Lin Xiurong dahulu adalah putri manusia yang mati secara tragis karena dibunuh oleh kekasihnya sendiri, Yao Tian, akibat fitnah dan permainan takdir. Kebencian, cinta, dan luka yang tidak selesai membuatnya jatuh ke Alam Bawah. Di sana, ia tidak mati, tidak hidup, dan perlahan berubah menjadi iblis terkuat.
Ribuan tahun kemudian, Lin Xiurong berhasil membunuh Raja Iblis lama dan menjadi penguasa Alam Kegelapan. Semua makhluk takut padanya, tetapi tidak ada yang tahu bahwa penguasa paling kejam itu hanya menunggu satu orang: Yao Tian.
Namun, saat Yao Tian akhirnya datang, ia tidak datang sebagai kekasih yang mengingat janji lama. Ia datang sebagai murid Kaisar Dewa yang ditugaskan untuk membunuh Lin Xiurong.
Masalahnya, Lin Xiurong masih mencintainya.
Dan Yao Tian tidak ingat bahwa perempuan yang ingin ia bunuh adalah perempuan yang pernah ia cintai sampai mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumur Janji
Jalan menuju Sumur Janji tidak terlihat seperti jalan bagi orang yang tidak membawa luka. Bagi prajurit biasa, tanah mati di barat Kota Hantu hanya hamparan batu hitam dan kabut merah yang bergerak pelan seperti napas makhluk tua. Namun, ketika Lin Xiurong melangkah bersama Yao Tian, retakan-retakan kecil muncul di bawah kaki mereka. Batu-batu itu menyusun diri membentuk tangga panjang, seolah alam bawah mengenali dua sumpah yang belum selesai dan dengan kejam mempersilakan pemiliknya kembali ke tempat mula-mula luka itu diberi nama.
Qi An berjalan paling depan, tetapi tidak benar-benar memimpin. Ia hanya memastikan tidak ada bayangan yang bergerak terlalu dekat dengan Lin Xiurong. Kotak racun di punggungnya berbunyi halus setiap kali ia melangkah. Hantu Hitam bergerak di sisi lain, setengah terlihat, setengah menjadi kabut. Song Xiaolian membawa lentera kecil berisi api biru, satu-satunya cahaya yang tidak ditelan oleh bisikan di sepanjang jalan.
Bisikan itu datang dari semua arah. Ada suara perempuan yang memohon agar kekasihnya tidak pergi. Ada suara lelaki yang bersumpah akan pulang sebelum matahari terbenam. Ada suara anak kecil yang menyebut nama ibunya berkali-kali sampai suaranya berubah menjadi angin. Sumur Janji menyimpan semua kalimat yang pernah diucapkan dengan sepenuh hati lalu dilanggar dengan mudah. Tempat itu tidak menghukum tubuh. Ia menghukum ingatan.
Yao Tian mendengar satu suara yang paling membuat langkahnya goyah. Suara itu lembut, muda, dan akrab dalam cara yang mengerikan. 'Tian-ge, jika suatu hari kau lupa padaku, aku akan memanggilmu sampai langit bosan mendengar namamu.' Ia berhenti. Lin Xiurong tidak menoleh, tetapi bahunya menegang. Ia juga mendengar suara itu. Mereka tidak membicarakannya. Ada luka yang jika diberi nama terlalu cepat akan berubah menjadi pedang.
Di depan mereka, kabut terbelah. Sumur Janji berdiri di tengah lapangan batu melingkar. Tidak ada air yang terlihat di permukaannya, hanya kegelapan pekat yang bergerak pelan seperti mata yang sedang membuka diri. Di bibir sumur, terukir ribuan nama dengan aksara kuno. Beberapa nama bercahaya. Beberapa sudah retak. Di antara semua nama itu, satu ukiran merah berdenyut pelan: Lin Xiurong dan Sheng Yao Tian.
Lin Xiurong tertawa pendek. 'Lihat. Bahkan batu tua ini masih ingat.' Yao Tian menatap ukiran itu dengan wajah pucat. Ia ingin menyangkal, tetapi nama Sheng Yao Tian adalah nama lengkap yang jarang ia pakai sejak menjadi murid Kaisar Dewa. Tidak mungkin Alam Bawah menulisnya tanpa sebab. Ia mendekat, dan begitu jarinya hampir menyentuh batu, bayangan air hitam naik dari dalam sumur membentuk cermin.
Di cermin itu, seorang gadis manusia berdiri di taman istana Ming. Ia mengenakan gaun merah muda, rambutnya dihias tusuk giok, dan senyumnya lebih hangat dari seluruh matahari yang pernah dilihat Yao Tian. Di hadapannya berdiri seorang pemuda berpakaian biru muda. Pemuda itu menggenggam tangannya dengan sungguh-sungguh. Yao Tian tahu wajah pemuda itu. Itu wajahnya sendiri, hanya lebih muda, lebih bodoh, dan belum dipatahkan oleh langit.
Di sela semua itu, perjalanan ini terus mengubah cara mereka saling membaca. Lin Xiurong belajar bahwa kekuatan tidak selalu berarti mampu menutup pintu. Kadang kekuatan justru berarti tetap berdiri ketika pintu lama terbuka dan memperlihatkan ruangan yang paling ingin dilupakan. Yao Tian belajar hal yang lebih pahit: niat baik tidak menghapus akibat buruk, dan penyesalan tidak akan berarti apa-apa jika ia hanya berhenti pada ucapan. Karena itu, setiap langkah dalam babak 31 terasa seperti pengadilan kecil yang tidak membutuhkan hakim.
Qi An menjadi orang yang paling jujur dalam kebenciannya. Ia tidak berusaha terdengar bijak, tidak memakai bahasa lembut, dan tidak berpura-pura ingin melihat sisi baik Yao Tian. Namun kesetiaannya membuat semua tindakannya dapat dimengerti, sekalipun tidak selalu dapat dibenarkan. Ia mencintai Lin Xiurong seperti seseorang yang pernah melihat rumahnya terbakar dan bersumpah akan membunuh api sebelum api menyentuh atap lagi.
Song Xiaolian, sebaliknya, menjaga ruang kecil tempat belas kasihan masih bisa bernapas. Ia tidak naif. Ia tahu Alam Bawah bukan tempat bagi hati yang terlalu lunak. Namun ia juga tahu bahwa jika mereka terus memilih kekejaman sebagai satu-satunya bahasa, Mo Yan tidak perlu lagi mengutuk siapa pun. Mereka akan menyelesaikan pekerjaannya dengan tangan sendiri.
***
Lin Xiurong tidak bergerak ketika masa lalunya muncul. Seolah-olah seluruh tubuhnya telah menjadi patung merah yang hanya bernapas karena kebiasaan lama. Namun, ujung jarinya bergetar di balik lengan jubah. Yao Tian melihat getaran kecil itu dan untuk pertama kali memahami sesuatu yang tidak tertulis dalam laporan surgawi: perempuan di hadapannya tidak menjadi iblis karena lapar kekuasaan. Ia menjadi iblis karena ada seseorang yang meninggalkannya di tempat paling gelap dengan janji yang masih menyala.
Cermin sumur berubah. Taman istana lenyap, berganti ruang pengantin yang diterangi lilin. Gadis manusia itu menangis dengan wajah yang tidak marah, hanya terlalu terluka untuk membela diri. Pemuda berseragam biru menggenggam pedang, matanya merah oleh amarah dan hasutan. Di belakang tirai, ada bayangan ketiga yang tidak sepenuhnya terlihat. Bayangan itu tersenyum sebelum menghilang.
Yao Tian merasakan telapak tangannya dingin. 'Aku membunuhmu,' ucapnya. Kata-kata itu tidak keluar sebagai pertanyaan. Lin Xiurong menatap sumur, bukan menatapnya. 'Kau menusukku. Membunuh adalah pekerjaan takdir. Kau hanya memegang gagangnya.' Jawaban itu terdengar ringan, tetapi justru karena terlalu ringan, dada Yao Tian terasa lebih sakit.
Qi An menghunus separuh pedang. 'Cukup. Sumur ini hanya menunjukkan yang ingin membuat kalian goyah.' Song Xiaolian menahan lengannya. 'Tapi jika kita tidak melihat sampai selesai, kita tidak akan tahu siapa bayangan ketiga itu.' Qi An menatapnya dengan marah, namun ia tidak membantah. Ia juga ingin tahu siapa yang membuat Lin Xiurong jatuh ke Alam Bawah. Ia ingin tahu siapa yang pantas diracuni sampai jiwanya tidak bisa bereinkarnasi.
Suara tawa terdengar dari dalam sumur. Bukan tawa Juan Ling. Bukan tawa iblis. Suara itu halus, hampir menyenangkan, seperti seorang penyair yang baru menemukan bait terbaiknya. 'Kalian masih mencari orang ketiga?' kata suara itu. Air hitam naik lebih tinggi, membentuk wajah samar dengan mata merah keemasan. Lin Xiurong mengangkat tangan dan api phoenix menyala di telapak jarinya.
'Mo Yan,' katanya pelan. Nama itu membuat angin berhenti. Hantu Hitam mundur setengah langkah, bukan karena takut, tetapi karena mengenali jenis kebusukan yang lebih tua dari banyak klan iblis. Yao Tian mengulang nama itu dalam hati dan tiba-tiba kepalanya terasa dipukul palu tak terlihat. Ada sesuatu di dalam ingatannya yang berusaha membuka diri, tetapi segel surga menahannya kuat-kuat.
Wajah di air tersenyum. 'Aku tidak menyangka kalian datang begitu cepat. Sumur Janji biasanya memakan waktu lebih lama untuk memanggil orang-orang yang terlalu bangga mengakui kesalahannya.' Lin Xiurong menatapnya tanpa berkedip. 'Keluar dan bicara dengan tubuhmu sendiri.' Mo Yan tertawa. 'Aku tidak sebodoh Yao Tian. Aku tidak mendekati perempuan yang masih mencintaiku dengan membawa pedang tumpul.'
Lin Xiurong menyadari dua pelayannya mewakili dua sisi yang sama-sama hidup di dalam dirinya. Qi An adalah amarah yang menyelamatkannya dari diinjak. Song Xiaolian adalah kelembutan yang mencegahnya berubah menjadi Juan Ling berikutnya. Di antara keduanya, Yao Tian berdiri sebagai luka lama yang belum tahu apakah pantas menjadi jalan pulang atau hanya pengingat agar ia tidak pernah pulang ke tempat yang sama.
Malam selalu datang lebih berat setelah kebenaran dibuka. Ketika rombongan berhenti, tidak ada yang benar-benar tidur. Mereka hanya duduk di dekat api, menyimpan pikiran masing-masing, dan pura-pura tidak mendengar suara masa lalu yang bergerak di belakang punggung. Di langit, bulan merah tampak seperti mata yang belum selesai menangis. Di tanah, bayangan mereka memanjang seperti hukuman yang sabar.
Mo Yan menyebut satu rahasia yang membuat Yao Tian berhenti bernapas: segel ingatannya bukan dipasang untuk melindungi langit, melainkan untuk memastikan ia membunuh Lin Xiurong lagi.
Mereka tidak segera melangkah lebih jauh. Sumur Janji memang terbuka, tetapi pintu yang terlalu cepat menyambut tamu biasanya menyembunyikan gigi. Lin Xiurong memerintahkan rombongan berhenti di lingkar luar batu. Hantu Hitam disuruh menanam bayangan di empat penjuru, Song Xiaolian menaburkan bubuk penenang roh, sementara Qi An menggambar garis racun tipis di tanah dengan ujung pedangnya. Garis itu tidak akan membunuh Mo Yan jika sosok itu muncul, tetapi cukup untuk memberi tahu Qi An ke arah mana ia harus menikam.
Yao Tian berdiri di samping sumur dengan benang merah putus dari Dewa Percintaan menggantung di antara jemarinya. Benang itu bergetar setiap kali air hitam di dasar sumur berputar. Getarannya bukan seperti benda yang hidup, melainkan seperti luka lama yang menolak ditutup. Ia ingin bertanya kepada Lin Xiurong berapa banyak janji yang pernah mereka ucapkan di kehidupan manusia, tetapi pertanyaan itu terasa terlalu kejam untuk seorang perempuan yang sudah ribuan tahun menanggung jawaban sendirian.
"Jangan menatap sumur terlalu lama," kata Lin Xiurong tanpa menoleh.
"Kau takut aku melihat sesuatu?"
"Aku takut kau mempercayai hal pertama yang ditunjukkan kepadamu." Lin Xiurong akhirnya menatapnya. Mata merahnya tidak lembut, tetapi tidak sedingin biasanya. "Itu masalahmu sejak dulu, Yao Tian. Kau terlalu cepat percaya pada hal yang terlihat benar."
Kalimat itu lebih tajam daripada tuduhan. Yao Tian menerima luka itu tanpa membalas. Di dekat mereka, Qi An mendengus puas seolah seseorang baru saja mewakili seluruh isi hatinya. Song Xiaolian justru menunduk, sebab ia tahu kata-kata Lin Xiurong lahir dari sakit yang tidak pernah benar-benar mendapat tempat untuk beristirahat.
Dari dalam sumur, suara Mo Yan terdengar lagi. "Jika kalian ingin membuka lapisan berikutnya, jatuhkan satu tetes darah dari orang yang menunggu dan satu tetes darah dari orang yang melupakan."
Qi An langsung mengangkat pedang. "Tentu saja. Sumur ini selalu ingin darah. Kenapa tidak sekalian meminta hati?"
Lin Xiurong mengangkat tangan, menghentikannya. Ia menusuk ujung jari sendiri dengan kuku. Api merah kecil menyala di darahnya. Yao Tian mengikuti, tetapi darah surgawinya keluar sebagai cahaya pucat. Ketika dua tetes itu jatuh ke permukaan air, sumur tidak meledak. Ia justru menjadi hening. Hening yang terlalu dalam, seperti seluruh Alam Bawah sedang menahan napas.
Di permukaan air, muncul bayangan dua orang yang saling menggenggam tangan di bawah pohon plum. Gadis itu tersenyum. Pemuda itu bersumpah akan kembali sebelum bunga terakhir jatuh. Lin Xiurong tidak berkedip. Yao Tian merasa dadanya remuk perlahan.
"Itu janji pertama," bisik Lin Xiurong. "Bukan yang paling indah. Hanya yang paling bodoh."
"Kenapa bodoh?"
"Karena aku percaya."
Yao Tian tidak menemukan jawaban. Di hadapan takhta, pedang, dan darah, ia masih bisa berdiri. Di hadapan satu kalimat sederhana itu, ia merasa seperti kembali menjadi manusia yang terlambat datang ke pemakaman orang yang ia cintai.
Sumur Janji bergetar. Ukiran di bibirnya berubah menjadi kalimat baru: yang melupakan harus melihat, yang menunggu harus memilih. Lin Xiurong membaca tulisan itu dengan wajah tanpa ekspresi, tetapi Qi An melihat telapak tangannya mengepal. Bagi Qi An, itu cukup. Jika sumur meminta master-nya memilih, ia akan memastikan pilihan itu tidak dibayar sendirian.