NovelToon NovelToon
Kebangkitan Naga Astral

Kebangkitan Naga Astral

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengguncang Langit

​Bagi puluhan ribu mata yang menyaksikan dari bawah, pemandangan itu terasa seperti sebuah lukisan mitologi kuno yang menjadi nyata.

​Sebuah telapak tangan raksasa berwarna cokelat keemasan yang membawa bobot sebuah gunung meluncur turun dari awan, cukup besar untuk menutupi seluruh bukit tempat Paviliun Bambu Angin berdiri. Dan dari bawah sana, sesosok manusia kecil yang diselimuti petir ungu keemasan melesat naik, lurus menyongsong kehancuran tersebut layaknya ngengat yang terbang ke dalam kobaran api.

​Di udara, Penatua Agung Zhao mendengus dingin melihat perlawanan Lin Tian.

​"Hanya seekor semut tingkat lima yang baru belajar melompat! Matilah dan jadilah debu!" raung Penatua Agung. Ia menekan telapak tangannya ke bawah, menambah bobot elemen tanah pada serangannya hingga udara di bawahnya mengeluarkan suara retakan seperti kaca yang pecah.

​Namun, Lin Tian yang sedang melesat ke atas sama sekali tidak memancarkan keputusasaan. Matanya yang kini menyala keemasan menatap telapak tangan raksasa itu dengan ketajaman seekor naga yang diusik dari tidurnya.

​Di dalam tubuhnya, lautan meridian tingkat limanya bergolak liar. Esensi sisa dari Teratai Api Berdarah yang mengendap di tulangnya tersulut.

​"Tingkat menengah ranah Earth memang memiliki kualitas energi alam," gumam Lin Tian di tengah hempasan angin yang menyayat kulitnya. "Jika aku menggunakan Lapis Kedua, aku hanya akan bisa menahan serangannya dan berakhir terhempas ke tanah."

​Lin Tian menarik lengan kanannya ke belakang. Qi ungu keemasan yang sangat masif ditarik dari seluruh penjuru meridiannya, dikompresi ke dalam lengannya dengan kecepatan dan kebrutalan yang tak masuk akal.

​Satu tarikan napas... Lapis Pertama. (Setara kekuatan tingkat tujuh puncak).

Dua tarikan napas... Lapis Kedua. (Setara serangan pseudo-tingkat delapan/sembilan).

​Lengan kanan Lin Tian membengkak. Pendaran cahaya tembaga di kulitnya kini berubah menjadi merah membara. Panas yang memancar dari kepalan tangannya mendistorsi udara di sekitarnya. Namun, Lin Tian tidak berhenti di situ. Matanya menyiratkan kegilaan mutlak. Naga Hitam di dadanya mengaum tanpa suara.

​Tiga tarikan napas...

​"TINJU RUNTUH SEMBILAN LAPIS..."

​KRAK!

​Kulit lengan Lin Tian akhirnya robek melintang, memuntahkan kabut darah. Ini adalah batas maksimal fisiknya saat ini! Bahkan pertahanan Beruang Punggung Besi tak mampu menahan tekanan kompresi gila ini sepenuhnya. Namun, rasa sakit itu tak sedikit pun memperlambat gerakannya.

​"...LAPIS KETIGA!"

​Tepat saat tubuhnya nyaris bertabrakan dengan telapak tangan raksasa pemusnah bumi itu, Lin Tian melontarkan tinjunya ke atas.

​BOOOOOOOOOOOOOOOOM!!!

​Dunia seolah kehilangan suaranya selama sepersekian detik, digantikan oleh kilatan cahaya ungu, emas, dan cokelat yang membutakan mata.

​Kemudian, gelombang kejut yang maha dahsyat meledak di langit Sekte Pedang Langit. Awan kelabu yang menggantung di atas Puncak Dalam tersapu bersih dalam radius lima mil, menciptakan lubang langit biru yang cerah secara instan.

​Di paviliun melayang, para Penatua sekte yang sedang melayang di atas pedang mereka terhempas mundur sejauh puluhan meter oleh badai angin sisa ledakan tersebut. Beberapa murid elit yang menonton dari kejauhan bahkan harus muntah darah karena gendang telinga mereka pecah.

​Di titik benturan, telapak tangan elemen bumi raksasa kebanggaan Penatua Agung Zhao... terhenti.

​Sebuah pusaran pilar energi ungu keemasan menembus tepat di tengah-tengah telapak tangan raksasa tersebut layaknya bor dewa. Retakan demi retakan menyebar dari titik tengah pukulan Lin Tian hingga ke ujung jari-jari Qi raksasa itu.

​"T-TIDAK MUNGKIN!"

​Penatua Agung Zhao membelalakkan matanya ngeri. Hubungan mentalnya dengan teknik tersebut terputus seketika.

​PRANGGG!

​Telapak tangan raksasa itu hancur berkeping-keping, meledak menjadi badai energi alam liar yang menghujani Puncak Dalam layaknya meteorit-meteorit kecil.

​"Ugh!" Penatua Agung Zhao memuntahkan seteguk darah segar. Reaksi balik (backlash) dari hancurnya teknik tingkat Bumi Menengah secara paksa langsung melukai organ dalamnya.

​Namun, kengerian sang Penatua Agung belum berakhir.

​Dari balik kepulan debu dan badai energi di udara, sesosok bayangan tiba-tiba melesat keluar.

​Itu adalah Lin Tian! Meski jubah putihnya di bagian lengan kanan telah hancur dan berlumuran darah, matanya tetap sedingin es. Memanfaatkan serpihan puing-puing energi yang berjatuhan sebagai pijakan kecil, kakinya yang diselimuti petir ungu keemasan kembali meledak.

​Langkah Kilat Guntur Pembelah Kekosongan!

​Hanya dengan meminjak debu di udara, tubuh Lin Tian menghilang dan muncul langsung hanya tiga langkah di depan wajah Penatua Agung Zhao yang sedang melayang di udara. Kecepatan ini berada di luar nalar seorang kultivator ranah Mortal!

​"Kau—!" Penatua Agung Zhao bahkan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.

​Lin Tian memutar pinggulnya, menyalurkan sisa tenaga dari Langkah Kilat Guntur, dan melontarkan tendangan menyapu tepat ke arah leher lelaki tua itu.

​Sebagai kultivator ranah Earth, insting bertahan hidup Penatua Agung Zhao sangat luar biasa. Dalam sepersekian detik, sebuah lapisan batu giok cokelat yang sangat tebal muncul menutupi tubuhnya.

​Zirah Bumi Absolut! (Pertahanan terkuat ranah Earth tingkat menengah).

​BAM!

​Kaki Lin Tian menghantam Zirah Bumi itu dengan keras. Retakan seukuran jaring laba-laba muncul di permukaan zirah giok tersebut. Meski zirahnya tidak hancur sepenuhnya, gaya tolak dari tendangan maut itu tidak bisa diredam seluruhnya.

​Penatua Agung Zhao meluncur jatuh dari langit layaknya komet yang jatuh, menabrak lereng gunung di dekat Paviliun Bambu Angin hingga menciptakan kawah raksasa dan awan debu yang menjulang tinggi.

​Lin Tian yang kehilangan momentum pijakannya di udara, membiarkan dirinya jatuh dengan posisi yang sangat terkendali, mendarat dengan mulus di tanah dan meluncur sejauh beberapa meter sebelum berdiri tegak.

​Napasnya memburu. Lengan kanannya meneteskan darah segar yang langsung mendesis menguap karena panas Qi naganya. Menggunakan Lapis Ketiga di kondisinya saat ini benar-benar membebani fisiknya, memakan setengah dari total energi spiritualnya.

​Namun, hasil dari pertukaran serangan itu membuat seluruh Sekte Pedang Langit diliputi keheningan yang lebih pekat dari kematian.

​Seorang kultivator tingkat lima... baru saja menghancurkan teknik mematikan dari kultivator ranah Earth tingkat menengah, melukainya, dan menendangnya jatuh dari langit! Jurang pemisah antar ranah (Realm Gap) yang diyakini sebagai kebenaran mutlak di dunia kultivasi, baru saja diinjak-injak hingga hancur oleh pemuda berjubah putih itu!

​Mu Qingxue, sang jenius es yang berdiri ratusan meter dari lokasi, tanpa sadar mencengkeram gagang pedangnya hingga buku jarinya memutih. Matanya yang selalu dingin kini dipenuhi gelombang emosi yang tak bisa dijelaskan.

​"Monster..." bisiknya tertahan. "Dia benar-benar monster yang menentang hukum alam."

​Di dalam kawah raksasa, Penatua Agung Zhao merangkak bangun dengan susah payah. Jubah emas mewahnya kini compang-camping tertutup tanah. Zirah Bumi-nya retak di bagian leher. Wajah tua itu kini dipenuhi urat yang menonjol karena amarah dan rasa malu yang melampaui batas kewarasan manusia.

​"BINATANG KECIL! AKU AKAN MENCABUT JIWAMU DAN MEMBAKARNYA SELAMA SERATUS TAHUN!"

​Penatua Agung Zhao merentangkan kedua tangannya. Tanah Puncak Dalam bergetar hebat layaknya gempa bumi. Ribuan pilar batu tajam bersiap melesat dari dalam tanah untuk menusuk Lin Tian dari segala arah. Ia berniat menggunakan seluruh sisa Qi asalnya, tak peduli jika itu akan merusak fondasi sekte.

​Lin Tian menyipitkan matanya. Siluet naga di dadanya kembali berdenyut, bersiap untuk memaksa keluar energi Lapis Ketiga sekali lagi, bahkan jika lengannya harus patah.

​Namun, sebelum pilar batu itu sempat keluar dari tanah...

​SWUSSSHHH!

​Sebuah tekanan pedang yang luar biasa agung turun dari puncak gunung tertinggi sekte, menyelimuti seluruh Puncak Dalam. Tekanan ini tidak merusak, tidak buas, namun ketajamannya cukup untuk membuat Penatua Agung Zhao merasa sebilah pedang es tak kasatmata sedang menempel di urat lehernya.

​Gempa bumi berhenti seketika. Pilar batu yang hampir muncul kembali runtuh menjadi debu.

​Sebuah suara pria paruh baya yang tenang, berwibawa, dan sarat akan otoritas bergema dari segala penjuru angin.

​"Cukup, Zhao Wuji. Apakah kau berniat menghancurkan sekte kita hingga rata dengan tanah hanya karena urusan cucumu?"

​Mendengar suara itu, seluruh Penatua dan murid yang hadir segera berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepala mereka dalam rasa hormat yang mendalam. Penatua Agung Zhao membeku di tempatnya, matanya membelalak kaget sebelum ia akhirnya menggertakkan gigi dan menangkupkan tangan, setengah membungkuk ke arah puncak gunung.

​"Kepala Sekte..." gumam Penatua Agung Zhao dengan enggan.

​Seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah putih polos tanpa ornamen apa pun muncul di udara, melangkah turun dari langit seolah menapaki anak tangga tak terlihat. Di punggungnya terhunus sebuah pedang kayu sederhana, namun kehadirannya menekan seluruh badai yang baru saja terjadi menjadi ketenangan absolut.

​Jian Wuchen. Kepala Sekte Pedang Langit, kultivator ranah Earth tingkat puncak yang hanya berjarak satu langkah dari ranah Heaven (Langit).

​Kepala Sekte mendarat perlahan di antara Lin Tian dan Penatua Agung Zhao. Matanya yang sedalam sumur kuno menatap lengan kanan Lin Tian yang berdarah, lalu menatap mata pemuda itu yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau niat untuk berlutut.

​Di mata Jian Wuchen, melintas sebuah kekaguman yang disembunyikan dengan sangat rapi.

​"Zhao Wuji," ucap Kepala Sekte tanpa menoleh kepada sang Penatua. "Cucumu, Zhao Lie, mengajukan diri sebagai Penjaga Gerbang dan dikalahkan dalam pertarungan yang adil yang diawasi oleh sepuluh Penatua. Keahliannya lebih rendah, itu adalah kesalahannya sendiri. Kau, sebagai Penatua Agung, justru turun tangan untuk membunuh seorang Murid Elit sekte kita di siang bolong. Di mana kau meletakkan hukum sekte?"

​"Kepala Sekte! Bocah ini menghancurkan meridiannya! Zhao Lie adalah kandidat penerusku, dia sengaja membuatnya cacat!" protes Penatua Agung dengan wajah memerah.

​"Jika dia sengaja ingin membunuhnya, cucumu sudah menjadi mayat sekarang, bukan sekadar kehilangan meridian," potong Jian Wuchen dingin. "Mulai hari ini, kau dihukum potong gaji sumber daya selama tiga tahun dan dilarang keluar dari Puncak Tetua selama enam bulan. Jika faksi Zhao berani menyentuh sehelai rambut pun dari Lin Tian atau adiknya dalam bayang-bayang... aku sendiri yang akan mencabut gelar Penatua Agungmu."

​Penatua Agung Zhao gemetar hebat. Ia ingin melawan, namun tekanan pedang ranah Earth puncak milik Jian Wuchen mengunci lidahnya. Dengan tatapan penuh kebencian yang ia lemparkan terakhir kali kepada Lin Tian, pria tua itu membalikkan badannya dan melesat pergi menuju Puncak Tetua.

​Setelah sang Penatua pergi, Jian Wuchen akhirnya memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Lin Tian.

​Pemuda berjubah putih itu masih berdiri tegak, tangannya yang berdarah mengepal pelan, matanya tetap waspada. Di dunia kultivasi, tidak ada kebaikan tanpa pamrih. Lin Tian tahu itu.

​"Tingkat lima fana, namun mampu memukul mundur kultivator tingkat menengah bumi," ucap Jian Wuchen pelan, hanya cukup untuk didengar oleh Lin Tian. "Nama yang pantas diukir di monumen sejarah benua ini."

​"Saya hanya membela diri, Kepala Sekte," jawab Lin Tian datar.

​Jian Wuchen tersenyum tipis. "Lukamu cukup parah. Masuklah dan obati dirimu. Dan dalam tiga hari... datanglah ke Puncak Pedang Langit. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Sesuatu yang mungkin berkaitan dengan asal usul tulangmu yang tak wajar itu."

​Begitu kata-kata itu keluar dari mulut Kepala Sekte, pupil mata Lin Tian sedikit menyusut. Rahasianya sebagai pewaris Naga Astral disadari?

​Tanpa menunggu jawaban, Jian Wuchen membalikkan badannya dan menghilang layaknya angin yang berhembus, menyisakan Lin Tian sendirian di halaman paviliunnya yang setengah hancur, menatap langit biru yang baru saja ia koyak.

1
Didi h Suawa
💪
Didi h Suawa
mantap
Didi h Suawa
simpel ,🙏
Didi h Suawa
awal yg baik,
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos pooolll Thor lanjut terus semangat semangat semangat terus dalam berkarya
Aman Wijaya
saatnya pembantaian dimulai Lin Tian klan Lei telah menunggu kalian berdua.babat habis semua dan ambil kekayaan di gudangnya klan Lei
Heri Victor Purba
gas terus 👍
Aman Wijaya
sebentar lagi Lei jue terkencing kencing melihat aksi Lin Tian
Aman Wijaya
mantull Thor lanjut
Aman Wijaya
lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz jiiizz Thor 🔥🔥🔥
Aman Wijaya
gaaas terus sampai njeduk pooolll Thor 💪💪💪
Aman Wijaya
jooooz jiiizz Thor semangat semangat terus
Aman Wijaya
lanjutkan aksimu Lin Tian 🔥🔥🔥🔥🔥
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Heri Victor Purba
💪
Heri Victor Purba
👍
Dewa Naga 🐲🐉
mantap...💪
Jojo Shua
🫰✅️
Jojo Shua
🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!