"Ayo kita menikah."Ucap seorang pria bertubuh tegap dan tampan. Dia adalah seseorang yang tidak sengaja telah tidur bersamaku di malam itu.
Aku hanyalah seorang pelayan yang bekerja dengannya. Aku mana mungkin bisa menikahinya!
Tapi bagaimana dengan nasib anak yang ada di dalam kandunganku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEMINIE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumor Tentang Daisy
"APA?!"Aiden yang mendengarnya begitu terkejut. Dia tidak tahu harus mengatakan apa setelah Nathan memberitahunya hal itu.
"Apa-apaan ibumu itu?! Daisy sekalipun tidak pernah menggoda diriku! Akulah yang sering menggodanya, dan aku mengakuinya. Apakah segitu tidak sukanya ibumu kepada Daisy jadinya dia mengatakan hal itu?"Tanya Aiden jadi kesal.
"Iya, dia memang belum merestui hubungan kami berdua, tapi aku tidak akan menyerah. Kurasa bukan hanya karena ibuku benci kepada Daisy saja tapi karena dia sudah mendengarnya dari orang lain. Aku sudah bertanya pada ibuku, namun dia tidak mau mengatakan siapa yang memberitahunya."Ucap Nathan kembali pusing.
"Hmm, aku akan coba memeriksa beberapa karyawanku. Mungkin salah satu dari mereka adalah pelakunya karena yang kutahu dulu Daisy sempat dibenci oleh para karyawanku."Ucap Aiden.
"Hah, ini semua gara-gara kau Aiden! Kalau saja kau tidak menggoda Daisy, ibuku tidak mungkin mendapat berita seperti ini!"Ucap Nathan kembali marah.
"Kenapa kau jadi menyalahkanku? Awalnya aku kan tidak tahu Daisy itu adalah wanitamu! Wajar saja kan aku menggodanya karena aku suka padanya!"Ucap Aiden tidak terima.
Nathan kembali diam namun dengan perasaan yang lebih jengkel.
"Sudahlah, kalau begitu kau harus cari pelaku yang menyebarkan berita gak benar itu kepadaku!"Pinta Nathan.
"Jadi aku harus membantumu gitu? Memangnya apa yang akan kudapat jika aku membantumu? Kau tahu kan kalau aku tidak suka diberi uang olehmu?"Tanya Aiden.
Nathan kemudian tersenyum. Dia tiba-tiba teringat suatu ide yang sangat menarik untuk imbalan sahabatnya.
"Kenapa kau tersenyum?!"Tanya Aiden dengan pandangan absurd.
"Aku akan beritahu imbalannya setelah kau menyelesaikan tugasmu. Aku jamin kau pasti tidak akan kecewa."Ucap Nathan rahasia.
"Hah, terserah kau saja!"Ucap Aiden jadi sebal.
Setelah pembicaraan mereka berdua berakhir, Nathan kembali untuk mencari Daisy. Tapi tak lama dia bertemu dengan Daisy yang berdiri mematung di samping tembok. Ekspresinya terlihat kecewa akan sesuatu.
"Daisy? Sejak kapan kau ada disini? Ah...tadi kau sudah mendengar semuanya ya?"Tanya Nathan menjadi sedikit bersalah.
"Maaf Nathan, saya tadi tidak bermaksud menguping pembicaraan Anda berdua. Apakah itu benar...jika Nyonya besar mengatakan kalau saya menggoda...Tuan Aiden?"Tanya Daisy.
Seketika Nathan tidak tega saat menatap wajah Daisy yang terlihat begitu sedih.
"Maaf Daisy. Ibuku hanya salah paham. Kau tenang saja, kami akan segera meluruskan kesalahpahaman ibuku dan membuktikan jika itu tidak benar. Jangan pikirkan soal yang tadi ya?"Ucap Nathan sambil mengelus kepala Daisy bermaksud menenangkannya.
"Apakah...saya bisa bicara dengan Tuan Aiden?"Tanya lagi Daisy.
"Bicara dengan Aiden? Untuk apa?"Tanya Nathan sambil mengkerutkan dahinya.
"Saya ingin bertanya mengenai teman-teman karyawan saya kepadanya jika salah satu dari mereka ada yang sengaja menyebarkan rumor tidak benar tentang saya."Ucap Daisy.
"Ah, baiklah."Ucap Nathan akhirnya mengizinkan.
Daisy dan Nathan menghampiri Aiden yang masih duduk di sofa ruang tamu. Tidak lupa Daisy meletakkan kopinya di atas meja.
"Daisy?"Ucap Aiden melihat kedatangan Daisy.
"Tuan, ada hal yang ingin saya bicarakan. Ini tentang teman-teman karyawan saya dulu."Ucap Daisy.
Aiden terkejut karena sepertinya Daisy sudah mendengar pembicaraan mereka berdua. Dia memandang Nathan dan Nathan mengangguk jika itu memang benar.
"Ah, jadi kau sudah mendengarnya Daisy?"Tanya Aiden jadi canggung.
"Iya....begini, saya masih ingat siapa yang paling benci dengan saya sewaktu saya masih bekerja di kafe Tuan. Apakah Edith masih bekerja di kafe Tuan?" Tanya Daisy.
"Edith? Maksudmu Edith Shaw? Sayangnya tidak. Dia sudah berhenti."
"Apa? Berhenti?! Kenapa?"Daisy tentu saja kaget mendengar Edith yang tiba-tiba sudah keluar dari pekerjaannya. Padahal yang dia tahu Edith terlihat sangat suka bekerja di kafe milik Aiden dan menyukai bos seperti Aiden.
"Aku tidak tahu apa alasan dia mengundurkan diri dari pekerjaannya tapi aku juga tidak terlalu memikirkan apa alasan dia berhenti. Jadi dia yang paling membencimu?"Tanya Aiden hampir tidak percaya.
"I-itu benar....dia tidak suka pada saya karena mengira saya mencari perhatian kepada Anda. Dia pernah mengaku jika dirinya menyukai Tuan Aiden. Tatapannya kadang membuat saya takut..."Ucap Daisy jujur.
"Sungguh? Kupikir Edith itu gadis yang pendiam dan cuek, ternyata tidak ya...dan aku tidak sangka jika dia memiliki perasaan kepadaku? Tapi aku tetap tidak bisa membiarkan prilakunya terhadapmu. Dia harus di introgasi."Ucap Aiden.
"Tapi dimana kita harus mencarinya Tuan?"Tanya Daisy.
"Tenang saja, aku yang akan mencarinya. Sangat mudah kok. Para mata-mataku akan cepat menemukan Edith Shaw. Aku akan memberitahu kalian secepatnya jika Edith Shaw sudah berhasil di temukan." Ucap Aiden.
"Kalau begitu terima kasih banyak Tuan!"Ucap Daisy lega.
*****
Di kediaman rumah Nathan, Edith saat ini tengah bekerja di rumah itu dengan sungguh-sungguh sekalian mencari beberapa informasi di tempat itu. Dia jadi kesal karena kesempatannya untuk menghasut para pelayan yang lain begitu kecil hingga dia tidak sempat untuk melakukannya. Tapi dia mendapat sedikit keberuntungan tentang beberapa pelayan yang menceritakan tentang keburukan Daisy sewaktu masih bekerja menjadi pelayan.
Dia tidak sengaja menguping pembicaraan mereka yang kedengaran sangat membenci Daisy.
"Hei, lihat Daisy kemarin, dia sungguh Daisy si pelayan yang pernah bekerja disini itu?"Tanya salah satu pelayan.
"Iya benar. Dia datang tanpa rasa malu ya? Lihat di beritanya itu dia sudah berani tidur dengan majikan kita lho. Bisa-bisanya dia datang tanpa rasa malu berduaan dengan Tuan Muda? Terus, apa Tuan Muda itu sudah buta ya? Apa yang wanita itu sudah lakukan kepada Tuan kita sehingga Tuan kita jadi penurut begitu kepadanya?"Ucap pelayan kedua.
"Haha apalagi? Tuan Nathan jadi penurut kan karena Daisy sudah menjual tubuhnya. Dia juga hamil, dan tentu saja Tuan Nathan pasti terpaksa menurutinya supaya tidak dikenal pria br*ngsek kan?"Ucap pelayan ketiga.
"Hahaha benar! Kok gak kepikiran kesitu ya? Hahaha!"Ucap pelayan satu dengan tertawa lepas.
Edith tersenyum senang karena tampaknya Daisy sudah tidak punya dukungan dari orang-orang terhadapnya.
Saat itu dia punya peluang untuk memberikan hasutan kepada para pelayan. Sementara kepala pelayan bu Helen sedang ada urusan di ruangannya.
Edith menghampiri para pelayan yang masih membicarakan keburukan Daisy.
"Hai, apa aku boleh ikut bergabung?"Tanya Edith.
"Huh? Hei, kau si pelayan baru itu ya?"Tanya pelayan satu.
"Betul. Saya baru beberapa hari bekerja disini. Maaf sebelumnya saya tidak sempat memperkenalkan diri karena saya takut dengan kepala pelayan bu Helen hehe..."Ucap Edith dengan manis.
"Ah tidak apa-apa. Kau tahu, semenjak Daisy keluar dari pekerjaannya, belum ada yang pernah menggantikannya sampai kau datang. Menurut kami, kau jauh lebih baik daripada wanita itu."Ucap pelayan kedua.
"Sungguh? Apakah wanita itu bernama Daisy? Saya mengenalnya. Dulu saya dan dia pernah bekerja di kafe Tuan Aiden di kota sebelah."Ucap Edith.
"Sungguh?"Tanya pelayan satu tidak percaya.
"Benar. Saya sempat mengenal sifat Daisy. Dia itu....memang wanita yang sangat menyebalkan."Ucap Edith dengan senyum licik.
Next....
.. 👍👍👍👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣🤣