Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Jangan Kayak Bakul Berlubang Isinya Banyak tapi Habis Tanpa Jejak
Pagi itu kabut masih menggantung di pucuk pohon kelapa, membuat pandangan hanya sejauh 300 meter saja. Belum sampai matahari naik setinggi tiang bendera, Faris Hidayat sudah berdiri menyandarkan bahunya di tiang bengkel, rokok Gajah Baru Kertek tergantung santai di bibirnya. Tiba‑tiba dari arah jalan raya terdengar suara mendekat yang bikin telinga terasa berdenyut: greng‑breng‑brumm‑kret, keras sampai daun jendela bergoyang, tapi baru melewati jarak 200 meter suaranya sudah berubah jadi lemah kayak orang habis teriak seharian.
Begitu motor itu berhenti tergopoh‑gopoh di depan halaman, Faris Hidayat melirik sekilas lalu menyapa dengan gaya sengklek dan nyeleneh khasnya:
“Wah… ini bawa mesin atau bawa bakul yang dasarnya bolong? Isinya terlihat penuh, tapi setiap melaju sedikit langsung bocor kemana‑mana! Suaranya meledak di depan hidung kayak petasan malam lebaran, tapi baru sampai 300 meter sudah lemas kayak kerbau yang ditarik melewati rawa berlumpur!”
Tanpa banyak tanya, ia melangkah ke GL Herk warna merah muda, memutar kunci kontak pelan: dang… dang… gor‑gor…, suaranya keluar teratur seperti air mengalir lewat selokan yang rapi, makin jauh makin terasa mantap sampai ke ujung jalan 500 meter, nadanya tidak berubah sedikit pun.
Ini namanya punya isi yang tertampung rapi, keluarnya pas waktunya,” lanjut Faris Hidayat sambil menepuk tangki bensin perlahan. “Kalau disetel sembarangan, ibaratnya kamu pakai bakul yang lubangnya banyak: dituang penuh di atas, tapi yang sampai ke bawah cuma sedikit, sisanya tumpah ke tanah hilang percuma. Begitu juga mesin ini — bensin dibanjiri banyak‑banyak, tapi tidak terbakar sempurna, jadinya keluar lewat asap dan suara keras saja, tenaganya nyaris tidak ada yang tersimpan buat jalan jauh.”
Pemuda pemilik motor itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mukanya bingung setengah percaya. “Bang Faris Hidayat… saya dengar kata orang makin banyak bensin makin kencang larinya, kok punya saya malah cepat habis dan cepat panas?”
Faris Hidayat menyeringai sedikit, lalu menggerakkan tangannya menggambarkan sesuatu yang lucu tapi kena sasaran:
Kamu percaya omongan itu? Itu sama kayak bilang makin banyak beras dimasukkan ke dalam panci yang tidak ada tutupnya, makin cepat matang — padahal ujung‑ujungnya berasnya meluap keluar, apinya jadi padam, dan yang tertinggal cuma nasi gosong yang tidak enak dimakan! Lihat sini saya buka sedikit biar kamu lihat lubang bolongnya di mana.”
Ia memberi isyarat pada Guntur membuka tutup kepala silinder dan karburator, sementara Ali memegang lampu supaya terang bagian dalamnya. Jari‑jarinya yang kasar tapi teliti menunjuk ke celah klep yang terlalu lebar dan saluran udara yang tidak pas ukurannya.
Lihat deh ini… celahnya dibesarkan kayak pintu kandang yang palangnya hilang. Kompresinya bocor ke mana‑mana, jadinya tenaga yang sudah dibentuk tadi melar keluar lewat celah itu, tidak ada yang tertahan buat mendorong jalan. Hasilnya cuma suara greng‑breng yang menggelegar sebentar, tapi baru sampai 350 meter sudah terasa berat kayak menarik gerobak penuh batu. Kalau kita atur rapat pelan‑pelan sampai suaranya berubah jadi dang‑dang… gor‑gor…, itu tandanya tidak ada yang bocor — tenaganya tertampung rapi, keluar merata, sampai 500 meter pun masih lari enteng kayak angin lewat pematang sawah!”
Sambil menyetel ulang perlahan, Faris Hidayat terus bicara dengan gaya yang makin nyeleneh tapi makin terasa masuk akal:
Jangan kira mesin ini barang yang bisa dibohongi — dia lebih jujur dari orang yang banyak bicara tapi sedikit bukti. Kalau suaranya teratur dang‑dang‑gor‑gor sampai jauh, berarti isinya utuh, tidak ada yang terbuang percuma. Kalau suaranya berubah‑ubah kret‑breng‑dang, berarti ada bagian yang bolong — sama kayak orang yang janji banyak tapi tidak ditepati: awalnya terlihat meyakinkan, lama‑lama ketahuan cuma omongan kosong yang habis tidak berbekas.”
Setelah selesai disetel dan diperiksa ulang berkali‑kali, Faris Hidayat memutar gas dari putaran rendah sampai penuh: dang… dang… gor‑gor‑gor…, naiknya bertahap, tidak melonjak mendadak, asapnya tipis dan terang, getarannya halus saja.
Coba sekarang lari sampai ujung jalan 500 meter, jangan dipaksa gas penuh dari awal — biarkan dia bekerja mengikuti iramanya sendiri,” perintahnya santai.
Pemuda itu menuruti, meluncur perlahan keluar halaman. Suara yang tadinya berantakan kini berubah teratur, makin jauh makin terasa mantap, sampai di ujung jalan pun masih terdengar jelas dan bulat tanpa pecah. Saat kembali lagi, matanya melotot takjub sampai terlihat gigi depannya:
Wah… bedanya jauh sekali Bang Faris Hidayat! Sekarang tarikannya halus, tidak terasa panas mesinnya, bensinnya juga tidak boros lagi — sampai ujung jalan suaranya masih sama enaknya, nggak kayak tadi yang terasa mau meledak tapi tidak ada tenaganya!”
Belum sempat mereka selesai berbicara, datang lagi Bima naik motor temannya yang suaranya aneh kayak kaleng bekas yang digelindingkan di jalan berbatu: kret‑greng‑dang‑breng, getarannya sampai terasa di tanah tempat mereka berdiri. Begitu berhenti, ia langsung melapor dengan wajah malu‑malu tapi ingin tahu:
Bang Faris Hidayat… ini motor temen saya, katanya sudah disetel dua kali tapi makin lama makin terasa kosong, sampai 300 meter sudah harus menginjak gas lebih dalam lagi. Salahnya di mana kira‑kira?”
Faris Hidayat melirik sekilas, lalu menyahut cepat dengan nada sengklek yang bikin semua orang di bengkel tertawa:
Salahnya jelas sekali! Disetel sama orang yang pikirannya kayak bakul anyaman yang lubangnya besar — isinya terlihat penuh dari atas, tapi setiap diangkat sedikit langsung tumpah keluar! Lihat saja celah klepnya, sudah dibesarkan sampai bisa dimasukkan jari kelingking — kompresinya hilang kemana‑mana, jadinya tenaganya keluar lewat celah itu bukan buat mendorong roda!”
Ia mulai mengatur ulang posisi klep dengan pengukur ukuran yang pas, menyetel campuran bensin dan udara sampai menemukan titik yang tepat, sambil terus mengajari Guntur, Ali, dan Bima dengan bahasa yang sederhana tapi penuh perumpamaan nyeleneh:
Ingat baik‑baik rumus ini supaya tidak lupa kayak orang lupa jalan pulang: **Kalau suaranya dang‑dang berarti rapat dan tidak bocor, kalau suaranya gor‑gor berarti terbakar sempurna dan tenaganya keluar pas. Kalau berubah jadi kret‑breng, berarti ada yang bolong — sama kayak bakul yang rusak: kamu menuang banyak‑banyak dari atas, tapi yang sampai ke bawah cuma sedikit, sisanya hilang percuma ke tanah!”
Setelah selesai diperiksa dua kali, dicoba putaran mesinnya lagi: dang… dang… gor‑gor…, iramanya kembali teratur, mantap, dan jelas sampai ke ujung halaman tanpa terputus.
Faris Hidayat berdiri tegak, mengelap tangannya dengan kain lap bekas yang sudah bersih, lalu bicara tegas namun tetap dengan gaya sengklek yang jadi ciri khasnya:
Jadi intinya begini… baik nyetel mesin maupun mengatur hidup, jangan mau yang terlihat penuh dari luar saja. Cek dulu apakah dasarnya rapat, apakah tidak ada celah yang membuat isinya bocor keluar. Kalau sudah rapat dan teratur, keluarnya akan terasa sampai jauh — sampai jarak 500 meter, sampai ke hari‑hari yang akan datang, sampai ke orang‑orang yang kita bantu. Kalau cuma mengandalkan banyaknya isi tapi tidak rapat wadahnya, ujung‑ujungnya cuma habis tanpa bekas, seperti suara keras yang hanya terdengar sesaat lalu hilang terbawa angin.”
Di sudut bengkel, GL Herk warna merah muda berdiri tenang seolah mengangguk setuju, siap kapan saja membuktikan iramanya yang tidak pernah berubah, tidak pernah bocor, dan tidak pernah membuat isinya terbuang percuma ke mana‑mana.