NovelToon NovelToon
Menyesal Telah Selingkuh

Menyesal Telah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.

Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.

Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.

Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.

Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.

Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.

Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5_pergi yang terhalang

“Berry, bagaimana? Kapan aku bisa berangkat?” tanya Elvara dengan suara pelan yang dipenuhi kegelisahan. Wajahnya tampak cemas, alisnya bertaut, sementara tatapannya terus beralih ke arah pintu kamar.

Sejak tadi, Elvara tak bisa diam. Ia mondar-mandir di dalam kamar mewah yang terasa semakin sempit baginya.

Sesekali pandangannya melayang ke jendela besar yang menghadap taman belakang. Kedua tangannya yang dingin saling menggenggam erat, berusaha meredam debaran jantung yang terasa begitu gaduh di dalam dada.

Hari ini adalah hari penentuan.

Hari yang sudah lama ia nantikan. Hari ketika ia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan semua yang selama ini menahannya.

Berry, asisten pribadi yang selama bertahun-tahun setia mendampinginya, menatap Elvara dengan raut penuh kekhawatiran.

“Saya sudah menyiapkan semuanya, Nyonya. Mobil akan tiba dalam tiga puluh menit. Kita bisa pergi sebelum Tuan Arsenio kembali.” ucap Berry dengan nada serius. Tatapannya waspada, rahangnya menegang, seolah khawatir seseorang akan mendengar percakapan mereka.

Mendengar jawaban itu, Elvara mengembuskan napas panjang.

Namun anehnya, bukan rasa lega yang datang. Sebaliknya, dadanya justru terasa semakin sesak.

Hari yang selama ini ia tunggu akhirnya tiba.

Hari ketika ia akan meninggalkan Arsenio. Pria yang pernah menjadi pusat dunianya. Pria yang pernah ia cintai dengan seluruh hati dan jiwanya.

Namun juga pria yang telah menghancurkan kepercayaan yang ia bangun dengan susah payah.

Elvara memejamkan mata perlahan.

Kenangan demi kenangan kembali berputar di dalam kepalanya.

Dulu, Arsenio adalah sosok yang begitu hangat. Ia selalu hadir ketika Elvara membutuhkan sandaran. Pria itu melindunginya, memanjakannya, dan membuatnya merasa menjadi wanita paling berharga di dunia.

Sampai akhirnya semua berubah.

Perselingkuhan itu menjadi retakan pertama.

Lalu retakan itu berubah menjadi jurang yang semakin dalam dari hari ke hari.

Meski Arsenio terus meminta maaf, berjanji berubah, bahkan memohon kesempatan kedua, luka yang terlanjur tertanam di hati Elvara tak pernah benar-benar sembuh.

Yang lebih menyakitkan lagi, ketika Arsenio mengetahui niatnya untuk pergi, pria itu mulai menahannya dengan berbagai cara.

Ia melarang Elvara keluar rumah sendirian. Ia menugaskan para pengawal untuk mengawasi setiap gerak-geriknya.

Bahkan beberapa kali, Arsenio diam-diam membatalkan penerbangan yang telah dipesan Elvara.

Seolah-olah kebebasan wanita itu telah dirampas sedikit demi sedikit.

Karena itulah hari ini Elvara memutuskan untuk pergi diam-diam.

Pergi sebelum Arsenio pulang. Pergi sebelum pria itu kembali menggoyahkan tekadnya.

Elvara membuka mata dan menatap Berry.

Sorot matanya kini terlihat jauh lebih mantap.

“Berry, cepat. Kita pergi ke beranda sekarang juga.” kata Elvara tegas, meski kegugupan masih terlihat jelas di balik sorot matanya.

“Baik, Nyonya.” jawab Berry patuh. Ia menganggukkan kepala cepat sambil terus mengawasi keadaan sekitar dengan penuh kewaspadaan.

Mereka segera berjalan keluar kamar.

Lorong rumah yang biasanya terasa nyaman, kini terasa seperti penjara bagi Elvara.

Setiap langkah yang ia ambil dipenuhi ketegangan.

Takut ketahuan. Takut gagal. Dan yang paling menakutkan.... Takut bertemu Arsenio.

Ketika mereka tiba di beranda belakang, sebuah mobil hitam telah menunggu di luar gerbang kecil yang jarang digunakan penghuni rumah.

Senyum tipis muncul di bibir Elvara.

Akhirnya....

Tinggal beberapa langkah lagi. Beberapa langkah menuju kebebasan yang selama ini ia impikan.

Namun baru saja ia hendak melangkah maju, sebuah suara berat yang sangat dikenalnya terdengar dari belakang.

“Mau ke mana?” tanya Arsenio datar. Tatapannya tajam menusuk, sementara rahangnya mengeras menahan gejolak emosi yang nyaris meledak.

Tubuh Elvara langsung membeku. Darahnya seakan berhenti mengalir. Wajahnya perlahan memucat.

Berry bahkan refleks menundukkan kepala.

Mereka berdua mengenali suara itu.

Arsenio.

Jantung Elvara berdetak semakin kencang ketika ia perlahan membalikkan tubuh.

Di sana, Arsenio berdiri dengan jas hitam yang masih rapi.

Namun yang paling mencolok bukanlah penampilannya. Melainkan sorot mata pria itu.

Tatapan yang penuh kemarahan, kesedihan, sekaligus ketakutan kehilangan.

Pria itu ternyata pulang lebih cepat dari yang mereka perkirakan.

“Tu-Tuan...” gumam Berry lirih. Wajahnya menegang, sementara keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Namun Arsenio sama sekali tidak memedulikannya. Seluruh perhatiannya tertuju pada Elvara.

Pada koper kecil yang berada di samping wanita itu.

Dan pada kenyataan bahwa Elvara benar-benar akan pergi meninggalkannya.

“Jadi kau tetap akan pergi?” tanya Arsenio lirih. Matanya memerah, berusaha menahan rasa sakit yang perlahan menghancurkan dirinya.

Elvara menggigit bibir bawahnya. Ia memaksa dirinya tetap kuat.

“Aku sudah membuat keputusan.” jawab Elvara dingin. Matanya berkaca-kaca, tetapi sorot tekad di dalamnya tak sedikit pun goyah.

Arsenio tertawa kecil. Namun tawa itu terdengar pahit. Sangat pahit.

“Sampai sejauh ini kau masih tidak mau memberiku kesempatan?” tanya Arsenio. Senyumnya tipis, tetapi kekecewaan jelas terlihat di wajahnya.

Elvara menatap pria itu tanpa berkedip.

“Kesempatan?” ulangnya pelan. Tatapannya dipenuhi luka yang selama ini ia pendam.

“Berapa kali aku memberimu kesempatan, Arsenio?” lanjut Elvara. Senyum getir menghiasi wajahnya, sementara air mata mulai memenuhi pelupuk matanya.

Arsenio terdiam. Tidak mampu menjawab.

“Aku bertahan saat semua orang menyuruhku pergi. Aku memaafkanmu berkali-kali. Aku mencoba percaya lagi. Tapi setiap kali aku melihatmu, yang aku ingat hanyalah rasa sakit itu.” ucap Elvara lirih. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.

Arsenio mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria itu merasa begitu tidak berdaya.

Ia mampu membeli apa pun yang diinginkannya. Ia mampu mengendalikan banyak hal.

Namun ia tidak mampu mempertahankan satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai.

“Aku mencintaimu, Elvara.” ucap Arsenio dengan suara bergetar. Tatapannya penuh penyesalan, seolah memohon agar waktu dapat diputar kembali.

Air mata Elvara akhirnya mengalir semakin deras.

“Aku juga pernah sangat mencintaimu.” jawab Elvara pelan. Senyum pahit tersungging di bibirnya, sementara matanya dipenuhi kesedihan yang mendalam.

Kalimat itu menghantam Arsenio lebih keras daripada apa pun.

Pernah. Satu kata yang mengubur seluruh harapannya.

Angin sore berembus pelan di antara mereka.

Tak ada yang berbicara. Hanya suara dedaunan yang saling bergesekan, mengisi kesunyian yang terasa menyakitkan.

Lalu Arsenio melangkah mendekat.

“Kalau aku memohon padamu untuk tetap tinggal?” tanya Arsenio lirih. Matanya dipenuhi harapan terakhir yang nyaris padam.

Elvara menundukkan kepala. Air mata terus membasahi pipinya.

Namun kakinya tidak bergerak mundur. Sedikit pun tidak.

“Aku sudah terlalu lama tinggal di tempat yang membuatku terluka.” jawab Elvara tegas. Wajahnya basah oleh air mata, tetapi sorot matanya menunjukkan keberanian yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Arsenio memejamkan mata. Dadanya terasa sesak.

Kini ia mengerti. Ia telah kalah. Bukan oleh pria lain. Bukan oleh siapa pun.

Ia kalah oleh kesalahannya sendiri.

Perlahan ia membuka mata dan menatap Elvara sekali lagi. Mencoba menghafal setiap detail wajah wanita itu. Mungkin untuk terakhir kalinya.

Dengan susah payah, Arsenio menggeser tubuhnya dan memberi jalan.

“Pergilah.” ucap Arsenio pelan. Senyumnya tipis, namun matanya dipenuhi kesedihan yang begitu dalam.

Elvara terdiam.

Bahkan Berry ikut terkejut.

Arsenio tersenyum pahit.

“Aku tidak ingin menjadi alasan kau merasa terpenjara lagi.” lanjutnya. Tatapannya penuh keikhlasan yang menyakitkan, seolah sedang melepaskan separuh hidupnya sendiri.

Tangis Elvara akhirnya pecah. Namun ia tahu, keputusan ini harus diambil.

Dengan langkah berat, ia menarik koper kecilnya dan berjalan melewati Arsenio.

Begitu dekat. Namun terasa begitu jauh.

Saat keduanya berpapasan, Arsenio harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menahan diri.

Menahan keinginan memeluk Elvara. Menahan keinginan memohon sekali lagi.

Menahan keinginan untuk menghentikannya.

Namun ia tetap diam.

Membiarkan wanita itu pergi.

Membiarkan separuh hatinya ikut pergi bersama langkah-langkah tersebut.

Elvara masuk ke dalam mobil. Pintu tertutup perlahan. Mesin menyala.

Dan beberapa detik kemudian, mobil itu bergerak meninggalkan rumah besar yang selama ini menjadi saksi cinta sekaligus luka mereka.

Arsenio tetap berdiri di beranda. Memandang mobil yang semakin menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan.

Sore itu terasa luar biasa sunyi.

Rumah yang biasanya dipenuhi tawa Elvara kini terasa kosong dan dingin.

Arsenio menatap langit yang mulai berubah jingga. Lalu berbisik pelan kepada dirinya sendiri.

“Aku harap suatu hari nanti... kau menemukan kebahagiaan yang gagal kuberikan.” ucapnya lirih. Senyum pahit menghiasi wajahnya, sementara matanya yang memerah menyimpan penyesalan dan kehilangan yang tak terlukiskan.

Sementara di dalam mobil, Elvara menatap keluar jendela dengan air mata yang masih mengalir.

Ia tidak tahu seperti apa masa depannya nanti. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa bisa bernapas dengan lebih lega.

Karena hari ini, ia tidak sedang lari dari Arsenio.

Ia sedang berjalan menuju dirinya sendiri. Menuju kebebasan.

Dan menuju kesempatan untuk menyembuhkan hatinya yang telah lama terluka.

1
Anne Soraya
lanjut
Ifana
sok²an selingkuh eh ternyata punya jabatan krn istri nya
Sulati Cus
hrsnya g kaget dr awal kan udah tau, istrinya akan mencabut semuanya aneh bgt
Sulati Cus
lah kata nya semua aset di cabut trus di usir kok msh takut 🤔cerita rada nggak nyambung
Sulati Cus
kok gak nyambung udah di usir pdhl🤔msh mencintaimu tp sanggup berkhianat omong kosong👿
sunaryati jarum
Arsenio hanya akan meratapi nasibnya
sunaryati jarum
Hidup dari kekayaan istri saja belagu, selingkuh .Edgar adikmu sudah dewasa dan berumah tangga,sudah bukan tanggung jawab sepenuhnya,namun jika kamu masih merasa itu kewajiban kamu melindunginya baguslah,biar Arsenio tahu siapa yang dikhianatinya.
sunaryati jarum
Sokoor
sunaryati jarum
Kok masih di rumah Elvara
sunaryati jarum
Bukankah Arsenio sudah di usir
sunaryati jarum
Baru mampir semoga suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!