Kafara adalah gadis yang sangat cantik jelita namun karena dia mempunyai kemampuan spiritual, matanya yang tak biasa membuat dia bisa melihat makhluk halus.
Tak itu saja Kafara sangat terganggu dengan hal itu, setiap hari dia selalu di dekati banyak makhluk halus yang membuatnya sangat tak nyaman dan tersiksa. Banyak orang mengira kalau dia adalah anak gila.
Suatu hari dia bertemu seorang pria tampan dia sangat tak menyukai Kafara karena dia merasa kalau Kafara adalah gadis yang gila.
Pria tersebut bernama Dokter Armand, dia adalah dokter Hewan dan membuka praktek kecil di dekat rumahnya.
Ada beberapa kejadian tak terduga di daerah itu banyak warga mengalami kejadian ganjil.
Namun Kafara yang mengetahui mencoba diam, dan suatu hari dia semakin tak bisa mengendalikan kekuatan matanya, maka dari itu dia mencoba berdamai, memanfaatkan kemampuan matanya itu untuk membantu orang sekitarnya.
Bagaimana lika-liku perjalanan Kafara yuuk baca Novelku let's go...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pungkies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31" Tidak Percaya"
"Baiklah, aku bisa melihat makhluk halus, dan aku juga bisa bicara dengannya." Ujar Kafa pada Dirga dengan lirih, berusaha meyakinkan Dirga agar percaya padanya berharap Dirga tak terkejut dengan ucapannya.
Namun Dirga hanya diam tak menjawab satu patah kata pun, dia hanya mengunci mulutnya dengan rapat,mematung duduk hanya melihat kedua bola mata Kafa yang kebiruan.Mereka berdua saling memandang dengan padangan penuh kecurigaan ,dan tidak yakin pada satu sama lainnya.Kafa mulai menggenggam erat tangannya, mengepalkan salah satu tangan.
Di iringi suara gemericik air sungai di tepian dan tetap saja, mungkin Dirga tidak percaya dengan apa yang Kafa barusan katakan,tapi itulah faktanya bahwa Kafa adalah gadis yang bisa melihat makhluk halus. Dirga masih tidak percaya akan apa yang barusan di dengarkan olehnya, dia sangat berharap kalau Kafa saat ini hanyalah bercanda saja untuk mencairkan suasana saat ini agar tidak terlalu canggung.
Beberapa saat Dirga menelan selivanya tidak percaya akan penyataan Kafa yang barusan ia dengar, dan memandanginya merasa amat bersalah mungkin Kafa merasa tersinggung dengan pertanyaan Dirga sehinga dia mulai mengarang cerita padanya.
"Aku harap kau melupakan pertanyaanku tadi, dan aku rasa memang sebaiknya kita hanya menikmati suasana liburan saja." ujar Dirga dia berharap Kafa tidak menghiraukan atas pertanyaannya yang barusan dia layangakan pada Kafa.
"Aku bukan bercanda, aku serius dengan apa yang sudah aku katakan padamu." Suara lirih Kafa dengan tatapan sangat tajam melihat Dirga saat ini.Menatap lekat dengan serius.
Dirga pun masih bingung apakah yang di ucapkan Kafa adalah fakta, namun jika itu fakta sulit sekali di terima oleh akal sehat.
Karena dia tidak bisa melihat makhluk halus maka dia akan mengira yang di katakan Kafa hanyalah kebohongan. Dirga mengernyitkan kedua alisnya hingga sedikit bertemu,tanda ia tidak percaya dengan semua yang di katakan Kafa,dia menggerakkan beberapa kali kelopak matanya.Dia tetap memandangi Kafa dengan raut wajah kebingungan.
Nampak memang dia tidak percaya sama sekali dengan semua ucapan Kafa padanya .
"Aku sudah tahu kau pasti tak akan pernah percaya dengan apa yang aku katakan, dan pasti kau akan menganggap aku..." Lalu Kafa menunduk dan tidak meneruskan ucapannya lagi, sangat mengetahui bahwa Dirga hanya akan menganggapnya seorang gadis gila.
Dan semua orang normal tidak akan pernah memahami perasaan orang yang bisa melihat makhluk halus,karena ia tidak melihat dengan kedua bola matanya sendiri,jika seandainya semua orang seperti Kafa ini bisa melihatnya dengan mata telanjang, barulah semua orang akan percaya dengan ucapan Kafa benar dan fakta.
Kafa sangatlah kecewa dan beberapa kali dia menghela nafasnya, sampai tak terasa eskrim di tangan kananya mulai meleleh.
Dirga juga masih bingung dan tidak percaya sama sekali dengan ucapan Kafa barusan itu.
"Sudahlah kalau kau tak percaya lebih baik kau menjauhiku, dan aku memang gadis tak normal." Ujar Kafa sambil memakan eskrim dan menatap air sungai yang mengalir deras di sepanjang bibir taman ini, yang nampaknya sangat indah sekali.
Dirga tetap dengan ekspresi masih bingung.
"Baiklah, lebih baik kita itu bersenang-senang saja lagipula aku tak akan membahasnya lagi janji." Ucap Dirga dan memakan eskrim yang hampir meleleh di tangan kananya saat ini.
Mereka berdua tak bicara karena merasa agak canggung setelah membahas hal itu.
Memakan camilannya, mereka duduk berdua berdampingan, namun Dirga dalam hatinya masih timbul beberapa pertanyaan,sangatlah ingin sekali mengetahui kebenarannya semua yang di ucapkan Kafa kepadanya tadi.
Semilir angin sejuk menerpa helaian rambut Kafa,tak itu saja dedauan yang sudah kering beberapa kelopak bunga yang berjatuhan di atas rambut Kafa,berterbangan di tiup angin.
Beberapa kelopak bunga yang bewarna pink indah berantakan jatuh di bawah pohon ini.
Tepat di bawahnya ada dua orang yang duduk berdampingan Kafa dan Dirga, kelopak bunga itu berhamburan sangat indah, tak jatuh tepat di bawah pohon juga namun beberapa daun dan kelopak terbang melayang di atas aliran sungai yang sedang mengalir deras.
Indah terbawa arus air sungai saat ini, di atas rambut Kafa ternyata ada beberapa dedaunan kering,dan juga beberapa kelopak bunga tepat bersarang, Dirga pun mengambilinya sambil tersenyum merasa sangat bersalah atas apa yang sudah dia ucapkan kepada Kafa tadi .
"Terimakasih ya." Suara Kafa yang lirih sambil membalas senyuman Dirga, senyuman yang manis itu mulai membuat Dirga pun semakin merasa bersalah.
"Untuk apa berterima kasih?,aku yang harus meminta maaf padamu sudah berkata tidak baik." Dirga meminta maaf padanya agar tak ada kesalah pahaman antara mereka berdua.
Kafa hanya mengangguk lalu tersenyum kecil padahal yang dia katakan barusan adalah hal yang sebenarnya, namun karena Dirga masih tak percaya kepada Kafa, dia berusaha diam untuk tak mempermasalahkannya kali ini saja
Bersambung...
tapi tadi diawal namanya Kafara, kok jd Mafaza, fhor?.
msh nyimakz