Zan Munarga, dikenal sebagai si genius ulung dalam dunia perbisnisan dan elektronik, perusahaan anak cabang di mana ia memiliki saham tengah diambang pintu kebangkrutan, lalu pemilik perusahaan mencoba bernegosiasi padanya, dengan cara menukarkan keponakannya sendiri.
Dibalik kegeniusan Zan Munarga, ia memiliki kelainan otak dan didiagnosis tidak akan bertahan hidup lebih lama, maka dari itu dia membutuhkan seorang wanita untuk memberinya keturunan, sehingga tawaran itu pun ia terima.
Zan Munarga tak pernah menyangka bahwa anak yang dilahirkan oleh Sania Chen, istri kontraknya itu, merupakan bayi kembar, di mana saat itu dia hanya membawa satu anak, dan satu anak lagi dibawa oleh Sania.
Lalu bagaimana pada akhirnya Zan Munarga bisa mengetahui fakta sebenarnya? Dan mampukah ia sembuh dari kelainan otak yang dialami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marnii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa yang Kejam?
"Kenapa Anda mencurigai saya? Kenapa tidak tanyakan langsung padanya apakah dia memecatmu dalam keadaan sadar atau linglung?" ujar Sania santai.
"Tuan muda, ada apa sebenarnya, apa yang terjadi?" Sekertaris Wen berpindah menatap Zan.
"Mulai sekarang, semua perintah yang ia katakan, adalah perintahku, jadi turuti apa pun yang dia mau." Zan tak ingin ambil pusing.
"Nona, saya minta maaf jika saya ada salah pada Anda, tapi tolong jangan pecat saya, bolehkah? Saya bekerja dengan Tuan muda cukup lama, Anda bisa katakan apa yang membuat Anda tidak puas terhadap saya, akan saya coba perbaiki." Akhirnya cuma bisa begitu agar ia tak dipecat.
"Baiklah, kamu bisa kembali bekerja, tapi dengan satu syarat." Sania kembali tersenyum licik.
"Kamu siram dia dengan segelas air." Sembari menunjuk ke arah Zan. Itu adalah bentuk balas dendam yang ia maksud.
"Nona, ini tidak benar, saya ingin bekerja karena saya ingin melindungi Tuan muda dan meringankan pekerjaannya, syarat Anda ini, benar-benar tidak ada perbedaannya dengan Anda memecat saya." Sekertaris Wen terus menggeleng tak setuju.
"Lakukan sekarang, Wen," titah Zan tak mau tahu.
"Tapi, Tuan muda. Ini sama saja menghina Anda, saya tidak akan melakukan itu pada Anda." Sekertaris Wen semakin berkeras hati pada pendiriannya, tidak akan melakukan hal bodoh terhadap majikan yang selama ini ia lindungi.
"Wen, lakukan sekarang atau aku akan mengirimmu pulang pada Paman Lee," ancam Zan dengan mata yang melotot.
"T-tapi, Tuan." Wajah Sekertaris Wen mengerut lemah.
"Baiklah." perintah Zan adalah hal yang harus ia turuti, tidak bisa membantah lagi, Wen Lee mengangkat gelas berisi air dengan tangan yang gemetar, seumur-umur, mungkin tidak ada seorang bawahan yang sekurang ajar itu selain dirinya.
"Tuan muda, tolong hukum saya setelah ini." Sekertaris Wen memejamkan mata tak tega harus menyiramkan air itu ke kepala Zan.
Byur!!
Rasa dingin menusuk di kepala Zan, ia hanya bisa menghela napas kasar mendapat guyuran air di kepalanya, pasrah tanpa ingin menolak.
"Hehe, menyenangkan sekali mengerjai dua pria ini, satunya tampak pucat, dan yang satunya tampak membara, tapi sama-sama tidak bisa membantah, aku suka, sangat-sangat suka." Sania terus tertawa puas dalam hati.
"Sudah puas, kan?" tanya Zan sambil menatap wajah berseri Sania dengan senyuman terpaksa.
"Nona, Anda kenapa berubah jadi sekejam ini?" tukas Sekertaris Wen yang tiba-tiba menatap tajam pada Sania.
"Oh, tidak. Saya tidak kejam, Tuan Wen. Yang kejam itu majikanmu itu, dia jauh lebih kejam terhadap saya, kamu lupa apa yang pernah dia lakukan pada saya? Yang membawa saya ke rumah sakit saat akan melahirkan seharusnya dia, bukan Anda. Dia yang menghamili saya, tapi dia tidak punya pertanggung jawaban terhadap diri saya dan anak yang saya kandung, setelah saya melahirkan, dia membawa anak itu pergi begitu saja tanpa memikirkan perasaan saya, sekarang saya tanya sekali lagi pada Anda, yang kejam itu saya atau dia?" Wajah Sania memerah dengan suara bentakan yang lantang, ia tidak terima jika disebut sebagai seseorang yang kejam, ia juga tidak akan berbuat seperti itu jika tidak ada alasan kuat yang bisa menghantarkannya pada tindak asusila.
"Sudah, Wen. Kamu jangan bicara lagi, biarkan saja," ujar Zan dengan suara yang pelan. Sekertaris Wen mengalah dan diam.
"Maafkan saya, Nona. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan Anda." Sekertaris Wen membungkuk hormat pada Sania.
"Kalian berdua sama saja, sama-sama tidak bisa mengenali perasaan wanita, menyebalkan!" Sania keluar dari ruangan dengan amarah yang masih menggelora.
"Kenapa dia masih marah? Bukankah kita sudah menuruti kemauannya?" tanya Zan kebingungan.
"Tidak tahu, Tuan muda. Sepertinya Nona Sania benar, kita memang tidak bisa mengerti sifat dan perasaan wanita," jawab Sekertaris Wen menyadari.
"Aku tidak merasa seperti itu," sangkal Zan.
"Lalu apakah Tuan muda dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Nona Sania?" tanyanya lagi.
"Wen, kau berani menantangku?" Zan menatap tajam.
"Eh, tidak, Tuan muda. Saya tidak berani." Sekertaris Wen menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum bingung.
demi bonus sania ck ck ck