Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Dansa di Atas Papan Catur
Bab 24: Dansa di Atas Papan Catur
Atmosfer di barisan meja VIP itu mendadak mendingin hingga ke titik beku. Pertanyaan retoris yang dilayangkan Abraham Valerius menggantung di udara bagai sebilah pisau yang siap menguliti penyamaran Aline. Tatapan mata sipit sang ketua klan Valerius begitu mengintimidasi, seolah ia memiliki kemampuan untuk menembus lensa kacamata emas tipis yang dikenakan Aline.
Jantung Aline berdegup satu kali lebih kencang, namun sebagai mantan operator siber taktis yang terbiasa hidup di dalam tekanan, ia tidak membiarkan satu otot pun di wajahnya berkedut panik. Ia langsung meremas ujung gaun sutra hitamnya dengan kedua tangan yang sengaja dibuat bergetar hebat. Tubuhnya menciut, bahunya merosot, dan ia menyembunyikan wajahnya lebih dalam di balik bayangan tubuh besar Adrian.
"M-Maaf, Tuan..." cicit Aline dengan logat desa yang kembali dimunculkan secara canggung dan gemetar. "S-Saya beneran ndak pernah ke kota besar begini sebelumnya... Saya cuma anak pengerajin sapu lidi dari desa. M-Mungkin wajah saya pasaran seperti orang-orang di pasar desa saya, Tuan..."
Adrian tidak membiarkan sandiwara itu berlanjut terlalu lama. Langkah kakinya yang besar maju satu tapak, memotong sepenuhnya sisa pandangan Abraham terhadap Aline. Aura intimidasi yang pekat menguar dari tubuh tegap sang CEO, menciptakan dinding pembatas yang tak kasat mata namun teramat mematikan.
"Kau sudah melewati batasmu, Abraham," suara bariton Adrian terdengar sangat rendah, bergetar penuh ancaman tersembunyi. "Jika kau tidak segera memutar tubuhmu dan pergi dari hadapanku dalam hitungan tiga, aku akan memastikan perjamuan ulang tahun korporasimu malam ini berubah menjadi upacara pemakamanmu sendiri."
Abraham Valerius menaikkan sebelah alisnya, lalu menarik kembali tubuhnya dengan senyuman miring yang penuh kemenangan psikologis. Ia mengangkat gelas sampanyenya ke udara sebagai tanda penghormatan palsu. "Tenang saja, Adrian. Aku tidak bermaksud merusak malam indahmu bersama... pengasuh barumu yang menawan. Selamat menikmati malam."
Dengan gerakan anggun namun penuh kelicikan, Abraham berbalik dan melangkah pergi, membaur kembali ke dalam kerumunan para taipan berdasi kupu-kupu di tengah aula.
Adrian tidak mengendurkan ketegangannya. Ia melirik ke arah panggung utama di mana alunan musik klasik dari kelompok orkestra mulai beralih memainkan melodi waltz yang lambat dan sensual. Beberapa pasangan mulai turun ke lantai dansa yang luas di tengah aula di bawah sorot lampu gantung kristal yang temaram.
Adrian memutar tubuhnya, menatap Aline yang masih memasang wajah "pucat dan syok" karena interogasi Abraham tadi. Pria itu menyadari bahwa sepanjang malam ini, mata-mata klan Valerius akan terus mengawasi gerak-gerik Aline jika gadis itu tetap duduk diam di sudut meja VIP bersama anak-anak. Satu-satunya cara untuk menjauhkan Aline dari jangkauan analisis musuh adalah dengan membawanya ke tempat di mana ia bisa memantau pergerakannya secara mutlak.
"Berdiri, Nona Sanyoto," perintah Adrian dingin, mengulurkan tangan kanannya yang besar di hadapan Aline.
Aline mengerjapkan matanya, berpura-pura bingung. "Eh? T-Tuan Besar? Berdiri buat apa toh?"
"Ikut aku ke lantai dansa," ucap Adrian tanpa bantahan.
"Tapi Tuan... saya ndak bisa dansa kota-kotaan begini! Nanti kalau saya injak sepatu mahal Tuan bagaimana?!" cicit Aline dengan wajah panik yang dibuat-buat, namun di dalam hatinya, ia langsung membaca ini sebagai kesempatan taktis untuk memeriksa perimeter tengah aula.
Tanpa menunggu persetujuan Aline, jemari kokoh Adrian langsung meraih telapak tangan Aline yang halus, menarik tubuh mungil gadis itu dengan tegas namun lembut untuk mengikuti langkah besarnya menuju ke tengah lantai dansa.
Di sudut meja, Keira langsung menopang dagunya dengan kedua tangan, matanya berbinar-binar penuh kemenangan romantis melihat pemandangan itu. "Lihat, Ken! Rencana kita berhasil! Daddy membawa Kak Aline berdansa! Mereka kelihatan cocok sekali, kan?"
Kenzo tidak menyahut. Bocah lima tahun itu tidak sedang melihat ke arah lantai dansa. Sepasang mata bulatnya yang dingin menatap intens ke arah layar ponsel pintar kustom miliknya yang diletakkan secara tersembunyi di bawah lipatan serbet meja makan. Jemari kecilnya bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran anak-anak, meretas protokol jaringan CCTV internal hotel melalui celah bypass yang ia temukan di sistem keamanan lantai dasar.
"Ada yang tidak beres, Keira," gumam Kenzo datar, suaranya sangat tenang namun menyimpan ketegangan taktis.
"Eh? Kenapa, Ken?" Keira menoleh, mengerutkan keningnya kecil.
"Sirkulasi kamera pengawas di area dapur bersih dan basemen logistik lantai bawah mendadak mati secara bergantian dalam pola melingkar," jelas Kenzo, matanya menyipit menatap barisan kode enkripsi merah yang berkedip di layarnya. "Ini bukan kegagalan sistem. Seseorang sedang melakukan pembersihan visual secara mekanis dari luar server pusat. Pasukan bersenjata klan Valerius sudah bergerak masuk ke dalam gedung ini."
Sementara itu, di tengah lantai dansa, dunia seolah berputar lambat di sekitar Adrian dan Aline.
Tangan kiri Adrian mendarat dengan mantap di atas pinggang ramping Aline yang terbungkus gaun sutra hitam, sementara tangan kanan Aline terpaksa bertumpu di atas bahu kokoh sang mafia. Jarak di antara mereka begitu dekat hingga Aline bisa merasakan embusan napas hangat Adrian yang menerpa keningnya, berbaur dengan aroma kayu cendana yang mahal dari jas tuksedo pria itu.
Di bawah alunan musik orkestra yang mendayu, Adrian memandu langkah kaki Aline dengan ritme yang sempurna. Aline sengaja membuat langkah kakinya sesekali agak canggung dan salah pijak untuk mempertahankan kedok gadis desanya, membuat tubuhnya berulang kali terdorong merapat pada dada bidang Adrian yang hangat dan keras bagai batu karang.
"Jangan menatap ke arah kerumunan," bisik Adrian rendah langsung di dekat telinga Aline, mengirimkan getaran halus yang tak kasat mata ke tengkuk gadis itu. "Dan jangan pernah menatap mata Abraham Valerius lagi jika kau tidak ingin dia menguliti seluruh rahasiamu."
Aline mendongak, menatap dagu tegas Adrian dari bawah di balik lensa kacamata barunya. "Tuan Besar... Tuan yang pakai baju abu-abu tadi itu siapa toh? Kok matanya seram sekali, seperti mau memakan saya hidup-hidup..."
"Dia adalah iblis yang menyamar sebagai manusia bisnis," jawab Adrian dingin, tatapan matanya mengunci manik mata Aline dengan intensitas yang teramat dalam. "Dia adalah pria yang bertanggung jawab atas banyak kematian di dunia ini. Dan dia mengawasimu karena dia mengira kau adalah bagian dari masa lalu yang ingin dihancurkannya."
Aline terdiam. Kedekatan fisik ini tidak hanya mengalirkan kehangatan mekanis di tengah aula yang dingin, namun juga memberikan ruang bagi Aline untuk menganalisis getaran mikro dari otot tubuh Adrian. Pria ini tidak sedang berbohong. Ada rasa protektif yang murni—meski dibungkus dalam otoritas kejam—yang memancar dari cengkeraman tangan Adrian di pinggangnya.
Namun, di tengah momen sensual yang intens tersebut, indra pendengaran taktis Aline menangkap getaran aneh yang berasal dari jam tangan pintar mikro yang tersembunyi di balik renda transparan lengan gaunnya.
Bzzz... Bzzz...
Sebuah getaran kode morse pendek yang dikirimkan dari perangkat Kenzo masuk ke dalam sistem penerima di pergelangan tangannya:
PERIMETER_JEBOL. ENAM_PULUH_DETIK. ANCAMAN_KELAS_SATU.
Mata Aline menyipit tajam secara instan di balik kacamatanya. Sifat lugunya menguap dalam hitungan detik di dalam kepalanya, digantikan oleh kalkulasi tempur yang dingin. Ia melirik sekilas ke arah langit-langit aula tempat lampu gantung kristal raksasa bergantung, lalu beralih ke arah pintu masuk utama di mana para pelayan baru berjas kaku mulai menutup pintu ganda berlapis emas dari dalam.
Jebakan pembantaian akan dimulai, batin Aline, otot-otot tubuhnya menegang di dalam dekapan Adrian, bersiap untuk melepaskan kekuatan aslinya demi melindungi si kembar dari badai peluru yang sebentar lagi akan pecah.