namun foto ini menghancurkan seluruh narasi tersebut.

Lalu, sebuah baris tulisan perlahan muncul di bagian bawah foto digital tersebut.

Huruf demi huruf muncul satu per satu dengan efek ketikan mesin tik yang dinamis, seolah-olah ada seseorang di ujung jaringan sana yang sedang mengetik kalimat tersebut secara langsung pada detik ini juga untuk mereka baca.

"Kalian pernah bertemu jauh sebelum pernikahan ini dimulai. Dan kalian telah melupakan janji yang kalian buat sendiri."

Alea menahan napasnya, tangannya menutup mulutnya sendiri untuk menahan pekikan tak percaya yang hampir lolos.

Adrian memejamkan matanya sesaat, mencoba meredam badai informasi yang mendadak menghantam sirkuit logikanya hingga ke titik nadir.

Dan tepat ketika karakter tanda titik di akhir kalimat itu selesai muncul di layar—

Zzzzzt.

Layar panel keamanan itu mati total.

Gelap gulita. Seluruh sistem rumah pintar di koridor itu mendadak kehilangan daya selama dua detik sebelum akhirnya kembali menyala dan menampilkan layar siaran langsung koridor luar yang kosong kembali.

Seolah-olah seluruh kejadian mistis, bel yang berbunyi, dan foto lama yang baru saja mereka saksikan tidak lebih dari sekadar halusinasi kolektif malam hari.

Namun, atmosfer di dalam penthouse telah berubah secara permanen.

Rasa takut yang sempat mendominasi kini perlahan-lahan menguap, digantikan oleh rasa penasaran yang membakar dan dingin yang aneh.

Untuk pertama kalinya sejak semua permainan teror psikologis ini dimulai di The Obsidian... mereka tidak lagi mendapatkan sebuah ancaman kematian.

Mereka tidak mendapatkan sabotase fisik yang merugikan operasional bisnis mereka.

Mereka tidak menerima surat intimidasi yang menyuruh mereka mundur dari proses merger.

Melainkan sebuah petunjuk nyata dari masa lalu.

Sebuah fakta objektif yang membuktikan bahwa sejarah masa kecil mereka jauh lebih rumit, jauh lebih terikat, dan penuh dengan rahasia yang sengaja disembunyikan oleh orang-orang tua mereka daripada apa yang selama ini mereka bayangkan dalam dokumen keluarga.

Seseorang di luar sana, siapa pun dia tidak sedang berusaha menghancurkan mereka dengan senjata fisik.

Orang itu sedang berusaha memaksa mereka untuk mengingat kembali sesuatu yang telah lama dikubur dalam-dalam di bawah tanah Valerika.

Sesuatu yang mungkin menjadi satu-satunya kunci untuk membuka seluruh kotak pandora misteri pembunuhan, sabotase, dan konspirasi merger ini.

Sementara hujan di luar masih terus turun dengan lebat, membasahi bumi Valerika menuju dini hari, Adrian dan Alea tetap berdiri diam membisu di depan layar panel yang kini kembali menampilkan koridor sepi.

Jarak di antara tubuh mereka kini terasa lebih dekat, seolah-olah beban rahasia baru ini terlalu berat untuk dipikul sendirian.

Tak satu pun dari dua pewaris muda itu yang menyadari bahwa di tempat lain, jauh di sudut tergelap kota yang tidak terjangkau oleh radar hukum apa pun, sepasang mata di balik tudung hitam sedang memperhatikan pantulan aktivitas mereka melalui layar monitor sekunder dengan ekspresi kepuasan yang mendalam.

Tangan orang itu perlahan menurunkan sebuah tuas elektronik kecil, memutuskan sambungan peretasan pada server The Obsidian dengan gerakan yang sangat anggun.

Karena akhirnya... setelah bertahun-tahun merencanakan di dalam kesunyian, pintu gerbang menuju rahasia terbesar dari dinasti Hutama dan Corisand telah berhasil dibuka sedikit demi sedikit oleh bidak-bidak yang ia giring.

Dan badai yang sesungguhnya kini telah resmi mendapatkan jalurnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!