Selama tiga tahun, Ye Chen hidup sebagai menantu benalu di keluarga Su. Dia mencuci pakaian, memasak, dan menerima setiap hinaan tanpa melawan demi melindungi istrinya yang dingin namun cantik jelita, Su Yuhan. Semua orang memanggilnya anjing pecundang, tanpa tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah keluarga paling berkuasa di ibu kota.
Ketika sebuah konspirasi mengancam nyawa istrinya dan mertuanya memaksanya untuk bercerai demi menikahkan Yuhan dengan tuan muda kaya, sebuah liontin giok peninggalan ibunya menyerap darah Ye Chen dan membangkitkan Warisan Tabib Naga Sakti. Di saat yang sama, iring-iringan Rolls-Royce hitam dari ibu kota tiba di depan rumahnya.
Mulai hari ini, sang naga telah membuka matanya. Mereka yang pernah menghinanya harus berlutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Kemarahan Sang Raksasa dan Panggilan dari Provinsi
Di sebuah mansion megah seluas dua hektar yang terletak di pusat Provinsi Jiangbei.
Ruangan medis VIP di dalam mansion itu dipenuhi oleh selusin dokter spesialis berjas putih. Mereka berdiri menunduk dengan tubuh gemetar, keringat dingin membasahi punggung mereka.
Di atas ranjang rumah sakit khusus, terbaring Su Wenyuan. Pangeran arogan itu kini tampak seperti mayat hidup. Seluruh anggota geraknya dibungkus gips. Matanya kosong menatap langit-langit, dan selang makanan terpasang di hidungnya.
Di samping ranjang, berdiri seorang pria paruh baya dengan aura dominan yang sangat menekan. Ia adalah Su Zheng, Kepala Keluarga Utama Su, penguasa konglomerasi yang bernilai ratusan miliar yuan.
"Katakan padaku," suara Su Zheng sangat pelan, namun mengandung niat membunuh yang membuat suhu ruangan terasa anjlok. "Apakah putraku masih bisa disembuhkan?"
Kepala tim dokter menelan ludah dengan susah payah, melangkah maju sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"T-Tuan Besar Su... kami sudah melakukan segala cara. Tulang-tulangnya bisa disambung, tapi... seluruh urat nadi dan meridian saraf utamanya telah diputus dengan sangat presisi oleh energi tak kasat mata. Selain itu... organ reproduksinya hancur total. Secara medis, Tuan Muda Wenyuan... cacat permanen."
Prang!
Sebuah vas antik dari Dinasti Ming bernilai jutaan yuan hancur berkeping-keping setelah ditendang oleh Su Zheng. Para dokter mundur ketakutan, nyaris berlutut.
"Keluar! Keluar kalian semua dari sini!" raung Su Zheng.
Setelah para dokter berlarian keluar ruangan, Su Zheng mencengkeram pinggiran ranjang putranya hingga buku-buku jarinya memutih. Pembuluh darah di pelipisnya berdenyut keras.
Di sudut ruangan, seorang pria tua kurus kering dengan jubah abu-abu melangkah keluar dari bayang-bayang. Ia adalah Penatua Gu, penasihat spiritual dan ahli bela diri internal Keluarga Su.
"Tuan Besar," ucap Penatua Gu dengan suara serak layaknya gagak. "Pelepasan energi (Qi) yang begitu presisi untuk menghancurkan meridian tanpa merusak kulit luar... ini adalah teknik khas seorang Grandmaster Sejati. Pantas saja Pasukan Bayangan Darah dan Master Wu ditumbangkan. Pemuda bernama Ye Chen itu tidak bisa diremehkan."
Su Zheng menoleh dengan mata memerah. "Grandmaster Sejati?! Pemuda yang umurnya baru dua puluhan?! Gu Tua, jangan bercanda! Bahkan di seluruh Provinsi Jiangbei ini, Grandmaster Sejati bisa dihitung dengan jari!"
"Dunia ini luas, Tuan Besar. Ada naga-naga tersembunyi yang tak kita ketahui," Penatua Gu menghela napas. "Jika kita mengirim pasukan biasa atau petarung tingkat Master, itu sama saja mengantar nyawa. Untuk membunuh seekor naga, kita harus meminjam pedang pembunuh naga."
"Maksudmu... Asosiasi Bela Diri Provinsi?" tanya Su Zheng, matanya menyipit licik.
"Benar. Master Wu yang dicacatkan di Jiangcheng adalah salah satu tetua kehormatan di Asosiasi Bela Diri. Jika kita memberitahu Ketua Asosiasi bahwa seorang pemuda arogan dari kota kecil telah melumpuhkan anggotanya, Ketua pasti tidak akan tinggal diam. Biarkan dunia bela diri yang mengurus Ye Chen."
Su Zheng tersenyum kejam. Ia menatap putranya yang cacat, lalu menatap langit malam dari jendela.
"Lakukan, Gu Tua. Dan hubungi kolega bisnis kita di Provinsi. Boikot di Jiangcheng gagal karena Nyonya Song, tapi jika Grup Kosmetik Su itu berani menginjakkan kakinya di pasar Provinsi Jiangbei... aku akan memastikan Su Yuhan bangkrut hingga harus melacurkan dirinya di jalanan!"
Satu minggu berlalu sejak insiden berdarah di jalan tol.
Bagi Kota Jiangcheng, minggu ini adalah minggu keemasan bagi Grup Kosmetik Su. Salep Dewi Luo meledak di pasaran layaknya badai. Ribuan toples terjual habis dalam hitungan menit setiap kali stok baru dirilis. Saham perusahaan melonjak lima ratus persen, menjadikan Su Yuhan sebagai salah satu wanita terkaya dan paling dihormati di kota itu.
Namun, di dalam Vila Keluarga Su, CEO wanita yang ditakuti di dunia bisnis itu sedang mengalami 'krisis' yang sama sekali berbeda.
Di kamar tidur utama, Su Yuhan duduk di tepi ranjang dengan wajah memerah layaknya tomat matang. Ia mengenakan piyama sutra tipis, matanya melirik ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Suara gemercik air terdengar dari dalam.
Tiga hari yang lalu, ibu mertuanya, Zhao Mei—yang kini menganggap Ye Chen sebagai dewa rezeki—secara paksa membongkar kamar kecil Ye Chen di lantai bawah dengan alasan "renovasi". Zhao Mei tanpa sungkan melemparkan bantal dan selimut Ye Chen ke kamar Yuhan, memaksa sepasang suami istri itu untuk tidur di ranjang yang sama.
Cklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Ye Chen melangkah keluar. Ia mengenakan celana pendek piyama, namun bertelanjang dada, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Yuhan segera memalingkan wajahnya, detak jantungnya berpacu liar. Selama tiga tahun menikah, ini pertama kalinya ia melihat tubuh suaminya secara langsung. Ia selalu mengira Ye Chen kurus kering, tapi ternyata... tubuh pemuda itu dipenuhi otot padat yang proporsional dan memancarkan kejantanan yang kuat.
"Kau belum tidur?" tanya Ye Chen santai, berjalan ke sisi ranjang dan duduk di samping Yuhan. Kasur itu sedikit amblas, membuat tubuh mereka nyaris bersentuhan.
"A-aku masih merevisi proposal pameran," jawab Yuhan gugup, meremas ujung selimutnya.
Melihat Yuhan yang sangat tegang, senyum jahil muncul di sudut bibir Ye Chen. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Yuhan. Aroma sabun mandi bercampur maskulinitas yang khas dari Ye Chen langsung menyerbu indra penciuman Yuhan.
"Yuhan..." bisik Ye Chen, suaranya rendah dan serak.
"Y-ya?" Yuhan menahan napas, memejamkan matanya rapat-rapat. Apakah... apakah malam ini adalah malamnya? Apakah ia sudah siap menjadi istri yang seutuhnya? Pikirannya kacau balau.
"Kau menduduki bantal gulingku," ucap Ye Chen santai.
Yuhan membuka matanya. Ia menatap ke bawah dan benar saja, ia sedang duduk di atas guling pembatas yang biasa mereka taruh di tengah ranjang.
Wajah Yuhan seketika berubah dari merah padam menjadi panas karena malu yang luar biasa. Ia segera melempar guling itu ke wajah Ye Chen. "Tidur sana! Dasar menyebalkan!"
Ye Chen tertawa renyah, menangkap guling itu, lalu merebahkan dirinya di sisinya. Meski mereka belum melakukan apa-apa, batasan es di antara mereka telah sepenuhnya mencair.
Saat Yuhan mematikan lampu dan berbaring, tangannya secara tidak sadar menyentuh kalung giok ukiran Ye Chen di dadanya. Rasa hangat dari giok itu memberinya kenyamanan absolut. "Ye Chen," panggilnya pelan di tengah kegelapan.
"Hm?"
"Minggu depan, ada KTT Bisnis Kosmetik Nasional yang diselenggarakan di Provinsi Jiangbei. Aku... aku diundang sebagai pembicara utama untuk mempresentasikan Salep Dewi Luo."
Di dalam kegelapan, mata Ye Chen perlahan terbuka. Kilatan tajam melintas di pupilnya. Provinsi Jiangbei. Markas dari Keluarga Utama Su.
"Paman dan Su Ming tidak akan ada di sana. Tapi Keluarga Utama pasti ada," lanjut Yuhan, suaranya mengandung sedikit kekhawatiran. "Jika aku pergi ke sana, itu artinya aku memasuki kandang harimau. Tapi jika aku tidak pergi, pasarku selamanya hanya akan terjebak di kota kecil ini."
Sebuah tangan yang hangat dan besar meraih tangan Yuhan dari balik selimut, menggenggamnya erat.
"Pergilah. Lebarkan sayapmu," ucap Ye Chen lembut namun penuh kepastian. "Kandang harimau atau sarang naga sekalipun... selama aku ada di sampingmu, tidak ada satu pun yang berani menyentuh sehelai rambutmu."
Yuhan tersenyum di dalam gelap, merapatkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke arah suaminya. "Terima kasih, Suamiku."
Keesokan siangnya, Ye Chen sedang menyeruput teh di teras vila ketika sebuah Mercedes-Maybach hitam berhenti di depan gerbang. Master Tang Zhenhai turun dari mobil dengan langkah tergesa-gesa.
"Tuan Ye!" Master Tang membungkuk hormat begitu sampai di teras.
Ye Chen menatap mantan jenderal itu. "Ada apa, Master Tang? Jarang sekali kau menemuiku secara langsung jika tidak ada hal genting."
Master Tang menyeka keringat di dahinya. "Tuan Ye, informan saya di Provinsi Jiangbei baru saja mengirimkan dua berita penting."
"Pertama, Keluarga Utama Su telah melaporkan insiden cacatnya Master Wu kepada Ketua Asosiasi Bela Diri Provinsi. Saat ini, Asosiasi telah mengeluarkan Surat Perintah Darah. Mereka mengirim dua petarung tingkat Grandmaster Sejati untuk memburu Anda!"
Ye Chen bahkan tidak meletakkan cangkir tehnya. Ia hanya meniup uap panasnya perlahan. "Dua Grandmaster Sejati? Asosiasi Bela Diri itu lumayan royal juga. Lalu, apa berita keduanya?"
Melihat ketenangan Ye Chen yang tak tergoyahkan, kekaguman Master Tang semakin bertambah. "Berita kedua adalah tentang pelelangan dunia bawah tanah."
Master Tang mengeluarkan sebuah tablet dan menunjukkan foto sebuah tanaman aneh. Tanaman itu berbentuk seperti bunga teratai, namun kelopaknya seputih salju dengan urat-urat merah pekat seperti darah manusia.
Mata Ye Chen seketika melebar. Postur tubuhnya yang santai langsung tegak.
"Itu... Teratai Salju Berdarah?" gumam Ye Chen. Di dalam Kitab Medis Kehidupan dan Kematian, herbal ini adalah bahan utama untuk menyembuhkan kerusakan meridian dan memurnikan tubuh fisik.
Jika ia mendapatkan teratai itu, ia bisa menyembuhkan batasan fisik tubuhnya dan melangkah masuk sepenuhnya ke Alam Grandmaster (dan bahkan Tahap Pembentukan Inti / Core Formation)!
"Benar, Tuan Ye!" angguk Master Tang. "Herbal langka berusia lima ratus tahun ini ditemukan di perbatasan Tibet dan akan dilelang di Pasar Gelap Provinsi Jiangbei tiga hari lagi!"
Senyum tipis perlahan mengembang di wajah Ye Chen. Aura tiraninya mulai merembes keluar, membuat udara di sekitar teras terasa berat.
"Keluarga Utama Su. Asosiasi Bela Diri. Dan sekarang Teratai Salju Berdarah." Ye Chen berdiri, meletakkan cangkir tehnya di meja.
"Master Tang, siapkan mobil dan tiket VVIP untuk pelelangan itu. Sepertinya, ini saat yang tepat bagiku untuk menemani istriku jalan-jalan ke Provinsi Jiangbei."