NovelToon NovelToon
Obsesi Papa Mertua

Obsesi Papa Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dark Romance / Cinta Terlarang
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13.

Hari-hari berikutnya berjalan bagai panggung sandiwara yang memuakkan. Di depan Rafael, Sean selalu berakting menjadi suami yang penuh perhatian dan cinta. Dia merangkul Freya, mengambilkannya makanan, dan memujinya tanpa ragu. Rafael hanya diam, menyantap makanannya dengan wajah dingin dan tenang, seolah mempercayai seluruh bualan putranya.

​Namun, begitu pintu kamar utama di lantai atas tertutup rapat dan mereka hanya berdua, topeng Sean luruh seketika. Kamar itu berubah menjadi ruang penyiksaan bagi Freya.

​Malam tadi, petaka itu kembali terjadi hanya karena hal sepele. Freya tidak sengaja menumpahkan beberapa tetes air hangat ke atas berkas kerja milik Sean di meja kamar.

​"Bodoh! Wanita sialan! Apa yang kau lakukan, hah?!" bentak Sean cadas. Wajahnya memerah, urat-urat di lehernya menegang.

​"M-maaf, Sean... aku tidak sengaja, biar kukeringkan—"

​Brak!

​Sean mendorong tubuh kurus Freya hingga terjerembab ke lantai. Tak puas sampai di situ, amarahnya yang membabi buta membuat pria itu menyambar ikat pinggang kulitnya yang tebal.

​"Kau sengaja ingin merusak kerjaku?! Kau sengaja ingin membuatku terlihat tidak becus di depan Papa?!" teriak Sean, lalu mengayunkan ikat pinggang itu tanpa belas kasihan.

​Sret! Cadas!

​"Ah! Sakit, Sean... kumohon, ampun..." jerit Freya tertahan. Ia merangkak di lantai, mencoba melindungi kepalanya dengan kedua tangan, membiarkan punggungnya menjadi sasaran kemarahan suaminya.

​"Diam! Jangan berteriak! Kalau Papa sampai mendengar suara sialanmu ini, aku bersumpah akan langsung mengirim ayahmu ke sel tahanan malam ini juga!" ancam Sean dengan suara tertahan namun penuh racun.

​Freya hanya bisa membungkam mulutnya sendiri dengan tangan, menggigit bibirnya hingga berdarah demi menahan jeritan sakit. Air matanya mengalir deras membasahi lantai marmer yang dingin. Di bawah kegelapan kamar, Sean terus menghajarnya habis-habisan hingga pria itu merasa puas dan memilih tidur di atas ranjang mewah, meninggalkan Freya yang meringkuk sekarat di lantai bawah beralaskan selimut tipis.

*

​Keesokan harinya, setelah Sean berangkat ke kantor, Freya bahkan hampir tidak sanggup untuk bangkit berdiri. Punggungnya terasa terbakar dan luar biasa perih.

​Di dalam kamar utama yang sunyi, Bi Sofi datang membawakannya air hangat dan salep. Pintu kamar sengaja dibiarkan sedikit renggang agar mereka bisa mendengar jika ada langkah kaki yang mendekat.

​"Astaga, Nyonya..." Bi Sofi menangis tersedu-sedu saat membantu melepaskan pakaian bagian atas Freya secara perlahan.

​Ketika kain itu terangkat, tangis Bi Sofi semakin pecah. Kulit punggung Freya yang putih mulus kini dipenuhi dengan bilur-bilur merah keunguan yang membengkak, bahkan beberapa di antaranya ada yang robek dan mengeluarkan darah segar akibat cambukan ikat pinggang semalam.

​"Tuan Sean benar-benar iblis... Bagaimana bisa dia memukul istrinya sendiri sampai seperti ini?" bisik Bi Sofi dengan tangan yang gemetar hebat saat mulai mengoleskan salep ke punggung Freya.

​"S-sakit, Bi... perih sekali..." rintih Freya, air matanya menetes melewati pipinya yang pucat. Tubuhnya bergetar menahan perih yang luar biasa setiap kali jemari Bi Sofi menyentuh lukanya. "Tapi kumohon... jangan sampai Papa tahu, Bi. Kalau Papa tahu, Sean akan sangat marah padaku. Ayahku... ayahku bisa hancur..."

​Tanpa mereka sadari, celah pintu kamar yang tidak tertutup sempurna itu memperlihatkan segalanya.

​Di luar koridor, berdiri sesosok pria tegap dengan setelan formal yang rapi. Rafael Ravindra menyaksikan seluruh pemandangan mengerikan itu dari balik celah pintu. Sepasang mata elangnya menatap lurus pada bilur-bilur cambukan di punggung menantunya.

​Detik itu juga, rahang tegas Rafael berkerat begitu rapat hingga urat di pelipisnya menonjol. Dadanya bergemuruh hebat oleh amarah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Udara di sekitar Rafael mendadak dingin dan mematikan.

​Brak!

​Rafael mendorong pintu kamar itu hingga terbuka lebar tanpa peringatan.

​"Ah!" Freya terpekik panik. Dengan refleks yang dipenuhi ketakutan, ia langsung menarik kemejanya ke depan dada, berusaha menutupi tubuh dan punggungnya yang penuh luka.

​Bi Sofi tersentak kaget dan langsung berdiri, wajahnya memucat seketika saat melihat siapa yang datang. "T-Tuan Besar?!"

​Rafael melangkah masuk ke dalam kamar. Langkah kakinya terdengar begitu berat dan penuh intimidasi. Pandangannya terkunci sepenuhnya pada Freya yang sedang meringkuk di tepi ranjang sambil menangis ketakutan.

​"Sofi, turun sekarang," perintah Rafael. Suaranya terdengar sangat rendah, dingin, dan sarat akan otoritas yang mutlak.

​Bi Sofi memandang Freya dengan ragu, ketakutan jika Tuan Besar akan menghukum Freya. "Tapi, Tuan Besar... luka Nyonya Freya belum selesai diobati—"

​"Aku bilang turun, Sofi. Jangan membuatku mengulanginya," potong Rafael, menoleh sekilas dengan tatapan mata yang begitu menghunus tajam hingga membuat Bi Sofi menciut.

​"B-baik, Tuan Besar," bisik Bi Sofi tertunduk. Ia meletakkan salep di atas nakas, lalu dengan langkah tergesa-gesa berjalan keluar dan menutup pintu kamar dengan rapat, meninggalkan Freya berdua saja di dalam kamar bersama ayah mertuanya yang berwajah dingin dan mematikan.

*

Di dalam kamar yang sunyi, Freya merapatkan kemejanya ke dada dengan tangan gemetar. Air matanya mengalir deras, menatap Rafael dengan tatapan memohon yang amat rapuh.

​"Papa, kumohon... jangan hukum Sean," isak Freya, suaranya terputus-putus. "Sean tidak bersalah, Papa. Ini semua karena kesalahanku. Aku yang ceroboh... aku pantas dihukum."

​Rafael tidak menjawab. Ia melangkah mendekati tepi ranjang, mengambil tabung salep yang ditinggalkan Bi Sofi di atas nakas. Wajahnya sedingin es, tanpa ekspresi, namun tatapannya begitu mengunci.

​"Turunkan kemejamu, Freya," perintah Rafael, suaranya berat dan mutlak.

​"Tidak, Paa... tidak mau. Tolong keluar dari sini," tolak Freya sambil menggelengkan kepalanya panik, bergerak mundur hingga mentok ke kepala ranjang.

​Rafael tidak memedulikan penolakan itu. Dengan satu gerakan yang tegas dan tak terbantah, ia maju dan mencengkeram lembut namun kuat kedua pergelangan tangan Freya, memaksanya melepaskan lipatan kemeja itu. Tanpa membuang waktu, Rafael menanggalkan kemeja dari bahu Freya, mengekspos punggung wanita itu sepenuhnya.

​"Papa, lepas! Ini salah! Aku ini menantumu!" teriak Freya marah, mencoba berontak dengan sisa tenaganya.

​Rafael tetap bungkam. Ia menuangkan salep ke telapak tangannya yang lebar, lalu menempelkannya ke atas bilur-bilur merah di punggung Freya.

​"Ah! S-sakit... perih, Paa..." rintih Freya spontan, tubuhnya melengkung kaku menahan rasa terbakar dari obat yang bergesekan dengan kulitnya yang robek.

​Suara rintihan yang lembut dan pasrah itu menggema di dalam kamar, mendadak memicu denyut aneh di dalam dada Rafael. Pria paruh baya itu menatap lekat-lekat kontras yang mengerikan sekaligus indah di depannya: kulit punggung Freya yang putih mulus, kini ternoda oleh jalur-jalur luka cambuk yang kontras.

Pemandangan itu justru memantik kepemilikan yang gelap di dalam hatinya. Ia semakin ingin memiliki wanita ini seutuhnya.

​Tanpa sadar, gerakan tangan Rafael yang awalnya mengoleskan obat perlahan melambat. Tekanannya menipis, berubah menjadi belaian yang intens dan lembut di area kulit Freya yang tidak terluka. Hasrat liar yang telah lama mati di dalam diri sang Tuan Besar mendadak bangkit dan bergejolak hebat.

​Merasa ada yang berubah dari sentuhan mertuanya, Freya seketika memalingkan tubuhnya kedepan, menarik kembali kemejanya untuk menutupi dadanya dengan napas memburu. Matanya menatap Rafael dengan kilat ketakutan sekaligus marah.

​Rafael menarik tangannya perlahan. Ia tidak mundur, melainkan mencondongkan tubuhnya ke depan, berbisik tepat di samping telinga Freya dengan suara bariton yang serak. "Bagaimana bisa... tubuh seindah dan selembut ini dengan begitu mudah dilukai oleh pria bodoh seperti dia?"

​Freya mencengkeram kemejanya erat-erat, air matanya kian deras menetes ke atas sprei. "Kumohon, Papa... jangan katakan itu. Jangan hukum Sean," ratap Freya lagi, mengabaikan ketegangan intim yang baru saja terjadi. "Sean hanya kesal karena berkas kerjanya kurusak. Aku yang salah, Papa... aku yang teledor. Suami berhak mendidik istrinya. Aku yang pantas dihukum, bukan Sean."

*

*

*

1
MissSHalalalal
mau doubel up gak nih ... hehehe
+1: mau! tripel juga boleh!
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
+1
uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu 🌚🌚🌚 gelap malamku
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
bongkar kebusukan ibu & adik tiri Freya. . udah sabar bgt nih Freya di bully dan diselingkuhi tinggal cerai aja 🔥🔥🔥
ina
kak plss bikin freya cinta sama rafael saling mencintai
ina: semangat bikin freya rafael bucin 🤭
total 2 replies
Kamsia
kasian freya hdp sendiri dan udh hncr.bnt kak thor buat freya bisa jatuh cinta sama rafael
MissSHalalalal: sudah terlalu sakit hati kak.
total 1 replies
MissSHalalalal
siap, di tunggu ya 🙏😍
ina
up
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Norahsikin Ismail
lanjutkan lg🙏🙏👍
ina
bikin freya cinta sama rafael min
Fifi Afifah
👍
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
semoga aja Freya Nerima Rafael setelah dicerai sean
Mita Paramita
tragisnya nasib Freya terjebak diantara ayah dan anak yang bikin hidup nya kacau
Mita Paramita
Freya di terkam mertua nya🤣🤣🤣 gimana reaksi Sean kalo ketahuan 🤨 Thor novel nya ganti judul ya .
MissSHalalalal: iya nih. 🙏 yang kemaren kepanjangan 🤭
total 1 replies
Mita Paramita
Freya istri lemah ngapain belain suami laknat begitu 🤨jadi gemes liatnya. lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
sean keterlaluan kejamnya 🤨🤨🤨 Freya mending kabur aja
Mita Paramita
kasian banget Freya 😭
Mita Paramita
seru baru episode pertama
MissSHalalalal: terimakasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!