Seorang penulis yang kerap mendapat tindakan tak menyenangkan, bersedia menukar jiwanya untuk membalas dendam, lewat sebuah diary, siapa yang tertulis di sana, dia akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irene Puspitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31 : Arwah Nella
Part 31 : Arwah Nella
Malam ini, Clara sedang bertugas jaga malam. Di luar klinik, gerimis yang turun dari sore, membuat suasana klinik terasa sepi. Hanya suara rintik hujan yang terdengar, tak ada suara jangkrik atau hewan malam lainnya, mungkin mereka sedang asik meringkuk dalam liang-nya.
Sejak kematian Putri, tak ada seorangpun dari para perawat di klinik yang mau berteman dengan Clara. Mereka mengobrol juga seperlunya saja, membahas pekerjaan, tak kurang dan tak lebih.
Kali ini, Clara duduk terpekur di depan meja penerima pasien ruang IGD, sendirian. Untuk mengusir sepi, Clara memainkan ponselnya, meskipun hanya membuka tutup beranda. Maklumlah, Clara tak lagi mempunyai teman, jadi tak ada yang menyapanya meski hanya lewat chat.
"Teman-teman sialan! Mau berteman kalau lagi butuh doang, kalau gak butuh semua pada minggat. Awas aja kalau nanti ada yang mau ngutang, jagan harap gua kasih utangan." umpat Clara.
Kilat disusul bunyi guruh, sesekali terdengar, melengkapi malah yang kian mencekam. Clara merapatkan jaketnya, untuk sedikit mengusir rasa dingin yang menerpa.
"Mbak Clara, tolong aku!"
Sebuah suara lirih namun terdengar sangat jelas di telinga Clara, membuat gadis itu terlonjak kaget. Matanya nanar memindai sekitar, mencari sosok yang baru saja meminta tolong.
Terbiasa didatangi arwah-arwah penasaran, membuat Clara tak lagi merasa ngeri. Seperti kali ini, tak ada rasa takut yang Clara rasakan, tapi rasa penasaran, arwah siapa yang baru saja suaranya dia dengar.
"LU SIAPA WOEY? TUNJUKIN WUJUD LU, GUA MAH GAK TAKUT!" gertak Clara.
"Tolong aku, Mbak! Aku tersiksa di sini, dan ini karena kamu. Mbak Clara harus bertanggung jawab!"
Sosok itu belum juga menampakkan wujudnya, membuat Clara sedikit terbawa emosi. Matanya tetap mencari keberadaan sosok itu, sampai ke sudut-sudut tergelap ruang IGD, tapi belum juga menemukannya.
"TUNJUKKAN WUJUD MU, SETAN! AKU GAK AKAN TAKUT."
"Tolong, Mbak, tolong! Aku mohon, aku sudah tak sanggup menanggung siksa ini."
"BODO AMAT!"
Clara kembali memainkan ponselnya, membuka aplikasi biru bertanda huruf F. Bukan untuk berkomentar, tapi sekedar kepo dengan status teman-teman dunia mayanya.
Suara sosok itu masih terdengar, bahkan saat ini disertai isakkan. Tapi Clara mengacuhkannya, bahkan menutup kedua telinganya dengar earphone.
BRAAKK
Angin kencang yang aneh tiba-tiba berhembus, membuat pintu yang menuju ke ruang tempat beristirahat menjeblak terbuka.
Clara membuka earphone, berharap mendengar lagi suara sosok yang tadi merintih. Sepi, tak ada suara yang terdengar, selain suara gerimis yang masih saja turun.
"Mbak Clara ... Tolong!"
Sebuah sosok perlahan terbentuk dari kepulan asap tipis yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Sosok yang tampak tersiksa karena ada tali yang membelit tubuhnya.
"APA MAU MU?" tanya Clara ngeri. Gadis itu mengenali sosok yang semakin nyata bentuknya itu, Nella.
"Tolong aku, Mbak. Aku tersiksa di tempat ini, aku tak kuat lagi. Seharusnya Mbak Clara yang di sini, bukan aku."
"A ... Apa maksudmu?"
"Mbak Clara yang harus menerima siksaan ini, bekerja siang malam tanpa henti, juga dipukuli. Mbak Clara yang berdosa pada Thalita, bukan aku."
"TUTUP MULUT MU, SETAN! KENAPA KAMU MENIMPAKAN KESALAHAN KE AKU?"
"KARENA MBAK YANG JAHAT."
Hantu Nella tak lagi berkata lembut, dia membalas Clara yang berteriak dengan teriakan juga.
Lampu di ruang IGD tiba-tiba padam, membuat suasana semakin mencekam. Sosok Nella tampak dikelilingi cahaya merah yang berpendar, membuatnya tampak semakin menyeramkan.
"PERGI KAU, SETAN!"
"Aku gak akan pergi, sebelum membawamu ke tempat ini. Di sini tempatmu, bukan tempatku."
Sosok Nella melayang perlahan mendekati Clara, membuat gadis itu terbelalak karena ngeri. Keringat dingin telah membuat seragam perawat yang dikenakannya kuyup.
"JANGAN MENDEKAT! ENYAH KAU, SETAN!"
"Kamu harus ikut bersamaku, Mbak. Thalita akan membebaskan aku, kalau kamu sudah mengantikan tempatku."
"Thalita pasti menipumu, dia akan tetap menyiksamu, jangan percaya pada iblis betina itu!"
"Entahlah, aku tak percaya siapapun. Setidaknya, aku cukup senang kalau kamu juga disiksa sepertiku, Mbak. Aku tak mau menderita sendiri."
Tiba-tiba, lemari kaca tempat alat-alat medis diletakkan, pintunya menjeblak terbuka. Sebuah gunting tajam melayang ke arah Clara.
Clara menatap gunting itu ngeri, dia tau seberapa tajam alat yang saat ini terbang ke arah jantungnya itu.
BRAK
Pintu lemari kaca tertutup dengan keras seperti tertiup angin, padahal tak ada angin yang berhembus sedikitpun. Gunting itu masih melayang di depan Clara, semakin dekat dan dekat.
"Pergi, aku gak mau mati, jangan bunuh aku!"
Kali ini suara Clara begitu lirih, bahkan hampir mirip rintihan. Gadis itu tak lagi berteriak, tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.
"Kamu tetap harus mati malam ini, Mbak Clara. Dosa mu sudah sangat banyak, kami di sini menjadi korban mu, kami sangat menderita."
Kembali sosok Nella bersuara, membuat Clara mengalihkan perhatian, tak lagi menatap gunting tajam yang masih mengincar jantungnya.
"Aku tak bersalah! Kalian mati karena kebodohan kalian sendiri, kenapa kalian menyalahkan aku?"
"Jangan mengelak lagi, kami mati karena menuruti perintah mu!"
Sosok Nella kembali tampak marah, asap tipis keluar dari atas kepalanya, cahaya yang melingkupinya juga semakin terang. Seakan menunjukkan kalau sosok itu benar-benar murka.
"Pergi kau, setan!" kata Clara lirih.
Sosok Nella semakin mendekat, demikian juga dengan gunting tajam dari lemari. Mata Clara menatap bergantian dua hal yang membuatnya ketakutan. Ingin Clara berteriak, untuk memanggil siapa saja yang mau menolongnya, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.
"Kamu harus mati, Mbak Clara!"
Sosok Nella semakin mendekat, membuat wajah seramnya terlihat jelas. Mata merah yang melotot, juga belatung yang berjatuhan dari wajahnya, membuat Clara merasa mual.
Tali yang tadi mengikat tubuh Nella, perlahan terurai. Kini tali itu ikut bergerak mendekat ke arah Clara, mengincar lehernya.
Mata Clara semakin melotot ngeri, tali itu berubah wujud menjadi seekor ular belang yang berbisa. Lidah bercabang ular itu tampak terjulur, bahkan ular itu juga membuka mulutnya, menunjukkan taring yang berkilauan.
Jarak gunting, ular dan sosok Nella kini sudah tinggal beberapa jengkal di depan Clara, siap menyerang secara bersamaan.
"AAARRRRCCHHHHH."
Jerit terakhir Clara, ketika ketiga hal yang ditakutinya menyerang bersama. Sosok tubuh Clara jatuh dari kursi yang sedari tadi didudukinya, menimbulkan bunyi gedebug yang cukup keras. Tiba-tiba lampu ruang IGD menyala kembali, dan suara gerimis kembali terdengar memecahkan sepi.