Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Langkah tegas Arkan yang menjauh bersama Bara meninggalkan Milly sendirian di ruang makan yang mendadak terasa terlalu luas. Milly menghentakkan kakinya kesal, menatap pintu tempat sang Presdir menghilang.
"Sepuluh tahun! Dia pikir umurku ini komoditas saham yang bisa dinaik-turunkan seenak jidat?!" gerutu Milly, sibuk membersihkan sisa noda kopi yang masih mengering di sela jarinya dengan tisu bersih.
Baru saja ia berniat kembali ke kamarnya untuk mengistirahatkan otak yang hampir korsleting, Madam Clarissa desainer nyentrik yang tadi pagi meriasnya kembali muncul dari koridor samping bersama dua asistennya. Kali ini, mereka tidak membawa kuas rias, melainkan sebuah pita ukur kain berwarna emas dan beberapa sketsa gaun baru.
"Nona Milly, Tuan Arkan memerintahkan kami untuk menyelesaikan pengukuran gaun pengantin resmi Anda sebelum siang ini," sapa Madam Clarissa dengan senyum profesionalnya yang lebar. "Mengingat pernikahan privat kalian akan digelar minggu depan, kita tidak punya banyak waktu."
Milly menghela napas pasrah, membiarkan dirinya digiring kembali ke ruang tengah. Saat pita ukur mulai melilit pinggang rampingnya, ingatan Milly berputar pada ucapan Arkan di depan ibunya tadi. 'Wanita yang sudah kupilih untuk menjadi Nyonya Mahendra selanjutnya.'
"Nona Milly, tolong rentangkan tangan Anda sedikit," instruksi asisten Madam Clarissa, memecah lamunan Milly.
"Ah, iya, maaf," jawab Milly canggung. Di duniaku yang biasa, jangankan gaun pengantin rancangan desainer butik kelas atas, membeli baju diskonan akhir tahun saja aku harus menghitung sisa saldo tabungan dengan teliti.
Tepat saat asisten desainer itu hendak mengukur lingkar dada Milly, sebuah langkah kaki yang familier terdengar kembali mendekat. Arkan berjalan masuk ke ruang tengah, jasnya sudah kembali rapi, dan sebuah map baru yang tampaknya merupakan dokumen cetak ulang dari ruang bawah tanah berada di genggaman tangan kirinya.
Mata elang Arkan memindai ruangan, lalu tatapannya terkunci pada asisten desainer yang berdiri terlalu dekat dengan Milly. Garis wajah sang Presdir mendadak menegang.
"Madam Clarissa," suara bariton Arkan memotong suasana sepi. "Ukur dari jarak yang aman. Jangan biarkan asistenmu terlalu menempel padanya."
Milly spontan menoleh, membetulkan letak kacamata bulatnya yang sempat melorot. "Tuan, kalau mengukur baju ya harus dekat-dekat, mana bisa diukur pakai tongkat pramuka dari jarak jauh!" cicitnya jengkel.
Arkan tidak memedulikan protes Milly. Ia berjalan mendekat, berhenti tepat satu meter di depan kursi tempat Milly berdiri tegak. "Kau melupakan aturan jaga jarak satu meter yang tertulis di lembar kontrak kedua, Milly. Berada di lingkungan mansion ini berarti kau harus mematuhi standar higienitas dan privasiku."
"Tetapi tadi malam di mobil dan di kamar Tuan . Tuan sendiri yang memeluk saya!" balas Milly tak mau kalah, wajahnya mendadak merona merah mengingat posisi intim mereka beberapa jam yang lalu.
Mendengar ucapan blak-blakan Milly, Madam Clarissa dan para asistennya langsung saling berpandangan dengan senyum penuh arti yang ditahan, membuat suasana di ruang tengah mansion mendadak berubah canggung.
Arkan berdeham pendek, kilat salah tingkah melintas sangat cepat di matanya sebelum kembali digantikan oleh tatapan dinginnya yang kokoh. "Itu adalah protokol penyelamatan aset dalam situasi darurat. Jangan disamakan dengan kelalaian harianmu." Pria itu melirik jam tangan mewahnya. "Madam, selesaikan dalam sepuluh menit. Setelah ini, dia harus ikut bersamaku ke kantor pusat."
"Ke kantor pusat?!" Milly terbelalak panik. "Untuk apa lagi, Tuan? Saya tidak mau jadi umpan peluru di jalanan lagi!"
"Musuhku sudah tahu wajahmu setelah konferensi pers pagi ini, Milly. Meninggalkanmu sendirian di mansion tanpa pengawasan ketatku sama saja dengan membiarkan mereka mengambil kembali umpan yang sudah kupasang," ucap Arkan kejam, memberikan senyum tipisnya yang mematikan. "Bersiaplah. Dan pastikan kacamata burukmu itu tidak menyenggol apa pun di dalam mobil nanti."
Milly hanya bisa meratapi nasibnya dalam hati, menyadari bahwa hidupnya selama sepuluh tahun ke depan tidak akan pernah jauh dari radar pengawasan sang iblis perfeksionis.
Perjalanan menuju kantor pusat Mahendra Group tidak jauh berbeda dengan simulasi latihan militer. Kali ini, pengamanan mansion ditingkatkan hingga tiga kali lipat. Dua mobil SUV hitam penuh pengawal bersenjata mengapit ketat mobil Rolls-Royce yang mereka tumpangi.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara, atmosfernya luar biasa dingin. Bukan hanya karena AC mobil yang disetel ke suhu paling rendah khas sang Presdir yang perfeksionis, melainkan karena perang dingin tak kasatmata yang berkecamuk di antara kedua penumpangnya.
Milly duduk menyamping, menempelkan tubuhnya sedekat mungkin ke arah pintu mobil sebelah kiri. Ia memeluk tas selempang kecilnya erat-erat seperti perisai pelindung, mencoba mematuhi "aturan satu meter" yang tadi didebatkannya habis-habisan.
Arkan sendiri duduk tegap di sisi kanan, fokusnya sepenuhnya tertuju pada lembaran dokumen baru yang tadi dibawa dari mansion. Namun, meski matanya menatap deretan angka dan grafik, sudut matanya tidak bisa mengabaikan bagaimana gadis ceroboh di sampingnya itu memperlakukan dirinya seperti wabah penyakit menular.
"Jika kau terus menempel pada pintu seperti itu, kau bisa jatuh keluar jika penguncinya tidak sengaja rusak," ucap Arkan tiba-tiba tanpa menoleh, membalik halaman dokumennya dengan gerakan elegan.
Milly mendengus pelan, membetulkan letak kacamata bulatnya yang kembali melorot akibat keringat dingin. "Saya hanya sedang mematuhi protokol higienitas Anda yang terhormat, Tuan Arkananta. Bukankah satu meter adalah jarak aman agar saya tidak mengotori aura mahal Anda?" sindir Milly dengan nada mencicit yang ditahan.
Arkan meletakkan dokumennya di atas pangkuan, lalu menoleh lambat. Mata elangnya memindai Milly dari balik lensa kacamatanya yang tebal. "Kau pandai menyindir untuk ukuran seseorang yang utang masa kontraknya baru saja membengkak menjadi sepuluh tahun."
Mengingat angka 'sepuluh tahun' itu, dada Milly mendadak sesak. "Itu karena Anda lintah darat! Mana ada aturan gelas tumpah dendanya ditambah satu tahun masa kurungan pernikahan?!"
"Itu bukan sekadar gelas tumpah, Milly. Kau menumpahkan susu di atas dokumen rencana ekspansi pasar Eropa Barat," sahut Arkan datar, suaranya tetap tenang namun mengintimidasi. "Dan di duniaku, satu kesalahan kecil dari bawahanku bisa berarti hilangnya investasi ratusan miliar."
Milly tertegun. Ia langsung bungkam, meremas tali tasnya. Ratusan miliar? Ya Tuhan, kalau aku dipaksa mencuci piring seumur hidup di hotel tempatku bekerja dulu pun, uangku tidak akan sampai segunung itu. Rasa bersalah yang sempat hilang kini kembali merayapi hatinya.
Melihat perubahan ekspresi Milly yang mendadak murung dan cemas, kilat penyesalan yang sangat tipis melintas di mata Arkan. Pria itu menghela napas pendek, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke jendela luar yang menampilkan deretan gedung pencakar langit ibu kota.
"Tetapi..." Arkan menjeda kalimatnya, membuat Milly mendongak refleks. "...karena kau sudah mengobati luka di leherku semalam, aku bisa mempertimbangkan untuk memotong tiga bulan dari masa denda itu."
Milly mengerjap-ngerjakan matanya tak percaya. "Tiga bulan?! Pelit sekali! Mengobati luka tembak taruhannya nyawa, Tuan! Minimal potong tiga tahun dong!"
"Dua bulan," potong Arkan kejam.
"Lho! Kok malah turun?!"
"Jika kau memprotes lagi, aku akan menjadikannya denda tambahan," ancam Arkan, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk seringai tipis yang mematikan saat melihat wajah Milly yang langsung merengut kesal seperti bakpao kempis.
Sebelum Milly sempat mengumpat dalam hati, mobil Rolls-Royce mereka melambat dan berbelok memasuki lobi utama Mahendra Group yang megah. Di luar sana, puluhan staf eksekutif dan beberapa jurnalis yang masih penasaran sudah berbaris rapi di sepanjang lantai marmer, menunggu kedatangan sang Presdir bersama wanita misterius yang menghebohkan jagat raya pagi ini.
Arkan merapikan kancing jasnya, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Milly. "Panggung kedua dimulai, Calon Istri. Pasang senyum terbaikmu jika tidak ingin masa kontrakmu digenapkan menjadi belasan tahun."