Jalan kehidupan memang tak selamanya mudah dan mulus, ketika kaki sebelah tersandung maka kaki yang lain harus kuat menopang tubuh agar tak sampai terjatuh.
Berkisah tentang seorang perempuan yang harus menyandang status janda di usianya yang masih muda, berjuang mematahkan opini masyarakat jika 'janda' itu tak mempunyai hak dan keistimewaan yang sama dengan perempuan lainnya. Berbagai ujian, cercaan, fitnah dan gunjingan menjadi makanannya sehari-hari, namun senyumnya tak pernah surut, menyembunyikan luka yang semakin lama semakin menggunung.
Sampai seorang Presdir perusahaan besar tempatnya bekerja mengajaknya berkompromi dalam sebuah pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Alifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERDEBAR
“APA???”
Kata singkat itu terdengar memekik dari hampir semua orang yang mendengar Arsya berbicara.
“Iya, saya akan menikahi Wafa malam ini juga. Apa ada masalah??”
“Arsya, jangan terburu-buru. Kita sudah membicarakan hal ini, dan kalian akan menikah dua minggu lagi.” Ucap Karolina.
“Mi, apa bedanya malam ini atau dua minggu lagi. Sama saja bukan?? Bukannya niat baik itu harus di segerakan, apalagi ini pernikahan, menghalalkan yang haram dan membolehkan yang di larang, juga menjadikan sesuatu yang biasa menjadi pahala.”
Semua diam, terkejut, berfikir, mengiyakan atau pun menolak. Pemikiran itu bercampur menjadi satu hingga mereka tak dapat mengutarakan apa yang ada dalam benak mereka sendiri.
“Tapi pernikahan itu membutuhkan persiapan nak, bisa saja kalian menikah secara agama terlebih dahulu, tapi untuk syarat yang lain juga harus di persiapkan.” Timpal pak Sugih.
“Syarat apalagi pak?? Kalau masalah mahar, saya sudah mempersiapkannya.”
Perkataan Arsya membuat semua orang fokus menatapnya.
“Jadi kamu sudah mempersiapkan ini? Apa itu artinya ini juga sudah kamu rencanakan Arsya??” Tanya Karolina.
“Aku menyiapkan perhiasan untuk melamar Wafa mi, kita bisa gunakan perhiasan itu sebagai maharnya.” Arsya beralih menatap bapak dan ibu dari Wafa secara bergantian. Lalu bertanya, “Bagaimana pak? Bu??”
“Kalau ibu, terserah bapak sama Wafa saja.”
“Bagaimana nduk??” Tanya Bapak. “Memang sebaiknya Arini tidak melangkahi kamu nduk.”
Wafa memejamkan matanya, helaan nafas panjang terdengar beberapa kali keluar dari mulutnya. Dan usapan lembut di punggung tangannya membuat Wafa menoleh pada wanita paruh baya yang merupakan calon mertuanya itu. Wanita paruh baya itu tampak mengangguk seraya tersenyum lembut.
Wafa balas tersenyum. Kemudian mengedarkan pandangannya pada semua orang yang ada di ruangan tamu itu. “Baiklah, aku setuju.”
“Alhamdulillah..”
Kalimat pujian yang menyatakan rasa syukur itu terdengar dari semua orang yang hadir di sana. Dalam waktu singkat, pak Sugih mempersiapkan segalanya. Dari mulai pemuka agama yang akan menikahkan Wafa dan Arsya, mahar, saksi, juga dirinya sendiri yang akan bertindak menjadi wali.
Ini yang kedua kalinya pak Sugih menjadi wali untuk pernikahan Wafa, tapi entah mengapa, kali ini hatinya tak ragu meski pernikahan itu terlaksana dalam waktu singkat. Bahkan pak Sugih sendiri belum mengenal Arsya dengan baik, tapi pria paruh baya itu merasa yakin dengan ketulusan Arsya. Sorot mata pria itu membuat pak Sugih yakin jika Arsya dapat membahagiakan Wafa dan menjaganya.
Seraya menunggu pemuka agama datang untuk menikahkan Wafa dan Arsya, ibu membawa Wafa ke kamarnya. Mengganti pakaian Wafa dengan gamis putih dan jilbab berwarna senada. Sedangkan Karolina, wanita itu bertugas merias wajah Wafa, meski hanya riasan tipis yang sederhana, tapi malam itu Wafa terlihat bersinar, auranya terpancar kuat, Wafa juga terlihat lebih segar dengan polesan bibir berwarna pink soft.
“Cantik banget sih mantu mami.” Puji Karolina seraya menangkup kedu pipi Wafa, Wafa memang berkulit putih bersih, hingga jika pun tanpa polesan bedak yang tebal, perempuan itu tampak sangat mempesona.
“Terima kasih mi, tapi mami lebih cantik malam ini.”
“Benarkah?? Mungkin karena mami sangat bahagia sayang, jadi mami terlihat cantik.”
“Mami memang sangat cantik.” Kata Wafa lagi.
“Berhenti menggoda mami nak, atau mami akan terbang dan merusak atap rumah kamu.”
Mereka tertawa bersama, lalu tak lama kemudian pak Sugih memanggil mereka karena pemuka agama yang akan menikahkan Wafa dan Arsya telah datang.
Wafa duduk di belakang Arsya yang sudah siap duduk berhadapan dengan pak Sugih dan pak Abdullah, pak Abdullah adalah pemuka agama setempat yang akan menikahkan mereka yang juga merupakan ayah dari Ardi.
Arsya, pria berparas tampan itu tampak gugup, meski berulang kali ia mencoba untuk percaya diri, tapi tetap saja kegugupan melanda hatinya.
Sepertinya, ia lebih baik berhadapan dengan puluhan klien penting dari pada berhadapan dengan penghulu yang akan menikahkannya, di tambah lagi dengan pak Sugih, calon mertuanya. Rasanya keringat dingin mulai mengucur dari dahinya, perutnya terasa bergejolak, panas dingin dan berdebar-debar, semua rasa itu bercampur dalam dirinya.
“Sudah siap nak Arsya??” Tanya pak Sugih.
Arsya mengangguk. “Sudah pak, mari kita mulai.”
“Wah, sepertinya pengantin prianya sudah sangat tidak sabar yah.” Goda pak Abdullah, hingga membuat semua orang yang hadir tergelak.
Bukan apa-apa, Arsya hanya ingin ini cepat berakhir, saranya sangat tidak nyaman. Dan seumur hidupnya, ia baru merasakan debaran yang begitu hebat hingga ia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
“Baiklah, mari kita mulai dengan sama-sama mengucap kalimat syahadat.”
**Guys, Jan lupa like komen dan sumbang vote nya buat Mak...Jan lupa follow juga akun Mak YESS....
IG @savanagunawan
NT Savana Alifa
*** APP Savanaalifa
FB Savana Alifa**