NovelToon NovelToon
Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Pengakuan Laras & Kemarahan Dimas

Air mata Laras akhirnya jatuh juga, mengalir lembut di pipinya yang sempat tersenyum tadi. Ia tidak berteriak, tidak memaki, dan tidak memaksa Bagas berubah pikiran. Ia hanya menunduk, mengusap air matanya dengan ujung jari, lalu mengangkat wajahnya kembali dengan senyum yang pahit namun tulus.

"Aku sudah menduganya..." ucap Laras pelan, suaranya terasa berat namun tenang. "Sejak awal aku sadar, hatimu itu sudah terikat pada janji yang kuat. Aku selalu berharap semoga saja suatu saat nanti kamu bisa melihatku juga, tapi ternyata takdir berkata lain."

Ia melangkah mendekat, menatap mata Bagas dengan pandangan yang jujur.

"Bagas, dengar baik-baik. Aku tidak membencimu, dan aku tidak akan membenci keputusanmu. Menolakku bukan berarti kamu jahat, tapi justru membuktikan kamu orang yang setia dan punya prinsip. Kalau kamu menerimaku hanya karena sedang jatuh, justru itu yang akan menyakitiku lebih dalam nanti. Terima kasih sudah jujur. Aku melepaskanmu dengan ikhlas, dan aku akan tetap mendukungmu sebagai teman selama kamu butuh."

Bagas merasa hatinya terasa perih mendengar keikhlasan itu. Ia mengangguk dalam-dalam.

"Terima kasih, Laras. Kau wanita yang luar biasa. Maafkan aku yang tidak bisa membalas perasaanmu. Semoga kamu menemukan laki-laki yang jauh lebih baik dan pantas untukmu."

Namun, percakapan itu didengar diam-diam oleh salah satu anak buah Dimas yang sedang mengawasi dari kejauhan. Ia segera berlari melapor, penuh semangat mengira membawa kabar yang menyenangkan.

Di ruang kerja Dimas yang mewah, anak buah itu membungkuk hormat.

"Mas Dimas! Ada kabar bagus! Tadi saya dengar jelas, Bagas menolak perasaan Nona Laras! Dia bilang tidak mau menerima cintanya, malah ingin kembali berjuang sendiri!"

Mendengar itu, Dimas tidak langsung marah. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum licik dan lega. Ia bersandar di kursi besar sambil tertawa kecil.

"Ternyata dia punya akal juga ya," gumam Dimas santai. "Padahal kalau dia mau menerima Laras, justru itu yang akan menyulitkanku. Dia akan masuk ke lingkaran keluarga mereka, dapat perlindungan, dan susah sekali aku menjatuhkannya.''

Namun, senyum itu perlahan berubah menjadi tatapan tajam dan penuh amarah yang meledak. Ia berdiri dan menggebrak meja keras sekali.

"Tapi apa maksudnya menolak dengan cara itu?! Dia hanya pendatang miskin, modalnya cuma keberanian semata! Dia pikir dia siapa sampai berani menolak Laras seolah-olah dia lebih tinggi darinya?! Dia merasa cukup hebat, cukup pandai, dan cukup berharga untuk memilih-milih? Dia jadi belagu dan sok kuat hanya karena sudah sedikit punya nama di sini?''

Dimas berjalan mondar-mandir, urat lehernya menonjol menahan rasa muak dan marah yang membara.

"Itu bukan sekadar penolakan. Dia sombong! Dia merasa tidak butuh bantuan siapa pun, merasa bisa berdiri sendiri, seolah aku dan semua orang di kota ini tidak ada apa-apanya dibanding dirinya! Kalau dia mau mundur dengan rendah hati, mungkin aku masih membiarkannya pergi. Tapi dia menolak sambil memamerkan prinsip dan harga diri seolah-olah dia orang paling mulia di dunia?!"

Dimas menoleh ke arah anak buahnya, suaranya berubah dingin dan penuh perintah.

"Kalau dia merasa sudah cukup kuat dan tidak butuh siapa-siapa, maka aku akan tunjukkan seberapa lemah dia sebenarnya! Kumpulkan orang-orang. Pergi ke rumahnya malam ini juga. Tangkap dia, bawa ke tempat sepi, dan beri dia pelajaran yang cukup keras supaya dia sadar tempatnya. Jangan sampai dia merasa dirinya hebat lagi. Buat dia merasakan bahwa selama dia masih di kota ini, dia hanyalah debu yang bisa aku injak kapan saja!"

Malam itu, saat langit gelap gulita dan hanya diterangi cahaya remang lampu jalan, sekelompok orang berjumlah delapan orang berbadan kekar berjalan memasuki gang menuju kontrakan Bagas. Mereka membawa kayu, besi pendek, dan senyum licik di wajah mereka.

Begitu sampai di depan pintu, mereka langsung mendobraknya dengan keras. Brak! Pintu kayu itu terbuka terlempar ke dalam.

Bagas yang sedang duduk menemani ibunya langsung berdiri waspada. Ia melindungi Ibu di belakang tubuhnya, matanya menatap tajam ke arah orang-orang yang masuk dengan niat buruk.

"Apa maksud kalian datang ke sini?!" bentak Bagas tegas.

Salah satu dari mereka tertawa keras. "Kami utusan Mas Dimas! Dia bilang kau terlalu belagu dan sok hebat! Hari ini kami akan ajari kau cara bersikap yang benar!"

Tanpa peringatan lagi, mereka langsung menyerang. Satu orang mengayunkan kayu ke arah kepala Bagas. Bagas menghindar dengan sigap, lalu menangkis serangan itu dengan lengannya. Suara benturan yang keras terdengar, terasa perih hingga ke tulang, tapi Bagas tidak mundur. Ia sadar, mundur berarti membiarkan dirinya dihancurkan, dan membiarkan ibunya ketakutan melihat anaknya diperlakukan semena-mena.

"Jangan harap kalian bisa seenaknya!" teriak Bagas sambil melawan dengan segenap tenaga yang dimilikinya. Ia menghindar, menangkis, dan membalas serangan dengan gerakan yang ia pelajari secara otodidak selama ini. Darah mulai menetes dari luka di dahinya, lengannya terasa sakit, dan punggungnya sempat terkena pukulan keras hingga ia terhuyung ke dinding. Namun, ia terus berdiri, tidak mau jatuh di depan orang-orang yang ingin meremukkannya.

Di luar dinding rumah, suara gaduh dan teriakan terdengar sampai ke sepanjang gang. Para tetangga yang awalnya takut ikut campur, mulai keluar melihat apa yang terjadi. Banyak dari mereka adalah pekerja bengkel dan pedagang kecil yang sudah lama melihat ketulusan Bagas—yang selalu menjual barang dengan harga wajar, yang mau menolong tanpa pamrih, dan yang tidak pernah sombong.

"Jangan biarkan dia diserang sendirian!" teriak salah satu pemuda bengkel yang sering dibantu Bagas. "Dia orang baik! Kita bantu dia!"

Satu per satu, warga dan pekerja lokal berdatangan, membawa alat seadanya, lalu masuk melerai dan melawan orang-orang suruhan Dimas itu. Jumlah mereka bertambah banyak, membuat anak buah Dimas kewalahan dan terdesak.

"Kalian berani melawan kami? Kalian tahu siapa yang memerintahkan ini?!" teriak salah satu penyerang dengan nada mengancam.

"Terserah siapa pun yang memerintah!" jawab seorang tetua warga dengan lantang. "Kami tidak akan membiarkan orang baik disiksa di depan mata kami! Pergi dari sini sebelum kami bawa kalian ke kantor polisi!"

Melihat situasi berbalik, dan takut terjebak, anak buah Dimas akhirnya mundur dan lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Suasana akhirnya menjadi tenang kembali, namun rumah itu penuh dengan bekas kerusakan, dan Bagas tergeletak bersandar di dinding, napasnya terengah-engah, tubuhnya penuh luka dan memar, darah masih mengalir perlahan dari beberapa bagian tubuhnya.

Ibu segera mendekat, menangis sambil memegang wajah anaknya yang terluka. "Bagas... Nak... kenapa jadi begini? Ibu takut sekali..."

Bagas tersenyum tipis meski terasa sakit, ia mengusap air mata ibunya dengan tangan yang gemetar. "Tenang, Bu, aku selamat. Tidak ada yang terluka parah."

Laras yang baru saja datang setelah mendengar kabar buru-buru, langsung berlutut memeriksa luka-luka itu dengan wajah pucat dan cemas. "Ya Tuhan... lihat kondisimu ini. Dimas benar-benar gila! Bagas, kau harus segera diobati!"

Namun, Bagas hanya menatap kosong ke depan, matanya yang tadinya penuh rasa sakit kini perlahan berubah menjadi sorot yang tajam dan penuh tekad baru. Ia merasakan setiap luka di tubuhnya, bukan sebagai rasa sakit semata, tapi sebagai pengingat keras.

Ia menoleh ke arah Laras, ke arah ibunya, dan ke arah tetangga yang baru saja membantunya. Suaranya parau namun tegas, terdengar seperti sumpah yang tidak akan diingkari.

"Ini sudah cukup..." ucap Bagas perlahan. "Aku sadar sekarang. Kalau aku terus begini, tetap kecil, tetap mudah diinjak, maka aku tidak akan pernah bisa melindungi Ibu dan tidak akan pernah hidup dengan tenang. Dimas menyerang bukan hanya karena dia benci, tapi karena dia melihat aku masih bisa dia atur sesuka hati. Dia menganggap penolakanku itu sikap sombong hanya karena dia tidak mau mengakui bahwa aku punya hak untuk memilih jalan hidupku sendiri."

Bagas mengangkat wajahnya, menatap ke luar jendela menuju kegelapan malam, namun matanya menyala penuh semangat baru.

"Mulai hari ini, aku tidak akan lagi hanya bertahan hidup. Aku harus tumbuh lebih besar, lebih kuat, lebih tangguh.

1
miumiu
ada sedihnya tapi ada kekuatan juga. lanjuut ya thor.
curbel
seru juga. Dan enak dibaca. 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!