Menjadi seorang anak yatim piatu yang ditinggalkan kedua orang tuanya karena kecelakaan, kini Ayuna Kinanti Pradipta diasuh dan dibesarkan oleh om nya, Davian Robert adik dari Ibu Ayuna.
Biasa tinggal bersama Davian, membuat perasaan Ayuna perlahan berubah, jantung Ayuna bahkan berdebar kencang saat berada di dekat Davian.
Tak bisa lagi menahan perasaannya, Ayuna pun akhirnya mengungkapkannya kepada Davian.
Lantas bagaimana tanggapan Davian saat keponakannya sendiri mengungkapkan cinta padanya?
Akankah Davian menolak perasaan Ayuna atau justru menerimanya?
Ikuti ceritanya yuk di novel berjudul You Are My Sunshine, hanya di Noveltoon!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1PM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Davian kini menatap Ana yang sedang menatap ke arah mereka.
"Kenapa?" Tanya Ana yang melihat Ello dan Davian berjongkok.
"Ah ini Kak, tadi aku habis dari dapur, aku tidak melihat jika Ello datang, jadi aku tidak sengaja menabraknya," jelas Davian.
"Sudah kamu tenang saja Om pasti akan mengganti ponsel kamu," ucap Davian menatap Ello dan mengusap rambut anak itu.
Ello segera menepis tangan Davian dan menatap tajam pria itu.
"Maafkan Om, Ello, Om benar-benar tidak sengaja," kata Davian sengaja menekan kata tidak sengaja.
"Sudah tidak apa-apa Ello, Om Davian kan sudah minta maaf," ucap Ana yang kini membantu putranya untuk berdiri.
"Oh ya Yuna mana?" Tanya Ana yang tidak melihat Ayuna.
"Oh Yuna tadi ke kamarnya, katanya mau ke kamar mandi," jawab Davian yang kini ikut berdiri.
"Om janji besok akan segera menggantinya, ucap Davian yang kini merangkul Ello menjauh dari ibunya.
Ello mencoba menyingkirkan tangan Davian dari bahunya tapi tenaga Davian lebih kuat.
"Lepas!" Ucap Ello pelan menatap Davian tajam.
"Asal kau janji tidak akan memberitahu mommy mu tentang apa yang tadi kamu lihat," ancam Davian.
"Penge*cut!" Ucap Ello dan Davian hanya mengedikan bahunya acuh.
"Hmm terserah saja sih jika kamu mau bilang, aku akan katakan kepada mommy mu jika kamu sering bermain game," ucap Davian karena setahu Davian, Ana tidak mengizinkan putranya itu bermain game.
"Lagian apa yang tadi kamu lihat, tidak seperti yang kamu pikirkan," kata Davian yang melepaskan rangkulannya dan pergi meninggalkan Ello yang menahan kesal, jika sampai mommynya tahu, dia pasti tidak diizinkan memegang laptop maupun ponselnya.
"Kenapa mukanya ditekuk seperti itu?" Tanya Ana yang ternyata sudah berdiri tepat di belakang putranya.
"Apa yang Om Davian katakan, sepertinya kamu kesal dengan ucapannya," tambahnya.
"Tidak apa-apa."
"Kamu jangan terlalu diambil hati, Om Davian memang selalu seperti itu sejak dulu," kata Ana menenangkan putranya.
"Menyebalkan," gumam Ello dan Ana hanya tersenyum, karena dia tahu persis seperti apa Davian, dan dilihat dari sifat Ello adalah kebalikan dari Davian, hingga Ana pun maklum jika putranya itu pasti kesal jika Davian sudah berbicara.
"Sudah-sudah, tapi kamu harus percaya jika Om Davian pasti akan mengganti ponselmu," ucap Ana menenangkan.
"Ya harus, gara-gara dia ponselku rusak," kata Ello.
"Kan Om Davian tadi sudah minta maaf dan bilang tidak sengaja. Lagian Om Davian juga bilang kan akan menggantinya, tapi sepertinya kamu masih dendam saja," Ana menggelengkan kepalanya dan berjalan lebih dulu, mengira jika putranya masih menyimpan dendam gara-gara Davian yang menabraknya hingga ponselnya jatuh cukup keras dan berakhir rusak, tidak tahu jika penyebab utamanya bukan karena itu.
*
*
Ayuna kini bisa bernafas lega, setelah ketiga orang itu sudah pergi. Ayuna mengintip dari balik dinding memastikan jika mereka sudah benar-benar pergi. Yuna sebenarnya tidak ke kamar tapi gadis itu tadi bersembunyi. Dan itu semua atas perintah Davian.
"Kamu tunggu disini dan jangan keluar dulu," ucap Davian begitu tadi mendengar suara Ana.
Pria itu mengambil ponsel Ello dan melemparkannya sembarang sedikit jauh dari posisi Ello berdiri saat ini.
Ello yang melihat itu hanya melotot.
"Apa yang Om lakukan?"
Bukannya menjawab pertanyaan Ello, Davian justru melangkah dan berjongkok di depan ponsel yang layar sudah retak itu.
Davian hendak mengambil ponsel Ello lagi, tapi dengan cepat bocah itu berjongkok dan mengambilnya.
"Kenapa?"
Davian kini mendengar suara Ana langsung menoleh, dan pria itu pun mengatakan pada Ana bahwa dia tidak sengaja menabrak Ello hingga ponselnya terjatuh.
Ayuna tidak menyangka, jika Davian bisa dengan cepat mencari solusi, ya walaupun Ayuna tidak tahu bagaimana kelanjutannya tadi, dia hanya berharap Ello tidak mengatakannya pada mommynya.
"Jika sampai aunty Ana tahu, aunty Ana pasti akan benar-benar mengajakku pergi, dan aku tidak mau jika jauh dari Om Davian," gumam Ayuna.
Menyebut nama Davian, Yuna memegang bibirnya, sentuhan benda kenyal tadi masih Ayuna rasakan hingga saat ini.
"Apa Om Davian benar-benar menyukaiku? Jika tidak kenapa Om Davian bisa marah? Dan tadi…, Om Davian bahkan menciumku lagi?"
Ayuna sebisa mungkin menahan diri agar tidak berteriak. Dirinya benar-benar senang, apa yang Davian lakukan tadi seperti memberinya lampu hijau.
"Aku harus cepat-cepat pergi dari sini," kata Yuna yang kembali tersadar, takut jika mungkin saja Ana akan kembali dan justru memergoki dirinya disana, tidak itu tidak boleh terjadi, jadi Ayuna harus secepatnya pergi dari sana menuju kamarnya, seperti apa yang Om Davian katakan kepada aunty Ana untuk pria itu beralasan.
"Semoga saja Ello tidak mengadu pada aunty," gumam Yuna.
Tapi tiba-tiba Yuna merasa kesal pada Ello yang datang di waktu yang tidak tepat. Seharusnya dia lebih lama menikmati ciuman pria yang dicintainya, tapi gara-gara Ello, Ayuna harus mengakhirinya. Entahlah kapan lagi, Davian akan melakukan itu, mungkin jika pria itu kembali khilaf, dan jika benar menunggu waktu itu, maka Ayuna ingin jika Davian khilaf setiap hari hingga Ayuna pun bisa tiap hari juga mendapatkan ciuman dari Davian.
Yuna dengan perlahan menaiki anak tangga-tangga, hingga pas tiba di tengah-tengah, Ayuna berbalik arah, agar dia terlihat seperti baru saja turun.
"Itu dia!" Kata Davian menunjuk Yuna, karena sedari tadi Ana terus bertanya kenapa Yuna lama dan tidak kunjung turun sampai Ana akan menyusul, tapi Davian dengan cepat mencegahnya dan kebetulan dia melihat Ayuna di tangga.
"Kenapa? Apa kalian membicarakanku?" Tanya Ayuna yang kini memilih duduk di samping Ello.
"Ini aunty Ana tanya kenapa kamu lama," ucap Davian menjawab Ayuna.
"Oh kirain apa, tadi Ayuna mulas, terus pas waktu tadi mau turun, Winda menelpon jadi Yuna angkat telepon dulu" kata Ayuna sambil memperhatikan Ello, mencari tahu dari ekspresi anak itu, kira-kira dia akan mengadu atau tidak.
"Bohong," ucap Ello tiba-tiba hingga semua mata kini menatapnya.
"Apa maksud kamu?" Tanya Ana.
"Hmm, tidak itu!" Kata Ello menunjuk tayangan televisi dengan dagunya.
"Oh, eh kenapa kamu ikut menonton?" Ana kini buru-buru memindahkan ke film anak-anak, saat tahu jika Ello ternyata ikut menonton tayangan film yang sedang ditontonnya.
Ello hanya menghela nafas, mommynya selalu memperlakukannya seperti anak kecil, yang harus terus menonton tayangan kartun.
Ayuna terus saja memperhatikan Ello, dia sebenarnya tahu kata bohong yang Ello sebutkan untuk dirinya.
"Berhenti memperhatikanku Kak," ucap Ello menatap Yuna, dia tidak suka diperhatikan seperti saat ini Yuna lakukan.
Ello kemudian menatap maminya, "Mami ada yang ingin Ello katakan," ucap Ello yang membuat jantung Yuna berdebar tidak karuan.
Apakah cinta baru akan mampu bertahan saat cinta pertama memiliki kenangan dan ruang tersendiri? Cari jawabannya di MY OWN KOREAN DRAMA
Chris McKenzie akan membawa kalian mengarungi indahnya cinta pertama dan bagaimana akhirnya dia dipertemukan dengan cinta baru. Siapa yang akhirnya dapat memenangkan aktris Korea Selatan Christina MacKenzie? Mantan bosnya atau member boyband GuBoy? Well.... kalian harus mengikuti kisahnya agar mengerti.
baru nyimak💪💪💪