NovelToon NovelToon
Suamiku Musuh Bebuyutanku

Suamiku Musuh Bebuyutanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.

Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Semburan AC kamar utama memang dingin, tapi atmosfer di dalam ruangan ini luar biasa panas. Kirei berdiri mematung di tengah kamar, menatap nanar kasur king size berdandankan sprai putih bersih di depannya. Di atasnya, Arka sudah selonjoran tanpa dosa—bertelanjang dada, cuma pakai celana pendek hitam, sambil menumpuk kedua tangan di belakang kepala.

"Lo... ngapain tiduran di situ?!" bentak Kirei setengah berbisik, matanya hampir melompat keluar melihat pemandangan kelewat santai itu.

Arka tak langsung membalas. Ia cuma melirik Kirei lewat sudut mata, lalu mengulas senyum tipis yang sengaja memancing emosi. "Ini kamar gue. Kasur ini dibeli pakai uang keluarga gue. Bebas dong gue mau tidur di mana."

"Tapi kasurnya cuma satu, Arka! Jangan gila deh, gue nggak sudi tidur seranjang sama lo!" Kirei refleks mundur tiga langkah, melipat tangan di dada seolah cowok itu pembawa wabah mematikan.

Arka menghela napas panjang lalu duduk. Otot lengan dan bahunya tercetak jelas waktu ia mengacak rambutnya yang masih agak basah usai mandi. "Terus lo mau tidur di mana? Sofa bawah? Jangan harap. Kalau Nyokap lo mendadak mampir subuh-subuh dan liat lo meringkuk di sana, gue yang dicap suami biadab."

Tanpa menunggu balasan, cowok itu menyambar guling panjang dan meletakkannya tepat di tengah-tengah kasur. Membelah area tidur jadi dua bagian sama rata.

"Nih, batas suci," celetuk Arka datar sambil menunjuk guling itu pakai dagunya. "Lewat dari garis ini, lo gue usir. Dan tenang aja, Bu Ketua... selera gue masih tinggi. Nggak bakal gue sentuh cewek galak dan kaku kayak lo."

Jemari Kirei mengepal rapat. Rasanya ingin sekali ia melempar guling itu pas ke muka arogannya. Tapi rasa lelah yang menumpuk setelah seharian menahan stres membuat tubuhnya menyerah. Tanpa bersuara lagi, Kirei berjalan mengitari kasur, menarik selimut sampai batas dada, lalu langsung memunggungi Arka.

Malam itu mengalir menyiksa. Tiap kali Arka bergeser atau berganti posisi, bunyi gesekan kain sprai sukses bikin jantung Kirei melonjak. Ia berkali-kali menahan napas, berusaha menanamkan di otak bahwa ini cuma mimpi buruk sesaat demi menyelamatkan keluarga.

Keesokan harinya, koridor SMA Garuda ramai seperti biasa. Suara langkah sepatu dan obrolan murid bersahut-sahutan. Kirei melangkah cepat sambil memeluk map OSIS, memoles raut wajahnya sesempurna mungkin. Jangan sampai ada yang curiga kalau semalam ia baru saja melewati drama menegangkan bersama si kapten basket.

Sayangnya, ketenangan itu hancur berantakan begitu Kirei melewati mading sekolah. Kerumunan anak kelas dua dan tiga menumpuk di sana, berbisik-bisik heboh sambil menunjuk-nunjuk lembaran kertas di papan informasi.

Kirei mengerutkan kening, mendekat dengan langkah tegas. "Ada apa ini? Bubar, kembali ke kelas!"

Anak-anak di sana perlahan menyibak, memberi jalan. Begitu matanya menangkap tulisan di mading, darah Kirei serasa berhenti mengalir.

Itu selebaran anonim. Isinya tuduhan kejam yang langsung menusuk kehormatannya: "Ketua OSIS Sok Suci! Punya Hubungan Gelap Sama Donatur Sekolah Demi Mengamankan Poin Kedisiplinan."

Di bawah tulisan itu, terpampang foto buram Kirei yang sedang masuk ke dalam mobil mewah milik keluarga Arka di luar gerbang dua hari lalu.

"Pantesan aja Arka sering bebas sanksi, ternyata Bu Ketua main belakang?" celutuk seorang siswa dari barisan belakang, disusul tawa tertahan anak-anak lain.

Pipi Kirei mendadak terbakar. Tangannya gemetar hebat sewaktu menyambar dan merobek kertas itu dari papan. Malu dan marah campur aduk sampai tenggorokannya tersumbat rapat. Bisik-bisik makin liar menjalar ke seluruh koridor.

"Siapa yang nempel kertas sampah ini?!" suara berat tiba-tiba menggelegar dari ujung lorong, memotong habis semua kasak-kusuk.

Arka melangkah lebar-lebar dengan raut wajah dingin menakutkan. Rambutnya masih sedikit basah dari latihan pagi, dan bola basket yang biasanya diputar santai kini ia cengkeram erat. Aura mengancam yang mencuat dari tubuhnya otomatis membuat murid-murid di depan mading mundur teratur.

Arka merampas robekan kertas di tangan Kirei, meremasnya sampai gumpal, lalu melemparnya tepat ke dada siswa yang tadi melontarkan celotehan.

"Siapa yang bilang Kirei main belakang sama donatur?" cetus Arka pelan tapi amat berbahaya. Matanya menyapu satu per satu wajah di koridor. "Gue yang nyuruh dia masuk ke mobil itu buat urusan sponsorship event atas perintah pembina. Ada masalah?!"

Seketika koridor hening. Tidak ada satu pun yang berani membuka mulut apalagi menatap mata Arka.

Arka berbalik, menatap Kirei yang masih berdiri kaku dengan bibir bergetar menahan emosi. Tanpa peduli pada puluhan pasang mata yang menonton, Arka mendadak meraih pergelangan tangan Kirei, menarik cewek itu keluar dari kerumunan menuju area belakang gedung sekolah yang sepi.

"Lepasin, Arka!" seru Kirei begitu mereka sampai di balik ruang seni. Ia mengentakkan tangannya kuat-kuat, napasnya memburu. "Nggak usah sok pahlawan di depan anak-anak!"

Arka berbalik, menatap Kirei dengan raut sulit diartikan. "Sok pahlawan kata lo? Kalau gue nggak muncul, reputasi lo sebagai ketua OSIS hancur detik itu juga, Kirei!"

"Gue bisa selesaikan masalah gue sendiri!" bentak Kirei. Air mata frustrasi mulai menumpuk di sudut mata, meski ia sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh. "Gue nggak butuh kasihan dari lo!"

Arka maju mengikis jarak sampai tubuh Kirei terkunci ke dinding. Cowok itu menumpukan satu tangannya di tembok, tepat di samping kepala Kirei, lalu menunduk rapat.

"Gue nggak kasihan sama lo," bisik Arka tajam, matanya mengunci iris Kirei yang bergetar. "Gue cuma nggak mau ada orang lain yang bikin lo menangis selain gue. Paham?"

Kirei tercekat. Kalimat itu menancap telak, membuat jantungnya berdegup kencang tak karuan. Di balik bentakan kasar dan keangkuhannya, ada dorongan melindungi yang sangat jelas—sesuatu yang belum pernah Kirei lihat dari sosok Arka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!